Masuk"Kau tidak bisa, mengambilnya bukan?" Cemoh Mark menatap Lyla yang mencoba berjinjit mengambil buku yang berada di tangan Mark.
"Ini!" Mark menjatuhkan buku itu begitu saja, kemudian menginjak buku itu sembari menatap Lyla yang tampak shock dengan apa yang di lakukan Mark.
"Kau!" Lyla menatap jengah Mark, sembari berjongkok akan mengambil bukunya dan kali ini Lyla juga kurang cepat, karena Mark kembali mengambil buku itu.
Belum sempat Lyla berdiri, Mark kembali melakukan perundungan dengan menumpahkan sampah berisi makanan busuk tepat di atas kepala Lyla yang tampak terdiam menatap tajam Mark yang tertawa puas dengan yang dilakukannya dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Lyla yang diam mengepalkan tangnnya penuh rasa kesal, begitu melihat beberapa orang yang lewat terlihat menutup hidung mereka begitu mencium bau busuk.
"Astagah, Lyla!" Rania segera berlari kearah Lyla yang baru saja keluar dari mobilnya dengan tatapan kesal melihat orang-orang yang sepertinya tidak ada empati untuk menolong Lyla.
"Tidak perlu, nanti kau kotor. Maaf bukunya diambil Mark!" Lyla sangat merasa bersalah akan hal ini, buku yang baru saja dihadiahkan Rania diambil oleh Mark, dan saat ini dia harus menahan bau sekaligus malu setelah Mark menumpahkan sampah berisi makanan busuk padanya.
"Tidak apa, sekarang kau harus pulang! Apa perlu kubantu?" Lyla menggelengkan kepala nya pelan, kemudian berdiri menolak bantuan Rania yang ingin menolongnya.
"Aku minta tolong, ijinkan aku untuk kelas pertama! Aku harus pulang!" Ujar Lyla benar-benar merasa buruk, dan segera berajalan menuju keluar kampus sembari menahan air mata.
***
Mark menghisap puntung rokoknya, setelah hari ini benar-benar berhasil mmebuat Lyla dipermalukan sekaligus memberikan pelajaran pada apa yang di lakukan Lyla kemarin. Saat isi kepala Mark sedang penuh dengan rencana yang akan dia lakukan pada Lyla selanjutnya.
"Kau benar-benar berhasil!" Tidak Mark ataupun Lucas sama saja, hari ini mereka puas memberikan pelajaran pada Lyla.
"Tentu saja, jika perlu aku akan merundungnya sampai dia dengan senang hati keluar dari kampus!" Ujar Mark sembari membuka buku yang tadi dia rebut dari Lyla, dan sedikit membaca judul berserta sipnosisnya.
Sepertinya menarik! Itulah yang saat ini Ada dalam pikiran Mark setelah membaca singkat buku tersebut, kemudian segera dirinya memasukan buku itu kedalam tasnya.
"Kupikir kau akan membuang buku itu!" Lucas menatap bingung Mark yang sejak Mark tertarik dengan buku fiksi.
"Nanti dulu, biar aku baca dulu buku inj. Lagipula, aku bisa membeli banyak buku, seperti ini!" Ujar Mark menyombongkan dirinya, tanpa berkata lagi Lucas, tau Mark pasti akan merusak buku itu setelah membacanya dan tentunya tepat di depan mata Lyla.
***
Lyla diam melamun menatap menatap pelanggan coffee shop yang silih berganti. Sesekali dirinya menarik napas lelah, menatap mesin kopi yang saat ini menemani dirinya bekerja. Sebenarnya Lyla tidak terlalu keberatan untuk kuliah sembari bekerja. Satu-satunya hal yang menbebani hidupnya tidak lain adalah Mark yang selalu merundungnya.
Baru saja memikirkan tiba-tiba Mata Lyla menatap tak percaya dengan Mark yang tiba-tiba datang berjalan kearahnya, dengan tatapan merendah menilai Lyla yang terlihat memasang raut wajah datar.
"Apa ini? Kau menolak tunduk padaku dan memilih bekerja. Padahal kau tinggal memohon padaku, aku akan kembalikan beasiswamu!" Mark menatap rendah Lyla yang menatap dirinya dengan tatapan tajam, baru saja pagi tadi menumpahkan sampah berisi makanan busuk pada Lyla dan sekarang dirinya bertemu dengan Lyla di coffee shop miliknya.
"Maaf kau ingin pesan apa?" Lyla sama sekali tidak ingin menanggapi segala omong kosong Mark, yang masih setia berdiri di depannya dan tentunya membuat antrian semakin panjang.
"Latte, dan tolong manager aku ingin dia melayaniku malam ini!" Seketika Lyla menatap tak percaya kearah manager cafe tempat dirinya bekerja, yang menunduk penuh hormat pada Mark yang diam menyunggingkan senyum kemenangan akan tatapan bingung Lyla.
"Dia bos kita, pemilik cafe ini. Layani dia dengan baik!" Ujar manager setengah berbisik pada Lyla membuat Lyla terkejut menatap Mark. Kesialan apa ini, yang sedang menimpa Lyla. Sudah jatuh tertimpa tangga! Mungkin itulah pribahasa yang terlihat cook untuk Lyla saat ini, di kampus dirinya harus bertemu dengan Mark dan di tempat kerja ada Mark sebagai bosnya.
Mark, Lucas, dan Damian sepupu Mark terlihat tengah bermain kartu menunggu menu pesanan mereka yang tentunya akan dibawakan Lyla. Mark sudah meminta manager agar semua menu harus Lyla yang membuat dan menyajikan pada mereka.
"Hey aku tidak tau, jika dia bekerja di sini!" Lucas cukup terkejut dengan Lyla yang tengah menyajikan beberapa menu makanan dan minuman yang setelah sebelumnya di pesan Mark. Tentu, keterkejutan Lucas hanya dibalas senyum licik Mark yang kini sedang menyusun rencana apa yang akan dia lakukan pada Lyla setelah ini.
"Hey pelayan, tunggu, tolong bersihkan!" Mark berujar meletakan buku yang dia ambil dari Lyla di atas meja, kemudian menatap Lyla yang terlihat bingung dengan apa maksud Mark menyuruhnya membersihkan.
Mark sengaja menumpahkan latte yang baru saja dibawa Lyla, hingga membuat Lyla yang melihat hal itu tentunya kesal. Lyla sangat tau, Mark sedang mempermainkannya dengan sengaja menumpahkan latte itu.
"Kau sengaja!" Damian sedikit menatap iba Lyla yang kini tengah berjongkok membersihkan tumpahan yang sengaja dibuat oleh Mark.
Mark menatap acuh Damian tanpa merespon apapun, Mark kembali membaca buku novel milik Lyla. Sedangkan Lucas dan Damian kini ganti bermain catur, sembari sesekali mata mereka menatap Mark yang ada saja ulahnya sengaja membuat Lyla terus melayani mereka dari melempar kulit kacang sembarang, menambah menu, hingga komplain menu masakan Lyla yang tidak pas.
"Apa kau bisa berhenti menturuhnya? Ini tempat kerja, bukan di kampus." Mark menatap kesal Damian yang sepertinya sedari tadi terus memperhatikan Lyla dan dirinya.
"Apa kau menyukai pelayanku itu?" Damian menghela napas kesal mendengar tebakan Mark, setelah memastikan Lyla benar-benar pergi dari hadapan mereka.
"Kau serius menyukai perempuan itu? Asal kau tau senjata masa depan Mark sudah pernah ditendang perempuan itu!" Ujar Lucas membuat Damian tak percaya menatap Mark yang terlihat kesal akan hal itu. Baiklah, hal ini memang cukup mengejutkan, tapi Damian yakin Lyla tidak akan melakukan hal itu, jika Mark tidak bertindak sesuatu sebelumnya.
Mark yang kesal pada Damian hanya diam sejenak, kemudian segera mengambil ponsel dan buku novel milik Lyla. Tidak ada gunanya dirinya terus di sini, karena Mark yakin Damian akan terus mengatakan agar dirinya Berhenti merundung Lyla.
"Hey, kau mau kemana?" Damian menatap bingung Mark yang mangkah keluar.
"Pulang!" Jawabnya singkat segera berjalan pergi, sembari menatap tajam kearah Lyla ketika mereka berpapasan.
Hey wanita tua, apa yang kau lakukan? Aku akan benar-benar memberikamu pelajaran, setelah pergi dari sini! " Mark sama sekali tidak terima akan hal ini, setelah pergi dari gubuk tua ini dia akan benar-benar memperlihatkan siapa dirinya pada wanita tua di depannya. "Aku yang harusnya bertanya, daripada mengatakan hal yang tidak-tidak lebih baik pergi, dan antarkan sayur-sayur ini ke pasar!" Mark menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita tua barusan. Pasar? Mark benar-benar tidak akan menginjakan kaki di tempat kumuh itu. "Aku tidak akan melakukan itu!" Dengan cepat wanita paruh baya itu, segera menarik telinga Mark dengan begitu keras tentunya dengan raut wajah tak kalah kesal dengan Mark. "Jangan menagtakan hal bodoh, kita ini hanya rakyat jelata! Jangan membuat masalah yang membuat hidup kita sudah. Cepat selesaikan pekerjaamu, Bibi tidak ada waktu lagi!" Mark merasa harga dirinya runtuh begitu saja, ketika wanita paruh baya yang mengaku sebagai bibinya itu menyebut, ji
Sebelum benar-benar pergi, Mark menatap sekilas nampan berisi es jeruk yang dibawa Lyla. Tanpa mengatakan apapun, Mark tiba-tiba menumpahkan es jeruk tersebut tepat di atas kepala Lyla dan pergi begitu saja. Lyla terdiam tanpa sepatah katapun, tetapi segera berlari mengejar Mark hingga sampai parkiran. "Kenapa kau sangat kerterlaluan padaku?" Lyla berujar mengikuti Mark yang sama sekali tidak menatap Lyla. Mark terys melangkah hingga masuk kedalam mobil, dan bersiap akan menutupnya. Namun, dengan cepat Lyla mencegatnya dan kali ini Lyla ingin Mark memberikan penjelasan kenapa Mark selalu merundungnya hanya karena masalah sepele. Sebenarnya, Lyla tidak ingin melakukan hal ini, tapi hari ini Mark benar-benar kerterlaluan. "Karena aku tidak suka padamu, kau menganggu!" Mark mengatakan hal itu sembari menunjuk wajah Lyla yang jelas kesal dengan alasan Mark yang terkesan konyol. "Jika, kau tidak suka padaku harusnya lebih baik kau menghindar, kenapa kau selalu merundungku?" Mark terdia
"Kau tidak bisa, mengambilnya bukan?" Cemoh Mark menatap Lyla yang mencoba berjinjit mengambil buku yang berada di tangan Mark. "Ini!" Mark menjatuhkan buku itu begitu saja, kemudian menginjak buku itu sembari menatap Lyla yang tampak shock dengan apa yang di lakukan Mark. "Kau!" Lyla menatap jengah Mark, sembari berjongkok akan mengambil bukunya dan kali ini Lyla juga kurang cepat, karena Mark kembali mengambil buku itu. Belum sempat Lyla berdiri, Mark kembali melakukan perundungan dengan menumpahkan sampah berisi makanan busuk tepat di atas kepala Lyla yang tampak terdiam menatap tajam Mark yang tertawa puas dengan yang dilakukannya dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Lyla yang diam mengepalkan tangnnya penuh rasa kesal, begitu melihat beberapa orang yang lewat terlihat menutup hidung mereka begitu mencium bau busuk. "Astagah, Lyla!" Rania segera berlari kearah Lyla yang baru saja keluar dari mobilnya dengan tatapan kesal melihat orang-orang yang sepertinya tidak ada emp
"Kau!" Lyla berujar menunjuk wajah Mark yang hanya terseyum sombong akan apa yang telah dia lakukan, begitu juga dengan Lucas yang salad yakin dengan ini Lyla pasti akan tunduk pada Mark"Jika kau ingin beasiswamu kembali, mudah saja tunduk di bawah kakiku dan katakan kau siap jadi pelayan pribadiku!" Mark mengatakan hal itu sembari menyilangkan kedua kakinya menatap rendah Lyla yang berjalan mendekatinya.Tidak ada ekspresi apapun yang diperlihatkan oleh Lyla pada Mark maupun Lucas. Sudah sejak awal Mark sangat benci bagaimana Lyla selalu menatap dirinya. Dingin dan sama sekali tidak ada rasa takut pada diri Lyla dalam melawan penindasan Mark. "Hey..., tunggu apa yang kau lakukan!" Di luar dugaaan Mark maupun Lucas, tidak percaya tiba-tiba Lyla melempar tempat sampah kearah Mark hingga membuat isinya, jatuh di atas kepala Mark. Tampa mengatakan apapun lagi Lyla segera berlari meninggalkan Mark yang masih diam mematung tak percaya apa yang di lakukan Lyla. "Sial, aku benar-benar aka
"Hari ini aku akan memberikan perempuan itu pelajaran!" Ujar Mark penuh keyakinan setelah siang tadi benar-benar di permalukan oleh Lyla yang menumpahkan sepiring spaghetti di atas kepalanya. Baru saja Mark mengatakan hal itu, langkahnya terhenti menatap tajam Lyla yang baru saja keluar dari Toilet yang terkejut dengan keberadaan Mark. Merasa ditatap oleh Mark, membuat Lyla jadi gugup sekaligus merinding dengan kejadian siang tadi, di mana Lyla tidak sengaja tersandung dan menumpahkan sepiring spaghetti tepat di atas kepala Mark hingga kejadian itu benar-benar sukses membuat Mark di permalukan"Maaf untuk siang tadi, aku tidak sengaja!" Lyla berharap Mark akan melepaskan dan mengampuninya. Walaupun hal itu sangat mustahil, karena Mark sangat berkuasa. Dia adalah anak pemilik Kampus ini sekaligus pewaris tunggal keluarga Thomson. "Kau bilang maaf, setelah menpermalukan aku?" Mark berujar tajam berjalan memojokan Lyla, hingga tersudut di tembok dan sedikit mencengkram dagu Lyla hing







