登入Hey wanita tua, apa yang kau lakukan? Aku akan benar-benar memberikamu pelajaran, setelah pergi dari sini! " Mark sama sekali tidak terima akan hal ini, setelah pergi dari gubuk tua ini dia akan benar-benar memperlihatkan siapa dirinya pada wanita tua di depannya.
"Aku yang harusnya bertanya, daripada mengatakan hal yang tidak-tidak lebih baik pergi, dan antarkan sayur-sayur ini ke pasar!" Mark menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita tua barusan. Pasar? Mark benar-benar tidak akan menginjakan kaki di tempat kumuh itu.
"Aku tidak akan melakukan itu!" Dengan cepat wanita paruh baya itu, segera menarik telinga Mark dengan begitu keras tentunya dengan raut wajah tak kalah kesal dengan Mark.
"Jangan menagtakan hal bodoh, kita ini hanya rakyat jelata! Jangan membuat masalah yang membuat hidup kita sudah. Cepat selesaikan pekerjaamu, Bibi tidak ada waktu lagi!" Mark merasa harga dirinya runtuh begitu saja, ketika wanita paruh baya yang mengaku sebagai bibinya itu menyebut, jika mereka ini rakyat jelata.
Setelah perdebatan panjang mereka, akhirnya Mark menyerah dan memilih untuk mengikuti ucapan bibinya untuk pergi menjual sayur. Entah kenapa, Mark merasa sejak pagi tadi matanya sama sekali belum melihat kendaraan bermotor ataupun bus kota yang biasanya akan belalu lalang. Bahkan dirinya belum melihat jalanan aspal sama sekali, dan satu-satunya kendaraan yang dia lihat saat ini hanya kuda dan keledai yang menarik gerobak berisi hasil bumi yang akan dijual.
Mark sesekali bertanya pada orang-orang yang berlalu lalang, arah halte bus terdekat. Tapi, hasilnya nihil bahkan beberapa orang bahkan mengatakan jika dirinya sinting. Mark merasa dirinya harus segera kembali, dan sial ini semua tidak akan terjadi, jika dirinya lebih cepat keluar dari mobil.
Mark yang masih diam melamun akan nasibnya di tempat ini, tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada segerombol orang-orang yang terlihat menungangi kuda menuju kearahnya. Mark dapat merasakan tubuhnya ditarik oleh sang bibi agar menyingkir dari jalan.
"Cepat sembunyi, jika putri tau kau kemarin jatuh di danau istana. Kau akan benar-benar mati dipenggal!" Bisik sang bibi sama sekali tidak membuat Mark takut, dan malah Mark penasaran seperti apa putri yang maksud bibinya itu.
Kali mata Mark menatap tak percaya, perempuan mirip dengan Lyla turun dari kuda yang ditungganginya. Mark bisa merasakan tatapan dingin sekaligus menusuk, entah kenapa membuat Mark merasa orang-orang begitu takut
"Sang putri!" ujar semua orang terlihat membungkuk hormat, kecuali Mark yang masih tidak percaya kenapa orang-orang membungkuk hormat pada Lyla. Apa gadis bodoh itu sedang bermain drama? Mungkin, itulah yang saat ini ada dalam pikiran Mark menatap Lyla dengan tatapan penuh remeh.
"Sang Putri? Hey yang benar saja Lyla, jangan mengigau. Kau hanya tidak lebih gadis miskin yang mengemis beasiswa pada keluargaku!" Tentunya ucapan Mark tersebut membuat orang-orang terkejut. Tapi, tidak dengan tatapan mata perempuan yang mirip Lyla tersebut terlihat menatap bingung Mark.
"Apa yang kau lakukan bodoh? Dia calon ratu kita!" ucapan sang bibi tentunya membuat Mark tertawa, apa dirinya sedang bermimpi? Lyla yang jelas-jelas tidak lebih dari mahasiswa miskin yang hidup di dalam apartment sempit.
"Siapa dia? Dan katakan kenapa kau panggil aku Lyla?"
"Maafkan keponakanku putri, dia baru saja jatuh dari tebing. Saya rasa dia sedang gagar otak!" Mohon sang bibi membuat Mark menatap tak percaya, kenapa orang-orang takut pada Lyla yang diam mencerna perkataan sang Bibi dan tentunya Mark tidak terima dikatakan sedang gagar otak.
"Hey, wanita tua aku sedang tidak gagar otak dan aku benar-benar waras. Apa kalian percaya, perempuan lemah ini akan menjadi ratu? Cih yang benar saja" Cemoh Mark menunjuk Lyla yang diam menatap dirinya tajam.
"Pertama aku katakan namaku bukan Lyla, tapi Lilian calon ratu kalian semua, dan yang kedua aku bukan perempuan lemah!" Ujar Lilian memberikan isyarat pada seorang prajurit yang langsung paham maksudnya.
Mark menatap bingung ketika prajurit itu menarik paksa, seorang laki-laki yang tampak memohon dirantai jatuh tepat di depan Lilian, tanpa rasa kasihan Lilian segera menendang laki-laki itu hingga jatuh tersungkur. Mark yang melihat hal itu tentunya merasa heran, karena di matanya Lyla sama sekali tidak akan melakukan hal itu.
"Karena wanita itu sudah mengatakan kau sedang gagar otak, aku akan melepaskanmu. Jika, lain kali aku melihamu, aku akan menebas kepalamu... " Ujar Lilian menarik pedang dan tampa rasa bersalah segera menebas kepala budak laki-laki yang dirantai tersebut. Mark diam menatap Lilian yang diam memasukan kembali pedang tersebut pada tempatnya, dan kali ini terseyum, sambil menginjak kepala yang sudah terpisah dari badannya itu dengan tatapan menusuk kearah Mark yang diam shock akan hal itu.
"Apa yang kau.... " Mark tidak bisa berkata apapun, saat perempuan bernama Lilian itu tersenyum bengis kearahnya, sembari mengelap bekas darah yang sempat menyiprat tepat diwajah Mark.
Tanpa mangatakan apapun, segera Lilian Naik kembali menungangi kuda meninggakkan Mark yang masih tidak percaya dengan hal ini. Apa tadi, sekali tebas langsung putus? Mark kali ini tidak akan bisa bayangkan, jika dirinya tidak selamat hari ini, maka kemungkinan besar kepalanya juga akan ikut ditebas.
"Sebenarnya aku sedang ada di mana?" Mark bertanya dalam hati, karena jujur tatapan, wajah, postur tubuh, hingga suara sangat persis mirip Lyla.
Lilian menungangi kuda dengan tatapan begitu tenang, setelah kejadian beberapa saat yang lalu sempat membuat dirinya menebas kepala seseorang. Tidak ada rasa shock ataupun takut dalam wajahnya, hanya ada raut wajah tenang dan datar seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.
"Putri seharusnya kau tidak perlu melakukan itu, kau itu calon ratu!" Lilian menatap sebal orang kepercayaanya, kemudian segera Lilian menghentika laju kudanya, setelah sampai disebuah hutan yang cukup lebat.
"Aku hanya memberikan penjelasan padanya, lagipula aku juga tidak melukainya hanya membuat dirinya shock dan paham. Lagipula, aku tidak membunuh prajurit ataupun rakyat kita, aku hanya memberikan hukuman langsung pada pengkhianat." Lilian mengatakan itu dengan penuh penekanan, sebelum akhirnya turun dari kuda yang dia tunggangi.
"Tetap saja putri, rakyat pasti akan menilai seorang calon ratu seperti dirimu tidak seharusnya seperti itu!" Ujar Asher yang sudah bertahun-tahun melayani Lilian yang terkenal sebagai seorang putri yang bengis, dan tinggal menunggu beberapa hari lagi Lilian akan dinobatkan sebagai ratu.
"Aku tidak peduli, yang jelas aku adalah calon ratu mereka, dan mau tidak mau mereka harus patuh. Jika tidak aku bisa saja sewaktu-waktu merampas hak hidup mereka." Ujar Lilian segera melangkahkan kakinya masuk kedalam hutan diikuti Asher yang selalu patuh mengikuti ucapan Lilian.
Lilian duduk dengan tenang di dalam ruang perpustakaan, perlahan Lilian menghirup aroma aromatik lavender yang cukup menenangkan. Entah kenapa isi kepalanya masih memikirkan siapa wanita tua yang dia lihat itu? Lilian sangat yakin ada sesuatu yang pasti dilakukan Anna, tidak mungkin tidak. Karena Lilian yakin ketika merasakan ada kekuatan sihir di dalam kamar penginap Anna. Entah apa itu, yang jelas Lilian sangat merasakan hal itu. "Ratu kau memanggilku?" Asher menatap bingung Lilian yang terlihat diam, tidak biasanya Lilian memasang aromatic di dalam perpustakaan. Melihat bagaimana raut wajah Lilian, sudah jelas ada sesuatu yang terjadi. "Aku menggunakan sihir terlarang untuk melacak keberadaan Anna, dan alu sudah memaksa anak bedebah itu untuk pulang!" Asher diam, tidak ada reaksi apapun yang dia tunjukan. Lagipula, bukankah cepat atau lambat pastinya Lilian akan mencari keberadaan Anna. "Saat aku masuk ke penginapan Anna, aku merasakan ada sihir penutup di sekitar tempat itu. Bu
"Langsung saja, kau cukup tau dengan Anna bukan?" Entah kenapa mendengar pertanyaan tersebut, membuat mark langsung menganggukan kepalanya pelan. Apa Lilian akan bertanya tentang isu kutukan naik tahta yang terjadi padanya? "Katakan di mana Anna?" Mark diam, bingung harus jawab apa? Karena jujur Mark tidak tega jika melihat Anna yang pasti akan disiksa Lilian. Melihat diamnya Mark membuat Lilian yakin Mark pasti tau di mana Anna saat ini. Tapi, memaksa Mark juga tidak mungkin dilakukan Lilian Mark begitu sangat menghormati Anna pasti jika Lilian memaksa Mark, pastinya laki-laki itu tidak akan membuka mulutnya dan mengatakan keberadaan Anna"Baikalah sepertinya kau tidak ingin mengatakannya, lagipula kau masih ingat bukan ucapanku waktu itu?" Lilian mengatakan hal tersebut sebelum berbalik kembali melangkah kearah istana. Tentunya, sikap Lilian tersebut membuat Mark menatap bingung Lilian. Mark sebenarnya tau apa yang terjadi, termasuk dengan penyebab wabah ini terjadi. Mark sudah ta
"Dia hanya melakukan tugasnya sebagai seorang ratu, lagipula kenapa kau pergi dari istana?" Jeremy cukup bingung dengan kepergian Anna secara tiba-tiba. "Aku hanya ingin menghabiskan waktu sendiri saja, lagipula jika aku pamit dengan Ratu Lilian pasti dia akan melarang diriku." Tentu Anna tidak akan begitu saja menjelaskan alasan dirinya keluar dari kerajaan, karena mau sebesar apapun Jeremy berada dipihaknya tetap saja Jeremy tidak akan mengkhianati kerajaan. "Pulanglah! Ratu Lilian mencarimu, melihat situasi seperti ini aku yakin kakakmu tidak akan menghukum dirimu."Anna tidak akan semudah itu untuk kembali ke istana saat ini, karena mau sesibuk apapun Lilian pasti akan mencari celah untuk mengintrogasinya. " Tidak sekarang, tapi aku akan kembali. Aku butuh waktu sendiri, aku sangat merindukan ibuku dan ayah jadi kupikir ini waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu sendiri." Ujar Anna memberikan alasan pada Jeremy yang hanya diam, baiklah jika seperti ini maka sepertinya Jeremy
Setelah memastikan Lilian tidur dengan sedikit campuran obat penenang, Asher segera melangkah keluar dari kamar Lilian. Sudah banyak hal yang terjadi di kerajaan hingga membuat Lilian kurang istirahat, dan membuat kesehatannya sedikit menurun. "Bukankah ini waktunya yang mulia ratu untuk memimpin rapat?" Asher menatap penuh kesal pada Jeremy, sesaat setelah Asher masuk kedalam ruang rapat tanpa adanya Lilian dalam rapat ini dan Asher yakin pasti Jeremy akan mencari celah untuk membuat citra Lilian season buruk. "Bukankah kau sudah tau, jika ratu Lilian kurang istirahat?" Asher langsung mengatakan hal itu untuk membungkam mulut Jeremy sebelum jauh mengatakan hal yang tidak penting. Semua orang yang berada di ruang rapat hanya diam saling pandang, di mana jelas terlihat seperti apa hubungan Jeremy dan Asher yang jelas terlihattidak akur. Anna menghirup pelan aroma wine yang dia minum sembari berendam di dalam jacuzzi, kini dia benar-benar bisa menikmati waktunya sendiri sambil menung
"Aku ingin kalian mencari keberadaan Anna, sudah beberapa hari ini dia menghilang dan kalian pasti jelas tau, apa yang terjadi dengan kejadian wabah akhir-akhir ini!" Lilian menatap beberapa orang kepercayaan mendiang ibunya yang langsung paham dengan situasi kerajaan saat ini. "Nona Lilian tenang saja, kami akan berkerja secara sembunyi dan mohon bagi yang mulia ratu untuk menjaga diri anda, jangan sampai apa yang terjadi pada mendiang ratu Ella kembali terjadi pada anda." Lilian menatap salah seorang kepercayaan ibunya yang memperingatinya agar berhati-hati dan entah kenapa saat ini tersebar isu yang tidak baik mengenai dirinya. "Tentu, jaga diri kalian baik-baik!" Ujar Lilian segera melangkah pergi, kini jelas tercetak dari raut wajah Lilian ada sebuah kekhawatiran akan isu yang beredar tentang wabah yang mengatakan jika wabah ini adalah kutukan karena penobatan Lilian. "Yang mulia ratu apa perlu kita panggil dukun untuk melakukan ritual pemurnian. Aku rasa ini sudah keterlalua
Lilian diam meletakan mahkota yang dia kenakan di atas meja. Pikirannya masih diam melayang dengan yang terjadi pada upacara sumpah darah sore tadi. Walaupun semuanya berhasil diselesaikan tanpa adanya perselisihan lagi, tetap saja Lilian tidak bisa melupakan hal itu. "Lilian aku dengar ada bencana sore tadi, dengan sumpah darahnya!" Lilian menatap kesal Andrean yang begitu saja masuk kedalam kamarnya, dan tanpa izin laki-laki itu memeluk dirinya. "Maaf, aku hanya reflek!" Ujar Andrean begitu didorong Lilian yang risih dengan apa yang dilakukan Andrean, yang tiba-tiba mask kedalam kamarnya memeluk dirinya. "Lilian aku tau kau masih memikirkan kejadian sore tadi, sebaiknya lupakan saja. Bukankah Asher sudah mengurus segalanya?" Lilian diam menatap kesal Andrean seolah sedang mengusir Andrean agar pergi saja, ditambah dengan entah kemana Anna pergi sejak pagi tadi. Walaupun Lilian selalu mengawasi gerak gerik Anna, tetap saja hari ini Lilian tidak bisa mengawasi Anna dengan leluasa.







