LOGINTerima Kasih Kak Andi atas dukungan Gem-nya (. ❛ ᴗ ❛.) Akumulasi Gem Bab Bonus: 05-11-2024 (malam): 2 Gem Ini adalah bab bonus kelima dan terakhir hari ini. sebenarnya othor mau rilis satu bab lagi, tapi karena dah kemalaman, othor bakal rilis besok. Bab Bonus Gem hari ini: 5/5 Bab (komplit) bab Bonus Gem besok: 2 Selamat Membaca dan Selamat Malam (◠‿・)—☆
Dari jarak aman, Divine God Raging Flame berdiri mematung.Di sebelahnya, Hao Ken mengerutkan kening dalam. "Ada yang aneh dari perempuan itu.""Aku merasakannya juga.""Aura kultivasinya..." Hao Ken memejamkan mata sejenak, mencoba menganalisis. "Bukan miliknya sendiri sepenuhnya. Seperti ada seseorang lain di baliknya." "Dan kekuatan orang itu..." Dia membuka mata. "Ini menyentuh sesuatu yang sangat tua. Bukan kultivasi zaman ini.""Salah satu leluhur kuno Benua Valorisia?" Divine God Raging Flame memiringkan kepalanya sedikit. "Tapi yang jelas dia mengenal Ryan. Dan dia yang menyelamatkannya barusan.""Kita tunggu." Hao Ken melangkah mundur setengah langkah. "Lihat dulu sejauh mana ini akan berjalan."Tepat saat itu, suara menggelegar keluar dari gumpalan es yang membungkus setetes darah tadi."Siapa kau?!" Getaran kemarahan dalam suara itu terasa seperti tekanan fisik yang mendorong semua orang mundur satu langkah. "Apakah kau tahu harga yang harus kau bayar karena berani mengha
Divine God Raging Flame dan Hao Ken berlari secepat yang mereka bisa.Tapi keduanya tahu mereka tidak akan sampai tepat waktu.Setetes darah dari seseorang yang mampu menembus formasi terlarang dari luar. Itu bukan kekuatan biasa. Bahkan gabungan mereka berdua tidak cukup untuk menandinginya, apalagi melindungi Ryan yang saat ini bahkan tidak bisa berdiri tegak.Setetes darah itu bergerak cepat, menembus udara tanpa hambatan, langsung mengincar tubuh Ryan yang tergeletak di tanah.Aura kematian itu sudah mencengkeram dada Ryan. Matanya yang setengah terbuka menatap bayangan merah yang mendekat, tapi tubuhnya tidak punya cadangan untuk bereaksi. Tangannya bahkan tidak bisa menggenggam Pedang Iblis Darah dengan benar.'Apakah ini akhirnya...'Lalu satu kepingan salju jatuh.Lalu dua. Lalu ribuan, seolah langit memutuskan menuangkan musim dingin ke tempat ini dalam hitungan detik. Suhu turun drastis. Kepulan napas mulai terbentuk di depan wajah semua orang yang hadir.Di langit, sebu
Tiga kultivator itu memandang ke atas.Lalu memandang satu sama lain.Tidak ada yang perlu diucapkan. Mereka bertiga tahu. Semuanya tahu."Argh!"Ryan melesat masuk begitu pilar hitam menyentuh area sekitar mereka. Energi iblis dari pilar itu menggulung masuk ke dalam tubuh ketiga kultivator sekaligus, bukan perlahan seperti sebelumnya, tapi seperti banjir yang menjebol bendungan sekaligus. Tidak ada lagi ruang untuk menekan atau melawan. Kontaminasi itu melanda semua organ mereka dalam hitungan detik.Ketiga kultivator itu menjerit. Bukan teriakan pertempuran. Teriakan kesakitan murni.Ryan tidak berhenti. Pedang Iblis Darah mengayun ke arah satu kultivator yang masih mencoba membentuk serangan balasan. Sabetan itu menghantam tubuhnya berkali-kali, membuka luka demi luka yang memancarkan uap energi iblis hitam. Sang kultivator melihat ke bawah pada luka-lukanya, menggertakkan gigi, dan aur
Pertarungan belum berakhir.Ryan mengangkat Pedang Iblis Darah dan menyapu area sekitarnya dengan pandangan merah darah itu. Tiga kultivator Ranah Creation dari ketiga kekuatan besar masih berdiri, meski postur mereka sudah jauh dari awal pertempuran. Lutut salah satunya sedikit gemetar. Yang lain sudah tidak bersuara sama sekali, mulutnya terbuka seperti ingin berteriak tapi tidak ada yang keluar.Energi iblis dari tubuh Ryan terus merayap ke udara di sekitar mereka, merambat masuk ke dalam tubuh ketiga kultivator itu tanpa bisa dicegah. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain terus menekan kontaminasi itu dari dalam, dan pekerjaan itu sendiri sudah memakan separuh konsentrasi mereka.Menyerang sambil melawan invasi dari dalam. Dua pekerjaan sekaligus, dan tubuh yang sudah penuh luka tidak pernah cukup kuat untuk keduanya dalam waktu yang sama.Ryan tidak memberi mereka ruang untuk berpikir lebih jauh.
BOOM! Ryan menghentakkan kakinya ke tanah dan tubuhnya melesat ke langit seperti bayangan hitam yang menembus lapisan udara. Bersamaan dengan itu, Sphinx dan naga darah bergerak. Para kultivator dari tiga faksi besar menggertakkan gigi. Sudah tidak ada pilihan. Mereka harus bertarung, dan satu-satunya strategi yang masih masuk akal adalah mengulur waktu sampai keadaan iblis Ryan kehabisan tenaga sendiri. Semua orang tahu kondisi seperti ini tidak bisa bertahan selamanya. Asal mereka tahan cukup lama, kemenangan masih bisa diraih. Mereka menyebar, menjauh dari pusat pertempuran, dan mulai melancarkan serangan jarak jauh. Bukan untuk membunuh. Untuk menguras. Ryan tidak peduli dengan taktik itu. Pedang Iblis Darah terangkat, dan enam jalur Dao di belakangnya menyala bersama Esensi Pedang Abadi yang membakar. Matanya yang merah darah menghitung, memilih, memutuskan dalam sepersekian detik. Sabetan menghilang. Teknik Pedang Ruang-Waktu lenyap dari pandangan seperti biasa,
Naga darah itu menatap. Hanya menatap. Tapi dari sepasang mata merahnya yang menyala seperti bara yang tidak pernah padam, niat membunuh yang tumpah ke udara sudah lebih dari cukup untuk menghentikan kaki para kultivator. Tiga faksi besar, para kultivatot yang biasanya berjalan dengan kepala tegak di mana pun mereka pergi, kini berdiri dalam diam seperti barisan patung. Tidak ada yang berani bergerak duluan. Tidak ada yang mau jadi yang pertama. Kemudian dari bawah, tanah berguncang. GRRMMM! Sebuah sosok meledak keluar dari arah Kuburan Pedang. Bukan dari langit, bukan dari kejauhan. Sosok itu muncul tepat di depan Ryan yang masih berdiri dalam aura iblis hitamnya, seperti tembok yang tiba-tiba tumbuh dari bumi. Makhluk berbadan singa. Posturnya besar, jauh dari kata kecil, tubuhnya memancarkan cahaya emas samar yang berpadu aneh dengan kulitnya yang kokoh. Matanya bercorak rumit dan dalam, seperti pola ukiran kuno yang terus berputar, dan bagi siapa pun yang cukup lama
"Liontin giok Senior Yulaw Hodge ada padamu. Apakah Senior Yulaw Hodge sudah pulih dari penyakitnya?" tanya Master Alkimia Ling Yi dengan nada penuh harap. "Senior Yulaw Hodge tidak pernah sakit," jawab Ryan dengan nada tenang namun penuh makna. "Adapun cincin ketua sekte, itu diberikan kepadaku o
"Kau seharusnya mengerti mengapa aku tidak membunuhmu, kan?" Suara acuh tak acuh Ryan terdengar, namun ada nada ancaman yang tak terbantahkan di dalamnya. "Aku tidak tahu!" Orang tua berwajah bijak itu menatap pedang dingin yang memancarkan cahaya merah darah dan mencibir. Meski kondisinya menye
Ekspresi Ryan tidak berubah sedikitpun, tetap tenang bagai danau yang tidak beriak. Dia memegang Tombak Iblis Rhongomyniad dengan kedua tangan, berbalik, dan menusukkannya dengan ganas ke arah serangan yang datang. Ujung tombak itu memancarkan kilau biru dingin yang membekukan udara, dan qi tomba
Ryan juga tidak tinggal diam. Dia mengangkat Tombak Iblis Rhongomyniad dengan gerakan yang anggun namun mematikan dan membidik Formasi Petir yang berkilauan. Esensi darahnya melonjak seperti gelombang laut yang tak berujung. Ujung tombak bersinar terang dan awan di segala arah berkumpul dan ber







