LOGINDi tengah perang yang mengguncang aula utama Aethelgard…ada satu ruangan kecil yang tetap dipenuhi cahaya lilin redup.Namun bahkan tempat itu… tidak lagi benar-benar jauh dari perang.Karena setiap benturan dari aula utama masih terdengar samar sampai ke sana.CLANG!BRAK!DUGG!Setiap suara membuat para pelayan saling menoleh dengan wajah tegang.Dan di atas ranjang sederhana dekat jendela…Audina perlahan membuka mata.Napasnya masih berat.Lukanya belum pulih sepenuhnya.Namun suara itu…suara perang di dalam istana…tidak memberinya kesempatan untuk benar-benar beristirahat.Pelayan yang berjaga langsung mendekat.“Nona Audina, Anda belum boleh bangun.”Audina menoleh pelan ke arah jendela.Cahaya pagi masuk samar.Namun yang lebih jelas terdengar…adalah suara pertempuran.“…mereka mulai,” bisiknya lirih.Tangannya perlahan menggenggam selimut.Pikirannya langsung menuju satu nama.
CLANG!Suara puluhan pedang yang terhunus menggema memenuhi aula utama Aethelgard.Prajurit Kaesar mulai bergerak maju. Teratur. Rapih. Menekan dari segala arah.Sementara di tengah aula…Jagatra tetap berdiri diam.Rionaldo di depannya. Cristian di sisi kanan. Rafka baru saja masuk dari pintu belakang aula bersama beberapa prajurit bawah tanah.sejak malam panjang itu dimulai… orang-orang mulai berkumpul di belakang satu nama.Jagatra.“MAJU!”Bentakan salah satu komandan Kaesar memecah udara.Prajurit langsung menyerbu.BRAK!Rionaldo bergerak pertama.Pedangnya menghantam barisan depan tanpa ragu. Membuka ruang.“Sebelah kiri!” teriak Cristian.Pasukan kecil di sisi Jagatra langsung bergerak mengikuti arah itu.Benturan mulai pecah di seluruh aula.CLANG! BRAK! DUGG!Jeritan. Langkah kaki. Suara logam.Aula kerajaan… akhirnya berubah menjadi medan perang sungguhan.Di tengah kekacauan itu, Jagatra tet
Aethelgard perlahan memasuki pagi.Namun istana itu… tidak terasa seperti tempat yang menyambut matahari.Lorong-lorongnya masih dipenuhi prajurit bersenjata. Darah masih belum sepenuhnya dibersihkan dari lantai batu. Dan di balik setiap pintu…orang-orang mulai memilih pihak.Aula yang Tidak Pernah Benar-Benar TenangDi aula utama, Jagatra masih berdiri di depan singgasana.Pertarungan dengan Kaesar sempat terhenti setelah kekacauan sebelumnya. Namun ketegangan… tidak benar-benar hilang.Kaesar berdiri di tangga atas. Tatapannya dingin.Sementara beberapa prajurit mulai memenuhi sisi aula perlahan.Jagatra menyadari itu.“…kau mulai menyembunyikan pasukan sekarang?” tanyanya datar.Kaesar tersenyum tipis.“Dan kau mulai kehabisan orang.”Sunyi.Kalimat itu… tidak sepenuhnya salah.Lucas menghilang. Justin dipenjara. Michael sudah mati.Jagatra benar-benar berdiri dengan lebih sedikit orang di sisinya.Namun ekspres
Fajar mulai menyentuh langit Aethelgard.Cahaya pucat perlahan menggantikan merah api malam sebelumnya. Namun istana itu… tidak benar-benar menjadi lebih tenang.Karena setiap sudutnya masih dipenuhi luka.Michael telah dieksekusi. Justin dipenjara. Lucas menghilang.Dan di tengah semua kekacauan itu… seseorang akhirnya kembali dari bawah tanah.Lorong distribusi timur dipenuhi prajurit yang kelelahan.Beberapa duduk bersandar ke dinding batu. Beberapa masih memegang senjata dengan tangan gemetar.Namun saat langkah itu terdengar…semua langsung mengangkat kepala.Rafka Narendra Afsar berjalan di depan.Pakaiannya penuh debu. Ada noda darah di lengan dan bahunya. Napasnya masih berat.Namun langkahnya… tegak.Di belakangnya, pasukan yang semalam bertarung bersamanya ikut berjalan keluar dari lorong bawah tanah.Dan untuk pertama kalinya…mereka mengikuti seseorang bukan karena perintah.Melainkan karena percaya.Seorang
Halaman dalam Aethelgard masih sunyi setelah eksekusi itu.Tidak ada yang benar-benar bergerak. Tidak ada yang berani bicara terlalu keras.Seolah seluruh istana… masih terpaku pada darah yang baru saja jatuh.Namun bagi Kaesar… semuanya belum selesai.Kaesar berdiri di tangga batu tertinggi. Tatapannya dingin menyapu para prajurit.Lalu ia berkata singkat:“Cari Justin.”Satu kalimat itu langsung mengubah udara.Para perwira menegang.Karena mereka tahu… setelah Michael, target berikutnya sudah ditentukan.“Bawa dia hidup-hidup,” lanjut Kaesar pelan.Ia berhenti sejenak.“…aku ingin dia melihat sendiri apa yang terjadi pada pengkhianat.”Di sisi lain istana, Justin berlari melewati lorong sempit bawah tanah.Napasnya berat.Luka di bahunya mulai terasa semakin panas. Darah masih merembes perlahan dari balik kain yang diikat seadanya.Namun ia tetap bergerak.Karena berhenti berarti tertangkap.“Gila…” gumamnya
Fajar belum benar-benar datang di Aethelgard.Langit masih kelabu. Udara masih dipenuhi bau asap dan darah.Namun di halaman dalam istana… sesuatu yang lebih dingin dari perang sedang dipersiapkan.Sebuah hukuman.Tahanan yang Dibawa KeluarRantai besi bergemerincing pelan.Michael Lloris berjalan di tengah barisan prajurit. Tangannya terikat. Langkahnya berat. Namun wajahnya… justru terlalu tenang.Beberapa pelayan yang melihat dari kejauhan langsung menunduk ketakutan.Karena mereka tahu siapa pria itu.Seorang pangeran kerajaan.Dan pagi ini… ia diperlakukan seperti pengkhianat biasa.Di balkon atas halaman eksekusi, beberapa bangsawan berdiri dalam diam.Tidak ada yang berani bicara.Karena perintah ini datang langsung dari Kaesar.Dan tidak seorang pun berani menentangnya sekarang.Di lorong menuju aula utama, seorang prajurit berlari tergesa.“Paduka Cristian!”Cristian langsung menoleh.“Apa?”Prajuri
Di lorong panjang menuju ruang persiapan prajurit, lampu-lampu minyak berkelip lembut, memantulkan bayangan yang bergerak ketika seseorang melangkah perlahan. Langkah itu milik Ravel. Ia baru saja selesai melapor kepada salah satu penjaga istana tugasnya sebagai mata-mata membuatnya harus selalu m
Meski lukanya sudah dibalut salep, rasa nyeri itu belum sepenuhnya hilang. Namun satu hal membuatnya bertahan Audina masih ada di sana.Ia duduk di kursi kecil dekat tempat tidur, kepalanya bersandar pada lengan kursi. Cahaya lilin yang redup jatuh di wajahnya, membuatnya terlihat damai meski jelas
Fajar belum benar-benar muncul saat Audina terbangun lebih awal dari biasanya. Tidurnya tidak nyenyak bayangan luka di punggung Jagatra terus terulang di kepalanya memar gelap, tarikan napas tertahan, dan cara Jagatra berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.Ia tidak tahan hanya diam.Audina mengambi
Malam setelah perjamuan itu berjalan lambat terlalu lambat bagi Jagatra. Setelah kejadian percobaan peracunan, istana tampak lebih sunyi daripada biasanya. Jagatra berjalan menuju kediamannya dengan langkah berat. Ravel mengikutinya dari belakang, tetap waspada.“Yang Mulia,” ucap Ravel lirih. “Sa







