Bagaimana mungkin Panji tidak keberatan? Itu adalah racun mematikan yang bisa menghancurkan organnya dan membuatnya lebih tersiksa daripada langsung mati!Panji pada dasarnya sudah tidak dapat berdiri tegak. Melihat Kahar mendekatinya sambil membawa racun, dia pun melangkah mundur dengan terhuyung-huyung karena ketakutan."Jangan mendekat! Jangan mendekat!""Kahar! Aku ini adik sepupumu dan suami Ayu! Sekarang, kita jelas-jelas adalah keluarga. Kenapa kalian memperlakukanku seperti ini!""Jadi, kamu masih ingat kalau kamu itu suaminya Ayu?" Kahar berjalan ke hadapan Panji, lalu, menatapnya dengan dingin sambil berujar, "Kamu temani Ayu pulang ke rumah orang tuanya sebagai suaminya. Tapi, kenapa kamu malah ada di sini, bukannya tinggal bersamanya?" Panji pun merasa panik, seolah-olah pikirannya telah terbaca. "A ... aku cuma jalan-jalan ...." Matanya berkedip, ekspresi bersalahnya tak bisa disembunyikan dari Kahar dan Ranjana. Apalagi, mereka sudah tahu niat jahat Panji. Mereka tidak
"Apa? Racun mematikan?" Kahar menatap Ranjana dengan tidak percaya. "Yang di tanganmu itu benar-benar racun mematikan?""Kak Kahar, kenapa kamu malah percaya pada Panji yang hanyalah orang luar, bukannya aku yang merupakan adikmu?"Ranjana melirik Panji. Pada saat ini, ekspresi terdistorsi di wajahnya telah lenyap total dan digantikan oleh ketidakacuhan, seolah-olah pria yang baru saja menggila dan ingin membunuh orang itu bukanlah dirinya.Mendengar ini, Kahar mencibir, "Aku nggak percaya sama kalian berdua. Ranjana, berikan barang di tanganmu itu kepadaku."Kahar menghampiri Ranjana, lalu merebut botol dari tangannya, membukanya, dan menuang isinya ke lantai."Lihat saja! Kak Kahar, lihat! Sudah kubilang itu racun mematikan. Dia ...."Panji berbicara dengan penuh semangat dan merasa dirinya dapat membuktikan ucapannya. Sesaat kemudian, ketika melihat genangan air biasa di lantai, dia pun tertegun. Ranjana tersenyum tipis. "Kak Kahar, sudah lihat, 'kan? Sudah kubilang aku nggak melak
Ranjana mencibir, "Kalian nggak berani bertindak karena takut Keluarga Darsuki membalas dendam, 'kan? Percaya nggak? Kalau hari ini kalian nggak bertindak, kalian juga akan mati di sini!"Para pengawal seketika bergidik dan berlutut. "Tuan Ranjana, jangan marah! Tuan Ranjana, ampunilah kami!""Sudah kubilang, bertindak sekarang juga! Bunuh dia!"Ranjana melempar tungku pemanas di tangannya ke lantai. Tungku pemanas itu menghantam kepala salah satu pengawal dengan kuat hingga kepalanya langsung berdarah. Namun, para pengawal masih tidak berani berdiri."Dasar sekelompok pecundang! Kalian diberi makan di rumah ini, tapi kalian masih berani melawan majikan kalian!"Saat ini, Panji yang tergeletak di lantai bangkit dengan susah payah dan mencoba melarikan diri. Dia benar-benar takut pada Ranjana. Saat menggila, Ranjana benar-benar tidak manusiawi!Jadi, selagi para pengawal tidak berani bertindak dan Ranjana tidak bisa bergerak, dia harus bergegas pergi meminta bantuan. Selama ada Damar da
"Coba saja kalau kalian berani! Aku ini ahli waris Keluarga Darsuki!"Melihat Ranjana berani memerintahkan orang untuk menghajarnya, Panji meraung marah.Para pengawal yang memegang tongkat merasa ragu. Mereka tahu identitas Panji, tetapi majikan mereka sudah memberi perintah. Oleh karena itu, ketika berbalik dan melihat tatapan tajam Ranjana, mereka tidak berani ragu lagi. Mereka pun menerjang maju, lalu memukul Panji dengan tongkat mereka.Panji yang dikepung tidak punya tempat untuk bersembunyi. Dalam seketika, tongkat-tongkat setebal lengan itu menghantamnya dengan kuat secara bergantian dan membuatnya menjerit kesakitan.Dia segera melindungi kepalanya, menjerit kesakitan sambil berseru, "Sialan! Ranjana! Cepat suruh mereka berhenti!"Ranjana tidak mungkin menyuruh mereka berhenti. Saat ini, amarah dan frustrasi dalam hatinya perlu dilampiaskan. Masih mending jika Panji tetap berada di aula utama, tetapi dia malah berani berkeliaran di luar. Bagaimana mungkin Ranjana melewatkan ke
Sudah lama sejak terakhir kali Panji mengunjungi Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan. Anehnya, dia malah merasa sedikit rindu. Oleh karena itu, setelah meninggalkan aula utama, dia berkeliling di Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan sendirian.Saat berjalan-jalan, entah kenapa Panji teringat Syakia yang hadir di upacara pernikahan hari itu. Dia pun pergi ke tempat tinggal Syakia dulu. Namun, sebelum sampai di tempat tujuannya, seseorang menghentikannya. Ternyata itu adalah Ranjana yang telah diusir Damar sebelumnya.Panji memperlambat langkahnya, lalu menatap Ranjana yang duduk di kursi roda 3 meter di depannya. Tatapannya beralih ke kakinya yang lumpuh."Ranjana, kok kamu ada di sini? Bukannya Paman minta kamu pergi ke dapur bersama Kak Kahar ....""Kamu nggak seharusnya menikahinya."Panji mulai berbicara dengan canggung, tetapi sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, Ranjana tiba-tiba menyela. Panji pun terdiam dan menatapnya.Ranjana duduk diam di kursi rodanya, wajah tampannya
Sayangnya, Ayu sama sekali tidak patuh. Dia bahkan menolak menurut pada Damar dalam hal memilih suami dan bersikeras melakukan sesuatu yang begitu memalukan. Selain mempermalukan Keluarga Angkola, tindakan Ayu lebih mempermalukan Damar lagi.Sekarang, di seluruh ibu kota, siapa di antara para orang yang mengetahui kejadian ini dan tidak diam-diam menertawakan Damar? Demi putri haram, seorang ayah malah mengusir putri sahnya.Tidak masalah jika putri haram itu mengungguli putri sahnya. Namun, kini putri sah yang tak disukai itu begitu terkenal, juga diangkat menjadi Putri Suci yang berpangkat tinggi. Sementara itu, putri haram yang disayangi malah tercoreng reputasinya dan rela menjadi istri pendamping orang lain.Dengan memakai kata yang enak didengar, dia memang adalah istri pendamping. Kasarnya, dia tetap hanyalah seorang selir.Jadi, bukan hanya Ayu yang ditertawakan, tetapi juga Damar, sang ayah yang dulu memegang kendali penuh atas segalanya. Maka dari itu, mustahil untuk mengatak