LOGINLuis menatap ke luar jendela dengan penuh harapan.Zahra mengangguk. "Ayahanda pasti akan mewujudkannya."Tentu saja akan terwujud.Semua itu telah dia persiapkan lebih dari sepuluh tahun, lintas berbagai negeri. Bukan hanya peta rute yang diberikan Keswan, tetapi juga rute yang disiapkan Gilang. Semuanya ingin mereka kunjungi satu per satu."Mulai besok, Zahra akan tinggal di istana," ujar Zahra sambil tersenyum.Sebelumnya dia sempat dibuat kalut oleh perasaan yang belum jelas arahnya. Kini dia sadar, jika sekarang tidak meluangkan waktu untuk benar-benar berkumpul sebagai keluarga, kelak Ayahanda, Ibu, bahkan Zenna mungkin akan ikut bepergian. Saat itu, sekalipun dia ingin bertemu, yang tersisa hanyalah rindu dari kejauhan."Selamat jalan, Ayahanda," ucap Zahra memberi salam.Di luar kediaman Putri Mahkota, semua orang mengantar kepergian Kaisar, "Selamat jalan, Kaisar!"Zahra menoleh ke arah Arya. "Coba tebak, apa yang Ayahanda bicarakan denganku?" Sambil berkata demikian, dia berb
"Maksud Ayahanda ...?"Luis berkata, "Di hari ulang tahunmu, aku akan mengumumkan bahwa bulan depan aku akan turun takhta."Zahra mengernyitkan kening. Harus diakui, dia memang merasakan sedikit gejolak di hatinya. Perasaan itu bukan kegembiraan, melainkan lebih kepada ketegangan. Dia teringat apa yang pernah dikatakan Ilham, bahwa banyak anggota keluarga kekaisaran yang berebut takhta hingga kepala berdarah-darah.Saling membunuh antar saudara, pemberontakan, segala cara ditempuh demi posisi itu. Sementara dia memperolehnya dengan begitu mudah. Tidak ada perasaan yang terlalu istimewa, bahkan di dalam hatinya sempat terlintas bahwa posisi itu seharusnya diduduki oleh Ishaq.Zahra berlutut. "Zahra akan mematuhi titah Ayahanda."Luis membantunya berdiri, lalu berkata dengan nada serius, "Saat ini, Perdana Menteri Kumar memimpin para menteri. Mereka semua adalah orang-orang yang diangkat Ayahanda sendiri. Bisa jadi kelak kamu akan sulit mengendalikan mereka. Karena itu, Ayahanda meningga
Zahra mengatupkan bibirnya. Sejak dia menyetujui Arya dan memilih Arya sebagai suami pendamping, semuanya ternyata tidak sesulit dan sepahit yang dia bayangkan.Sebaliknya, hanya dengan membayangkan jika dia keluar dan berkata pada Arya bahwa dia tidak jadi memilih suami pendamping, lalu melihat ekspresinya yang terluka dan kecewa .... Baru sekadar membayangkannya saja sudah membuat hatinya tidak tega."Ayahanda, Zahra berterima kasih kepada Ayahanda." Tatapan Zahra ke arah ayahandanya kini menyiratkan lebih banyak rasa kagum dibanding sebelumnya.Perasaan itu seperti ... seperti perasaan ketika dulu dia memandang Paman Aska.Luis menatap kilau di mata Zahra. Seolah teringat sesuatu, dia lalu menghela napas. "Sepanjang hidup, Ayahanda sudah turun ke medan perang sejak muda. Dengan satu pertempuran, namaku jadi dikenal. Tapi kemudian, di pertempuran Uraba itu, Ayahanda dikhianati oleh anak buah sendiri, menjadi buta, wajah rusak, kaki patah, hidup serasa tak lagi berarti.""Tapi, Ayahan
"Ayahanda, sebenarnya Arya yang mengajarkanku ilmu Tao ...." Zahra akhirnya hanya bisa berkata jujur. Lagi pula, dia sudah tahu bahwa dirinya memang bukan tandingan Arya.Luis mengeluarkan suara "oh". Aska ini benar-benar sudah mengubah putranya, putrinya, bahkan menantunya, semuanya menjadi praktisi Tao."Bagaimana kalau kalian berdua beradu sebentar?" ujar Luis.Zahra agak terkejut. Namun, kemudian dia mengangguk, "Baik, Ayahanda."Arya juga merangkapkan tangan ke arah Luis, "Baik, Yang Mulia."Zahra menoleh menatap Arya, dalam hatinya dia tidak mengerti mengapa Ayahanda tiba-tiba datang dan bahkan ingin melihat mereka beradu.Arya hanya tersenyum tipis. "Kalau begitu Putri duluan?"Kedatangan Kaisar ke sini, sepertinya memang karena urusan suami pendamping. Lagi pula, Zahra baru saja mengatakan bahwa dia sudah menyampaikan kepada Permaisuri soal memilih Arya sebagai suami pendamping.Pasti Permaisuri telah berbicara pada Kaisar, itulah sebabnya Kaisar datang kemari.Zahra membentuk
Luis tersenyum, menatap orang di hadapannya. Hatinya terasa manis dan hangat. "Seperti aku dan kamu, mana mungkin memilih yang kedua?""Benar, nggak mungkin.""Karena Zahra bisa memilih Arya, setidaknya itu berarti dia punya perasaan suka pada Arya. Siapa bilang ke depannya mereka nggak bisa seperti kita, cinta tumbuh seiring waktu?"Anggi memeluk Luis, mendongak, masih seperti perempuan muda berusia 20-an yang manja. "Ya, apa yang dikatakan suamiku masuk akal."Luis mengusap ringan hidung Anggi, menunduk menatap wajahnya yang hampir tak berubah selama belasan tahun. Semakin dilihat, semakin dia merasa bahagia. Atau mungkin memang ada perubahan, tetapi di matanya hanya ada rasa bahagia."Pokoknya, jangan sampai dia jatuh cinta pada Kak Aska."Luis terdiam sejenak. "Kalau ... kalau Zahra bersikeras menyukai Aska bagaimana?""Nggak ada kalau. Sekalipun kita berdua setuju, menurutmu Kak Aska akan setuju?"Luis menggeleng. "Nggak.""Lebih baik kamu doakan agar Zahra dan Arya hidup bahagia.
"Ini berarti kita akan berhadapan langsung secara resmi dengan Negara Darmo?" Kalau begitu, rencana Luis untuk turun takhta sepertinya harus ditunda.Luis mengangguk. "Benar, tapi bukan sekarang.""Jangan bilang kamu berniat melemparkan kekacauan ini kepada Zahra?" Anggi mulai kesal."Gigi, jangan marah dulu."Anggi mengerutkan kening, menatap Luis, lalu menoleh ke Aska. "Kalian berdua ini sedang main teka-teki apa?""Beberapa tahun lalu Negara Darmo masih cukup patuh, tapi sekarang mereka kembali mulai gelisah. Selama ini, aku nggak pernah sepenuhnya mengabaikan ancaman dari Negara Darmo.""Kalau aku turun takhta dan menyerahkan takhta kepada Zahra, jasa menundukkan Negara Darmo harus tercatat atas nama Zahra."Mendengarnya, Anggi merasa itu memang masuk akal.Aska melanjutkan, "Walaupun para menteri sudah menerima status Putri Mahkota dan mengakuinya sebagai pewaris takhta, calon maharani masa depan, itu bukan berarti mereka akan tunduk sepenuhnya.""Kalau Zahra nggak mampu membuat m







