Se connecterAula utama Aethelgard malam itu terasa seperti medan perang yang ditahan paksa.Tidak ada pasukan yang berteriak.Tidak ada dentuman besar.Namun tekanan di udara…cukup untuk membuat siapa pun sulit bernapas.Jagatra berdiri di depan tangga singgasana.Tenang.Diam.Namun matanya… tidak pernah lepas dari Kaesar.Sementara di seberangnya…Kaesar masih berdiri santai.Terlalu santai.Seolah semua kekacauan malam ini hanyalah permainan yang sudah ia menangkan sejak awal.Kalimat yang Menyulut Segalanya“Lucas berhenti.”Kaesar tersenyum tipis.“Michael tertangkap.”Ia melangkah turun satu anak tangga.“Justin diburu.”Langkah berikutnya.“Dan Rafka…”matanya menyipit,“…akhirnya mulai bergerak seperti orang yang putus asa.”Jagatra tetap diam.Namun Lucas yang berdiri di belakangnya mengepalkan tangan lebih kuat.Kaesar melihat itu.Dan tertawa kecil.“Kalian benar-benar masih b
Lorong panjang menuju aula utama terasa semakin dingin.Api di luar istana mulai meredup.Namun ketegangan di dalam Aethelgard…justru semakin membesar.Cristian berjalan di depan.Ellisha mengikuti beberapa langkah di belakangnya.Nara tetap mendampingi dengan wajah cemas.Suasana di antara mereka sunyi.Namun bukan sunyi yang canggung.Melainkan sunyi… dari terlalu banyak pikiran yang belum sempat diucapkan.Di setiap persimpangan lorong, prajurit berjaga.Beberapa langsung menegang saat melihat Cristian.Karena tatapan pangeran itu malam ini… berbeda.Lebih tajam.Lebih dingin.Namun satu hal tidak berubah:ia tetap berjalan lurus.Tidak ragu.Tidak berbalik.Seolah apa pun yang terjadi di depan sana…ia sudah memutuskan akan tetap maju.Ellisha mempercepat langkah sedikit.“Paduka Cristian…”Cristian menoleh sekilas.“Kenapa Anda masih bertahan?”Pertanyaan itu membuat langkah Cr
Koridor istana Aethelgard malam itu terasa asing.Sunyi.Namun bukan sunyi yang damai.Melainkan sunyi… setelah terlalu banyak tangisan ditahan.Langkah yang Tidak TenangEllisha berjalan pelan di lorong dekat ruang penyembuhan.Nara mengikuti beberapa langkah di belakang.Biasanya, Ellisha akan menjaga sikapnya tetap tegak.Tetap anggun.Tetap tenang.Namun malam ini…langkahnya goyah.Tangannya terus menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Kuat.Seolah hanya itu yang menahannya agar tidak runtuh.Ia berhenti tepat di depan ruang penyembuhan.Pintu kayu itu tertutup.Dari dalam… terdengar suara pelan.Tabib.Pelayan.Dan sesekali… suara Audina yang lemah.Ellisha membeku.Ia sudah berlari ke sini sebelumnya.Sudah melihat darah itu.Namun sekarang…setelah semuanya lebih tenang…rasa bersalah itu justru terasa lebih besar.“…Putri…” bisik Nara hati-hati.Ellisha tidak m
Langit Aethelgard masih menyisakan cahaya merah yang samar.Namun jauh dari aula utama…jauh dari takhta dan benturan dua pangeran…ada satu tempat yang justru dipenuhi keheningan berbeda.Ruang penyembuhan.Nafas yang KembaliAroma obat memenuhi udara.Lilin-lilin kecil menyala redup di setiap sudut.Di atas ranjang sederhana…Audina terbaring.Perban melilit lengannya.Bahunya tertutup kain bersih yang mulai ternodai merah samar.Namun napasnya… sudah lebih teratur.Seorang tabib tua berdiri di sampingnya, memeriksa luka dengan hati-hati.“Dia beruntung,” katanya pelan pada pelayan di dekatnya.“Luka itu dalam… tapi tidak mengenai titik vital.”Pelayan itu menghela napas lega.“Dia kuat…” lanjut sang tabib.“…atau mungkin… terlalu keras kepala untuk jatuh.”Kelopak mata Audina bergerak.Pelan.Berat.Dunia terasa kabur saat ia membuka mata.Cahaya lilin menusuk lembut penglihatannya.“…di mana…?” bisiknya lemah.Pelayan yang berjaga langsung mendekat.“Nona! Anda sudah sadar!”Audin
Langit Aethelgard masih menyala redup oleh sisa api.Namun di dalam istana… ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari kobaran itu.Keheningan.Keheningan yang tidak lagi berarti aman.Melainkan… sebelum badai berikutnya datang.Jalan yang Akhirnya TerbukaLorong bawah tanah mulai berubah.Tidak lagi penuh kepungan.Tidak lagi tertutup rapat.Karena di satu titik…seseorang telah memaksa jalan itu terbuka.Rionaldo.Dan efeknya mulai terasa.Rafka dan pasukannya bergerak naik.Justin menjauh dari kejaran.Dan jalur menuju pusat istana… perlahan tidak lagi terkunci sepenuhnya.Semua bergerak.Tanpa sadar… menuju satu titik yang sama.Di tangga batu menuju lantai utama…Jagatra berhenti sejenak.Lucas di belakangnya.Prajurit di sekeliling mereka… lebih sedikit dari sebelumnya.Namun cukup.Jagatra menatap ke atas.Ke arah aula utama.Ke arah… singgasana.“…dia ada di sana,” katanya
Di bawah tanah Aethelgard… Rafka berdiri di tengah kemenangan kecil. Namun dampaknya… tidak kecil. Ia menghentikan jalur suplai. Ia menggagalkan rencana tersembunyi. Dan yang paling penting,ia membuktikan sesuatu. Bukan pada orang lain. Tapi pada dirinya sendiri. Bahwa ia… bukan lagi bayangan. Sementara di atas sana… Kaesar terus menggerakkan bidaknya. Dan Jagatra menyusun langkah berikutnya. Lorong bawah tanah Aethelgard… masih bergetar oleh sisa pertempuran. Namun di satu titik… pertempuran belum selesai. Di persimpangan sempit dekat gudang utara, Rionaldo berdiri sendirian. Di sekelilingnya… puluhan prajurit masih mengepung. Napasnya stabil. Tatapannya tenang. Seolah jumlah mereka… tidak berarti. “Menyerah,” kata salah satu perwira dingin. Rionaldo tidak menjawab. Ia hanya memutar pedangnya pel
Pagi datang tanpa upacara,tidak ada lonceng,tidak ada pengumuman resmi,namun di istana, ketiadaan sering kali lebih lantang daripada perintah.Jagatra menyadarinya dari hal kecil.Pintu ruang baca pribadinya terbuka lebih lambat dari biasanya. Penjaga di luar berganti,bukan waja
Rionaldo berdiri lebih lama dari biasanya di depan jendela tinggi ruang peta.Di bawah, taman dalam tampak rapi, Lampu- lampu menyala simetris. Penjagaan berjalan sesuai jam. Segalanya terlihat terkendali. Terlalu terkendali. Rionaldo tahu tanda itu: ketika terlalu banyak tangan berusaha
Pagi datang tanpa kabut, dan itu pertanda buruk. Rafka menyadarinya saat langkah-langkah penjaga terdengar terlalu teratur di lorong utara,bukan patroli biasa, melainkan pola penutupan. Ia menutup map yang sedang dibacanya, merapikan meja seolah hari ini akan berjalan normal. Di istana, kepanikan
Justin berdiri di ruang peta saat matahari tenggelam. Lilin-lilin dinyalakan satu per satu, memantulkan cahaya pada garis-garis rute, gudang, dan pos jaga. Ia tidak menggeser pin. Ia mengganti urutan membaca.“Mulai dari barat,” katanya pada perwira yang menunggu. “Lewati selatan.”







