MasukTerima Kasih Kak Jaz atas Gem-nya. Bab ini adalah bab bonus dari othor, selamat membaca. Dan juga, kalau ada Gem atau Koin, jangan lupa beri dukungan ke novel ini. Siapa tahu, othor jadi semangat dan UP 3-4 bab seharu, wkwkwkwk. (≧▽≦)
Ada hal-hal yang lebih berat dari kematian.Salah satunya adalah menyaksikan tempat yang pernah memberimu pertolongan hancur di depan matamu, sementara kau berdiri diam. Eliot Lane sudah membantunya lebih dari sekali, tanpa syarat, tanpa pertanyaan tentang imbalan. Dan sekarang, sekte tempat Eliot Lane bernaung sedang berdiri di tepi jurang, dengan sembilan kultivator Creation sudah masuk ke dalam formasinya sementara para tetua sudah kehabisan tenaga untuk mempertahankan diri.Ryan bisa saja pergi. Divine God Raging Flame bahkan menyuruhnya pergi. Dia bukan anggota Myriad Sword Palace. Tidak ada kewajiban yang bisa dipaksakan padanya untuk tinggal dan bertarung.Tapi ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan dengan logika.Seorang kultivator yang ingin hidup dengan kepala tegak tidak bisa berbalik membelakangi orang yang pernah menolongnya, bukan di saat yang paling genting seperti ini. Itu bukan soal kewajiban. Itu soal siapa dirinya dan bagaimana ia ingin menjalani hidupnya ke
Semua kepala berpaling ke arah yang sama.Tiga hari lalu, tidak ada yang di ruangan ini yang akan menganggap serius pendapat seorang kultivator Primordial Chaos di meja yang sama dengan para Divine God dan tetua senior. Tapi Ryan sudah membuktikan sesuatu yang membuat standar itu tidak relevan lagi.Ryan berdiri perlahan."Situasinya sederhana." Suaranya tidak tinggi, tapi cukup jelas untuk menjangkau semua orang di ruangan. "Myriad Sword Palace butuh sekutu. Bukan besok, bukan minggu depan. Sekarang." Matanya menyapu sekeliling meja, satu per satu. "Selama kalian berdiri sendiri, tiga faksi itu hanya perlu menunggu." "Tapi kalau ada pihak lain yang masuk ke dalam perhitungan ini, papan permainannya berubah total."Sebelum ada yang sempat merespons, suara langkah kaki berat terdengar dari luar aula. Sebuah pintu terbuka dengan kasar, dan seorang murid muda menerobos masuk dengan wajah yang sudah kehilangan warnanya."Ketua, gawat! Ada yang merusak formasi dari dalam!"Semua orang
Lyle Wren meraung ke langit.Bukan tangisan. Bukan ratapan. Amarah yang terlalu besar untuk keluar dengan cara yang beradab. Suaranya menggelegar di atas hamparan jenazah yang memenuhi kemah, memantul dari tenda-tenda yang masih berdiri kosong di sekelilingnya.Murid-murid bisa digantikan. Menyedihkan, tapi itulah kenyataan. Yang membuat Lyle Wren hampir tidak bisa berdiri tegak adalah kehilangan para kultivator Ranah Creation. Setiap satu dari mereka adalah puluhan tahun investasi sumber daya sekte. Waktu, batu spirit, pil kultivasi, bimbingan tetua langsung. Semua itu lenyap dalam satu malam."Selidiki. Temukan siapa yang melakukan ini." Dia menekan kata-kata itu keluar satu per satu melalui gigi yang terkatup.Seorang figur melangkah maju dari barisan. Kultivator ini dikenal karena penguasaannya atas teknik ramalan, kemampuan menelusuri jejak takdir seseorang lewat tetesan darah dan ge
Yule Kaine sudah tidak ada di tempatnya berdiri.Selagi perhatian Jason Klean terpusat pada Silas Gove, dia bergerak diam-diam ke samping, mundur satu langkah demi satu langkah ke kegelapan di pinggir kemah. Tidak berlari. Berlari menimbulkan suara. Yang dia butuhkan hanya menghilang perlahan, membiarkan malam menelannya, dan setelah cukup jauh barulah bisa bergerak bebas.Strategi yang tidak buruk."Mau ke mana?"Suara Ryan menghantam punggungnya seperti tamparan.Yule Kaine membekukan langkahnya. Dia menoleh. Ryan sudah tidak berada di tempat yang sama. Dia berdiri tepat di jalur pelarian yang Yule Kaine rencanakan, tubuhnya berlumuran darah, pernapasannya tidak rata, tapi Pedang Iblis Darah sudah terangkat.'Anak ini...'Semua yang sudah dia saksikan malam ini mendadak memenuhi kepalanya lagi. Kakinya yang tadi ingin berlari terasa berat seperti dituang timah.Ryan meng
Waktu terasa berjalan sangat pelan. Setiap detik terasa lebih panjang dari yang seharusnya, dan kemah yang tadinya penuh suara kini diam seperti makam. Ryan berdiri tidak bergerak. Matanya masih tertuju ke Yule Kaine, tapi di dalam tubuhnya kondisinya terus merosot. Efek Teknik Darah Sepuluh Penjuru sudah berangsur menghilang. Otot-otot yang tadi mengeras kini terasa lemas, berat, seperti kain yang kena air hujan. Nyeri yang selama ini ia tekan mulai menggigit dari dalam, merayap pelan di sepanjang tulangnya ke mana-mana. Yule Kaine membaca kondisi itu dengan tepat. Dia tidak bergerak. Tidak berbicara. Cukup berdiri di tempatnya dengan golok masih menempel di leher Jason Klean, menunggu dengan sabar seperti seseorang yang sudah tahu siapa yang akan kalah dan cuma perlu menunggu lawannya roboh sendiri. 'Satu atau dua menit lagi, anak itu pasti jatuh.' Ryan tahu itu juga. 'Aku tidak bisa mengulur lebih lama.' Dia mencoba menggerakkan tangannya. Jari-jarinya merespons, tapi
Yule Kaine tidak bergerak. Tubuhnya membeku di tempat. Di sampingnya, satu kultivator Creation yang tersisa dari seluruh rombongan juga berdiri kaku, wajahnya sudah kehilangan semua warnanya sejak kepala-kepala itu mendarat di tanah. Gambaran menit-menit terakhir berputar di kepala Yule Kaine tanpa mau berhenti. Chester Dunne. Lima kultivator Creation sekaligus. Semua tewas. Oleh satu orang. Satu orang yang bahkan belum keluar dari Ranah Primordial Chaos. Keringat dingin merembes di punggungnya. Tangannya terasa berat. Dia baru saja kehilangan Chester Dunne dan lima Kultivator Creation sekaligus dalam satu malam yang seharusnya berjalan mudah. Ryan mendarat di tanah. Kedua kakinya tidak langsung stabil, lututnya hampir melipat ke bawah sebelum dia memaksanya tegak. Merah di matanya berangsur memudar kembali ke warna normalnya, tapi garis-garis darah sudah mengalir dari sudut kedua matanya menelusuri pipinya. Penglihatannya kabur. Telinganya berdengung. 'Tidak boleh pi
Kesadaran Ryan kemudian meninggalkan Kuburan Pedang dan dia melihat ke delapan Tetua Agung di hadapannya. Mereka semua telah berjanji setia kepadanya.Delapan sekte itu awalnya memiliki puluhan tetua, tetapi dia telah membunuh lainnya, sehingga hanya menyisakan kelompok yang ad
Begitu Ryan selesai berbicara, keheningan menguasai seluruh area. Para Ketua Sekte saling berpandangan dengan wajah pucat, tidak ada yang berani bergerak atau bersuara. "Aku! Aku menyerah!" tiba-tiba terdengar suara gemetar. Seorang wakil ketua sekte berdiri dan berteriak sambil gemetar seperti
"Pak Tua, kalian benar-benar sombong!" suara Ryan bergema dingin di seluruh area pertempuran. "Baiklah, karena kalian sangat ingin mati, aku akan mengirim kalian ke akhirat!" Ryan melepaskan semua energi darah yang dahsyat di tubuhnya, mengirimkan gelombang tekanan spiritual ke para tetua Ranah Sup
"Pak Tua, kukira kau kuat, tapi ternyata itu hanya imajinasiku."Ryan lalu mengacungkan Pedang Bintang, melepaskan lebih banyak gelombang dan garis qi pedang ke arah enam tetua Ranah Supreme Emperor lainnya.Pada saat yang sama, dia melepaskan pukulan dengan tangan kirinya dan berteriak, "Petir Pen







