MasukIni Bab kedua pagi ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Tanpa aturan Alam Rahasia Demon Saint yang mengekang pergerakan mereka, ketiganya terbang bebas ke udara, membelah langit alam rahasia yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan di berbagai titik.Satu jam kemudian, wilayah musim dingin muncul di bawah mereka.Tapi yang menyambut bukan salju atau udara beku seperti yang Ryan bayangkan. Dari puncak gunung yang menjulang hingga ke atas awan, gas menguar tebal berwarna hijau kelabu, bergerak lambat seperti sesuatu yang hidup dan tidak terburu-buru pergi ke mana pun. Aroma yang sampai ke hidung Ryan bahkan dari ketinggian ini sudah cukup membuat ujung lidahnya terasa kebas.Ryan mengerutkan kening.Di sisinya, Yue Lane justru menarik napas panjang seperti seseorang yang menghirup udara segar di pegunungan. Lina Jirk melakukan hal yang sama, dan untuk sesaat, ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang mendekati damai.'Tentu saja. Bagi mereka, ini sepe
Bola cahaya itu tidak menunggu perintah.Begitu Demon Saint membuka tangannya, cahaya putih keperakan itu melayang keluar seperti serpihan bintang yang lepas dari orbitnya, bergerak lurus ke arah dahi Ryan dengan kecepatan yang terlalu halus untuk disebut serangan tapi terlalu terarah untuk disebut kebetulan.Ryan tidak bergerak.Cahaya itu menyentuh dahinya dan meresap masuk.Lalu kenangan menyerbu masuk seperti sungai yang dibendung selama puluhan ribu tahun dan tiba-tiba menemukan celah untuk mengalir sepenuhnya. Teknik kultivasi, pola segel, rahasia tentang hukum-hukum duniawi yang Demon Saint habiskan seluruh hidupnya untuk memahami, semuanya mengalir deras ke dalam pikiran Ryan dalam waktu yang tidak bisa diukur dengan detik biasa.Beberapa bagian terasa jelas seperti ukiran di batu yang baru dipahat.Beberapa bagian lain kabur, seperti melihat lanskap melalui kaca yang berembun. Tidak cukup untuk dipaha
Di dalam, hanya ada tempat tidur dan dua kursi bambu. Tidak ada kemewahan. Tidak ada ornamen kekuasaan yang menempel di dinding atau diletakkan di sudut-sudut. Hanya dua kursi dan ruang yang cukup untuk dua orang duduk dan bicara tanpa jarak yang tidak perlu ada di antara mereka. Demon Saint duduk di salah satu kursi, dan untuk pertama kalinya sejak bangkit dari peti matinya, ia terlihat seperti seseorang yang benar-benar lelah. Bukan lelah dari pertempuran, bukan lelah dari luka-luka fisik yang sudah mulai menutup. Tapi lelah dari waktu yang terlalu panjang ditanggung sendirian tanpa ada yang bisa berbagi bebannya. Wajahnya pucat. Energi spiritual yang tadi memenuhi tubuhnya sudah hampir tidak tersisa, menyusut seperti lilin yang dibakar dari kedua ujungnya sekaligus tanpa peduli berapa yang tersisa di tengahnya. Ia bukan lagi kultivator yang baru saja bertarung melawan empat Demon Lord Ranah Creation sekaligus. Ia terlihat seperti orang tua yang sudah sampai di batas
Ryan tidak pernah merasakan keputusasaan seperti itu sebelumnya. Bukan rasa takut. Bukan kesakitan fisik. Tapi perasaan seperti berdiri di tepi jurang yang tidak punya dasar, menatap ke bawah, dan menyadari bahwa tidak ada hukum atau kekuatan yang bisa dinegosiasi di sini oleh siapa pun. Segel itu terbuka. Apa pun yang ada di baliknya sudah bebas. BOOM! Avatar Sky Demon Lord hancur lebur oleh aura yang meledak keluar dari segel itu sendiri, terpecah menjadi serpihan energi iblis yang menguap bahkan sebelum sempat menyentuh lantai. Istana mulai runtuh dari dalam, dindingnya retak dari fondasi, langit-langitnya melengkung ke arah yang salah sebelum tidak bisa lagi menopang beratnya sendiri. Demon Saint bergerak tanpa kata-kata. Satu pukulan terakhir mendarat di tubuh Sky Demon Lord yang masih berdiri di tengah reruntuhan, sudah tidak punya tenaga tersisa untuk menghindar. Demon Lord kuno itu terpental, menghantam tiang yang tidak lama setelahnya runtuh dan menimpa tubuhnya.
WUSHHH!Telapak tangan Sky Demon Lord menyasar dada Ryan.Ryan menyipit. Tidak ada waktu mundur penuh. Ia bergeser setengah langkah untuk mengurangi dampaknya, tapi ujung serangan itu tetap menghantam sisi tulang rusuknya dengan cukup keras."Refleksmu di atas rata-rata." Sky Demon Lord mundur satu langkah, matanya mengamati Ryan dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Tidak buruk untuk ukuran manusia biasa."Ryan tidak menjawab. Dadanya terasa seperti dipukul besi panas dari dalam, tapi tangannya tidak melepas Pedang Iblis Darah.Sky Demon Lord kembali bergerak ke arah segel.Ryan melesat mengejar, tapi selisih kecepatan di antara mereka terasa seperti dinding yang tidak bisa ditembusnya dengan kekuatan biasa saja.'Tidak cukup cepat.'"Transformasi Dewa Iblis!"Di atas kepalanya, Bayangan Spirit Phoenix menjelma dalam satu ledakan cahaya merah tembaga, sayapnya terentang leba
Ryan mengangguk singkat, satu kali, tanpa kata-kata yang perlu ditambahkan.Lukanya sudah pulih. Selama tubuhnya masih bisa bergerak, pertempuran ini belum selesai. Sky Demon Lord hampir menghabisinya tadi, dan utang itu belum terbayar."Sky Demon Lord." Demon Saint melangkah ke depan, suaranya bergema di langit istana yang sudah retak di mana-mana. "Apakah pikiranmu tidak bisa berubah bahkan sekarang?"Hening sesaat.Lalu tanpa basa-basi, kepalan Demon Saint melesat ke kegelapan di sudut langit-langit istana, menghantam sesuatu yang tidak terlihat oleh mata siapa pun yang berdiri di bawah.BOOM!Sky Demon Lord terwujud dari kegelapan itu, sosoknya melayang turun dengan senyum miring yang tidak ada kesungguhannya."Puluhan ribu tahun lalu, kami berempat kalah darimu." Suaranya tenang seperti seseorang yang sedang menceritakan sejarah orang lain, bukan sejarahnya sendiri. "Tapi hari ini berbeda. Hari ini, segel
Ryan mengamati interaksi ini dengan cermat. Meskipun situasinya masih berbahaya, kehadiran Pak Tua Feng memberikan setidaknya sekutu sementara. Pada saat ini, Jamie Leon dan Walter Leon akhirnya tiba. Ketika mereka melihat pemandangan yang menegangkan itu, jantung Jamie Leon kembali berdebar k
Ancaman Ryan untuk menyegel Wendy, yang berada di bawah kendali Fisik Iblis Berdarah Dingin, bukanlah ancaman kosong. Kalau beberapa minggu yang lalu, Ryan mungkin tidak dapat melakukan hal itu. Teknik penyegelan tingkat tinggi seperti ini jauh di luar jangkauannya. Namun, keadaan telah berubah d
"Siapa yang mengira bahwa binatang raksasa ini benar-benar akan tunduk pada seekor kucing." Bisikan takjub terdengar di seluruh arena. "Tidak ada yang akan percaya ini jika tidak melihatnya langsung!" Ekspresi wajah Tetua Zheng dan Luis Kincaid berubah sangat jelek. Wajah mereka pucat pasi, dan m
Ryan berlari melesat melalui jalanan Kota Dalecia. Bangunan-bangunan mewah berkelebatan di sampingnya. Matanya terfokus pada satu-satunya tujuan—Alchemy Tower yang menjulang tinggi di pusat kota. "Sedikit lagi," pikirnya sambil menggigit bibir. Racun di tubuhnya semakin memperlambat gerakannya.







