MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Aday Wijaya, Kak Patricia Ings, Kak Alberth Abraham Parinussa, Kak Pengunjung5804, Kak Hari, Kak Sendy Zen, dan Kak Purwanto LoneRanger atas hadiah koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih kepada para pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Ini adalah bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 3/3 Bab (Komplit) Bab Reguler: 2/2 Bab (Komplit)
Di lantai arena, Pedang Iblis Darah tergeletak di antara senjata-senjata warisan lainnya. Bersinar merah tua, berdenyut perlahan seperti jantung yang sedang menunggu untuk dipegang kembali. Ryan merasakannya dari jarak berdirinya sekarang. Ia ragu. Hanya sedetik. 'Terakhir kali aku memegangnya, aku hampir membunuh Fernando Chester.' Tapi situasinya berbeda sekarang. Kultivasinya sudah di Ranah Creation tingkat pertama, meski dari energi pinjaman. Mungkin cukup untuk menjaga kesadarannya tetap di tempatnya dan tidak tenggelam seperti sebelumnya. Pedang Dao Integration-nya dilepas ke tanah. Jari-jarinya mengepal sekali, lalu terentang ke depan. Pedang Iblis Darah terbang ke tangannya seolah sudah menunggu perintah itu sejak lama. Begitu genggamannya menutup di sekitar gagang pedang itu, dunia di sekitarnya berubah. Aura iblis meledak keluar dari dalam pedang seperti banjir yang tidak bisa dibendung oleh apa pun. Ia menyusup ke dalam aliran darah Ryan, mendaki melalui meridian
Jari Ryan bersinar putih menyilaukan. Kekuatan temporal meledak keluar seperti badai yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan sampai ke sumsum tulang oleh siapa pun yang berdiri dalam radius serangannya. Blood Demon Lord merasakannya sepersekian detik sebelum serangan tiba. MUNDUR! Nalurinya berbicara lebih cepat dari pikirannya. Ia melompat ke belakang tanpa ragu, tapi kekuatan temporal tidak bisa ditipu dengan jarak. Serangan itu terus meluncur, mengejar, menghantam tepat di dada Blood Demon Lord bahkan setelah tiga langkah mundur itu. Pfft! Darah menyembur dari mulut Blood Demon Lord. Hukum waktu tidak berhenti di permukaan. Ia meresap ke dalam, menggerogoti vitalitas di balik lapisan kultivasi seperti karat yang makan besi dari dalam perlahan-lahan. 'Terlambat sedikit.' Ryan mengamati, matanya tidak melepas target. 'Kalau dia tidak mundur, serangan itu bisa melumpuhkannya di tempat.' Tapi itu sudah cukup. Lebih dari cukup untuk pembukaan pertama. Blood Demon Lord me
Ryan mengepalkan tinjunya perlahan.Energi yang mengalir di meridiannya terasa asing dan familiar sekaligus. Seperti mengenakan jubah yang dibuat untuk orang lain tapi kebetulan pas di bahunya.'Tapi ini bukan milikku. Ada batasnya.'"Kekuatan pinjaman tidak akan bertahan lama." Sky Demon Lord melirik ke arah arena, senyumnya tidak berubah. "Kalian naik pun apa gunanya?"Demon Saint tidak menanggapi komentar itu. "Harta warisan ini menyimpan energiku sejak dulu. Kusiapkan khusus untuk kemungkinan ini."Lalu tanpa kata-kata lagi, dia terbang ke arah keempat Demon Lord.Ryan sudah bergerak bahkan sebelum perintah diberikan.Blood Demon Lord berdiri di hadapannya dengan lengan terlipat, tatapannya mengandung penghinaan yang tidak dipaksakan karena memang begitulah ia melihat semua orang yang dianggapnya lebih rendah."Bocah kecil, kau baru naik satu tingkat dan sudah merasa bisa mengubah sesuatu?" Blood Demon Lord
Keempat Demon Lord mengerutkan kening hampir bersamaan.Aura yang meluap dari dalam peti mati itu bukan sesuatu yang bisa dipalsukan. Berat, dalam, menindih seperti langit yang turun setengah jengkal ke bumi. Aura yang pernah mereka rasakan puluhan ribu tahun silam, di saat mereka masih berlutut di hadapan pemiliknya.'Apakah kekuatannya masih di puncak?'Pikiran itu melintas di kepala keempat Demon Lord dalam waktu yang sama, dan untuk sesaat, tidak satu pun dari mereka yang bergerak.Kalau kekuatan Demon Saint benar-benar masih penuh, tidak ada satu pun dari mereka yang keluar dari ruangan ini hari ini.Peti mati batu itu terus bergetar, lalu terbuka sepenuhnya.Dari dalamnya, sosok itu bangkit perlahan. Pria itu tidak tampan dalam pengertian yang mencolok, wajahnya biasa saja. Tapi ada sesuatu dalam cara dia berdiri, dalam cara matanya membuka, yang membuat seluruh ruangan terasa lebih k
"Formasi Hantu Roh Spektral." Nether Corpse Demon Lord tertawa pelan. Suaranya bergema aneh di antara dinding-dinding ruangan. "Kusiapkan khusus untukmu, sapi tua." SSSST! Dari retakan di lantai, sosok-sosok tembus pandang merembes naik seperti asap yang punya bentuk dan kesadaran. Kehadirannya terasa di kulit lebih dulu dari mata, dingin yang menyelinap masuk tanpa peringatan. "ARGH!" Kultivator Dao Integration tingkat enam ambruk mendadak. Sosok hantu menembus dadanya dari belakang, tangan tak kasat mata meremas sesuatu jauh di dalam tubuhnya. Pria itu roboh dan tidak lagi bergerak. Kekacauan meledak kembali. Binatang iblis dari luar, hantu dari bawah. Tidak ada sisi yang aman. ** Banteng Hijau Surgawi mendengus keras. Sepasang tanduknya bersinar hijau terang, makin menyilaukan, sampai cahayanya membengkak dan menelan seluruh aura gelap dari formasi di bawahnya. Lalu cahaya itu meledak keluar. BOOM! Binatang iblis dalam radius ledakan lenyap tanpa sempat bersuara. Sosok-so
Pertempuran ini baru saja dimulai. Dan dari cara situasinya berkembang, akhirnya belum tentu berpihak pada mereka. "Ryan!" Seorang Kultivator Dao Integration puncak berseru dari tengah kekacauan, matanya menyorot penuh harap. "Apakah Ledakan Seribu Artefact bisa membuka jalan keluar untuk kita semua?" Beberapa kepala berpaling ke arah Ryan seketika. Di tengah pertempuran yang tidak memberi ruang untuk bernapas ini, dia adalah satu-satunya yang terlihat masih punya kartu. Ryan menggeleng pendek. 'Kalau bisa, aku sudah melakukannya dari tadi.' Ledakan Seribu Artefak bukan sihir tanpa batas. Setiap ledakan menguras kekuatan jiwa yang tidak sedikit, dan artefak yang dibutuhkan tidak bisa dicetak dari udara. Jika kawanan binatang iblis ini benar-benar tidak ada ujungnya dan kekuatan jiwanya habis di tengah jalan, dia tidak akan lebih berguna dari siapa pun di sini. Mata-mata yang tadi bersinar meredup kembali. Tidak ada solusi. Tidak ada pintu keluar yang mudah. ** BOOM! Di
Sosok Ryan muncul bagai kilat, matanya merah membara dipenuhi nafsu membunuh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Pedang Suci Caliburn terhunus mengancam di tangannya saat dia melesat menghadang Yamamoto Yuto dengan kecepatan yang mustahil. Wajah Yamamoto Yuto memucat seketika. Dia tidak m
Pupil Lucas Ravenclaw mengecil. "Tuan, menurut penyelidikan saya, insiden itu berkaitan dengan pemuda bernama Ryan Pendragon. Tapi dia tak mungkin melakukannya sendiri. Apalagi ada gempa misterius hari itu." "Dan baru-baru ini ada petinggi Nexopolis yang diam-diam mengancam kita agar tidak menggang
Tepat saat tetua berjenggot putih itu hendak berdiri, tetua Sekte Hell Blood lainnya dengan sigap menekan bahunya.Chuck Denver sama sekali tidak gentar menghadapi reaksi tersebut. Pandangannya kembali tertuju pada Kepala Keluarga Ravenclaw yang duduk dengan tenang. "
Ryan melangkah terhuyung menuju ibunya, kakinya terasa berat bagai timah. "Bu, aku punya kamar di apartemen Dosen Universitas Negeri Riversale. Ayo kita ke sana dulu untuk beristirahat." Eleanor Jorge mengangguk, segera menopang tubuh putranya dan berjalan mengikuti petunjuk arah yang diberikan.







