LOGINIni Bab kedua pagi ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Aroma darah menyambut Ryan bahkan sebelum bangunan markas sekte terlihat.Bukan aroma pertarungan yang baru saja terjadi. Ini aroma yang sudah ada cukup lama untuk meresap ke udara, ke batu, ke tanah di sekitarnya. Sudah berhari-hari.Ryan mempercepat langkah.'Klan Spiritum Sanguis.'Mereka sudah menemukan jejaknya dan bergerak. Pulau Iblis Darah yang mestinya berada di luar perhatian utama mereka karena letaknya yang jauh dari wilayah barat ternyata tidak cukup jauh. Entah dari mana bocornya, tapi kenyataannya sudah di sini. Tidak ada gunanya memikirkan dari mana sekarang.Di persimpangan menuju markas, seseorang berlari dari arah tambang.Aster Dread.Pria itu mengenali Ryan dari jarak yang cukup jauh dan langsung mempercepat. "Tuan Muda! Saya baru dari tambang, belum tahu situasi di atas.""Ikuti aku."Ryan tidak melambat sedikit pun. Aster Dread menyesuaikan langkah di belakangnya tanpa perlu diperintah dua kali.**Di dalam aula utama markas Sekte Slaughter, udara terasa leb
Wajah Tuan Nove tidak menyiratkan kesedihan.Yang ada justru ketenangan. Bukan ketenangan orang yang pasrah, tapi ketenangan seseorang yang sudah terlalu lama menanggung sesuatu yang berat dan kini akhirnya bisa menurunkannya.Ryan berdiri di sisinya. Tidak ada kata yang terasa tepat. Orang-orang ini sudah mengorbankan diri puluhan ribu tahun yang lalu, menanggung beban yang bukan sepenuhnya milik mereka, hanya agar generasi yang tidak pernah mengenal mereka bisa hidup tanpa perlu tahu apa yang pernah terjadi. Bahkan namanya pun mungkin tidak diingat oleh satu pun dari generasi yang mereka selamatkan itu.Suara dentuman besar mengguncang seluruh Kapal Reinkarnasi dari dalam. Bukan getaran yang merusak. Lebih seperti napas panjang terakhir dari sesuatu yang sudah lama menunggu momen ini.Sosok Tuan Nove mulai memudar dari tepinya, perlahan. Bukan seperti kematian. Lebih seperti seseorang yang sudah
Ryan mengenali wajah-wajah itu, meski kondisinya berbeda jauh dari terakhir ia melihat mereka. Heavenly Saint Cael Ironblood. Saint King Lyra Crimson. Heavenly Sword Saint. Dan di belakang mereka, ribuan sosok lain yang masing-masing membawa aura setingkat ketiganya atau lebih.Ribuan Heavenly Saint. Semuanya di sini.Mereka bertempur melawan pasukan pria di atas Naga Surgawi itu.Skalanya tidak ada tandingannya. Setiap tebasan pedang Heavenly Sword Saint membelah langit dan menyapu ratusan musuh dalam satu gerakan. Setiap tinju Heavenly Saint Cael Ironblood yang mendarat membuat bumi retak jauh melampaui batas yang masuk akal. Semua yang pernah Ryan alami selama ini, semua pertarungan yang pernah dia anggap besar, terasa seperti latihan anak baru dibandingkan ini.Tapi mereka tetap jatuh. Satu per satu.Benua Valorisia berubah merah dari cakrawala ke cakrawala, warna yang tidak akan tersa
Tubuhnya sudah berbeda. Ryan tahu itu, meski tidak ada angka atau indikator level kultivasi yang bisa mengukurnya. Perubahannya bukan di permukaan. Lebih dalam dari itu. Seolah inti dirinya yang paling mendasar sudah dilebur lalu dicetak ulang dalam bentuk yang baru, tapi karena prosesnya berjalan dari dalam ke luar, hasilnya terasa seperti miliknya sendiri. Bukan sesuatu yang ditempel atau dipaksakan dari luar. Kekuatan itu ada. Ryan bisa merasakannya dengan jelas, bukan sekadar dugaan. Tapi kekuatan itu tidak mengalir bebas. Ada semacam sekat yang menghalanginya, tekanan dari dalam yang tidak membiarkan semuanya keluar sepenuhnya. 'Ada kunci yang belum terbuka.' Sebelum ia sempat menjelajahi pertanyaan itu lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari pintu masuk ruang rahasia. Raja Roh Perang berdiri di ambang pintu. Wajahnya sama seperti pertama kali Ryan melihatnya,: dingin, tanpa basa-basi, tidak ada satu pun ekspresi berlebih di sana. Tapi matanya tidak lagi b
"Sudah berapa orang yang sampai sejauh ini sebelumnya?" Raja Roh Perang bertanya meski ia sudah tahu jawabannya. "Tidak ada," jawab Tuan Nove. Ia meletakkan cermin itu. Suara kacanya menyentuh meja terdengar lebih keras dari yang seharusnya. "Sekarang, yang ada di depan anak itu bukan lagi ujian. Yang ada di depannya adalah Tungku Kosmos." Raja Roh Perang tidak bersuara selama beberapa detik. Punggungnya yang tadi tegak menurun satu senti. "Apakah dia akan keluar?" Tuan Nove tidak menjawab. Karena jawabannya bukan sesuatu yang bisa ia ketahui, dan ia tidak terbiasa berbicara tentang hal yang tidak ia ketahui. ** Ruang rahasia di ujung koridor tidak memiliki apa-apa kecuali satu objek di tengahnya. Ryan berdiri di ambang pintu dan merasakan panas bahkan sebelum benar-benar melangkah masuk. Bukan panas yang menyengat di permukaan kulit dan bisa diatasi dengan menahan napas. Lebih dalam dari itu. Panas yang terasa seperti berasal dari dalam tanah di bawah kaki, dari sesua
BOOM! BOOM! BOOM!Sinar pedang terus bertukar tanpa jeda di dalam aula yang sudah tidak lagi memiliki sudut yang tidak tersentuh Esensi Pedang Abadi dari keduanya. Setiap bilah batu di lantai dan dinding sudah tergores dalam pola yang tidak bisa disebut kerusakan biasa, melainkan ukiran yang ditinggalkan oleh dua pemahaman yang saling mendorong ke batas masing-masing sampai batas itu bergerak.Ryan sudah tidak bisa lagi menghitung berapa luka yang ada di tubuhnya. Yang ia tahu adalah tangannya masih menggenggam Pedang Iblis Darah, dan selama itu masih terjadi, pertarungan belum selesai.Heavenly Sword Saint tidak dalam kondisi yang lebih baik. Bagi sosok ilusi dari seorang manusia yang pernah menekan satu era penuh, pemandangan seorang pemuda seperti Ryan yang masih berdiri dan bertarung pada titik seperti ini adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah masuk ke dalam imajinasi siapa pun yang mengenalnya di masa hidupnya.
"Saya hanya orang yang berjiwa bebas," jawab si lelaki tua dengan nada tenang. "Kali ini, saya datang hanya untuk melindungi nona muda dari bahaya apa pun. Nona muda telah menghilang selama bertahun-tahun, tetapi akhirnya kembali ke rumah..." Kata-katanya terdengar penuh kerinduan. "Omong kosong
Di atas Alchemy Tower, terjadi sambaran gelombang petir Ilahi, dan ribuan baut petir menghantam Alchemy Tower, seakan menelannya. Selain itu, area di luar Alchemy Tower juga terkena dampaknya, memaksa semua orang untuk berhenti bertarung. Langit di atas Alchemy Tower berubah menjadi ungu gelap, h
Tatapannya menyapu sekeliling dengan waspada. Meskipun ada banyak alkemis di sini, ada juga banyak ahli bela diri. Selain itu, kekuatan mereka jauh lebih tinggi daripada di luar, jadi dia harus berhati-hati. "Tuan Ryan, apakah Anda mendengarkan saya?" Jamie Leon bertanya dengan nada kesal. Dia me
Ekspresi Ryan sedikit berubah saat mendengar ini, meski terhalang lapisan es. Ternyata itu adalah teknik kuno! Ryan pernah mendengar tentang teknik ini sebelumnya—sebuah teknik yang berasal dari warisan dewa kuno, meskipun hanya bentuknya yang tersisa, bukan esensi sejatinya. Teknik ini memiliki







