Share

Bab 5

Penulis: Nexy91
last update Tanggal publikasi: 2025-11-04 12:14:49

Rabu, dua puluh tujuh September empat tahun lalu. Pertama kali nya Tedi melihat Rani, saat dia sedang bekerja di bengkel motor milik teman nya.

Saat itu, Rani mendorong motor matic nya yang mogok. Dan kebetulan, bengkel itulah yang paling dekat dengan tempat nya saat itu.

Rani yang mempunyai tinggi semampai, berambut panjang dan sedikit ikal, yang di kuncir kuda. Dia memiliki kulit kuning langsat, yang saat sedang berkeringat, terlihat begitu bercahaya.

Setiap laki-laki yang memandangnya langsung merasa jatuh cinta, bahkan para wanita pun juga mengagumi kecantikan nya. Bisa di bilang, saat ini Rani dalam usia yang sedang mekar-mekarnya.

Terlihat begitu indah dan menawan, sehingga mampu menarik perhatian berbagai macam serangga yang ingin menghinggapi nya.

Jarang ada perempuan yang begitu terlihat menawan, dan tanpa cela. Biasanya, jika dia cantik, maka sifatnya tidak baik. Jika dia begitu baik, maka dia tidak begitu cantik.

Begitu juga dengan Rani, dia begitu cantik dan menarik. Tapi dia mempunyai sifat yang sulit sekali di atur, mungkin karena dia terlau mandiri, sehingga dia sudahlah terbiasa, melakukan semuanya sendiri dan tanpa ada aturan dari orang lain.

Saat itu, dia sedang menuju kampusnya, untuk mencari dosen pembimbing nya. Dia sedang menyusun skripsi untuk jenjang S-2 nya. Umur yang masih muda, tapi sudah akan selesai kuliah S-2.

Padahal dia sempat berhenti selama satu tahun, karena dia terpuruk dalam kesedihan saat kehilangan orang tuanya. Tapi tidak disangka, dia begitu lihai dalam segala hal.

"Pak, tolong benerin motor saya ini. Mogok tadi di jalan."

Niat hati Rani, memakai motor itu agar tidak terkena macet. Dia malah apes, karena motor nya malah mogok di tengah jalan.

Dia merasa kalau hari ini, adalah hari yang sial.

"Baik Neng, pasti bapak benerin semuanya kalau buat Neng mah." Pemilik bengkel itu, selalu suka bercanda dengan anak-anak kampus yang sering service motor di tempat nya, tapi tidak jika dengan Rani dan para mahasiswi.

Rani hanya menanggapi nya dengan senyum palsu saja. Dia tahu kalau pemilik bengkel itu, masih lumayan muda. Tapi tentu saja masih lebih tua darinya, makanya dia memanggilnya Bapak. Tapi, pemilik bengkel, tidak pernah sekalipun protes saat dipanggil dengan sebutan Bapak oleh Rani.

Pemilik bengkel itu, masih terbilang sopan. Dia tidak berani menggoda perempuan-perempuan muda seperti Rani, dia tidak ingin kalau bengkelnya malah mendapat masalah, jika dia kurang ajar dengan pelanggan.

Tiba-tiba Tedi menghampiri pemilik bengkel.

"Biar aku saja yang service motornya, kamu layani saja yang mau beli sparepart."

"Yakin kamu bisa service yang ini?" tanya pemilik bengkel itu.

"Yakin lah, aku ini kan sudah jago dalam masalah beginian." Ucap Tedi terdengar sombong.

Rani paling tidak suka dengan laki-laki tukang pamer, baik pamer harta, ataupun pamer kebolehan. Rasanya malah jadi illfeel saja.

Dalam hatinya, dia mengumpat sifat Tedi yang terlalu percaya diri.

"Neng, saya benerin motornya ya. Saya jago loh benerin motor, benerin mobil. Benerin hati juga bisa." Tedi berusaha menggoda Rani.

"Hei mang, jangan terlalu banyak bicara. Cepetan benerin motor nya, aku mau bimbingan di kampus."

Rani memang selalu ketus jika menjawab laki-laki yang menggodanya. Rani memang selalu ketus jika menjawab laki-laki yang menggodanya.

"Memang nya neng masih kuliah?" Tanya Tedi basa basi.

"Pake nanya lagi, ini lihat kan saya pakai jas almamater? Buruan mang, keburu Dospem saya pulang ini."

"Jangan panggil mamang dong, saya kan masih muda. Coba kamu panggil Aa gitu, atau Mas." Rani semakin kesal dengan tingkah laku Tedi.

Pemilik bengkel itu, melihat Rani yang tidak suka dengan Tedi, langsung berinisiatif meminjamkan motornya kepada Rani.

"Neng, mendingan neng pakai motor punya bapak saja. Takutnya kalau nunggu beres, malah telat lagi." Pemilik bengkel itu sangat mengerti apa yang terjadi pada Rani, dia juga pernah kuliah, dan bagaimana susahnya menemui Dospem (Dosen pembimbing).

"Gak ngerepotin ini Pak?" Tanya Rani lagi.

"Gak apa-apa, sama sekali gak ngerepotin. Kamu pakai saja, biar kamu gak telat." Jawab pemilik bengkel.

"Kalau begitu saya pinjam dulu ya pak, nanti kalau sudah beres saya kembalikan." Rani bersikap sopan kepada pemilik bengkel itu. Pemilik bengkel pun mengangguk dan tersenyum.

Rani langsung saja pergi meninggalkan bengkel itu, motornya masih di service, jadi dia pasti akan kembali ke bengkel itu.

"Wah, lu malah biarin dia pergi gitu aja sih?" Protes Tedi

"Maksud lu?" Tanya pemilik bengkel sambil mengkerutkan keningnya, tanda tidak mengerti.

"Ya itu cewek yang tadi, gue kan lagi deketin dia. Padahal biarin aja dia nunggu, kan gue jadi bisa banyak ngobrol sama dia." Ucap Tedi kesal.

"Heh gebleg, lu gak ngerti bahasa manusia apa? Kan dia udah bilang, kalau dia lagi buru-buru mau ketemu Dospem. Kalau dia telat, kasihan lah skripsinya jadi telat juga." jawab pemilik bengkel itu lagi.

"Apaan lagi itu Dospem, yang ada juga Dosen kali ah." Ucap Tedi sok tahu.

"Iiih si gebleg, ya Dospem itu singkatan dari DOSEN PEMBIMBING." Ucap pemilik bengkel sambil menekankan apa itu Dospem.

Tedi hanya nyengir kuda, dia yang hanya lulusan SMA, memang sama sekali tidak mengerti tentang istilah-istilah itu.

"Ya Maaf, gue kan gak pernah kuliah, jadi kagak ngarti lah." Ucapnya lagi.

"Makanya jadi orang jangan sotoy, dah cepetan kerjain kerjaan lu aja. Nanti kalau orang nya udah dateng, harus udah beres." Pemilik bengkel itu, mengakhiri pembicaraan mereka.

"Siap bos." Jawab Tedi.

Sementara itu, Rani yang baru saja sampai di kampus. Langsung memarkirkan motor yang dia pinjam, di parkiran khusus mahasiswa. Dia setengah berlari menuju ruangan Dosen, untuk mencari Dospem nya.

Untung saja dia tidak telat, dan dia bertemu dengan orang yang di maksud, bimbingan nya berjalan lancar. Dan setelah selesai dia menuju kantin, untuk membeli makan siang. Perutnya sudah sangat keroncongan, karena dari pagi dia tidak sarapan sama sekali.

Rani memesan nasi dengan soto, karena dia tidak bisa jika tidak makan nasi. Menurut dia, jika belum makan nasi, maka itu belum termasuk makan. Walau dia makan bakso dengan lontong sekalipun, itu bukan makan.

Saat dia sedang menikmati makan siang nya, bahunya ditepuk oleh seseorang. Rani kaget dan tersedak.

"Uhuuk.. Uhuuk.. Uhuuk." Orang itu menyodorkan air minum kepada Rani.

"Makasih." Ucap Rani. Dia meneguk airnya sampai tersisa setengah gelas saja.

"Maaf ya Rani, tadi aku ngagetin kamu. Jadinya kamu tersedak." Suara laki-laki yang tidak asing ditelinga Rani, orang itu selalu berbicara dengan bahasa yang baku, tidak seperti dirinya yang terbiasa dengan bahasa informal.

"Iya, aku kaget banget. Untung aja mangkok soto nya gak ikut ketelen sama aku." Jawaban Rani selalu saja seenaknya.

"Kamu ini, mana ada orang yang bisa makan mangkok."

Rani hanya mengedikkan bahunya.

"Rani, kamu sudah bertemu dengan Dosen pembimbing kamu?" Tanya nya lagi.

"Sudah pangeran, hamba sudah bertemu dengan dosen pembimbing hamba satu jam yang lalu." Begitulah jawaban Rani, yang mengikuti gaya bicara orang yang ada di hadapan nya.

Orang itu, tidak tersinggung sama sekali. Dia malah tersenyum dan semakin mengagumi Rani.

"Baguslah kalau begitu. Apa kamu punya waktu, untuk nonton atau makan di cafe?"

Rani sudah mulai kesal karena makan siang nya terganggu.

"Maaf ya Arjuna, aku ini kan lagi makan siang. Kamu sendiri lihat kan? Aku bener-bener lagi kelaperan, jadi aku makan di sini. Tapi kamu malah ngagetin dan bikin aku keselek, sampai hampir saja aku ngabisin satu ember air tadi." Ucap Rani panjang lebar kepada laki-laki yang bernama Arjuna. Menyebut namanya saja, sudah membuat Rani merasa geli, apalagi dengan bahasanya yang baku.

"Jadi intinya, kamu bersedia atau tidak dengan ajakan aku?" Laki-laki itu masih tidak mengerti dengan sindiran halus dari Rani.

"Arjuna, kamu ngajak aku makan di cafe. Sedangkan sekarang aku juga lagi makan. Kamu itu pengen aku lipet-lipet kaya origami ya?" Mata Rani melotot, dia tidak bisa menahan emosinya lagi. Manusia didepan nya itu, benar-benar sangat mengganggu makan siang nya.

"Ya sudah kalau kamu tidak ingin makan di cafe. Kita bisa menonton saja kan." Masih belum menyerah ternyata.

"Begini ya, tuan Arjuna yang terhormat. Saya Rani Maharani, tidak ingin makan bersama anda, dan juga tidak ingin menonton bersama anda. Karena saya sedang sangat sibuk, dan tidak ada waktu untuk menemani anda." Setelah berbicara seperti itu, Rani melanjutkan makan siangnya, dia buru-buru menghabiskan makanan di piring nya itu.

"Baiklah kalau begitu, mungkin lain kali kita bisa jalan berdua. Kalau begitu, aku pamit dulu ya." Arjuna pun pergi meninggalkan Rani sendirian.

"Dari tadi ke pergi, bikin orang kesal saja."

Makanan di piring Rani pun habis, dan dia pergi meninggalkan kampusnya, dan kembali ke bengkel yang tadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 107

    Suasana nya begitu hangat, Rani begitu bersyukur melihat Raline yang akhirnya bisa jatuh cinta. "Sebenernya kita ke sini juga merupakan ngomong sesuatu sama kamu Ran." Ucap Raja. Raline langsung menegur Raja. "Ngomong apaan sih kamu!" Raja tersenyum manis ke arah Raline, tatapan penuh cinta dan ketulusan. "Udah lah gak usah maen rahasia-rahasiaan segala. Gue udah tahu kok, kalo lu sama Raja udah jadian, dan gue seneng banget akhirnya lu bisa buka hati lu juga." Raline merasa terkejut, tidak menyangka jika Rani sudah tahu semuanya, dia langsung menatap Raja dengan tatapan tajam. Yang ditatap, malah mengedikkan bahu, tanda dia sama sekali merasa tidak bersalah. "Gak usah marahin Raja, dia gak ngomong apa-apa. Gue yang tahu sendiri, ngelihat tingkah lu aja gue bisa tahu semuanya." Raline langsung merasa bersalah terhadap Rani, di saat Rani kehilangan pasangan nya, dia malah berpacaran dengan sahabat masa remaja Rani. "Ran, maafin gue ya. Gue gak bermaksud nutupin ini d

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 106

    Di perusahaan yang Rani dan Raline pimpin saat ini, sedang terjadi lonjakan pesanan dari beberapa perusahaan Mitra. Mereka cukup sibuk dengan itu, belum lagi Rani yang semakin terkenal dengan design nya. Banyak dari manca negara yang mengajukan permohonan kerja sama dengan dirinya. Rani tidak serta merta menerima semua tawaran yang masuk, dia selalu menyeleksi dengan sangat teliti. Dia tidak ingin mendapatkan Mitra yang tidak bertanggung jawab. Dalam urusan pekerjaan memang Rani lah ahlinya, dia tidak membiarkan sedikitpun celah yang akan membuat pesaing mengunggulinya. Hal ini membuatnya menjadi seseorang yang cukup perfecstionist, dan mengharuskan bawahannya untuk melakukan hal yang sama. Perusahaan design Rani, semakin terkenal. Tapi tidak serta merta membuat Rani menjadi lupa diri. Semakin besar uang yang dia dapat setiap bulan nya, semakin besar pula sedekah yang dia keluarkan. Menyantuni anak yatim piatu, itu adalah agenda rutin Rani. Dia paham betul, bagaimana

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 105

    "Tapi dok, saya sudah lama sekali tidak melakukan hubungan intim, hampir enam bulan saya tidak pernah melakukan nya." Ucap Tedi yang masih tidak Terima dengan diagnosis dokter. "Pak, penyakit ini biasanya memerlukan waktu inkubasi yang bervariasi, ada yang hanya hitungan hari, minggu bahkan bulanan."Tedi langsung merasa lemas dan tidak berdaya, kenapa dia bisa terkena penyakit yang bisa membuatnya mati kapan saja, bahkan itu juga bisa jadi aib bagi dirinya. "Saya akan memberikan surat rujukan, agar bapak bisa berobat ke dokter spesialis, nanti akan lebih mudah untuk pengobatan nya." Perbuatan nya yang tidak mengenal dosa itu, telah membawanya ke jurang yang dalam. Penyakit yang dia derita, itu akibat dari ulahnya sendiri. Terlalu sering dia menyalahkan orang lain atas kesalahan nya, kini Tedi merasakan akibat dari perbuatan nya. Pulang dari puskesmas, Tedi tidak langsung menuju ke rumah, melainkan pergi ke tepi sungai dan berniat untuk memenangkan diri. Mencari tempat yang sepi

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 104

    Suara Indi membuat semua orang mengalihkan pandangan nya. Tedi tidak tahu sejak kapan Indi bangun, dia pikir kalau Indi masih tertidur. Indi terjatuh dan tidak sadasarkam diri. Orang tuanya panik, berlari ke arah Indi dan segera mengangkat tubuh Indi. Mereka baru sadar jika ternyata berat badan Indi semakin menyusut, karena terasa begitu ringan. Sang ayah langsung membawa Indi ke atas tempat tidur, dan sang ibu memijat kepala Indi juga memberikan minyak angin pada tubuh Indi agar terasa hangat. Sedangkan Tedi, hanya duduk dan tidak bergeming sama sekali. Ayah Indi kembali menemui Tedi dan berniat meninjunya, karena sikap acuh tak acuh Tedi kepada anaknya. "Apa yang kamu lakukan, sampai keadaan Indi seperti ini?" Tanya mertuanya. "Saya tidak melakukan apapun, ini semua ulah bapak yang selalu menekan Indi. Dia menjadi depresi dan bahkan sering kambuh, dan mengamuk pak." Suara Tedi tak kalah tinggi. "Kenapa kamu malah menyalahkan saya?" Tanya sang mertua. "Bapak selal

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 103

    Perjalanan hampir memakan waktu selama tiga jam, karena ada sedikit kendala saat diperjalanan. Sampai di terminal yang di tuju, Tedi segera turun dengan membawa tas berisi baju Indi. Indi sama sekali tidak curiga, kenapa tas itu terlihat begitu penuh, padahal dia hanya berlibur sebentar saja di rumah orang tuanya. Yang ada dipikiran Indi adalah, dia dan suaminya akan menginap beberapa hari di rumah orang tuanya, mereka akan berlibur dan akan membuat orang kampung tahu jika dia hidup bahagia bersama Tedi. Indi sudah tidak sabar untuk sampai di rumah masa kecilnya, yang kini sudah berubah lebih layak. Dengan naik angkutan umum, Tedi dan Indi segera menuju desa tempat tinggal Indi. Angkot berhenti di tepi jalan besar, untuk masuk ke kampung Indi, mereka harus berjalan kaki cukup jauh, atau bisa menggunakan ojek yang terbiasa mangkal di sana. Tapi hari itu, tidak ada satupun ojek yang mangkal. Sepi sekali, tidak seperti biasanya. Dengan terpaksa, Indi juga Tedi berjalan ka

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 102

    Jam tiga sore hari, Tedi membawa Indi meninggalkan kediaman sang ibu. Dia tidak ingin kembali menjadi beban untuk sang adik. Walaupun Indi bersikeras ingin tetap tinggal di sana, tapi Tedi membawa Indi secara paksa. Tari sama sekali tidak menemui mereka, karena baginya semua itu sudah tidak penting lagi. Dia berencana untuk mengganti kunci pintu rumahnya, agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke rumah itu seenaknya. Tedi sampai di kontrakan nya, sekitar pukul lima. Dia segera membuka pintu yang terkunci dan masuk ke dalam rumah kontrakan itu, Indi malah berdiam diri di luar. "Masuk Indi! ngapain kamu diem di situ terus? " Indi hanya memantulkan mulutnya, dan tidak menimpali Tedi. Tedi malah berdebat dengan Indi, dia lebih memilih untuk segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Karena tidak ada yang membujuknya, akhirnya Indipun masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ditekuk. "Mas, kenapa kamu gak bujuk aku sih?" Tedi hanya diam, dan memejamkan matanya. I

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 67

    Tedi mulai terobsesi dengan Vira, dia selalu berusaha memberikan semuanya untuk kekasihnya itu. Walau Vira sering menolak, tapi Tedi malah semakin berusaha untuk memberikan semuanya. Uang gaji nya sudah mulai tidak dapat memenuhi gaya hidupnya yang semakin tinggi, Indi yang semakin boros, juga

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 66

    Hari senin, hari yang banyak orang malas menemuinya. Hari sibuk, dan hari di mana di jalanan begitu macet. Indi dan Tedi berangkat bekerja seperti biasa, di luar, hubungan mereka terlihat harmonis. Tapi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setiap hari berangkat dan pulang kerja bers

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 65

    Tedi kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk, ada rasa senang, tapi juga rasa kesal, karena tidak bebas mengantar Vira ke rumahnya. Dia sadar jika Vira itu adalah selingkuhan nya, walaupun dia selalu berdalih dihadapan Vira, tetap saja, bahwa istri sahnya saat ini adalah Indi. Saat sampai di

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 40

    Sampai di rumah sakit, Tedi membawa beberapa buah kesukaan ibunya. Dia ingin jika ibunya lekas sehat, dan tidak lagi merasa tertekan karena kesalahan yang dia buat. Saat akan sampai di kamar rawat ibunya, dia berpapasan lagi dengan perempuan yang wajahnya mirip dengan Rani. Lagi-lagi, Tedi me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status