LOGINKoridor istana Aethelgard malam itu terasa asing.Sunyi.Namun bukan sunyi yang damai.Melainkan sunyi… setelah terlalu banyak tangisan ditahan.Langkah yang Tidak TenangEllisha berjalan pelan di lorong dekat ruang penyembuhan.Nara mengikuti beberapa langkah di belakang.Biasanya, Ellisha akan menjaga sikapnya tetap tegak.Tetap anggun.Tetap tenang.Namun malam ini…langkahnya goyah.Tangannya terus menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Kuat.Seolah hanya itu yang menahannya agar tidak runtuh.Ia berhenti tepat di depan ruang penyembuhan.Pintu kayu itu tertutup.Dari dalam… terdengar suara pelan.Tabib.Pelayan.Dan sesekali… suara Audina yang lemah.Ellisha membeku.Ia sudah berlari ke sini sebelumnya.Sudah melihat darah itu.Namun sekarang…setelah semuanya lebih tenang…rasa bersalah itu justru terasa lebih besar.“…Putri…” bisik Nara hati-hati.Ellisha tidak m
Langit Aethelgard masih menyisakan cahaya merah yang samar.Namun jauh dari aula utama…jauh dari takhta dan benturan dua pangeran…ada satu tempat yang justru dipenuhi keheningan berbeda.Ruang penyembuhan.Nafas yang KembaliAroma obat memenuhi udara.Lilin-lilin kecil menyala redup di setiap sudut.Di atas ranjang sederhana…Audina terbaring.Perban melilit lengannya.Bahunya tertutup kain bersih yang mulai ternodai merah samar.Namun napasnya… sudah lebih teratur.Seorang tabib tua berdiri di sampingnya, memeriksa luka dengan hati-hati.“Dia beruntung,” katanya pelan pada pelayan di dekatnya.“Luka itu dalam… tapi tidak mengenai titik vital.”Pelayan itu menghela napas lega.“Dia kuat…” lanjut sang tabib.“…atau mungkin… terlalu keras kepala untuk jatuh.”Kelopak mata Audina bergerak.Pelan.Berat.Dunia terasa kabur saat ia membuka mata.Cahaya lilin menusuk lembut penglihatannya.“…di mana…?” bisiknya lemah.Pelayan yang berjaga langsung mendekat.“Nona! Anda sudah sadar!”Audin
Langit Aethelgard masih menyala redup oleh sisa api.Namun di dalam istana… ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari kobaran itu.Keheningan.Keheningan yang tidak lagi berarti aman.Melainkan… sebelum badai berikutnya datang.Jalan yang Akhirnya TerbukaLorong bawah tanah mulai berubah.Tidak lagi penuh kepungan.Tidak lagi tertutup rapat.Karena di satu titik…seseorang telah memaksa jalan itu terbuka.Rionaldo.Dan efeknya mulai terasa.Rafka dan pasukannya bergerak naik.Justin menjauh dari kejaran.Dan jalur menuju pusat istana… perlahan tidak lagi terkunci sepenuhnya.Semua bergerak.Tanpa sadar… menuju satu titik yang sama.Di tangga batu menuju lantai utama…Jagatra berhenti sejenak.Lucas di belakangnya.Prajurit di sekeliling mereka… lebih sedikit dari sebelumnya.Namun cukup.Jagatra menatap ke atas.Ke arah aula utama.Ke arah… singgasana.“…dia ada di sana,” katanya
Di bawah tanah Aethelgard… Rafka berdiri di tengah kemenangan kecil. Namun dampaknya… tidak kecil. Ia menghentikan jalur suplai. Ia menggagalkan rencana tersembunyi. Dan yang paling penting,ia membuktikan sesuatu. Bukan pada orang lain. Tapi pada dirinya sendiri. Bahwa ia… bukan lagi bayangan. Sementara di atas sana… Kaesar terus menggerakkan bidaknya. Dan Jagatra menyusun langkah berikutnya. Lorong bawah tanah Aethelgard… masih bergetar oleh sisa pertempuran. Namun di satu titik… pertempuran belum selesai. Di persimpangan sempit dekat gudang utara, Rionaldo berdiri sendirian. Di sekelilingnya… puluhan prajurit masih mengepung. Napasnya stabil. Tatapannya tenang. Seolah jumlah mereka… tidak berarti. “Menyerah,” kata salah satu perwira dingin. Rionaldo tidak menjawab. Ia hanya memutar pedangnya pel
Lorong bawah tanah Aethelgard… masih dipenuhi gema pertempuran. Namun tidak lagi kacau seperti sebelumnya. Kini… ada arah. Sisa dari Jebakan Di aula penyimpanan yang telah porak-poranda, Rafka berdiri di tengah napas yang belum stabil. Prajurit di sekelilingnya terengah. Beberapa terluka. Beberapa masih menggenggam senjata dengan tangan gemetar. Namun mereka… masih berdiri. Itu saja… sudah kemenangan kecil. Kesadaran yang Datang Cepat Rafka menatap para penyusup yang berhasil ditangkap. Pakaian pelayan. Namun gerakan mereka… bukan pelayan. “Ini bukan pasukan utama,” gumamnya. Salah satu prajurit menoleh. “Paduka… maksudnya?” Rafka menyipitkan mata. “Kalau ini inti rencana Kaesar…” “…dia tidak akan membiarkannya selemah ini.” Sunyi. Lalu satu kata keluar pelan:
Di lorong sempit dekat gudang utara yang telah hangus, Justin Stewart Andrian berjalan cepat. Napasnya tidak teratur. Langkahnya ringan… tapi tidak cukup ringan untuk menghapus jejak. Asap masih tersisa. Bau kayu terbakar masih kuat. Dan itu… masalahnya. “Seharusnya aku tidak tinggal terlalu lama…” gumamnya pelan. Perubahan yang Terlambat Disadari Langkah kaki terdengar. Bukan satu. Banyak. Dari dua arah. Justin berhenti. Matanya menyipit. “…cepat sekali,” bisiknya. Ia menoleh ke belakang. Lorong yang tadi kosong… kini dipenuhi bayangan. Dari depan, prajurit muncul. Dari belakang… juga. Jalan keluar… tertutup. Justin menghela napas panjang. “Jadi ini cara kalian…” katanya pelan. Nama yang Sudah Diketahui Seorang perwira maju. T
Suasana ruang makan istana malam itu tegang sejak detik pertama semua orang duduk.Tak ada musik, tak ada tawa hanya denting sendok dan garpu yang terdengar.Jagatra duduk di posisi khusus pangeran mahkota, tapi sorot matanya tidak pernah lepas dari dua orang:Audina dan Cristian.Audina duduk lebi
Angin sore berhembus lembut di halaman belakang istana,tapi itu tak terasa lembuat bagi Audina, Setelah kejadian di dapur, semua tatapan terasa lebih menusuk dari biasanya. Gumaman para pelayan mengikuti langkahnya ke mana pun ia pergi.Ia butuh udara. Butuh jarak. Butuh menjernihkan kepala yang me
Suasana dapur kerajaan kacau.Para pelayan berkerumun di satu sudut, berbisik-bisik ketakutan. Di tengah mereka, Audina berdiri dengan wajah bingung dan pucat. Di depannya tergeletak sebuah kantong kecil berisi bubuk hitam barang terlarang yang bisa mencemari makanan kerajaan.Dan itu ditemukan di
Jagatra berjalan di koridor timur dengan langkah cepat. Wajahnya tampak lelah, namun matanya menyimpan tekad yang sulit dipatahkan. Informasi yang ia cari semalam hilang, dan itu hanya punya satu arti:Seseorang sengaja menghapusnya.Dan ia tahu siapa orang itu.Ia berhenti ketika melihat Kaesar se







