Home / Romansa / Pembalasan Sang Siren / Bab 2 — Kota yang Tidak Pernah Berubah

Share

Bab 2 — Kota yang Tidak Pernah Berubah

Author: Eloise Vox
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-18 10:20:23

Kota Valencia tidak pernah benar-benar tidur.

Kota itu berdenyut pelan dibawah langit malam, hidup dalam cahaya lampu yang berkilau seperti ilusi yang terlalu indah untuk disentuh. Jalanan dipenuhi kendaraan yang meluncur tanpa henti, suara tawa yang bisa terdengar disetiap sudut kota.

Dari mobil hitam yang melaju dengan tenang, Kiara menikmati semua itu tanpa ekspresi.

Sepuluh tahun.

Waktu yang cukup lama untuk mengubah banyak hal, menemukan banyak perbedaan.

Tapi tidak dengan Valencia. Kota ini tetap sama, terlihat indah dipermukaan— busuk di dalam.

Pantulan wajah Kiara terlihat dari jendela. Sorot matanya yang tajam seperti siren, dingin dan penuh perhitungan.

Tidak ada lagi jejak gadis lugu yang dulu pernah berdiri di kota ini dengan penuh harapan sederhana.

"Sudah lama sekali sejak anda kembali, Nona."

Suara supir itu terdengar penuh dengan kehati-hatian, memecah keheningan yang tercipta.

Kiara tidak segera menjawab pertanyaan itu. Pandangannya masih tetap tertuju pada pemandangan diluar, mengikuti cahaya lampu yang melintas cepat seperti ingatan yang tidak ingin ia sentuh.

"Ya," jawabnya singkat. "Cukup lama."

Nada bicaranya datar, tanpa emosi yang bisa ditebak. Tidak terdengar sedingin itu, namun tetap cukup untuk membuat percakapan itu tidak berlanjut.

Supir itu mengangguk mendengarnya. Memilih diam. Tidak melanjutkan kembali percakapan yang semula ia rencanakan untuk memecah keheningan. Keputusan yang bijak.

Mobil itu terlihat memasuki kawasan elit, dimana suasana kota berubah menjadi lebih sunyi. Pohon-pohon besar berjajar rapi disepanjang jalan, dengan lampu taman yang menerangi jalan itu dengan lembut. Kamera pengawas terlihat disepanjang sudut jalan.

Rumah-rumah megah yang berdiri dibalik pagar yang tinggi. Tidak ada yang terlihat sederhana. Tidak ada yang biasa, seakan menunjukan kekuasaan pemiliknya.

Dan disalah satu sudut jalan, berdiri rumah yang pernah menjadi tempat Kiara tumbuh.

Mobil yang ditumpanginya melambat saat mereka mendekati rumah itu. Sebuah rumah besar yang berdiri lebih menonjol dibanding rumah lainnya.

Disanalah semua itu berhenti. Rumah itu. Masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu.

Pagar besi hitam yang tinggi berdiri kokoh, dihiasi ukiran rumit yang tampak mahal dan dingin. Lampu taman menyala sempurna, menerangi jalan setapak menuju pintu utama yang besar dan elegan.

"Berhenti disini."

Mobil itu berhenti perlahan. Kiara tidak langsung turun. Ia hanya duduk diam, menatap rumah itu dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.

Sepuluh tahun yang lalu ia pergi dari rumah itu tanpa menoleh kebelakang. Bukan karena tidak mau. Tapi karena dia tahu, jika ia menoleh dia tidak akan bisa pergi.

Namun sekarang dia telah kembali. Tidak kembali sebagai anak yang lemah.

Tangannya bergerak membuka pintu mobil. Udara malam langsung menyambutnya, terasa dingin, bersih, dan asing.

Ia melangkah keluar dengan tenang, tumit sepatunya menyentuh jalanan dengan suara pelan yang hampir tak terdengar. Posturnya tegak, gerakannya terkontrol, setiap langkahnya menunjukkan kepercayaan diri yang tidak dibuat-buat.

Ia berhenti tepat di depan pagar.

Kilasan memori datang tanpa diundang.

Seorang gadis kecil berdiri di tangga, memegang boneka yang sudah mulai usang.

Suara langkah kaki terdengar dari lantai bawah, diikuti oleh suara wanita yang dingin dan tajam.

"Jangan berdiri di situ. Kau mengganggu."

Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menggenggam bonekanya lebih erat.

Di sudut lain, seorang gadis yang lebih tua tersenyum—manis di luar, tapi matanya, penuh kemenangan. "Kau harus belajar tahu tempatmu."

Suara itu masih terdengar jelas. Terlalu jelas.

Kiara mengerjapkan matanya, menarik dirinya kembali ke masa sekarang. Tetap tidak ada perubahan ekspresi disana. Seakan-akan kenangan itu tidak berarti.

Namun, jari-jarinya mengatakan hal sebaliknya. Kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya, cukup menunjukan bahwa semua kenangan itu tidak benar-benar hilang.

"Anda ingin masuk sekarang, Nona?" Suara supir itu kembali terdengar dari belakang.

Ia tidak langsung menjawab. Ditatapnya kembali rumah yang ada di depannya, lalu menggeleng pelan.

"Belum."

Ia belum siap untuk masuk, bukan karena takut. Tapi karena tidak ingin terburu-buru. Balas dendam yang baik membutuhkan waktu.

Ia lalu berbalik dengan anggun, kembali memasuki mobil itu. "Ke pusat kota." Ucapnya singkat.

Mobil kembali bergerak, meninggalkan rumah itu dibelakang.

Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun— Kiara tidak merasa seperti seseorang yang sedang melarikan diri. Ia merasa seperti seseorang yang sedang kembali untuk mengambil sesuatu yang memang miliknya.

....

Lampu kota kembali memenuhi pandangannya saat mobil memasuki area pusat bisnis Valencia. Disinilah pusat jantung kota itu berada.

Mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah.

Seorang petugas segera membuka pintu, menyambut Kiara dengan senyum profesional yang sempurna.

"Selamat malam, Nona."

Kiara hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Dilangkahkan kakinya masuk kedalam.

Suasana lobi hotel itu ramai, penuh dengan orang-orang berpakaian mahal berbicara dengan rendah. Saling bercakapan dengan kepercayaan diri yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa berada di puncak.

Kiara membaur dengan mudah diantara mereka. Ia tidak terlihat asing. Seolah-olah dirinya memang menjadi bagian dari mereka.

Disapukan pandangannya, mengamati setiap detail, setiap interaksi, setiap wajah, setiap peluang.

Disalah satu sisi ruangan, layar besar menampilkan berita bisnis malam itu.

"…CEO Inovara Corp kembali mencatatkan peningkatan signifikan dalam kuartal ini…"

Pandangannya bergeser menatap layar itu, terlihat ada sedikit perubahan pada ekspresi wanita itu. Matanya terlihat lebih fokus, lebih tajam, lebih... berbahaya.

Di layar itu, seorang pria berdiri di hadapan kamera. Tinggi. Tegap. Berwibawa. Sorot matanya dingin, tapi penuh kendali.

Elvano Arvan Pramana.

Pria yang akan menjadi kunci dari segalanya. Kiara memperhatikan wajah itu tanpa berkedip. Menganalisis. Mengukur. Menilai.

Bukan sebagai wanita yang tertarik pada seorang pria.

Tapi sebagai seseorang yang sedang memilih senjata.

Bibirnya melengkung tipis. Bukan senyum.

Lebih seperti… keputusan. Permainan ini akhirnya dimulai.

Dan kali ini— Kiara tidak akan kalah.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 71 - Batas yang Tidak Boleh Dilewati

    Kiara menatap pintu apartemen yang baru saja tertutup.Suara langkah Elvano sudah lama menghilang dari balik koridor. Namun keheningan yang ditinggalkannya masih memenuhi setiap sudut ruangan. Ia tetap berdiri di tempat yang sama, seolah tubuhnya belum benar-benar menyadari bahwa percakapan mereka telah berakhir.Di atas meja, buku catatan itu masih terbuka.Halaman yang sama.Tulisan yang sama.Kiara melangkah mendekat, lalu menatapnya cukup lama sebelum menutup buku itu perlahan. Gerakannya tenang, tetapi pikirannya tidak. Semakin ia berusaha mengembalikan fokus pada penyelidikan, semakin jelas kalimat terakhir Elvano kembali terdengar di kepalanya."Aku ingin dia lahir karena dicintai."Ia memejamkan mata sesaat.Kalimat itu seharusnya tidak mengubah apa pun. Rencananya tetap masuk akal. Perhitungannya tetap sama. Celine tetap memiliki titik lemah yang tidak dimiliki siapa pun.Namun entah mengapa, ia tidak lagi mampu memandang semuanya dengan kejernihan yang sama.....Malam itu,

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 70 — Aku Akan Mengandung Anakmu

    Keputusan itu tidak lagi sekadar memenuhi sudut pikirannya.Selama dua hari terakhir, Kiara berusaha kembali pada rutinitas yang selama ini membantunya menjaga kendali. Ia membaca ulang laporan Arga, menelusuri catatan mengenai Saint Orla, bahkan mencoba menyusun kembali kronologi yang berkaitan dengan Darian. Namun setiap kali berhasil memusatkan perhatian pada penyelidikan, pikirannya selalu kembali berputar pada titik yang sama.Celine.Bukan pada kebenciannya.Melainkan pada ketakutan yang berulang kali berhasil ia tangkap di balik ketenangan perempuan itu.Semakin lama ia memikirkannya, semakin yakin Kiara bahwa seluruh pertahanan Celine berdiri di atas satu harapan yang sama—harapan keluarga Pramana akan seorang penerus.Kesimpulan itu tidak membuatnya merasa puas.Justru sebaliknya.Ia berharap menemukan jalan lain.Namun setiap kemungkinan yang ia susun selalu berakhir pada tujuan yang sama.Menjelang siang, Kiara akhirnya mengambil ponselnya.Ia mengetik sebuah pesan singkat.

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 69 — Jalan Paling Kejam

    Pikiran itu tidak hilang setelah malam berlalu.Bahkan ketika Kiara mencoba mengalihkan perhatiannya pada dokumen Saint Orla, laporan Arga, atau catatan lama tentang Darian, selalu ada satu bagian dalam pikirannya yang kembali pada halaman yang sama.Bukan karena ia belum menemukan jawaban.Melainkan karena perlahan ia mulai memahami arah yang selama ini berusaha ia hindari.Kesadaran itu membuatnya merasa tidak nyaman.Kiara duduk di ruang kerjanya dengan beberapa dokumen terbuka di atas meja. Namun tidak satu pun benar-benar ia baca. Matanya hanya tertuju pada catatan yang sebelumnya ia buat, seolah berharap kata-kata di halaman itu akan berubah jika ia melihatnya cukup lama.Ia kembali menatap catatan yang berisi berbagai kemungkinan yang sudah ia kumpulkan.Tentang posisi seseorang di dalam keluarga. Tentang bagaimana sebuah nama dan pengaruh dapat dipertahankan. Tentang faktor-faktor yang menentukan arah masa depan

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 68 — Bukan Sekadar Balas Dendam

    Garis tebal yang dibuat Kiara di bawah kata anak masih terlihat jelas di buku catatannya.Sejak malam sebelumnya, ia sudah beberapa kali menutup buku itu. Ia mencoba mengalihkan pikirannya, mencoba kembali fokus pada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritasnya. Namun setiap kali buku itu terbuka lagi, pandangannya selalu kembali pada halaman yang sama.Status.Anak.Hak waris.Posisi keluarga.Empat hal yang awalnya hanya ia anggap sebagai bagian dari strategi. Cara untuk memahami bagaimana keluarga Pramana melihat kekuasaan, hubungan, dan masa depan mereka. Cara untuk menemukan celah yang bisa digunakan untuk menghadapi Celine.Namun semakin banyak yang ia pahami, semakin sulit baginya menganggap semua itu hanya sebagai informasi biasa.Karena sekarang yang ia lihat bukan hanya sebuah kelemahan.Ia mulai melihat akibat yang mungkin muncul dari keputusan yang ia ambil. Dan semakin jelas gambaran itu terbentuk, semaki

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 67 — Keputusan Pertama

    Kiara baru benar-benar tertidur ketika dini hari hampir berganti pagi. Tidurnya pun tidak nyenyak. Beberapa kali ia terbangun sebelum akhirnya membuka mata saat cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah tirai apartemennya. Ia tetap berbaring beberapa saat, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terasa penuh, meski ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada hal penting yang sedang dipikirkannya.Namun ingatannya kembali pada percakapannya dengan Celine semalam.Status tidak selalu mengikuti perasaan.Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Diucapkan dengan nada yang tenang, tanpa ancaman atau emosi yang berlebihan, tetapi justru karena itulah kata-kata tersebut meninggalkan kesan yang sulit diabaikan.Dengan embusan napas pelan, Kiara bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang kerja. Laptop yang semalam ia tinggalkan masih tergeletak di atas meja. Begitu layar menyala, halaman terakhir yang terbuka langsung muncul di had

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 66 — Tawaran yang Tidak Diucapkan

    Celine tidak langsung pulang setelah meninggalkan klinik. Mobilnya masih terparkir di tempat yang sama, sementara amplop berisi hasil pemeriksaan itu terletak diam di kursi penumpang sebelah. Ia tidak perlu membukanya lagi. Isi dokumen tersebut sudah terlalu akrab untuk dilupakan. Pandangannya tertuju lurus ke depan. Jalanan di hadapannya ramai seperti biasa, tetapi pikirannya masih tertinggal di ruang konsultasi beberapa menit lalu. -Peluang kehamilan alami Anda masih sangat rendah.- Kalimat itu tidak membawa kabar baru. Ia sudah mendengar versi yang sama bertahun-tahun lalu. Namun mendengarnya kembali tetap menimbulkan rasa sesak yang tidak pernah benar-benar hilang. Selama ini Celine berhasil hidup berdampingan dengan kenyataan tersebut. Ia menyimpannya rapat-rapat, jauh dari jangkauan keluarga Pramana, jauh dari pertanyaan Adrian, dan terutama jauh dari Elvano. Ia belajar ter

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 5 - Diantara Api dan Kendali

    Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di pintu balkon. Udara malam yang sebelumnya terasa tenang kini berubah—lebih berat, seolah sesuatu yang tak terlihat sedang menekan ruang di antara tiga orang yang berdiri di sana. Kiara tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Dan karena itu,

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 4 — Rasa penasaran yang berbahaya

    Elvano tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Ia terbiasa berada satu langkah lebih depan. Terbiasa mengetahui siapa yang ia hadapi, apa yang mereka inginkan, dan sejauh mana mereka bersedia melangkah untuk mendapatkannya. Dunia tempatnya berdiri tidak memberi ruang untuk ketidaktah

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 3 — Kebetulan yang Dirancang

    Malam itu, hotel tempat Kiara menginap berubah menjadi panggung bagi para pemain kekuasaan. Aula utamanya dipenuhi cahaya kristal dari lampu gantung besar yang menggantung anggun di langit-langit tinggi. Musik lembut mengalun, cukup untuk menciptakan suasana elegan tanpa mengganggu percakapan-percak

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 1 — Tahapan Ke-Enam

    "Orang-orang bilang ada lima tahap dalam berduka." Suara itu terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang membicarakan kehilangan. "Hm," "Tapi mereka salah." Ada jeda di seberang sana, cukup lama untuk meneruskan penilaiannya. "Lalu? Apa yang benar?" "Mereka melupakan sa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status