Share

Bab 3

Auteur: Lilia
"Obat ini seharusnya cukup efektif." Anggi mengambil sebotol salep berwarna putih dan mengorek sedikit dengan jarinya, lalu mengoleskannya di atas luka Luis.

Tanpa sadar, Luis mengernyit. Namun hanya sebentar saja, perasaan segar dan dingin menutupi lukanya.

Ekspresi Luis sedikit berubah. Tanpa sadar, dia menatap Anggi.

Anggi sedang memusatkan perhatiannya pada luka Luis. Dia mengerucutkan mulut dan meniup luka itu dengan pelan. Detik kemudian, seolah-olah menyadari sikapnya terlalu lancang, Anggi pun berhenti dengan canggung.

Luis merasa, wanita di depan ini sangat mirip dengan seseorang dalam ingatannya. Terutama efek obatnya ....

Namun, Luis hanya mengernyit dan tidak berkata apa-apa.

Setelah selesai merawat luka Luis, Anggi mengajak Luis untuk memberi salam pada Dariani.

Kaisar mengizinkan Dariani untuk tinggal selama tiga hari di Kediaman Pangeran Selatan untuk memantau prosesi pernikahan Luis. Hal ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Kaisar terhadap Dariani sehingga bisa mendapatkan perlakuan khusus seperti ini.

Anggi mendorong kursi roda Luis dan melangkah dengan pelan. Saat mereka baru meninggalkan kamar, seorang pelayan senior segera memasuki kamar mereka. Setelah melihat noda darah di atas kasur, dia baru keluar dengan perasaan puas.

Saat Anggi dan Luis tiba di tempat Dariani, pelayan senior tersebut sudah lebih dulu sampai. Dia mengangguk-anggukkan kepala di hadapan Dariani. Pada saat yang sama, Dariani pun tersenyum.

"Saya memberi salam pada Ibunda, semoga Ibunda dipenuhi berkah." Menghadap Dariani membuat Anggi merasa gugup. Telapak tangannya bahkan jadi basah karena keringat.

Dia takut akan salah berbicara atau berlaku, lalu membuat Dariani marah. Bagaimanapun, pemandangan saat tangan dan kakinya dilumpuhkan dalam kehidupan sebelumnya terus bermunculan dalam benaknya.

Dariani memperhatikan Anggi yang terlihat berhati-hati, lalu menoleh ke putranya yang tidak berekspresi. Walaupun Luis tidak terlihat senang, matanya tanpa sadar melirik Anggi saat Anggi berlutut. Dariani langsung tahu, Luis lumayan menyayangi istrinya.

Oleh karena itu, senyuman menghiasi wajahnya. "Berdirilah. Ayo, kemari. Aku mau melihatmu sebentar."

Anggi langsung merasa gugup. Dia takut dosa keluarganya akan ketahuan.

Faktanya, Keluarga Suharjo mengerahkan segala upaya untuk membuat Anggi menikah kemari menggantikan Wulan. Ini adalah tindakan penipuan terhadap Kaisar yang sangat serius. Kalau ketahuan, semua anggota Keluarga Suharjo akan dihukum mati.

Sekalipun Anggi kesal terhadap Keluarga Suharjo, dia tidak ingin membuat mereka celaka.

Untungnya, Dariani tidak pernah bertemu dengan Wulan. Setelah melihat-lihat Anggi, dia pun memberi hadiah pada Anggi dan membiarkan mereka pergi.

Anggi merasa lega, lalu mendorong kursi roda Luis dan pamit diri.

Sambil menatap kedua orang itu menjauh, Dariani bertanya pada pelayan senior di sisinya, "Gina, bagaimana menurutmu putri kedua dari Keluarga Suharjo ini?"

"Hamba pernah melihat putri kedua dari Keluarga Suharjo. Sepertinya bukan ini orangnya." Suara Gina sedikit menusuk, sepertinya dia kurang senang.

"Huh, aku dengar, Keluarga Suharjo sangat menyayangi putri kedua mereka. Karena mereka begitu menyayanginya, aku akan membuat mereka menderita. Berani-beraninya mereka menipu putraku!" Dariani mendengus kesal.

Tentu saja bukan tanpa alasan dirinya menunjuk Wulan untuk dinikahkan pada Luis. Dia pernah memeriksa latar belakang Keluarga Suharjo. Saat melihat Anggi tadi, dia juga langsung tahu bahwa menantu ini bukan Wulan.

Namun, sikap Luis yang bisa menerima Anggi membuatnya mengakui status menantu saat ini.

Hanya saja, Dariani pasti tidak akan membiarkan Keluarga Suharjo karena telah menipu dirinya.

Saat Luis dan Anggi meninggalkan paviliun tempat Dariani tingal, Anggi menghela napas panjang dengan lega.

"Apa yang kamu takutkan?" Suara cenderung serak Luis membuat Anggi sedikit terkejut.

Melihat tingkah istrinya yang selalu kaget karena hal kecil, Luis cuma bisa menggeleng.

Padahal putri dari keluarga jenderal, kenapa nyalinya sekecil ini.

"Pangeran, sebagai pengantin baru, hari ini saya harus kembali ke rumah orang tua. Apa Pangeran bisa menemani saya?" Setelah menenangkan diri, Anggi menatap Luis.

Luis mengernyit, lalu membalas tatapan Anggi. Pandangannya begitu sinis, seolah-olah bisa melukai orang yang dilihatnya.

Anggi tercengang. Setelah itu, dia baru teringat dengan bekas luka yang ada di wajah Luis.

Kenapa dia jadi lupa, dengan penampilan sekarang, mana mungkin Luis mau bertemu orang lain?

Dengan kelalaian seperti ini, tidak heran kalau Luis marah padanya.

"Pangeran, saya nggak bermaksud buruk. Kalau Pangeran nggak mau, saya boleh pulang sendiri," ujar Anggi secara terburu-buru karena menyadari kekesalan Luis.

Luis menatapnya dengan sinis, lalu pergi dengan menggerakkan kursi rodanya sendiri.

Anggi merasa gusar. Dia menyesal kenapa tidak berpikir dulu sebelum berbicara.

Sebenarnya, dia tidak merasa bekas luka di wajah Luis itu menyeramkan. Anggi sudah mulai terbiasa, jadi dia lupa kalau Luis lumayan peduli soal hal itu.

Sementara itu, Luis yang sudah pasti tidak bisa menemani Anggi, mengutus pengawal rahasianya yang bernama Dika untuk mengantar Anggi.

Anggi pun menaiki kereta kuda dan pulang ke rumahnya tanpa membawa apa pun.

Pintu rumah Keluarga Suharjo tertutup rapat. Setelah turun dari kereta kuda, Anggi mendongak untuk melihat bangunan ini. Inilah tempat yang sudah dia tinggali selama 16 tahun. Ini rumahnya, tapi semua anggota keluarganya, tidak menyukai dirinya.

Bahkan dirinya seringkali dituduh bersalah, sekalipun dia tidak berbuat apa-apa.

Anggi tersenyum sinis.

Karena keluarganya begitu tidak menyukainya, Anggi memutuskan untuk berhenti mengambil hati mereka.

Dia mengetuk pintu. Setelah lewat beberapa saat, pintu itu baru terbuka.

Begitu melihat Anggi, orang yang membukakan pintu tersentak kaget. "No ... Nona Anggi! Nona pulang?"

"Ya." Anggi membalas singkat, lalu masuk ke rumah.

"Nona! Nona ... nggak boleh masuk." Orang itu tanpa sadar menghalangi Anggi.

Anggi merasa heran dengan tindakan penjaga pintu ini. Setelah terpikir akan sesuatu, ekspresi Anggi langsung berubah.

Ya, dia teringat dengan cerita dalam novel. Saat dia lumpuh dan dilempar ke depan rumah Keluarga Suharjo, keluarganya sedang mengadakan pesta perjodohan untuk Wulan. Pasangan Wulan, tidak lain adalah teman sepermainan yang merupakan mantan tunangan Anggi, Satya Giandra sang Putra Bangsawan Aneksasi.

Dalam cerita tersebut, Satya sebenarnya tidak pernah menyukai Anggi. Orang yang dia sukai selama ini adalah Wulan. Selain itu, Satya juga adalah tokoh utama pria dalam novel ini yang akan menjadi Kaisar di Negeri Cakrabirawa kelak.

Anggi mengepal tangannya dengan erat. Setelah mendorong penjaga pintu, dia berjalan cepat menuju aula utama.

Suasana di aula utama Keluarga Suharjo saat ini penuh kegembiraan. Wulan tampak menunduk dengan tersipu. Sementara itu, Pratama Suharjo yang berada di sebelahnya sedang tertawa lepas. Tampaknya, dia sangat puas dengan keputusan perjodohan untuk putrinya ini.

Jelas sekali, dia sudah melupakan urusan pernikahan putrinya yang lain.

"Nona, Nona nggak boleh masuk ...."

Suara yang tiba-tiba terdengar itu memecah nuansa sukacita aula.

Semua orang sontak menoleh ke arah pintu dan mendapati Anggi yang murka sedang berdiri di sana.

Begitu melihat Anggi, raut wajah Pratama langsung menjadi suram.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1161

    Jika Zahra benar-benar tidak menyukai Arya, dia hanya bisa memilih pria lain. Asalkan perasaannya terhadap Aska bukanlah perasaan seperti itu."Ibunda, aku datang hari ini memang untuk membicarakan hal ini dengan Ibunda.""Oh? Apakah kamu sudah memilih?"Zahra mengangguk. "Keluarga Jenderal Tantomo, Arya."Meskipun masih dalam perkiraan, jawaban ini tetap terasa sedikit di luar dugaan. Bagaimanapun, saat dulu Aska menyatakan akan membantu Arya, Anggi tidak benar-benar yakin semuanya pasti berhasil.Menatap Zahra, hati Anggi terasa getir. "Zahra, katakan pada Ibunda, itu benar-benar pilihan dari lubuk hatimu?""Tentu saja, Ibunda.""Zahra, pernikahan setiap gadis adalah perkara yang sangat penting. Aku dan ayahandamu sama-sama berharap kamu bisa memilih orang yang kamu sukai. Kalau memang terlalu terburu-buru, sebenarnya juga bisa ditunda."Walaupun mereka memiliki rencana, rencana apa pun tidak pernah lebih penting daripada kebahagiaan anak."Ibunda harus menepati janji."Zahra sangat

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1160

    Di Istana Abadi.Arya, Ando, dan Titiek, beserta para pelayan lainnya, semuanya menunggu di luar aula. Setelah Puspa menyajikan teh, dia pun ikut keluar.Dia menatap Titiek, bertanya dengan mata, apa yang hendak dibicarakan Putri Mahkota hari ini? Bahkan dirinya juga diusir.Titiek melirik Arya yang berdiri di samping.Puspa mengerutkan alis. Ada hubungannya dengan Arya? Kalau begitu, pasti berkaitan dengan pemilihan pendamping. Jadi, apa keputusan Zahra?Puspa melirik diam-diam, melihat raut Arya yang tampak berseri-seri. Sepertinya hasilnya baik.Titiek melangkah mendekati Puspa dan berbisik, "Belakangan ini kamu masih membaca buku-buku itu?"Wajah Puspa langsung memerah. "Kenapa tiba-tiba membahas itu?"Permaisuri memang tahu dia suka membaca cerita-cerita itu, dengan sedikit ilustrasi pria tampan dan wanita cantik. Bahkan Permaisuri juga mendukungnya memiliki hobi di waktu luang.Titiek berkata lagi, "Hari itu, saat Putri Mahkota memanggilmu, apa yang dibicarakan?"Puspa teringat h

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1159

    Namun, di antara alis dan matanya terlukis sedikit kesedihan. Senyuman itu pun terasa getir.Bibir Zahra bergerak pelan. Bagaimana mungkin dia tidak tahu apa yang sedang Arya pikirkan?"Aku di sini." Melihat Zahra tidak berbicara, Arya berjalan kembali dua langkah, membuka payung dan memayungkannya di atas kepala Zahra untuk melindunginya dari sinar matahari.Sepasang mata yang seakan-akan bisa berbicara itu, bagaikan bintang yang kehilangan cahayanya, hanya menyisakan kilau sisa."Ada apa?" Arya tak tahan melihatnya mengerutkan kening dan tetap diam. Seketika, dia merasa khawatir. "Apa perkataan atau perbuatanku membuatmu serbasalah?"Dia sudah tahu. Buah yang dipaksakan untuk matang mana mungkin terasa manis?"Kalau begitu ... ke depannya aku masih boleh menjadi pengawal pribadimu?" Arya merasa takut.Ketika dia dengan berani mengejar Zahra, dia sudah membayangkan berbagai kemungkinan. Namun, jika pada akhirnya Zahra benar-benar tidak menyukainya, bahkan membencinya, sampai tidak mau

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1158

    Ferris tertegun sejenak. "Ah, benar juga."Dia juga mendekat ke Zenna. "Kenapa aku nggak terpikirkan itu ya? Putri Zenna benar-benar pintar."Dengan akting mereka yang begitu buruk, bukankah mereka sudah ketahuan sejak kemunculan pertama mereka?"Ferris, kenapa aku merasa kata-katamu ini seperti sedang menyindir?" kata Zenna sambil menyipitkan mata."Mana mungkin," kata Ferris dengan ekspresi yang makin serius.Zenna langsung berkata, "Ekspresimu tadi jelas-jelas bilang kalau tindakan ini kekanak-kanakan ...."Ferris terdiam karena dia memang berpikir tindakan itu kekanak-kanakan. Meskipun ilmu bela dirinya tidak bisa mengalahkan putri mahkota, untung saja dia sangat cepat dalam kabur. Lagi pula, putri mahkota juga tidak berniat mengejarnya. Jika tidak, dia mustahil bisa lolos saat dikepung Arya dan putri mahkota."Putri Harmoni, maksudku nggak begitu," kata Ferris yang meminta maaf dengan tulus.Zenna mengangkat bahunya, tidak peduli Ferris itu tulus atau tidak. Dia juga terpaksa mela

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1157

    Terdengar suara langkah kaki kuda lagi, lalu terlihat seorang pria bertopeng memelesat datang.Zenna berbisik, "Kak Arya, jangan dulu. Nanti kamu baru jadi pahlawan penyelamat si cantik."Arya langsung terdiam dan tetap hendak maju. Namun, Zenna mencengkeram lengan bajunya dan mengernyitkan alisnya sambil menggelengkan kepala, melarangnya untuk maju.Pada detik berikutnya, orang bertopeng itu sudah bertarung dengan Zahra. Namun, Zahra tidak memegang senjata, jelas berada di posisi kurang menguntungkan. Melihat itu, Arya merasa cemas dan hendak menerjang maju.Zahra tiba-tiba melompat dengan menjejak punggung kuda, lalu meluncur lurus ke arah Arya. "Kak Arya, tolong ...."Dia hampir saja terjungkal dan mencium tanah.Arya terpaksa berbalik dan menangkap Zahra, lalu menurunkannya ke tanah dengan selamat."Siapa kamu?" bentak Zahra.Saat melihat Zenna, Zahra merasa makin aneh. Namun, di detik berikutnya, pedang lentur di pinggang pria berbaju hitam itu meluncur keluar dan melayangkan sera

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1156

    "Aku hanya lebih muda beberapa bulan darimu saja. Kamu saja tahu, kenapa aku nggak boleh tanya?" kata Zenna.Ferris langsung terdiam."Kalau kamu nggak mau bilang, aku akan teriak. Aku akan bilang kamu melecehkanku," ancam Zenna.Ferris kembali terdiam."Putri, kamu juga nggak bisa begitu."Setelah terdiam sejenak, Ferris mengeluarkan sebuah belati pendek dari kantongnya. "Ini untukmu. Kamu bilang ingin punya belati kecil yang tajam untuk melindungi diri, aku jadi susah payah mencarikannya untukmu. Tapi, aku baru saja menemukannya, kamu malah mau memfitnahku."Saat menatap sarung belati yang bertatahkan permata itu, Zenna jelas menyukainya. "Aku suka, cantik sekali."Melihat Zenna menyukainya, Ferris pun terlihat agak bangga. Namun ....Zenna mengangkat kepala dan menatap Ferris. "Maksudmu, Kak Arya datang ke sini untuk berkencan dengan Kak Zahra?"Ferris menganggukkan kepala. Melihat gadis kecil itu, entah mengapa dia merasa Zenna makin lama makin menggemaskan dan juga makin cerdas. D

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status