LOGINMalam semuanya <( ̄︶ ̄)> Karena othor mau bakar-bakar, othor rilis sekarang aja sebelum lupa, hehehehe Ini adalah bab pertama malam ini. setelah ini, ada satu bab bonus. ditunggu (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 3/3 Bab (komplit) Bab Reguler: 2/2 Bab (komplit) Bab Bonus Hadiah: 0/1
Ryan mengalihkan pandangannya ke arah suara itu.Dari antara pepohonan hitam yang terbelah, seekor ular raksasa dengan sisik hitam pekat melesat ke arahnya dengan kecepatan yang tidak memberi waktu untuk berpikir terlalu lama. Sepasang mata hijaunya berkedip dengan kilatan dingin yang mengandung haus darah yang tidak butuh penjelasan tambahan.'Ular Iblis Bermata Hijau!'Namun ada yang berbeda dari semua gambaran tentang ular itu yang pernah ia dengar sebelumnya.Ukurannya jauh melampaui yang seharusnya, panjangnya mencapai puluhan meter dengan tubuh yang besar seperti pohon tua yang dicabut dari akarnya. Dan di atas kepalanya, sebuah tanduk tunggal menonjol dengan kilau yang menyeramkan, memancarkan aura yang sama sekali tidak dimiliki oleh jenis ular biasa.Ryan mengerutkan kening.'Ular Iblis Bermata Hijau seharusnya tidak bertanduk.'"Ini bukan yang biasa," kata Mario Bludsword melalui transmisi spiritual dengan nada yang sudah menyimpulkan sebelum penjelasan diberikan.Andrey X
"Bocah." Suara Mata Iblis terdengar kembali, kali ini dengan nada yang lebih pelan namun tidak kehilangan kedalaman yang mengandung kekunoan di setiap katanya. "Pulau ini dipenuhi energi iblis yang cocok untuk pemulihanku." "Dengan logam Gao ini, tidak akan lama sebelum aku benar-benar terbangun sepenuhnya." "Dan mungkin, aku bahkan bisa memulihkan sebagian dari kekuatan tubuh asalku."Suara itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang berbeda dari sebelumnya."Meski aku dari ras iblis, aku tidak seperti para junior ras iblis yang kau temui selama ini. Aku tidak terbiasa berutang budi tanpa membalasnya." Kata-kata berikutnya keluar dengan cara yang terasa berat, seolah pengucapannya sendiri membutuhkan sesuatu yang tidak biasa dari entitas itu. "Terima kasih."Setelah itu, keheningan kembali.Ryan menatap titik di antara alisnya dengan ekspresi yang mengandung sesuatu yang ia sendiri tidak mudah menemukan
Ryan duduk bersila di dalam gua dengan matanya yang terbuka mengandung kilatan cahaya yang tajam.Auranya mengalir keluar dengan tenang namun mengandung tekanan seorang kultivator yang sudah menempa dirinya melalui pertarungan nyata, bukan sekadar latihan biasa.Tanpa menunggu lebih lama, ia mengeluarkan logam Gao dari cincin penyimpanannya dan mulai memurnikannya dengan konsentrasi penuh.DESSS!Benang-benang emas memisahkan diri dari logam itu satu per satu, berkilauan sebelum menyatu ke dalam tubuhnya dengan aliran yang halus namun kuat. Sambil memurnikan, sebagian perhatiannya tetap tertuju pada kondisi Mata Iblis di antara kedua alisnya.Kekuatan yang menggeliat di sana terasa lebih dekat dari sebelumnya. Siap meledak keluar bagai air yang mendesak di balik pintu bendungan yang semakin retak. Namun ada sesuatu yang lebih kuat yang menahannya dari sisi lain, sebuah batasan yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Ryan mengeluarkan potongan logam Gao dari cincin penyimpanan Kenny Brook dan mengamatinya dalam cahaya yang tersaring di antara pepohonan di sekitarnya.Matanya berbinar.Sejak pertama kali ia menyempurnakan logam Gao, kemampuannya untuk membedakan kualitas bahan itu berkembang secara alami. Logam Gao terbagi dalam empat kelas berdasarkan kemurniannya, dari kelas rendah hingga kelas tertinggi, dan setiap kelas masih terbagi dalam tiga peringkat. Yang pernah ia miliki sebelumnya adalah kelas rendah peringkat paling bawah, hampir tidak layak disebut sebanding dengan apa yang kini ada di tangannya.Potongan di genggamannya sekarang adalah kelas rendah peringkat tinggi. Kualitasnya jauh di atas apa yang pernah ia sentuh sebelumnya, dan jumlahnya lebih dari sepuluh kali lipat dari yang ia miliki dulu.'Kalau logam Gao ini dijual, nilainya lebih dari yang bisa kubayangkan.'Tidak mengherankan Yao Links bersedia mempertaruhkan nyawanya masuk ke Pulau Sorna demi memburu Kenny Brook. Iming
Bibir Ryan berkedut.Ia menatap pemuda yang kini menggosok sisi kepalanya dengan santai sambil berdiri dari tanah seolah tidak ada yang terjadi.'Jadi itu yang tidak cocok dari hasil pemeriksaan medis tadi.''Orang ini berpura-pura terluka parah dari tadi.'Jessica Neuro mengalihkan pandangannya ke Ryan dengan nada yang berubah serius. "Ryan, lanjutkan pelatihanmu. Aku akan tinggal di dekat pulau untuk sementara waktu agar iblis sejati itu tidak berani kembali dengan mudah. Tidak perlu khawatir."Lalu ia melirik ke arah pemuda di sebelahnya dan mendengus. "Hmph. Ketua Sekte benar-benar mengirim orang yang tidak bisa diandalkan untuk mengawasi pelatihan. "Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi pada Ryan, jangan harap aku diam saja.""Tapi Junior Ryan baik-baik saja, bukan?" pemuda itu bertanya dengan nada yang dibuat terdengar sedih sambil menggaruk kepalanya dengan gaya yang sangat tidak terdampak oleh teguran yang baru saja ia terima.Ryan melirik pemuda itu sejenak, lalu menangkupk
Makhluk iblis sejati itu merasakan hukum dunia yang memancar dari tubuh pemuda itu mulai mengikat pergerakannya seperti rantai yang tidak terlihat namun terasa nyata di setiap sendi wujudnya.Tidak ada pilihan selain menghadapi lawan di depannya dengan serius."Manusia rendahan." Suaranya mengandung keganasan yang tidak repot-repot disembunyikan. "Kau berani mencegat langkahku? Menarik.""Aku akan memberimu penderitaan yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya."Pemuda sembrono itu mengerutkan kening dengan ekspresi yang mengandung jijik yang tulus."Maaf, aku tidak tertarik pada pria maupun monster, apalagi yang seburuk rupamu.""Tolong pilih kata-katamu dengan lebih baik. Kalimat seperti itu bisa menimbulkan kesalahpahaman yang tidak menyenangkan bagi kedua pihak."BOOOOOM!Energi iblis murni yang pekat menghantam cahaya perak samar yang mengalir dari tubuh pemuda itu, dan ruang di titik benturan itu ber
Begitu Elodie Blanc selesai memberi perintah, selusin sosok berpakaian hitam bergegas keluar sambil menghunus senjata mereka. Kilatan dingin dari berbagai jenis pedang dan golok memantulkan cahaya bulan yang redup. Ryan berdiri tenang di tempatnya, bahkan tanpa mengangkat tangan. Ekspresinya teta
"Kamu dari departemen mana..." Rektor memulai dengan nada tidak sabar, namun kata-katanya terhenti saat dia mengenali Ryan. Ekspresinya berubah drastis. "Ah, Tuan Ryan Reynald!" serunya antusias, berdiri dan mengulurkan tangan. "Eagle Squad telah memberitahuku semuanya. Sungguh suatu kehormatan b
Peter Carter terdiam sejenak. Dia lalu melanjutkan, "Jangan tunda lebih lama. Aku merasakan kehadiran kuat yang sedang mendekat kemari." Ryan merasakan kekuatan baru mengalir deras dalam tubuhnya. Seringai dingin tersungging di bibirnya. "Aku ingin lihat siapa yang berani menghentikanku!" serunya
Dua menit sebelum yang lain bergerak, Ryan telah tiba di tengah Gunung Seribu Puncak. Suara lelaki tua berjubah hitam kembali terdengar di benaknya, "Nak, majulah sepuluh langkah lagi." Ryan mengangguk dan melangkah maju. Saat kakinya menginjak tanah untuk kesepuluh kalinya, matanya terbelalak ta







