Share

bab 14 Sebuah Rencana.

Author: Pita
last update Last Updated: 2025-10-05 08:29:21

Di ruang bawah tanah istana yang jarang disentuh cahaya matahari, Pangeran Kaesar duduk sambil melingkarkan jarinya di atas peta besar Kerajaan Aethelgard Silvanus. Api obor menari di dinding, menyoroti senyumnya yang penuh kelicikan.

“Jagatra mungkin masih dianggap sebagai pewaris sah,” ujarnya lirih, “tapi kita semua tahu… ia hanya boneka yang tak dicintai siapa pun.”

Lucas, yang bersandar santai di kursi, menambahkan dengan nada sinis,

“Kau yakin? Dia memang sendirian, tapi dia punya keteguhan yang membuat rakyat mungkin mulai menaruh simpati. Itu berbahaya bagi kita, Kaesar.”

Kaesar tersenyum tipis. “Itu sebabnya kita harus mulai sekarang.” Ia menunjuk nama sebuah desa kecil di peta. “Aku sudah tahu siapa yang sering ia temui. Gadis penjual bunga itu. Dialah celah kita.”

Michael, yang duduk lebih jauh di bayangan, meneguk anggurnya dengan malas. “Seorang gadis biasa tidak akan mampu mengubah takdir istana. Tapi… kalau kita manfaatkan dengan benar, dia bisa jadi senjata untuk menja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 103 Saudara yang berkhianat.

    Beberapa bangsawan menunduk, yang lain menatap lantai marmer seolah takut melihat pantulan wajah mereka sendiri, wajah orang-orang yang terlalu lama hidup di dalam kebohongan yang nyaman.Kaesar berdiri kaku, napasnya berat.“Sepanjang hidupku, aku diajarkan satu hal bahwa tugasku adalah menggantikan Jagatra jika ia dianggap tidak layak.”Ia menoleh ke arah Ratu Elean.“Bukan karena aku lebih pantas,tapi karena aku lebih mudah dibentuk.”Ratu Elean tidak menyangkal.“Aku membesarkanmu sebagai tameng,jika Jagatra jatuh, kerajaan tidak ikut runtuh.”Jagatra mengepalkan tangannya, namun suaranya tetap terkendali. “Dan demi tameng itu, kau menyiapkan pisau di belakangku.”Kaesar menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali.“Semua dukungan yang kudapat,” ucap Kaesar, “semua fitnah yang beredar bukan kebetulan.”Ratu Elan menghela napas panjang. “Aku tidak memulainya,tapi aku membiarkannya.”Beberapa bangsawan terperanj

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 102 Rahasia kelahiran.

    Balai Agung belum sepenuhnya kosong saat seorang pejabat arsip berambut putih melangkah kembali ke tengah aula,tangannya gemetar memegang satu map yang berbeda lebih tipis, bersegel lama dengan lilin yang warnanya sudah pudar.“Yang Mulia,” ucapnya ragu pada Raja William. “Dalam proses penelusuran arsip keputusan darurat kami menemukan lampiran yang selama ini diklasifikasikan sebagai pribadi kerajaan.”Raja William mengangkat wajah. Ratu Elean menegang, kali ini lebih jelas.“Bacakan,” perintah Raja, suaranya serak.Pejabat itu menelan ludah. “Ini bukan tentang kebijakan, Ini tentang kelahiran.”Jagatra menoleh perlahan, alisnya berkerut tipis sedangkan Kaesar berdiri kaku, seolah tubuhnya menolak bergerak lebih jauh.“Lampiran ini,” lanjut pejabat itu, “menyatakan bahwa pada malam kelahiran Pangeran Kaesar, terjadi keadaan darurat di istana,dokumen ini ditandatangani oleh tabib kerajaan dan disahkan oleh Yang Mulia Ratu Elean.”

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 101 luka yang membuka mata.

    Kaesar melangkah maju setengah langkah, wajahnya tidak lagi setenang yang selama ini ia pakai.“Jadi, seluruh hidupku adalah hasil keputusan yang tidak pernah kuambil sendiri?”Ratu Elean membuka mata,tatapannya lurus, ia tak menghindar.“Kau dibesarkan untuk kuat,nukan untuk bertanya.”balas Ratu elean datar.Kaesar tertawa.“Dan Jagatra dibesarkan untuk jujur,tanpa pernah diberi kejujuran.”Jagatra tidak menyela, Ia membiarkan luka itu berbicara sendiri.Seorang bangsawan tua berdiri dengan tangan gemetar.“Jika keputusan darurat ini digunakan tanpa legitimasi hukum maka semua penguatan dukungan selama ini...”“tidak sah,” sambung pejabat arsip kerajaan dengan suara tertahan.“Dan banyak keputusan politik berdiri di atas fondasi rapuh.”Bisik-bisik kembali bergelombang, kali ini bukan rumor, melainkan ketakutan.Raja William menatap kedua putranya bergantian, tidak ada kebanggaan di wajahnya hanya pe

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 100 Rahasia besar terungkap.

    Balai Agung dibuka lebih awal dari biasanya,tidak ada pengumuman megah, tidak ada panggilan paksa,namun bangku-bangku terisi perlahan oleh para bangsawan, kesatria, pejabat, bahkan perwakilan rakyat yang jarang diizinkan masuk sejauh itu berada disana.Jagatra masuk tanpa iring-iringan berlebihan, Ia berjalan sendiri ke tengah aula, berhenti beberapa langkah dari singgasana.Raja William sudah duduk di singgasananya,di sisi kanan, Ratu Elean anggun seperti biasa,di sisi kiri, Kaesar berdiri dengan wajah tenang yang sudah ia pelajari selama bertahun-tahun.“Pangeran Mahkota,” suara Raja William menggema, datar. “Kau meminta audiensi terbuka, katakan tujuanmu.”Jagatra mengangguk. “Aku datang bukan untuk membela diriku dan bukan pula untuk menuduh.” ucap Jagatra dengan suara tegas.Bisik-bisik langsung terdengar.“Aku datang,” lanjut Jagatra, “untuk membuka satu kebenaran yang selama ini disimpan demi apa yang disebut stabilitas.”

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 99 Api balas dendam menyala.

    Jagatra berdiri di ruang kerjanya, menatap meja kayu tua yang dipenuhi catatan.“Api tidak selalu menyala dengan ledakan,” ucapnya pelan.Ravel mengangguk. “Kadang ia mulai dari bara yang ditinggalkan orang lain.”“Cristian,” jawab Jagatra singkat. “Dan Audina.”Ia menutup satu map, lalu membuka yang lain laporan-laporan kecil dari distrik, catatan tentang penjagaan yang kembali ke pola lama, bisik-bisik yang kini berubah menjadi pertanyaan terbuka.“Mereka tidak lagi bertanya siapa yang salah,” lanjut Jagatra. “mereka mulai bertanya bagaimana kesalahan itu dibiarkan.”“Itu lebih berbahaya.”“Untuk mereka,” Jagatra mengiyakan.Di sisi lain istana, Kaesar duduk sendirian, pagi ini, tidak ada utusan yang tergesa, tidak ada laporan yang membuatnya tersenyum, yang ada hanya keheningan.Ia meraih cangkir teh, lalu meletakkannya kembali tanpa ia minum.“Cristian gagal,” gumamnya. “Ellisha mundur. dan Jagatra diam.”

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 98 Cristian gagal.

    Pagi itu datang tanpa hiruk, Cahaya menembus jendela paviliun luar.Cristian terbangun dengan napas berat. Luka-lukanya belum sepenuhnya pulih, namun yang paling mengganggunya bukan rasa nyeri di tubuh melainkan beban di dada yang tak bisa dibalut perban, Ia duduk perlahan, menatap tangannya sendiri, jemari yang dulu sigap kini gemetar tipis.Ellisha tidak ada di ruangan, Ia tahu bukan karena ia pergi jauh, tapi karena ia sudah memilih keluar dari pusaran.Seorang tabib istana masuk membawa ramuan. “Yang Mulia Pangeran Cristian, Anda seharusnya beristirahat lebih lama.”Cristian tersenyum lemah. “Istirahat tidak selalu menyembuhkan kegagalan.”Tabib itu tidak menjawab, Ia tahu kapan harus diam.Siang harinya, kabar resmi beredar, kesaksian Cristian tentang insiden penyerangan tidak akan dilanjutkan ke tahap sidang terbuka, Alasan yang diberikan rapi kondisi kesehatan, ketidakcukupan bukti lanjutan dan stabilitas kerajaan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status