LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Hadiah: 75/1000 Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
"Oh?" Ryan menggelengkan kepala ringan. "Bukannya tadi dia mengundangku naik ke lantai dua dan mentraktirku makan?" "Di atas pasti ada tulang paha yang bersih. Kenapa aku harus makan yang jatuh di lantai dan penuh ludah ini?"Jay Dunn menatap Ryan seperti seseorang yang tidak yakin apa yang baru saja didengarnya. "Kau bicara apa? Apa kau tidak melihat harimau itu masih menghalangi jalan?" "Bagaimana caranya kau naik ke lantai dua? Jangan bilang hal-hal yang tidak masuk akal, cepat tinggalkan tempat ini selagi bisa!"Ryan melirik sekilas ke harimau darah pelangi yang masih berdiri di depan mereka, lalu kembali menatap Jay Dunn dengan ekspresi yang sama tenangnya."Kalau aku mau naik, siapa yang bisa menghalangi?" Suaranya datar, seperti seseorang yang sedang membicarakan soal cuaca. "Justru kalau dia mencoba menghentikanku, dia yang sedang mencari kematiannya sendiri."Semua orang di kediaman itu diam bersamaan.Satu detik penuh tidak ada suara.Lalu bisikan-bisikan meledak dari seg
RRROOOAAARRR!Harimau darah pelangi meraung. Getarannya mengguncang udara, membuat bebatuan kecil di halaman bergeser.Dipanggil "kucing belang kecil" oleh pria di atas, dia tidak berani protes sepatah kata pun. Amarahnya ditumpahkan ke satu-satunya arah yang aman, ke pria yang ada di depannya."Sampah! Mau ngomong terus sampai kapan?! Pergi atau aku telan kalian sekarang!"Pemuda itu mengepalkan tinju dengan keras. Amarah terbakar di matanya, tapi kakinya tidak bergerak maju. Dia tahu betul batas kemampuannya sendiri.Ryan memandang si harimau sekilas.Lalu pandangannya naik, melewati harimau, melewati pagar lantai dua, dan mendarat langsung di wajah pria berbadan besar yang masih bersandar santai di sana."Aku tidak butuh pengakuanmu."Kata-kata itu jatuh datar. Tidak ada nada tinggi, tidak ada amarah, tidak ada getaran di suaranya.Tawa dan bisikan sinis meledak dari par
Belum lima langkah Ryan mendekat ke paviliun, pemandangan di depannya sudah cukup untuk dibaca sepenuhnya.Tiga sosok tergeletak di halaman berbatu. Jubah mereka robek dan bernoda merah gelap, tidak ada satu pun yang bergerak. Sedikit lebih jauh, seorang pemuda setengah berlutut dengan kedua tangan menopang tubuhnya yang hampir roboh. Napasnya berat dan tidak teratur, keringat menetes dari rahangnya ke batu di bawahnya.Di hadapan mereka semua, seekor harimau darah pelangi berdiri menghadang.Bukan anggota klan. Bukan manusia berdarah iblis.Binatang iblis sesungguhnya.Tubuhnya sebesar kerbau dewasa. Bercak-bercak di bulunya bukan hitam dan oranye biasa, melainkan merah pekat, emas, dan ungu yang mengalir di permukaannya seperti lelehan logam yang belum dingin. Setiap kali dia bernapas, udara tepat di depan moncongnya bergetar, panas, seperti tanah di musim kemarau. Dari jarak sepuluh lan
Ryan membuka setengah matanya. "Adik baruku? Kau berbicara tentang Ethan Liam?""Tepat. Ia mungkin menyimpan bakat yang jarang ditemukan. Tubuhnya sempat hancur parah olehmu waktu itu, tapi justru itu bisa menjadi titik balik baginya."Ryan menatap langit-langit kamar sejenak. "Bakat di bidang kekuatan jiwa dan indra spiritual?" Keningnya mengerut pelan. "Memang ada yang sedikit berbeda darinya. Tapi rasanya belum ada yang terlalu luar biasa.""Aku sendiri pun belum yakin," kata Divine God Beast Tamer. "Namun kalau memang itu yang terjadi nantinya, kau sudah mendapatkan bawahan yang tidak buruk sama sekali."Ryan mengangguk singkat.Tapi pikirannya tidak berlama-lama di sana. Yang lebih mendesak adalah kekuatannya sendiri. Dia memejamkan matanya, dan dalam hitungan menit, napasnya sudah melambat teratur.**Beberapa hari berlalu.Ryan membuka kedua matanya. Cahaya ungu berkelebat di balik pupilnya, jernih dan tidak tertahan. Rasa lelah yang sempat bersisa di ujung pikirannya sudah
"Kalau aku tidak datang merapikan meridianmu sekarang, meridian yang baru tumbuh itu bisa putus lagi dari latihan seperti tadi," kata Ryan sambil tersenyum tipis.Ekspresi Ethan berubah seketika. Dia menatap Ryan dengan panik, dahi masih basah oleh keringat, tangan kanannya refleks meraba pergelangan tangan sendiri. "Itu kesalahanku karena terlalu ceroboh. Lalu... apa yang harus aku lakukan sekarang?""Tenang." Ryan mengulurkan tangannya, meletakkan dua jari di atas pergelangan tangan Ethan. "Setelah aku selesai merapikannya, kau tidak perlu khawatir meridianmu terluka lagi saat berlatih." "Justru cara itu akan membantu melatih meridianmu dan mempercepat pemulihanmu."Dia menatap Ethan sebentar."Yang perlu kau lakukan hanyalah bertahan terus."Ethan menghela napas lega dan mengangguk.Ryan menutup matanya.Indranya mengalir masuk ke dalam tubuh Ethan, bergerak perlahan menyusuri setiap jalur meridian yang masih rapuh. Seperti benang yang baru dipintal, mudah putus kalau ditarik te
"Untuk apa?" Divine God Raging Flame menggeleng lebih tegas. "Kau sudah mendengar cerita tentang Sekte Moon Flower." "Meski peringkat mereka ada di bawah kita, soal fondasi, kita tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka."Dia berhenti sejenak."Sekte Moon Flower adalah kunci pertumbuhan Ryan saat ini. Mengganggu prosesnya hanya akan merugikan dia, dan sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kita."Dia berbalik menghadap semua orang.Matanya berbeda dari beberapa bulan lalu. Saat itu ada kelelahan di sana, lapisan yang terbentuk dari terlalu banyak bertahan dan terlalu sedikit bergerak maju. Sekarang lapisan itu sudah terkelupas. Yang tersisa lebih tajam, lebih terang, lebih tidak sabar dari sebelumnya."Kita sudah terlalu lama menjadi pihak yang bertahan. Sudah waktunya kita yang bergerak menyerang."Tidak seorang pun bersuara.Namun tidak ada yang perlu bersuara. Pesan itu sudah sampai.
Ryan mengangkat tangannya sedikit dengan gerakan yang tenang. Secara ajaib, energi darah tampak membeku di udara, dan mata air spiritual yang mengalir di bawah pohon-pohon suci juga berhenti tiba-tiba, seolah-olah waktu telah berhenti bergerak maju. Dengan sedikit gerakan jari-jarinya yang elega
"Baiklah, aku bisa memberitahumu karena kau akan segera mati." Mata Monica berkilat dingin saat melanjutkan, "Namaku Monica Mouren. Kultivator dari zaman kuno!"Begitu kata-kata terakhir itu terucap, gelombang kejut dahsyat meletus dari tubuhnya, menghantam Pedang Spirit Blood dengan kek
Pak Tua Ludwig–sang Kakak pertama yang memiliki wajah bijak itu menatap Ryan dengan sorot mata yang penuh perhitungan dan berkata, "Anak ini benar-benar anomali. Kalian tidak bisa memperlakukannya seperti kultivator normal!" "Karena dia berhasil membunuh Saudara Keempat, kekuatannya seharusnya seta
Ryan dan Monica kemudian kembali ke tempat semula. Monica menghampiri Luna Pendragon yang masih terbaring lemah, lalu membentuk segel tangan yang rumit. Cahaya reinkarnasi yang lembut mengelilingi telapak tangannya. Setelah itu, Monica menyentuh kening Luna Pendragon dengan cahaya yang menyilau







