Mag-log inTerima Kasih Kak Daniel atas dukungan Gem-nya (. ❛ ᴗ ❛.) Akumulasi Gem Bab Bonus: 14-10-2024 (malam): 3 Gem ini bab bonus kedua hari ini. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Semakin lama Ryan diam, semakin besar pula kesenangan binatang kuno itu.Dalam pandangannya, jika untuk membalas hinaan saja Ryan sudah tidak mampu, maka pemuda itu tidak lebih dari seekor domba yang tinggal menunggu waktu disembelih.Kabut iblis di dalam domain bergolak.Dari balik hawa gelap yang tak berujung itu, binatang kuno perlahan melangkah keluar.Tubuhnya besar, auranya menekan, dan setiap langkahnya membuat tanah kelabu di bawah kaki Ryan bergetar pelan.Ia mendekati Ryan dengan tatapan mengejek.Lalu, kaki depannya yang besar terangkat dan menekan bahu Ryan.Boom!Tubuh Ryan terdorong ke bawah.Bahu pemuda itu ditekan keras ke tanah gersang, seolah binatang itu ingin memastikan bahwa mangsanya benar-benar tidak punya kekuatan untuk melawan."Apakah kau masih berpikir bisa memurnikan Tablet Reinkarnasi?"Suara binatang itu menggema dari segala arah.Nada cemoohnya memenuhi seluruh domain, seolah langit dan bumi di tempat itu ikut menertawakan Ryan.Di kejauhan, pria tua yan
Detik berikutnya, binatang kuno itu menerjang.Tubuh besarnya melesat ke arah Ryan dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukurannya. Setiap langkahnya membuat tanah kelabu yang tandus itu retak dan berguncang, seolah seluruh ruang di dalam Tablet Reinkarnasi ikut bergetar di bawah kakinya.Aura yang keluar dari tubuhnya sangat kuat.Jelas, ini bukan binatang biasa.Ia membawa tekanan dari zaman kuno, tekanan yang tidak dimiliki binatang iblis biasa di dunia luar.Untungnya, setelah Ryan mengamati lebih cermat, kekuatan binatang itu tampaknya hanya setara dengan binatang Ranah Star Seed tahap awal.Meski begitu, itu tetap bukan lawan yang bisa ia remehkan.Ryan tidak berniat menahan diri.Di tempat seperti ini, satu kelengahan saja bisa membuatnya mati. Apalagi lawan di depannya bukan manusia yang mungkin masih bisa diajak bicara, melainkan binatang kuno yang sejak awal sudah memandangnya sebagai santapan.Tepat ketika Ryan menggenggam Pedang Feralrot lebih erat, sebuah suara m
"Sepuluh Tablet Reinkarnasi masing-masing mewakili atribut agung yang berbeda di dunia ini."Demon Emperor menatap tablet batu di hadapan mereka dengan sorot dalam."Aku tidak tahu atribut apa yang dimiliki tablet ini. Aku juga tidak tahu bahaya seperti apa yang tersembunyi di dalamnya."Ryan mendengarkan tanpa menyela.Demon Emperor melanjutkan, "Biasanya, orang yang berani mencoba memurnikan Tablet Reinkarnasi setidaknya sudah berada di puncak Ranah Star Seed."Suaranya menjadi lebih berat."Sedangkan kau baru berada di Ranah Dao Integration."Ryan tidak membantah.Perbedaan itu memang terlalu besar.Namun justru karena itulah, kesempatan di hadapannya terasa semakin berbahaya."Bersiaplah secara mental," kata Demon Emperor lagi. "Benda ini tidak boleh kau anggap ringan, sekalipun kau memiliki Garis Darah Reinkarnasi."Ia melirik ke sekeliling balai utama."Untungnya, tempat
"Apa itu?" tanya Ryan, rasa ingin tahunya langsung muncul.Namun Mata Iblis tidak menjawab.Ia seperti sengaja menghentikan pembicaraan di sana, lalu mengalihkan arah pembahasan.Ryan memahami maksudnya. Kalau Mata Iblis belum ingin mengatakan sesuatu, memaksanya pun tidak ada gunanya.Ia menarik napas pelan, kemudian menoleh ke arah Mordane Lethe yang berjalan di sampingnya."Dulu, apakah kau mendapatkan Tablet Reinkarnasi ini dari Kerajaan Ilahi?"Mordane Lethe mengangguk."Benar."Nada suaranya segera dipenuhi emosi."Demon Emperor, dulu aku mendengar bahwa Tablet Reinkarnasi memiliki kekuatan ajaib. Katanya, benda itu mampu membangkitkan orang yang sudah mati."Ia menatap lorong batu di depan mereka, tetapi pikirannya jelas sudah kembali ke masa lalu."Aku ingin menggunakannya untuk membangkitkanmu."Suara Mordane Lethe menjadi lebih berat."Tapi belakangan aku me
Mordane Lethe membungkuk dengan sikap penuh hormat.Setelah itu, ia menuntun Ryan menuju Kampung Halaman Demon Emperor.Tidak ada lagi tekanan mengerikan seperti sebelumnya. Tidak ada niat membunuh. Sosok kuno yang tadi membuat tiga Tetua Agung Sekte Moon Flower harus waspada kini berjalan sedikit di depan Ryan seperti seorang penjaga yang menuntun tuannya pulang.Ketika mereka tiba di depan gerbang istana, Mordane Lethe berhenti.Ia menoleh ke arah Binatang Nether."Jaga tempat ini."Suaranya kembali keras dan dalam."Jangan biarkan siapa pun masuk."Binatang Nether langsung menunduk.Mordane Lethe melanjutkan dengan nada yang lebih dingin, "Selain itu, kau tidak boleh melukai orang-orang di sini."Api biru di matanya menyala tajam."Kalau kau berani menyentuh mereka, aku akan membunuhmu."Tubuh Binatang Nether bergetar.Kesombongan dan keganasan yang sebelumnya memenuhi wajahnya sudah lenyap tanpa sisa. Di hadapan Mordane Lethe, ia tidak berani menunjukkan sedikit pun perlawanan.
Ryan tersenyum tipis.Di bawah tatapan semua orang, ia justru melangkah mendekati Mordane Lethe.Tidak ada rasa takut di wajahnya.Tidak ada keraguan dalam langkahnya.Ia menatap sosok berjubah iblis itu, lalu melanjutkan dengan suara tenang, "Tulang-belulang pucat yang berserakan di Gunung Tengkorak Darah itu.""Apakah mereka semua iblis?"Ryan berhenti beberapa langkah dari Mordane Lethe."Benar, bukan?"Matanya perlahan menajam."Tapi sebenarnya, apa itu iblis di dunia ini?"Kata-kata itu membuat api biru di mata Mordane Lethe bergetar.Ryan seperti tidak melihat reaksi itu. Ia terus berbicara, seolah sedang membuka kembali pintu menuju masa lalu yang telah terkubur terlalu lama."Iblis sudah ada sejak dunia ini pertama kali terbentuk.""Iblis bukan sumber dari semua kejahatan di dunia.""Iblis justru memedulikan rakyat jelata, dan berani berdiri melawan Kerajaan Ilahi."Suara Ryan tidak keras, tetapi setiap katanya menekan hati Mordane Lethe."Iblis mewarnai langit dengan darah me
Eleanor Jorge masih tampak khawatir. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Dari mana kekuatan bela diri Ryan berasal? Ke mana dia menghilang selama lima tahun? Apa ramuan ajaib yang digunakannya? Untuk pertama kalinya, ia merasa putranya tampak sedikit asing. Ryan yang sekarang sanga
"Ayah, Ibu... aku akan membawa kalian pergi dari sini sekarang juga!" tekad membara terpancar dari mata Ryan. Ia sadar efek jimat Peter Carter akan segera habis. Saat itu terjadi, ia tidak hanya akan menerima rasa sakit luar biasa, tapi juga kehilangan sebagian besar kekuatan bertarungnya. Untu
Namun Ryan belum puas sampai di situ. Sehari telah berlalu. Theodore Crypt mengerutkan kening menatap Ryan yang masih bertahan. "Anak ini masih bersikeras juga rupanya," gumamnya. "Tidak mudah bagi kultivator ranah Golden Core bertahan lebih dari sehari di sini. Sepertinya aku benar-benar meremehk
Ryan mengacungkan tinjunya tanpa berkata apa-apa. "Nol persen?" tanya Eleanor Jorge kecewa. "Salah, Bu. Karena aku berani menantangnya, aku yakin bisa membunuh Lucas Ravenclaw besok," jawab Ryan mantap. "Lihat saja besok, Bu. Setelah pertarungan selesai, kita akan berkumpul lagi dengan Ayah. Seku







