Masuk"Kau!" Lyla berujar menunjuk wajah Mark yang hanya terseyum sombong akan apa yang telah dia lakukan, begitu juga dengan Lucas yang salad yakin dengan ini Lyla pasti akan tunduk pada Mark
"Jika kau ingin beasiswamu kembali, mudah saja tunduk di bawah kakiku dan katakan kau siap jadi pelayan pribadiku!" Mark mengatakan hal itu sembari menyilangkan kedua kakinya menatap rendah Lyla yang berjalan mendekatinya.
Tidak ada ekspresi apapun yang diperlihatkan oleh Lyla pada Mark maupun Lucas. Sudah sejak awal Mark sangat benci bagaimana Lyla selalu menatap dirinya. Dingin dan sama sekali tidak ada rasa takut pada diri Lyla dalam melawan penindasan Mark.
"Hey..., tunggu apa yang kau lakukan!" Di luar dugaaan Mark maupun Lucas, tidak percaya tiba-tiba Lyla melempar tempat sampah kearah Mark hingga membuat isinya, jatuh di atas kepala Mark. Tampa mengatakan apapun lagi Lyla segera berlari meninggalkan Mark yang masih diam mematung tak percaya apa yang di lakukan Lyla.
"Sial, aku benar-benar akan membuat gadis itu membayar ini semua!" Mark berujar dalam hati bersumpakh akan membalas apa yang telah di lakukan oleh Lyla.
"Apa perlu kita mengejarnya?" Lucas bergidik ngeri melihat ekspresi Mark yang pastinya temannya itu sedang merencanakan sesuatu agar Lyla bisa segera tunduk pada Mark. Tapi, sepertinya seberapa kuat Mark melakukan hal itu sama sekali tidak membuat Lyla akan tunduk padanya malah sebaliknya terkadang ada saja yang di lakukan Lyla untuk membalas Mark.
"Tidak perlu, kita bisa mencegatnya besok!" Ujar Mark segera berjalan kearah Kamar Mandi, sial sekarang dia bisa merasakan bau busuk pada sekejur tubuhnya.
***
Sial Lyla benar-benar tidak bisa percaya apa yang dia lakukan. Melempar tempat sampah beserta isinya pada Mark? Oh..., tidak Lyla tidak siap apa yang akan di lakukan Mark besok.
"Kau benar-benar gila, dia pasti besok akan semakin menjadi!" Rania sudah melihat semuanya, karena diam-diam dia mengikuti Lyla karena jujur dia khawatir dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Aku juga tidak tau, tanganku reflek melempar begitu saja tempat sampahnya. Lagipula, kita tidak bisa begitu saja tunduk pada Mark, dia suka sekali berbuat seenaknya. Apa dia pikir karena dia kaya, dia bisa berkuasa!" Lyla sebenarnya sudah jengah dengan apa yang di lakukan oleh Mark, bukan sekali atau dua kali Mark melakukan hal itu. Mark selalu saja bertindak sesukanya. Apa karena dia terlahir dari keluarga kaya belum lagi wajah tampan dan otak cukup cemerlang benar-benar membuaat Mark merasa paling berkuasa?
"Aku tau kau sudah sangat kesal dengan perundungan yang terjadi, bukankah lebih baik kau tunduk saja padanya, daripada setiap hari dia melakukan hal ini padamu."
Rania memberikan saran tersebut semata untuk menyelamatkan beasiswa Lyla yang saat ini terancam dicabut. Melapor segala perundungan kampus pada pihak kampus atau polisi, sama saja bunuh diri. Keluarga Mark adalah keluarga yang terpandang, tentu khasus sekecil apapun akan ditutup untuk menjaga nama baik keluarga.
"Tidak! Lebih baik aku bekerja paruh waktu. Lagipula alasan Mark melakukan perundungan padaku tidak lebih karena hal konyol!"
Lyla tidak akan begitu saja terima hal ini, hanya hanya karena dulu ketika upacara penerimaan mahasiswa baru, Lyla tidak sengaja jatuh tersungkur hingga tidak sengaja memeluk Mark dan hal itu membuat gosip tersebar begitu cepat membuat Mark dicap sebagai laki-laki berselera rendah. Jika, teringat hal itu membuat Lyla kesal, lagipula siapa yang mau dengan laki-laki kasar tukang rundung itu.
"Baiklah, jika seperti itu. Sebaiknya kau harus hati-hati dan ini untukmu!" Rania memberikan bungkusan kado pada Lyla yang tentunya membuat Lyla bertanya dalam hati.
"Kau lupa? Hari ini ulang tahunmu!" Rania memberikan penjelasan pada Lyla yang terseyun kaget dengan ucapannya.
"Aku lupa, terima kasih!" Lyla benar-benar melupakan hari ini, karena pikirannya benar-benar terisi penuh dengan masalah beasiswanya yang tiba-tiba dicabut yang tidak lain karena ulah Mark.
Lyla benar-benar harus bersyukur memiliki sahabatnya seperti Rania, dia tidak percaya sahabatnya itu memberikan sebuah novel edisi khusus yang belum banyak rilis di toko buku.
"Kau tidak perlu sampai seperti ini, pasti sangat mahal," Lyla tidak tau harus bagaimana, Rania sudah banyak membantunya.
"Hey, jangan seperti itu. Lagipula, kita sudah berteman sejak lama, daripada kau mengatakan hal itu lebih ayo kita masak!" Lyla terseyum segera berjalan kearah dapur, mempersiapkan bahan makanan dan membuat dua porsi pasta dan pancake untuk merayakan Hari ulang tahun yang sempat dia lupakan.
"Tentang kerja, lebih baik kau pikirkan dulu. Kita sudah semester Lima, tugas semakin banyak. Apa kau yakin bisa handle semuanya. Jika tidak bisa, aku bisa membantu!" Lyla menghentikan makannya, menatap Rania yang sepertinya begitu khawatir padanya.
"Jangan khawatir, aku sudah mendapatakan pekerjaan. Lagipula aku tidak bisa merepotkanmu terus!" Lyla benar-benar tidak bisa terus merepotkan Rania lagipula, ini sudah konskuensinya Lyla sudah memutuskan untuk tidak memohon pada Mark untuk mengembalikan beasiswanya. Lyla tidak ingin memberi makan ego, manusia kejam seperti Mark.
"Kau yakin, bisa handle semuanya?" Rania sebenarnya tidak ragu sama sekali dengan Lyla hanya saja, Rania tidak tega jika sahabatnya terlalu memforsir tubuhnya.
"Jangan khawatir!"
Mark benar-benar membuktikan ucapannya, jika hari ini dia akan mencegat Lyla tepat di depan gerbang kampus. Dia tidak akan membiarkan Lyla kabur atau menghindarinya. Mark sudah mempersiapkan tempat sampah, berisi sampah makan yang akan siap dia tumpahkan tepat di atas kepala Lyla untuk membalas kemarin.
"Tunggu!" Mark menahan tangan Lyla saat akan melewatinya. Lyla menatap kesal Mark kemudian menepis tangan Mark. Tetapi, sia-sia karena tenaga Mark lebih besar.
"Sepertinya buku bagus!" Mark menatap minat buku yang dibawa Lyla, kemudian merebutnya dan melemparkannya pada Lucas.
"Kembalikan!" Mark terseyum miring menatap Lyla yang jelas terlihat kesal dengan apa yang di lakukan Mark, yang begitu saja mengambil buku hadiah dari Rania. Bahkan Lyla belum membacanya, tapi Mark sudah seenaknya mengambil buku itu.
"Tidak, aku pinjam. Lagipula itu hanya buku, aku akan kembalikan besok karena sepertinya bagus!" Sebenarnya Mark tidak tau buku apa yang dibawa Lyla, anggap saja ini bagian untuk membalas apa yang di lakukan Lyla kemarin.
"Tidak, lain kali saja!" Lyla tidak akan membiarkan Mark meminjam buku itu, karena Lyla yakin buku itu tidak akan kembali.
"Aku bisa membeli banyak buku sampah seperti ini," Mark mengambil buku itu dari tangan Lucas, dan memperlihatkan pada Lyla yang kini terlihat jelas menahan kesal
"Jika, kau pikir ini lebih baik kembalikan!" Lyla mencoba merebutnya dari Mark yang sedang jelas mempermainkannya.
Hey wanita tua, apa yang kau lakukan? Aku akan benar-benar memberikamu pelajaran, setelah pergi dari sini! " Mark sama sekali tidak terima akan hal ini, setelah pergi dari gubuk tua ini dia akan benar-benar memperlihatkan siapa dirinya pada wanita tua di depannya. "Aku yang harusnya bertanya, daripada mengatakan hal yang tidak-tidak lebih baik pergi, dan antarkan sayur-sayur ini ke pasar!" Mark menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita tua barusan. Pasar? Mark benar-benar tidak akan menginjakan kaki di tempat kumuh itu. "Aku tidak akan melakukan itu!" Dengan cepat wanita paruh baya itu, segera menarik telinga Mark dengan begitu keras tentunya dengan raut wajah tak kalah kesal dengan Mark. "Jangan menagtakan hal bodoh, kita ini hanya rakyat jelata! Jangan membuat masalah yang membuat hidup kita sudah. Cepat selesaikan pekerjaamu, Bibi tidak ada waktu lagi!" Mark merasa harga dirinya runtuh begitu saja, ketika wanita paruh baya yang mengaku sebagai bibinya itu menyebut, ji
Sebelum benar-benar pergi, Mark menatap sekilas nampan berisi es jeruk yang dibawa Lyla. Tanpa mengatakan apapun, Mark tiba-tiba menumpahkan es jeruk tersebut tepat di atas kepala Lyla dan pergi begitu saja. Lyla terdiam tanpa sepatah katapun, tetapi segera berlari mengejar Mark hingga sampai parkiran. "Kenapa kau sangat kerterlaluan padaku?" Lyla berujar mengikuti Mark yang sama sekali tidak menatap Lyla. Mark terys melangkah hingga masuk kedalam mobil, dan bersiap akan menutupnya. Namun, dengan cepat Lyla mencegatnya dan kali ini Lyla ingin Mark memberikan penjelasan kenapa Mark selalu merundungnya hanya karena masalah sepele. Sebenarnya, Lyla tidak ingin melakukan hal ini, tapi hari ini Mark benar-benar kerterlaluan. "Karena aku tidak suka padamu, kau menganggu!" Mark mengatakan hal itu sembari menunjuk wajah Lyla yang jelas kesal dengan alasan Mark yang terkesan konyol. "Jika, kau tidak suka padaku harusnya lebih baik kau menghindar, kenapa kau selalu merundungku?" Mark terdia
"Kau tidak bisa, mengambilnya bukan?" Cemoh Mark menatap Lyla yang mencoba berjinjit mengambil buku yang berada di tangan Mark. "Ini!" Mark menjatuhkan buku itu begitu saja, kemudian menginjak buku itu sembari menatap Lyla yang tampak shock dengan apa yang di lakukan Mark. "Kau!" Lyla menatap jengah Mark, sembari berjongkok akan mengambil bukunya dan kali ini Lyla juga kurang cepat, karena Mark kembali mengambil buku itu. Belum sempat Lyla berdiri, Mark kembali melakukan perundungan dengan menumpahkan sampah berisi makanan busuk tepat di atas kepala Lyla yang tampak terdiam menatap tajam Mark yang tertawa puas dengan yang dilakukannya dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Lyla yang diam mengepalkan tangnnya penuh rasa kesal, begitu melihat beberapa orang yang lewat terlihat menutup hidung mereka begitu mencium bau busuk. "Astagah, Lyla!" Rania segera berlari kearah Lyla yang baru saja keluar dari mobilnya dengan tatapan kesal melihat orang-orang yang sepertinya tidak ada emp
"Kau!" Lyla berujar menunjuk wajah Mark yang hanya terseyum sombong akan apa yang telah dia lakukan, begitu juga dengan Lucas yang salad yakin dengan ini Lyla pasti akan tunduk pada Mark"Jika kau ingin beasiswamu kembali, mudah saja tunduk di bawah kakiku dan katakan kau siap jadi pelayan pribadiku!" Mark mengatakan hal itu sembari menyilangkan kedua kakinya menatap rendah Lyla yang berjalan mendekatinya.Tidak ada ekspresi apapun yang diperlihatkan oleh Lyla pada Mark maupun Lucas. Sudah sejak awal Mark sangat benci bagaimana Lyla selalu menatap dirinya. Dingin dan sama sekali tidak ada rasa takut pada diri Lyla dalam melawan penindasan Mark. "Hey..., tunggu apa yang kau lakukan!" Di luar dugaaan Mark maupun Lucas, tidak percaya tiba-tiba Lyla melempar tempat sampah kearah Mark hingga membuat isinya, jatuh di atas kepala Mark. Tampa mengatakan apapun lagi Lyla segera berlari meninggalkan Mark yang masih diam mematung tak percaya apa yang di lakukan Lyla. "Sial, aku benar-benar aka
"Hari ini aku akan memberikan perempuan itu pelajaran!" Ujar Mark penuh keyakinan setelah siang tadi benar-benar di permalukan oleh Lyla yang menumpahkan sepiring spaghetti di atas kepalanya. Baru saja Mark mengatakan hal itu, langkahnya terhenti menatap tajam Lyla yang baru saja keluar dari Toilet yang terkejut dengan keberadaan Mark. Merasa ditatap oleh Mark, membuat Lyla jadi gugup sekaligus merinding dengan kejadian siang tadi, di mana Lyla tidak sengaja tersandung dan menumpahkan sepiring spaghetti tepat di atas kepala Mark hingga kejadian itu benar-benar sukses membuat Mark di permalukan"Maaf untuk siang tadi, aku tidak sengaja!" Lyla berharap Mark akan melepaskan dan mengampuninya. Walaupun hal itu sangat mustahil, karena Mark sangat berkuasa. Dia adalah anak pemilik Kampus ini sekaligus pewaris tunggal keluarga Thomson. "Kau bilang maaf, setelah menpermalukan aku?" Mark berujar tajam berjalan memojokan Lyla, hingga tersudut di tembok dan sedikit mencengkram dagu Lyla hing







