LOGINMalam Semuanya <( ̄︶ ̄)> Kira-kira ada yang mau 100 koin tidak? kebetulan othor dapat jatah event koin untuk 2 orang saja, masing2 100 koin. bagaimana menurut kalian? Terima Kasih Kak Nyoman, Kak Asep, Kak Purwanto, Kak Hari, Kak Alka, Kak Mulyadi, Kak Ayub, dan Kak Syam atas dukungan Gem-nya (. ❛ ᴗ ❛.) Bab Bonus: 3/3 Bab (komplit) Antrian: 39 Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Ryan tidak bergerak selama beberapa detik. Jari-jarinya masih terentang di posisi terakhir memegang tulang itu.Ia tahu tulang rusuk itu istimewa. Tapi ini jauh melampaui perkiraannya.Inilah asal-usul garis darah Sphinx. Bukan garis darah biasa. Ini jejak dari sesuatu yang jauh lebih tua dari Benua Valorisia itu sendiri.Ryan melirik aura Sphinx yang terus menggelora, kemudian melirik jubahnya sendiri yang sudah robek-robek dengan beberapa luka terbuka di bawahnya. Ia menggeleng pelan.'Kalau bukan karena Immortal Divine Body, aku sudah jadi kabut darah tadi.'Tapi itu bukan masalah utama sekarang.Fenomena langit yang muncul di luar sudah sangat mencolok, dan wilayah Sekte Moon Flower penuh dengan kultivator kuat. Tidak butuh lama sebelum seseorang datang memeriksa sumber kegaduhan ini.Ia harus menyelesaikan ini secepat mungkin. Dan formasi biasa jelas tidak akan cukup untuk menutupi aura selevel i
Ryan langsung duduk bersila di lantai. Teknik Reinkarnasi Dewa Iblis berputar penuh, dan energi spiritual di sekitarnya yang sudah mencair menjadi cairan pekat mengalir masuk ke dalam tubuhnya seperti arus sungai yang menemukan muaranya.Hangat dan berat, mengisi setiap sudut yang tadi kosong.Satu hari satu malam berlalu. Tidak ada yang mengganggu.Ryan membuka matanya. Kilatan ungu selintas di dalam sorot matanya sebelum mereda. Kultivasinya sudah kembali ke puncak. Seluruh kerusakan internal sudah terpulihkan.Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan tulang rusuk kecil yang ia ambil dari sisa-sisa Korvan.Tulang itu putih bersih seperti giok terbaik, tidak ada satu pun noda di permukaannya. Di tengah kehancuran total tubuh Korvan, benda ini tetap utuh tanpa cacat sedikit pun. Ryan membaliknya perlahan dengan jari. Jelas ini bukan benda biasa.Ryan menyentuhkan indera spiritualnya ke
"Apakah kamu layak?"Suara itu terdengar tenang dan ringan, hampir seperti pertanyaan biasa di tengah percakapan santai.Rex mengangkat kepalanya dengan tatapan kosong. Untuk beberapa detik, ia tidak yakin apakah ia benar-benar mendengar apa yang baru saja ia dengar.Ryan menatap matanya dan mengucapkan setiap kata dengan sangat jelas. "Aku bilang. Apakah. Kamu. Layak?"Layak?Mata Rex melebar pelan.Tidak pernah seumur hidupnya ada orang yang berani berbicara kepadanya seperti ini. Di mana pun ia pergi, selalu ada orang yang berusaha mendekatinya, menjilat dan mencari perhatian demi bisa terhubung dengan Keluarga Sallow dan Sekte Silver Frost.Orang-orang yang bersedia menjadi pelayannya pun tidak terhitung jumlahnya.Dan sekarang, saat ia sendiri yang menawarkan diri menjadi bawahan, Ryan malah balik bertanya apakah ia layak.Kalau bukan penghinaan, apa namanya?Tapi penghinaan bukan lagi hal yang Rex pedulikan sekarang.Sejak lutut pertamanya menyentuh tanah, ia sudah mengorbanka
Ryan mengaktifkan Seratus Langkah Mengejar Petir dan melesat keluar meninggalkan area sekte.Ia sengaja membiarkan Rex keluar dari wilayah Cloud Nether lebih dahulu sebelum mengejar. Membunuh Rex di dalam sekte hanya akan menarik masalah bagi orang-orang di sana.Victor Lux memang tidak banyak bisa berbuat tadi. Ada tekanan dari belakang layar yang mengikat pergerakannya, tapi Ryan sudah melihat karakter lelaki itu dengan jelas. Seseorang yang tangan dan kakinya diikat pun masih bisa menunjukkan siapa dirinya dari hal-hal kecil. Dan Selvia masih akan tinggal dan berlatih di sini. Ia tidak mau meninggalkan beban apa pun untuk mereka.Talisman Petir Roh yang membawa Rex memang luar biasa. Kecepatannya bahkan sedikit melampaui Seratus Langkah Mengejar Petir, wajar untuk artefak yang nilainya setara dengan artefak ruang-waktu.Tapi Ryan tidak terlalu khawatir Rex akan benar-benar lolos.Saat ia menggunakan Wibawa Ilahi Harimau tadi untuk memaksa Rex berlutut, ia sudah diam-diam menit
Selvia melangkah maju sebelum ia sendiri menyadarinya.Matanya langsung terkunci pada luka di dada dan bahu Ryan yang masih basah dengan darah."Ryan!" Suaranya bergetar tipis. "Tubuhmu..."Selvia sudah menyaksikan sendiri bagaimana Ryan bertarung melawan Korvan di dalam alam rahasia. Ia tahu daya hidup pemuda itu jauh melampaui nalar, seolah ia bisa kembali dari ambang kematian berulang kali.Tapi melihatnya berjalan dengan tubuh yang masih terluka seperti itu tetap saja membuat dadanya sesak. Tangannya bergerak setengah langkah ke depan sebelum ia menyadarinya. Tanpa sadar, ia menahan napas.Ryan berhenti. Ia menoleh ke arah Selvia dan tersenyum tipis, wajahnya setenang orang yang baru saja selesai berjalan santai.Kemudian ia menuang beberapa pil ke telapak tangannya dan menelannya begitu saja.Senyawa obat itu menyebar cepat melalui Garis Darah Reinkarnasi yang sudah berputar aktif di dalam tubuhn
Ryan menarik napas berat.Pertanyaan yang ia ajukan kepada dirinya sendiri masih bergema, semakin jauh ia pergi, semakin sulit menghadapi mereka yang levelnya lebih tinggi. Jika suatu hari nanti ia harus berhadapan dengan kultivator Ranah Creation puncak yang merupakan genius sejati, tanpa celah seperti Chester... apakah ia masih bisa menang?Pertanyaan itu tidak melemahkannya. Tapi juga tidak bisa diabaikan. Justru menjadi pengingat yang ia butuhkan agar tidak berhenti berlatih.Energi darah di sekelilingnya perlahan mengalir kembali masuk ke dalam Pedang Iblis Darah. Ryan menatap senjata di tangannya sejenak.Kemenangan ini sebagian besar harus dikreditkan pada pedang itu. Dari segi kualitas, Pedang Iblis Darah jauh melampaui pedang transparan milik Chester. Selisih kualitas itulah yang menjadi pembeda di detik-detik terakhir.Ryan mengingat momen benturan itu. Ketika dua serangan saling
Para murid Sekte Medical God itu tentu tahu bahwa Ryan mewakili Sekte mereka dalam kompetisi ini. Meskipun mereka tidak optimis tentang peluangnya, guru mereka, Xiao Yan, telah meminta mereka untuk hadir. Akan tetapi, pada saat ini, bukan saja Guru merka tidak ada di sana, tetapi Ryan juga tidak
Ryan melangkah turun dari arena dengan langkah santai, seolah tak menyadari kegemparan yang ditimbulkannya. Namun, tatapannya tajam mengawasi pergerakan di sekeliling. Pemuda itu tahu betul, pembunuhan empat murid Sekte Red Phoenix tidak akan dibiarkan begitu saja. Tepat sesuai dugaannya, seora
Ryan maju selangkah, mengabaikan tiga serangan mematikan yang semakin mendekat. "Karena kamu akan segera meninggal, sebaiknya aku memberitahumu sebuah rahasia." "Aku tidak sendirian." Suaranya berubah, tidak lagi tenang dan dingin, tetapi dipenuhi kepastian yang menggetarkan. "Monica, aku serahkan
Rasa jijik dan pandangan meremehkan yang tadinya ditunjukkan lelaki tua itu pada Ryan kini telah lenyap sepenuhnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa pemuda bertopeng yang telah dia ejek dan hina itu adalah Arthur Pendragon, sosok yang telah meneror seluruh Gunung Langit Biru! Lelaki tua itu terli







