FAZER LOGINLorong panjang menuju aula utama terasa semakin dingin.Api di luar istana mulai meredup.Namun ketegangan di dalam Aethelgard…justru semakin membesar.Cristian berjalan di depan.Ellisha mengikuti beberapa langkah di belakangnya.Nara tetap mendampingi dengan wajah cemas.Suasana di antara mereka sunyi.Namun bukan sunyi yang canggung.Melainkan sunyi… dari terlalu banyak pikiran yang belum sempat diucapkan.Di setiap persimpangan lorong, prajurit berjaga.Beberapa langsung menegang saat melihat Cristian.Karena tatapan pangeran itu malam ini… berbeda.Lebih tajam.Lebih dingin.Namun satu hal tidak berubah:ia tetap berjalan lurus.Tidak ragu.Tidak berbalik.Seolah apa pun yang terjadi di depan sana…ia sudah memutuskan akan tetap maju.Ellisha mempercepat langkah sedikit.“Paduka Cristian…”Cristian menoleh sekilas.“Kenapa Anda masih bertahan?”Pertanyaan itu membuat langkah Cr
Koridor istana Aethelgard malam itu terasa asing.Sunyi.Namun bukan sunyi yang damai.Melainkan sunyi… setelah terlalu banyak tangisan ditahan.Langkah yang Tidak TenangEllisha berjalan pelan di lorong dekat ruang penyembuhan.Nara mengikuti beberapa langkah di belakang.Biasanya, Ellisha akan menjaga sikapnya tetap tegak.Tetap anggun.Tetap tenang.Namun malam ini…langkahnya goyah.Tangannya terus menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Kuat.Seolah hanya itu yang menahannya agar tidak runtuh.Ia berhenti tepat di depan ruang penyembuhan.Pintu kayu itu tertutup.Dari dalam… terdengar suara pelan.Tabib.Pelayan.Dan sesekali… suara Audina yang lemah.Ellisha membeku.Ia sudah berlari ke sini sebelumnya.Sudah melihat darah itu.Namun sekarang…setelah semuanya lebih tenang…rasa bersalah itu justru terasa lebih besar.“…Putri…” bisik Nara hati-hati.Ellisha tidak m
Langit Aethelgard masih menyisakan cahaya merah yang samar.Namun jauh dari aula utama…jauh dari takhta dan benturan dua pangeran…ada satu tempat yang justru dipenuhi keheningan berbeda.Ruang penyembuhan.Nafas yang KembaliAroma obat memenuhi udara.Lilin-lilin kecil menyala redup di setiap sudut.Di atas ranjang sederhana…Audina terbaring.Perban melilit lengannya.Bahunya tertutup kain bersih yang mulai ternodai merah samar.Namun napasnya… sudah lebih teratur.Seorang tabib tua berdiri di sampingnya, memeriksa luka dengan hati-hati.“Dia beruntung,” katanya pelan pada pelayan di dekatnya.“Luka itu dalam… tapi tidak mengenai titik vital.”Pelayan itu menghela napas lega.“Dia kuat…” lanjut sang tabib.“…atau mungkin… terlalu keras kepala untuk jatuh.”Kelopak mata Audina bergerak.Pelan.Berat.Dunia terasa kabur saat ia membuka mata.Cahaya lilin menusuk lembut penglihatannya.“…di mana…?” bisiknya lemah.Pelayan yang berjaga langsung mendekat.“Nona! Anda sudah sadar!”Audin
Langit Aethelgard masih menyala redup oleh sisa api.Namun di dalam istana… ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari kobaran itu.Keheningan.Keheningan yang tidak lagi berarti aman.Melainkan… sebelum badai berikutnya datang.Jalan yang Akhirnya TerbukaLorong bawah tanah mulai berubah.Tidak lagi penuh kepungan.Tidak lagi tertutup rapat.Karena di satu titik…seseorang telah memaksa jalan itu terbuka.Rionaldo.Dan efeknya mulai terasa.Rafka dan pasukannya bergerak naik.Justin menjauh dari kejaran.Dan jalur menuju pusat istana… perlahan tidak lagi terkunci sepenuhnya.Semua bergerak.Tanpa sadar… menuju satu titik yang sama.Di tangga batu menuju lantai utama…Jagatra berhenti sejenak.Lucas di belakangnya.Prajurit di sekeliling mereka… lebih sedikit dari sebelumnya.Namun cukup.Jagatra menatap ke atas.Ke arah aula utama.Ke arah… singgasana.“…dia ada di sana,” katanya
Di bawah tanah Aethelgard… Rafka berdiri di tengah kemenangan kecil. Namun dampaknya… tidak kecil. Ia menghentikan jalur suplai. Ia menggagalkan rencana tersembunyi. Dan yang paling penting,ia membuktikan sesuatu. Bukan pada orang lain. Tapi pada dirinya sendiri. Bahwa ia… bukan lagi bayangan. Sementara di atas sana… Kaesar terus menggerakkan bidaknya. Dan Jagatra menyusun langkah berikutnya. Lorong bawah tanah Aethelgard… masih bergetar oleh sisa pertempuran. Namun di satu titik… pertempuran belum selesai. Di persimpangan sempit dekat gudang utara, Rionaldo berdiri sendirian. Di sekelilingnya… puluhan prajurit masih mengepung. Napasnya stabil. Tatapannya tenang. Seolah jumlah mereka… tidak berarti. “Menyerah,” kata salah satu perwira dingin. Rionaldo tidak menjawab. Ia hanya memutar pedangnya pel
Lorong bawah tanah Aethelgard… masih dipenuhi gema pertempuran. Namun tidak lagi kacau seperti sebelumnya. Kini… ada arah. Sisa dari Jebakan Di aula penyimpanan yang telah porak-poranda, Rafka berdiri di tengah napas yang belum stabil. Prajurit di sekelilingnya terengah. Beberapa terluka. Beberapa masih menggenggam senjata dengan tangan gemetar. Namun mereka… masih berdiri. Itu saja… sudah kemenangan kecil. Kesadaran yang Datang Cepat Rafka menatap para penyusup yang berhasil ditangkap. Pakaian pelayan. Namun gerakan mereka… bukan pelayan. “Ini bukan pasukan utama,” gumamnya. Salah satu prajurit menoleh. “Paduka… maksudnya?” Rafka menyipitkan mata. “Kalau ini inti rencana Kaesar…” “…dia tidak akan membiarkannya selemah ini.” Sunyi. Lalu satu kata keluar pelan:
Balai Agung kembali hening setelah perdebatan tajam antara Jagatra dan Cristian. Meski semuanya tampak tenang di permukaan, udara istana penuh dengan bara-bara tak terlihat, politik, kecemburuan, dan ambisi yang siap meledak kapan saja.Namun, di balik semua sorotan itu seseorang lain ju
Fajar baru saja menyentuh puncak menara Aethelgard Silvanus ketika Balai Agung kembali dipenuhi para bangsawan, penasihat istana, dan para pangeran.Hari ini, Raja William mengadakan pertemuan terbatas setelah insiden penyerangan pada Pangeran Mahkota Jagatra. Semua mata tertuju pada san
Di salah satu lorong sepi istana, Cristian berjalan perlahan. Langkahnya tampak santai, tapi pikirannya justru berputar. Ia tadi mendengar suara Ellisha dari kejauhan suara yang jelas sedang berusaha menahan tangis.Meski Putri Ellisha selalu tampil anggun, Cristian tahu benar: malam ini
Malam itu, istana Aethelgard Silvanus tenggelam dalam keheningan. Angin malam menyapu tirai-tirai panjang yang tergantung di balkon kamar Putri Ellisha. Namun suasana damai itu tak mampu menenangkan badai yang berputar di dalam hati sang putri.Di depan meja rias berhias kristal, Ellisha







