LOGINSiang semua( ╹▽╹ ) Ini bab pertama siang ini. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Bayangan Blood Demon Lord melintas di antara kerumunan kultivator seperti kabut merah yang memutuskan untuk bergerak dengan tujuan.SYUUTT! SYUUTT! SYUUTT!Setiap kali bayangan itu lewat, satu sosok ambruk. Tidak ada teriakan yang sempat terbentuk. Tidak ada serangan balasan yang sempat dilepaskan. Hanya kekosongan yang tersisa di tempat seseorang berdiri setengah detik sebelumnya.SPLASH!Ryan mengerutkan kening, matanya mengikuti setiap pergerakan yang bisa ia tangkap.'Kalau ini terus berlanjut, tidak akan ada yang tersisa untuk diajak bertempur.'"Hukum Darah!"WUNGGG!Suara Blood Demon Lord bergema dari tempat yang tidak bisa ditentukan asalnya, memenuhi seluruh istana dari segala arah sekaligus.Lanskap di sekitar mereka berubah.Lautan darah muncul dari bawah, menggenangi lantai istana dengan ketebalan yang tumbuh semakin dalam dengan setiap detik yang berlalu. Bau yang mengalir darinya menghantam indera semua yang hadir seperti pukulan fisik, menekan napas dan memaksa lambu
Tepat saat kepungan itu hendak menutup, sesuatu berubah di dalam Crimson Flame Palace.Bukan suara. Bukan gerakan. Melainkan sebuah aura yang lahir dari tempat yang tidak seharusnya masih menyimpan kehidupan, memancar keluar dari puncak tangga emas seperti matahari yang memutuskan untuk terbit dari dalam bumi.WUNGGG!Aura itu menghantam indera semua orang yang hadir sekaligus, jahat, lapar, dan jauh lebih tua dari semua yang ada di ruangan ini.Setiap kultivator yang berdiri di sana merasakan sesuatu yang tidak bisa disebut selain dari apa adanya. Takut. Bukan ketakutan yang lahir dari kalkulasi kekuatan. Melainkan ketakutan yang lebih primitif dari itu, yang berasal dari bagian paling dalam dari insting setiap makhluk hidup yang tahu bahwa ada sesuatu di hadapannya yang bukan berasal dari tatanan dunia yang sama."Apa ini?!" seseorang berteriak dari tengah kerumunan.Ryan mendongak.Di pun
"Ryan." Suara Kultivator Ranah Creation itu keluar dengan nada yang melapisi ancaman di bawah keramahan yang dipaksakan, seperti pisau yang dibungkus kain sutra. "Kau tidak dalam kondisi untuk mempertahankan pedang itu." "Serahkan Pedang Iblis Darah padaku, dan ketika kita menuruni tangga, aku akan melindungimu."Yang lain tidak mau ketinggalan.Tawaran-tawaran yang mengandung logika yang sama mengalir dari berbagai arah, masing-masing dibungkus dengan cara yang berbeda namun menuju kesimpulan yang identik.'Dari sudut pandang mereka, aku adalah satu-satunya yang paling dekat dengan puncak.' 'Dan begitu kami menuruni tangga, aku adalah satu orang yang berdiri di hadapan seluruh wilayah barat yang sudah lama menyimpan dendamnya.''Mereka tidak menawarkan perlindungan. Mereka menawarkan cara untuk mengambil sesuatu dari tanganku sebelum bahkan aku sempat memegangnya.'Senyum dingin terbentuk di sudut bibir Ryan
Beberapa kultivator berhasil mencapai anak tangga ke-900 dengan napas yang sudah hampir tidak tersisa.Di antara mereka yang sampai di sana, setengahnya langsung berhenti. Kaki mereka tidak mau lagi diajak berkompromi. Tubuh-tubuh yang selama ini bergantung pada energi spiritual untuk menambal kelemahan fisiknya kini menghadapi tagihan yang sudah terlalu lama tertunda.'Ini adalah dinding yang memisahkan mereka yang cukup kuat dari yang tidak.''Harta Demon Saint tidak pernah dimaksudkan untuk semua orang.'**"Turun kau!"BOOM!Tidak ada peringatan. Tidak ada deklarasi. Sebuah telapak tangan menghantam punggung Ryan dari belakang dengan kekuatan penuh seorang ahli yang sudah tidak mau lagi bersabar.Ryan memuntahkan darah yang menyembur dari sudut bibirnya, tubuhnya terdorong setengah langkah ke depan.Pfft!'Mereka menyerang dari belakang.''Aku seharusnya mengantisipasinya. Sekali pun aku tidak mengharapkan mereka akan membuang semua sisa keangkuhan mereka secepat ini di depan p
"Mau turun sendiri, atau harus kubantu?" Suara Ryan mengalir datar seperti permukaan danau yang tidak terganggu angin, namun mengandung sesuatu di bawahnya yang tidak menyenangkan untuk dijajaki.'Orang ini sudah tidak membawa apa pun yang berharga. Tidak ada alasan untuk membiarkannya tetap di sini menghalangi jalan.'"Aku... aku akan turun sendiri." Kultivator itu tersenyum pahit dengan cara seseorang yang sudah menerima bahwa tidak ada pilihan lain yang layak dipertimbangkan.'Kalau aku menyerang, yang menanggung rasa malunya tetap aku sendiri.'Para kultivator yang sudah lebih dulu menyerahkan harta mereka menggertakkan gigi tanpa suara, kebencian yang terkumpul tidak menemukan jalan keluar yang aman untuk digunakan.'Kami menertawakan yang dirampok duluan. Lalu giliran kami datang lebih cepat dari yang kami perkirakan.''Tapi tidak apa-apa. Begitu harta Demon Saint ada di tangan kami, semua yang telah diambil Ryan akan kami paksa kembali dengan bunga yang berlipat ganda!'Satu pe
Ryan tidak langsung melanjutkan langkahnya.Ia berdiri di anak tangga ke-300, berbalik, dan menyaksikan kumpulan kultivator yang berjuang naik dengan tubuh yang sudah kehabisan separuh dari kekuatannya bahkan sebelum mencapai seperempat tinggi tangga.Senyum dingin terbentuk di sudut bibirnya.'Di tempat ini, tidak ada kultivasi. Tidak ada teknik. Tidak ada senjata spiritual yang bereaksi terhadap energi seseorang.''Semuanya kembali ke satu pertanyaan paling mendasar. Sekuat apa tubuh fisikmu yang sesungguhnya?''Dan di pertanyaan itu, aku tidak takut pada ahli Creation sekalipun.'Beberapa kultivator sudah melihatnya berdiri diam di sana. Sorot mata mereka berbinar dengan campuran amarah dan harapan yang tidak mereka sadari sendiri bertentangan satu sama lain.Napas mereka memburu. Keringat membasahi dahi dan leher mereka. Namun kaki mereka tidak berhenti bergerak.Langkah ke-200. Ke-250. Ke-290.
Di Kota Spiritum, generasi murid termuda dari tiga belas faksi besar berjumlah total 378 orang dengan kualitas yang beragam. Yang terlemah di antara mereka adalah seorang kultivator Ranah Supreme Emperor tingkat kedua yang masih hijau, sementara yang terkuat adalah beberapa ahli berbakat Ranah Dem
Ryan harus mengakui dalam hati bahwa analisis Kepala Keluarga Liam sangat akurat dan tepat sasaran. Meskipun fondasi asalnya belum rusak terlalu parah seperti Clark Miles dulu, jika tidak segera diperbaiki, dia tidak hanya tidak akan dapat meningkatkan kekuatannya lebih jauh, tetapi juga akan meng
Satu tahun...Ryan merasakan hatinya berdetak kencang mendengar tantangan yang begitu berat tersebut. Dari tingkat keenam Ranah Supreme Emperor yang baru saja dicapainya hingga Ranah Dao Integration, itu sudah merupakan lompatan yang sangat besar dan hampir mustahil.Tapi itu belum selesai—dia jug
"Bajingan!" teriak James Liam dengan suara yang dipenuhi rasa sakit dan kemarahan. Artefak Zirah Immortal kelas delapannya berkilauan dengan kekuatan sesaat, berusaha mengusir pedang Ryan, tetapi dengan cepat diredam oleh kekuatan korosif Tombak Demon God. Saat mereka bertarung dalam jarak dekat,







