LOGINTerima kasih Kak Agus atas dukungan Gem-nya. Dengan ini, ada 7 Gem hari ini(. ❛ ᴗ ❛.) Bab bonus akan hadir siang ini, ditunggu(◠‿・)—☆ akumulasi Gem: 01-10-2024 (pagi) : 2 Gem (reset) yok ayok, tiga Gem lagi dapat tambahan bab(≧▽≦) Selamat Membaca
BOOM!Dua kekuatan ekstrem bertabrakan, dan Ryan dihantam ke lantai batu dengan keras. Punggungnya membentuk retakan di lantai yang tidak pernah retak dalam puluhan ribu tahun sebelum ini.Ryan menggerakkan jari-jarinya perlahan, satu per satu, memeriksa apa yang masih bisa bergerak dan apa yang tidak.Sakit. Semua sakit. Tidak ada satu tulang pun di tubuhnya yang masih dalam kondisi utuh, dan ia sudah cukup yakin tentang itu tanpa perlu memeriksa lebih lanjut. Napasnya keluar tidak teratur, setiap tarikan terasa seperti menyedot udara melalui sesuatu yang sudah setengah hancur dan tidak mau memberikan jalan yang bersih.Cael Ironblood berdiri di sampingnya, menatap ke bawah dengan tatapan yang tidak sepenuhnya bisa disebut kasihan tapi juga mengandung sesuatu yang dekat ke penilaian terakhir yang belum diputuskan."Di levelmu sekarang, kau belum layak menjadi lawanku."Ia mengepalkan tinjunya sekali
Ryan menatapnya.Seseorang yang levelnya setara memintanya bertempur secara fisik murni, tanpa senjata dan tanpa teknik yang bergantung pada energi spiritual. Logikanya mengatakan itu keuntungan bagi Cael Ironblood yang jelas memiliki tubuh yang dilatih secara khusus jauh melampaui standar biasa. Tapi sesuatu yang terbentuk dari setiap pertarungan yang sudah ia lewati, dari yang menang sampai yang hampir tidak selamat, mengatakan hal yang berbeda dari logikanya.Ia tidak akan menolak permintaan seperti itu."Oke."Ryan memasukkan pedangnya ke sarungnya. Tangannya mengepal satu kali."Ayo."Mereka saling menerjang bersamaan.BOOM! BOOM! BOOM!Suara kepalan bertemu kepalan bergema di ruang besar itu seperti palu besi yang dipukulkan berulang ke landasan yang sudah tidak bisa kemana-mana, berat dan tanpa henti dan semakin cepat. Setiap benturan meninggalkan getaran di lengan Ryan yang
Pria berbaju putih itu sudah pergi. Ryan berdiri sendirian di depan gerbang Kuil Pedang Samsara, angin yang mengandung aura pedang memukul wajahnya dari arah istana tanpa berhenti satu detik pun. Tidak ada penjelasan tambahan yang diberikan. Tidak ada peta. Hanya gerbang yang terbuka dan ruang di baliknya yang menunggu langkah pertama. Ryan menekan semua yang tidak perlu ke bagian belakang pikirannya, menghela napas satu kali yang tidak terdengar ragu, dan mendorong pintu masuk dengan tangan yang sudah siap. WUSHHH! Udara di dalam berbeda dari luar. Lebih berat, mengandung tekanan yang tidak berasal dari satu sumber tapi dari setiap sudut sekaligus, seperti tempat yang sudah menyerap terlalu banyak pertarungan selama terlalu lama hingga udaranya sendiri ikut berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi sekadar udara. Di dalam, tidak ada apa-apa yang terlihat. Lantai batu putih yang tidak retak meski sudah berusia tidak terhitung. Langit-langit yang ujungnya tidak bisa ditemukan
Mereka membawa Ryan kembali ke peti mati. Tutupnya dibuka. Ryan dilempar ke dalam. Tutupnya ditutup dengan bunyi yang terdengar sangat final. Kegelapan total. Ryan mencoba mendorong tutup itu dari dalam. Tidak bergerak. Ia mengalirkan energi spiritual ke kedua tangannya dan mendorong lagi, kali ini dengan tekanan yang seharusnya lebih dari cukup untuk membobol pintu besi biasa sekalipun. Tutup itu tidak bergerak satu milimeter pun. Di dalam peti mati yang gelap itu, Ryan berbaring diam, mencoba menghitung waktu dari getaran yang melewati papan kayu di bawahnya. Tidak berhasil. 'Harold Guard, orang tua itu, apa yang sebenarnya sedang dilakukannya?' ** Ketika tutup peti mati akhirnya terbuka, cahaya yang menyambut Ryan berbeda dari cahaya hutan tadi. Lebih terang, lebih terbuka, mengandung kelembapan yang khas dari udara laut. Ia diseret keluar dan berdiri di mana mereka meletakkannya. Di bawah kakinya bukan tanah lagi tapi papan kayu yang sudah menghitam dari usia panj
lndra spiritual Ryan mengembang ke seluruh area yang ditunjuk Monyet Perang. Semuanya adalah anggota Klan Monyet Perang. Puluhan ekor bergerak di antara pepohonan, aura mereka tidak seragam tapi terpusat pada satu titik di kedalaman hutan yang tidak kelihatan dari sini. Yang terkuat di antara mereka mencapai Ranah Dao Integration, tidak lebih dari itu. 'Bisa kutangani sendiri.' Ryan turun dari bahu Monyet Perang dan melangkah ke depan. Kehadiran aura manusia di wilayah mereka sudah cukup untuk menarik perhatian tanpa perlu mengumumkan diri. Dari berbagai arah, sosok-sosok berbulu dengan tongkat kayu di tangan mulai bermunculan satu per satu, mata mereka merah darah, tubuh mereka besar dan tegap. Gerakan mereka terkoordinasi, bukan serangan sembarangan dari binatang yang takut tapi lebih menyerupai penjagaan wilayah yang sudah sering dilatih dan diulang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ryan mengaktifkan teknik penjinakan yang baru dipelajarinya, mengalirkan kekuatan ji
Harold Guard tidak menjelaskan lebih lanjut dengan kata-kata. Ia berbalik dan mulai berjalan ke arah yang berbeda dari kediaman utama, menuruni jalur batu yang tidak terlihat seperti jalur mana pun yang pernah Ryan perhatikan sebelumnya meski sudah menjelajah pulau ini cukup lama."Ikuti aku."Ryan mengikuti tanpa bertanya.Mereka bergerak ke sisi pulau yang lebih terjal, di mana batu-batu besar berukuran tidak wajar berserakan di lereng seperti diletakkan oleh tangan yang tidak terlalu peduli dengan kerapian hasilnya. Di balik salah satu tumpukan terbesar, sebuah celah tersembunyi mengarah ke dalam, tidak terlihat kecuali oleh seseorang yang sudah tahu tempatnya.Harold Guard memutar labu anggur kosongnya di jari dengan santai. Setetes cairan yang entah bagaimana masih ada di dalamnya menetes keluar, lalu berubah di udara menjadi sesuatu yang bukan lagi cairan sebelum menghantam batu paling depan.KRAAK.
Perkataan Ryan membuat para kultivator tingkat atas yang hadir menarik napas tajam. "Bocah ini benar-benar tidak tahu takut," bisik salah satu dari mereka dengan nada takjub bercampur keheranan. Bahkan di ambang kematian, pemuda ini masih berani menantang dan mengejek lawannya—seakan tidak menyada
Warren Mouren jelas akan menangani masalah Lina Jirk. Dia tidak ingin mengecewakan Ryan, terutama setelah melihat kesungguhan di mata pemuda itu. Teman Ryan pastilah sangat penting baginya. Sebelum Ryan bisa menutup pintu, pintu itu didorong terbuka lagi dengan cepat. Kayu berderit protes saat pi
Shirly Jirk sedikit khawatir tentang terobosannya yang begitu cepat. Fondasinya tidak stabil, dan terburu-buru untuk meraih kesuksesan hanya akan membuat dantiannya semakin rapuh. Jika hal ini tidak dikelola dengan baik, di masa depan, mustahil baginya untuk maju lebih jauh setelah mencapai Ranah
Ryan menyipitkan matanya. Dia tidak membuang waktu dan berkata langsung, "Aku punya sedikit sejarah dengan Keluarga Mouren-mu. Singkatnya, aku mengenal leluhurmu." Alasan Ryan berkata demikian adalah karena Monica dari Kuburan Pedang telah berbicara, meskipun hanya beberapa patah kata. "Jangan khaw







