LOGINSetelah bertemu Narayan, Vitara langsung ke kafe lama. Ia meminta Ayu untuk menggantikannya mengurus kafe baru mereka. Saat ini Vitara ingin tenang. Kafe lama adalah tempat yang tepat untuk Vitara.“Aku sayang kamu, Tara. Itu faktanya sekarang!” suara Narayan kembali berputar di kepala Vitara.Vitara meletakkan kepalanya di meja kerja. Ia cukup pusing mencerna keadaan hari ini. Niatnya bertemu Narayan hanya untuk bercerita mengenai perkembangan kafenya. Namun, Narayan malah menyatakan perasaannya pada Vitara.“Kenapa harus di saat kayak gini, sih?” keluh Vitara lelah.Gadis itu kembali menegakkan kepalanya. Wajah lelah masih setia menempel di sana. Padahal, harusnya Vitara bahagia karena ternyata perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.“Ini sebenernya … waktu atau keluarga sih yang gak berpihak samaku?” keluh Vitara lagi bertanya entah pada siapa.Dering ponsel mengalihkan atensi Vitara. Ia melirik tanpa berminat menjawab panggilan tersebut. Namun, suara dering yang seolah berteriak
Pagi-pagi sekali Vitara sudah keluar rumah. Seperti biasa, gadis itu mengabaikan omelan sang ibu yang terus menyuruhnya untuk berhenti bekerja. Padahal, berulang kali Vitara mengatakan pada keluarga bahwa kafe itu miliknya. Namun, tak ada satupun yang percaya dengan ucapannya.“Tara …” suara seseorang terdengar memanggil begitu Vitara berhasil sampai di toko buku yang selalu menjadi favorit gadis itu.Vitara terdiam sejenak. Saat ia menoleh, degup jantungnya meningkat dua kali lebih cepat begitu melihat siapa pemilik suara tersebut.“Akhirnya kamu dateng juga. Aku pikir kamu akan abaikan aku lagi,” lirih Narayan berkata.Senyum bahagia terbit di bibir pria tersebut. Narayan tak bisa sembunyikan kebahagiaannya. Itu jelas terlihat dari binar matanya.“Aku mau bilang sesuatu sama kamu, Ra. Aku gak mau lagi memendam ini semua,” sambung Narayan lagi berkata.Vitara masih diam. Lebih tepatnya, gadis itu masih bingung harus merespon seperti apa. Sikap Narayan berbeda dari terakhir kali merek
Narayan mengacak rambutnya frustasi. Berkali-kali ia menelpon Vitara, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Pesan yang ia kirim juga tak kunjung mendapat balasan. “Tara … tolong angkat!” pinta Narayan lirih sembari menunggu dering telepon terhubung. “Ini semua gara-gara Rina! Harusnya aku gak perlu nuruti kemauan dia!” rutuk Narayan merasa tertipu. Tadinya, Narayan sudah ingin menemui Vitara di kafe lama. Namun, kedatangan Sandrina dengan segala dramanya membuat Narayan tidak bisa mengabaikan mantan kekasihnya itu. Tak disangka, ternyata Vitara juga ada di tempat yang sama dengannya. “Apa aku langsung temui Tara aja, ya? Biar semuanya jelas,” celetuk Narayan. Lelaki itu mengangguk pelan seolah membenarkan ide yang baru saja terlintas di kepalanya. Tak membuang waktu, Narayan langsung bergegas menemui Vitara. Tempat yang menjadi tujuan utama Narayan adalah kafe lama milik Vitara. Setelah ia memastikan Vitara tidak berada di kafe baru lewat temannya yang kebetulan ada di lokasi tu
Hari terus berganti. Vitara yang semakin sibuk dengan dua kafenya kini berada di toko buku langganannya. Sudah lama ia tak mengunjungi tempat itu. Pun dengan penjaga sekaligus pemilik toko buku tersebut.“Di mana dia, ya?” gumam Vitara bertanya seorang diri.Netranya menyapu ruangan yang dipenuhi buku tersebut. Namun, orang yang dicari belum juga ia temukan. Vitara berjalan perlahan menuju meja kasir.“Permisi, Mbak. Apa Narayan ada?” tanya Vitara ragu.Si penjaga kasir tersenyum ramah. “Mas Narayan sedang keluar, Mbak. Mau titip pesan?” tawar penjaga tersebut.Vitara menggelengkan kepala pelan. Setelahnya, ia berpamitan dan segera keluar dari toko buku tersebut. Namun, atensi Vitara teralihkan saat mendengar suara familier menyapa indera pendengarannya.“Rayan?” guman Vitara pelan saat melihat sosok yang ia cari.Senyum Vitara mengembang diiringi degup jantung yang mulai berpacu kencang. Kakinya sudah ingin mengambil langkah ingin menghampiri. Namun, niat tersebut harus Vitara urungk
Narayan berdiri di seberang jalan tepat di depan Kafe baru Vitara. Sebulan sudah ia tak bertemu juga tak mendapatkan kabar dari Vitara. Agaknya, lelaki itu merindukan perempuan yang dulunya ia jadikan alat untuk balas dendam.“Di mana dia?” gumam Narayan saat tak menemukan sosok yang dirindukan.Atensi Narayan beralih pada benda pipih di tangannya. Layarnya menunjukkan sebuah ruang obrolan dengan nama Tara tertera di barisan teratas.“Kamu bahkan gak bales pesanku dari beberapa hari lalu,” gumam lelaki itu lagi lirih.Tenggorokan Narayan terasa tercekat. Dadanya terasa sesak menahan rasa rindu yang sungguh menyiksanya. Tatapan Narayan beralih pada kafe yang kian ramai pengunjungnya. Lalu netranya terpaku pada sosok yang baru saja keluar dari kafe tersebut.“Tara …” lirih suara Narayan terdengar.Kakinya sudah bergerak untuk melangkah. Namun, tertahan saat melihat seorang pria menghampiri Vitara. Senyum Vitara bahkan terlihat indah dan mengembang sempurna.“Siapa dia? Kenapa mereka ter
Malam itu, Vitara sudah bersiap untuk terlelap. Namun, keinginannya tertunda saat mendengar pintu kamarnya diketuk.“Ibu?” sapa Vitara heran saat mengetahui ternyata sang ibu yang mengetuk pintu kamarnya.Tak langsung menjawab, sang ibu menatap tajam Vitara yang masih tampak bingung. “Ada apa, Bu?” tanya Vitara penasaran.“Kamu ini, ya!” sentak bu Fitria membuat anak gadisnya terkejut.“Harusnya sebelum mendekati laki-laki itu dilihat dulu latar belakangnya bagaimana! Jangan sembarangan mendekati laki-laki!” sambung bu Fitria lagi kesal.Vitara masih diam. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama. Narayan. Hanya Narayan, satu-satunya lelaki yang ia kenalkan pada keluarganya.“Kamu juga harusnya cari tahu dulu. Dia sedang dekat dengan siapa? Biar gak sangka pelakor!” lanjut bu Fitria lagi memperingati.Dada Vitara terasa nyeri seketika. Pikirannya seolah tengah memutar kembali ingatan tentang awal mula kedekatan dirinya dengan Narayan.“Seingatku dia gak punya pacar. Dia juga belum







