Home / Urban / Pembalasan Tuan Muda Terkuat / Bab 550 - Mendatangi Markas Musuh Sendirian

Share

Bab 550 - Mendatangi Markas Musuh Sendirian

Author: Rianoir
last update publish date: 2024-12-31 13:00:07

Dua puluh menit kemudian, di dalam Maybach mewah dengan kaca jendela berwarna gelap yang terparkir di gerbang universitas…

Conrad Max menyerahkan sebuah dokumen pada Ryan dan berkata, "Tuan Ryan, saya baru mendapat kabar bahwa Ordo Hassasin akan menyerang Anda besok! Mereka bahkan telah menghentikan semua misi dan memanggil kembali seluruh pembunuh bayaran mereka!"

Ryan melirik sekilas dokumen itu lalu meletakkannya ke samping. "Aku sudah tahu."

"Bagaimana jika Alia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Defri Ajis
lanjutkan min
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pembalasan Tuan Muda Terkuat   Bab 4098: Tamu Jenderal Barlow

    Beberapa orang di belakang Ryan memandangnya dengan iba. Mereka sudah sering mendengar kejadian serupa di gerbang Wilayah Selatan. Sesekali, selalu ada pendatang yang dipilih untuk dipersulit tanpa alasan jelas.Seorang pria tua bahkan menggeleng sambil menghela napas. Menurut mereka, pemuda itu benar-benar sedang sial. Beberapa orang yang tadi berdiri dekat Ryan memilih menunduk dan berpura-pura tidak melihat, takut ikut menjadi sasaran para penjaga.Ryan menahan amarahnya dan memilih mengikuti prajurit yang memanggilnya. Ia datang membawa tugas penting, bukan untuk membuat keributan di gerbang kota. Meski bisa menghadapi para penjaga dengan mudah, membuat masalah sejak hari pertama hanya akan menyulitkan langkahnya sendiri.Prajurit itu membawanya melewati lorong batu sempit, menjauh dari antrean menuju paviliun kecil dekat gerbang utama. Bangunannya berdinding kayu tua, dengan kisi besi menutupi jendela.

  • Pembalasan Tuan Muda Terkuat   Bab 4097: Gerbang Wilayah Selatan

    Setengah hari berlalu tanpa terasa. Ryan akhirnya membuka mata setelah menyelesaikan meditasinya. Kilatan ungu muncul di kedua matanya, disertai jejak guntur yang belum sepenuhnya menghilang. Selama berjam-jam sebelumnya, ia terus mencoba memahami aliran petir dalam lempeng giok pemberian Quinton Greaves. Ryan bangkit, lalu tubuhnya mendadak lenyap dari tempat semula. Wus! Bayangannya berkelebat begitu cepat, meninggalkan cahaya menyilaukan di udara. Jika ada orang yang menyaksikan, mereka mungkin hanya melihat petir keemasan menyambar ke sana kemari tanpa mampu menangkap sosok Ryan. Gerakan yang semula membutuhkan beberapa perpindahan kini terasa jauh lebih ringan. Sesaat kemudian, Ryan kembali muncul di dalam kamar. Senyum puas terlihat di wajahnya. Kilatan Guntur ternyata jauh lebih kuat daripada perkiraannya. Meski begitu, Ryan baru memahami sebagian unsur petir dan sama sekali belum menguasai unsur anginnya. Dengan kata lain, dasar teknik tersebut pun belum sepenuh

  • Pembalasan Tuan Muda Terkuat   Bab 4096: Kilatan Guntur

    Ryan sudah bisa menebak syarat yang hendak diajukan Tetua West. Setelah melihat bagaimana kakek itu memandangnya sejak ujian kedua, jawabannya tidak terlalu sulit ditebak. "Silakan katakan," ujar Ryan pasrah. Sebenarnya, Ryan juga tertarik mempelajari teknik tempa Benua Valorisia. Dibandingkan ilmu yang pernah dipelajarinya, cara menempa di benua ini jauh lebih rumit dan mendalam. Ia bahkan ingin mengembangkan Ledakan Seribu Artefak ciptaan Forging God agar teknik itu tetap berguna menghadapi musuh dengan tingkat kekuatan sekarang. Mungkin ada hasil yang tidak pernah dibayangkannya. "Kalau begitu, warisi ilmuku dan belajarlah menempa dariku," kata Tetua West dengan senyum lebar. Ryan mengangguk. "Baik. Tapi aku belum bisa langsung belajar. Ada beberapa urusan penting yang harus kuselesaikan terlebih dahulu." "Tidak masalah!" Tetua West tertawa. "Aku memang sudah tua, tapi tidak kekurangan waktu. Sekarang, keluarkan senjata yang ingin kau tempa." Ryan segera menyerahkan Ped

  • Pembalasan Tuan Muda Terkuat   Bab 4095: Ujian Jiwa yang Mustahil

    Meski kekuatan fisiknya sudah sangat menonjol, bagian paling istimewa dari Ryan saat ini justru terletak pada Jiwa Primordialnya. Melihat sikap Ryan yang santai, Tetua West mendengus. "Jangan terlalu cepat puas diri, bocah." "Kekuatan fisikmu memang luar biasa, tapi alasan ujian jiwa kutaruh sebagai tahap terakhir adalah karena inilah bagian paling sulit." "Jangan lengah. Ikut aku." Tetua West lalu membawa Ryan menyusuri lorong sempit yang memanjang ke bagian lebih dalam bengkel. Lorong itu hanya sekitar sepuluh meter. Dindingnya terbuat dari batu abu-abu yang dipenuhi ukiran rune redup, sementara cahaya dari bengkel di belakang mereka semakin lama semakin menghilang. Bahkan sebelum masuk, Ryan sudah bisa merasakan tekanan daya jiwa yang kuat. Berkat Tubuh Iblis Mental, tekanan itu terasa seperti ribuan jarum tipis yang perlahan menusuk kesadarannya. "Bocah, tahap terakhir sangat sederhana. Kau hanya perlu melewati lorong ini dalam waktu satu jam," kata Tetua West. Namun nada s

  • Pembalasan Tuan Muda Terkuat   Bab 4094: Ujian Jiwa

    Meski sudah melihat kekuatan Ryan, Tetua West masih menyimpan sedikit keraguan.Ia memang mengakui tubuh Ryan sangat kuat, tetapi apakah pemuda itu benar-benar mampu mengangkat palu tingkat True God masih menjadi persoalan lain.Tetua West sudah bertahun-tahun di Akademi Heavenly Flame dan melihat banyak genius dengan kekuatan fisik luar biasa.Namun selama semua tahun itu, tidak satu pun Kultivator Ranah Creation yang pernah berhasil mengangkat palu tingkat True God.Bahkan setelah mencapai Ranah Star Sealed, hanya segelintir orang yang mampu melakukannya.Sebagai salah satu pengajar paling senior, Tetua West tahu betapa tidak masuk akalnya pilihan Ryan.Tak lama kemudian, Ryan berdiri di depan palu hitam keemasan itu.Ia menggenggam gagangnya dengan kedua tangan lalu mengerahkan sebagian tenaga.Alis Ryan langsung berkerut. 'Berat sekali.'Palu itu terasa bukan seperti sebongkah logam, melainkan sebua

  • Pembalasan Tuan Muda Terkuat   Bab 4093: Palu Tingkat True God

    Tetua West membawa Ryan ke sebuah ruangan kecil di bagian dalam bengkel. Begitu masuk, perhatian Ryan langsung tertuju pada tiga palu yang diletakkan berjajar dari ukuran paling kecil sampai paling besar. Palu pertama berwarna perak kusam dan hanya sebesar lengan orang dewasa. Palu kedua jauh lebih besar, hampir sebesar tubuh anak kecil, dengan permukaan yang dipenuhi ukiran rune. Adapun palu terakhir berwarna hitam keemasan, kepalanya sebesar tong air dan gagangnya setebal betis pria dewasa. Tetua West menunjuk ketiganya. "Aku hanya menempa tiga jenis senjata. Artefak ruang-waktu, artefak Lesser God, dan artefak tingkat True God." "Kalau kau ingin menempa jenis senjata berbeda, kau harus sanggup mengangkat dan mengayunkan palu yang sesuai. Inilah tahap kedua." Ryan mengangguk, tetapi pandangannya langsung berhenti pada palu terbesar. Sudut bibirnya bahkan terangkat sedikit. Melihat benda sebesar itu, Ryan justru tampak seperti anak kecil yang baru menemukan mainan paling

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status