LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Hadiah: 75/1000 Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
WUSHHH!Ryan menarik napas panjang sambil menyapu seluruh harta Blood Demon Lord ke dalam kantong ruangnya dalam satu gerakan bersih. Bahkan di tengah tubuh yang babak belur dengan luka yang belum ada satu pun yang sempat disembuhkan, tangannya tidak gemetar.'Satu sudah selesai.'Tapi kematian Blood Demon Lord bukan akhir dari pertempuran ini. Justru sebaliknya, itu hanyalah awal dari bagian yang lebih berat."Blood Demon Lord!"Raungan Nether Corpse Demon Lord membelah udara ruangan seperti sesuatu yang tidak seharusnya keluar dari mulut siapa pun. Di langit ruangan, pertempuran berhenti sesaat. Tiga Demon Lord yang tersisa merasakan hal yang sama dalam waktu bersamaan, sesuatu yang seharusnya tidak bisa terjadi, baru saja terjadi di bawah hidung mereka.Rekan mereka, seorang kultivator kuno yang namanya saja sudah cukup untuk mengguncang seluruh Benua Valorisia, sudah tidak ada.Amarah meledak serentak dari tiga arah berbeda. Tapi masing-masing terjerat dalam pertempuran merek
Itu Yue Lane.Sebuah botol giok kecil melayang menembus celah sempit di jeruji penjara darah, dilempar dengan presisi yang tidak memberi Blood Demon Lord waktu untuk bereaksi sebelum sudah ada di tangan Ryan.Ryan menangkapnya. Membuka tutupnya dalam satu gerakan.Di dalam botol itu, setetes darah berwarna merah tua menggenang diam, hampir tidak terlihat kalau tidak diamati dengan seksama.Dalam sepersekian detik, seluruh ingatan itu kembali. Pertarungan melawan Venerable Immortal Flame Spear. Yue Lane yang diam-diam menyimpan esensi darah Lina Jirk untuk kemungkinan seperti ini.'Innate Poison Body. Milik Lina Jirk.'Pemahaman itu melintas cepat. Tapi masalahnya satu: tombak Blood Demon Lord sudah melesat ke arahnya.SYIIING!Ryan mengangkat Pedang Iblis Darah, menyambut tombak itu bukan untuk menghindari tapi untuk membenturkan secara langsung. Dua kekuatan yang berlawanan beradu di satu ti
"Ryan, kau memang cukup kuat."Blood Demon Lord menatapnya dari atas dengan senyum yang lebih menyerupai taring daripada ekspresi ramah. "Tapi sampai di sini saja."Tangannya terangkat ke langit secara perlahan, seolah tidak ada yang perlu ia terburu-buru lakukan.Dari telapak tangannya, jejak merah darah mengembang ke luar seperti awan badai yang tercipta dari ribuan nyawa yang tersedot habis dalam sekejap. Aura kehancuran meresap ke setiap sudut ruangan, membuat udara terasa lebih berat dari besi yang menindih dari atas."Bloody Heaven Palm!"ROARR!Telapak tangan merah itu menghantam turun seperti langit yang memutuskan untuk runtuh sekarang juga tanpa memberi peringatan lebih dulu.Ryan tidak mundur. Kedua lengannya terangkat ke atas, pembuluh darahnya menonjol keras di bawah kulit seperti akar pohon tua yang bertahan menahan badai yang paling ganas. Ia menggunakan tubuhnya sendiri sebag
Di lantai arena, Pedang Iblis Darah tergeletak di antara senjata-senjata warisan lainnya. Bersinar merah tua, berdenyut perlahan seperti jantung yang sedang menunggu untuk dipegang kembali. Ryan merasakannya dari jarak berdirinya sekarang. Ia ragu. Hanya sedetik. 'Terakhir kali aku memegangnya, aku hampir membunuh Fernando Chester.' Tapi situasinya berbeda sekarang. Kultivasinya sudah di Ranah Creation tingkat pertama, meski dari energi pinjaman. Mungkin cukup untuk menjaga kesadarannya tetap di tempatnya dan tidak tenggelam seperti sebelumnya. Pedang Dao Integration-nya dilepas ke tanah. Jari-jarinya mengepal sekali, lalu terentang ke depan. Pedang Iblis Darah terbang ke tangannya seolah sudah menunggu perintah itu sejak lama. Begitu genggamannya menutup di sekitar gagang pedang itu, dunia di sekitarnya berubah. Aura iblis meledak keluar dari dalam pedang seperti banjir yang tidak bisa dibendung oleh apa pun. Ia menyusup ke dalam aliran darah Ryan, mendaki melalui meridian
Jari Ryan bersinar putih menyilaukan. Kekuatan temporal meledak keluar seperti badai yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan sampai ke sumsum tulang oleh siapa pun yang berdiri dalam radius serangannya. Blood Demon Lord merasakannya sepersekian detik sebelum serangan tiba. MUNDUR! Nalurinya berbicara lebih cepat dari pikirannya. Ia melompat ke belakang tanpa ragu, tapi kekuatan temporal tidak bisa ditipu dengan jarak. Serangan itu terus meluncur, mengejar, menghantam tepat di dada Blood Demon Lord bahkan setelah tiga langkah mundur itu. Pfft! Darah menyembur dari mulut Blood Demon Lord. Hukum waktu tidak berhenti di permukaan. Ia meresap ke dalam, menggerogoti vitalitas di balik lapisan kultivasi seperti karat yang makan besi dari dalam perlahan-lahan. 'Terlambat sedikit.' Ryan mengamati, matanya tidak melepas target. 'Kalau dia tidak mundur, serangan itu bisa melumpuhkannya di tempat.' Tapi itu sudah cukup. Lebih dari cukup untuk pembukaan pertama. Blood Demon Lord me
Ryan mengepalkan tinjunya perlahan.Energi yang mengalir di meridiannya terasa asing dan familiar sekaligus. Seperti mengenakan jubah yang dibuat untuk orang lain tapi kebetulan pas di bahunya.'Tapi ini bukan milikku. Ada batasnya.'"Kekuatan pinjaman tidak akan bertahan lama." Sky Demon Lord melirik ke arah arena, senyumnya tidak berubah. "Kalian naik pun apa gunanya?"Demon Saint tidak menanggapi komentar itu. "Harta warisan ini menyimpan energiku sejak dulu. Kusiapkan khusus untuk kemungkinan ini."Lalu tanpa kata-kata lagi, dia terbang ke arah keempat Demon Lord.Ryan sudah bergerak bahkan sebelum perintah diberikan.Blood Demon Lord berdiri di hadapannya dengan lengan terlipat, tatapannya mengandung penghinaan yang tidak dipaksakan karena memang begitulah ia melihat semua orang yang dianggapnya lebih rendah."Bocah kecil, kau baru naik satu tingkat dan sudah merasa bisa mengubah sesuatu?" Blood Demon Lord
Ryan telah mengambil tindakan hari ini untuk sepenuhnya menaklukkan Kota Dalecia dan menambahkan para alkemis berharga ini ke dalam pasukannya sebagai persiapan untuk melawan Klan Spirit Blood. "Kami mengerti!" Master Alkimia Ling Yi menjawab dengan tegas. "Jangan khawatir!" Master Alkimia Wilhem
"Adik Arthur," Walter Leon mengangkat gelas anggurnya dengan senyum lebar, "kultivasi dan kekuatanmu membuatmu menjadi panutan bagi seluruh generasi muda!" Matanya sesekali melirik Zodiac Hellheim dan ketiga rekannya yang berdiri tegak di belakang Ryan. "Keempat orang ini juga jenius yang tak terta
"Kakak Senior, biar aku bantu!" seru seorang murid sejati lain dengan panik.Murid sejati kedua itu menyerbu dengan putus asa, menghunus pedang spiritualnya, dan menyerang Ryan dari samping dengan teknik terbaiknya."Mencoba membantunya?" Ryan mendengus dingin dan menatap murid
"Ryan membunuh banyak murid juniorku tanpa ampun!" Stuart Fenex memutar buku-buku jarinya dengan gerakan yang mengancam, dan senyum dingin yang berbahaya muncul di bibirnya. "Sudah sepantasnya aku membunuh gurunya sebagai pembalasan yang setimpal!" Stuart Fenex berpikir sejenak dengan ekspresi sa







