Masuk"Aku sudah bilang tidak mau maid baru!" bentak Nadira, melempar sendok peraknya ke atas piring keramik dengan bunyi nyaring yang memekakkan telinga. Wajahnya yang cantik memerah, karena kemarahannya. "Sudah ada banyak pembantu di rumah ini! Ngapain ada maid khusus buat Kai dan Axton? Lagipula aku lebih percaya mama untuk jaga Kai!" ujarnya, menunjuk salah satu pelayan tua yang langsung menunduk ketakutan.
Dia lalu meraih lengan Axton, menggoyang-goyangkannya dengan manja namun penuh desakan. "Sayang, bilangin Mama kamu! Ini rumah kita, kok Mama yang seenaknya sendiri?"
Axton yang sejak tadi duduk dengan bahu tegang, menatap ibunya dengan pandangan tajam. "Mama, kenapa Mama nggak mau dengerin Nadira?"
Ratri, yang duduk di ujung meja dengan postur sempurna, hanya menyeka sudut mulutnya dengan serbet linen. Senyum tipis dan dingin menghiasi bibirnya.
"Justru karena ini rumah kita, aku ingin yang terbaik untuk cucuku dan anakku." balas Ratri dengan suara tenang yang menusuk. "Maid yang Mama pilih ini kompeten. Lulusan S1 Pariwisata, dia belajar secara formal tentang tata boga, tata graha, dan pelayanan. Dia profesional, bukan asal panggil dari agensi seperti yang selama ini Nadira mau." tatapannya menyapu Nadira, menantang.
"Aku nggak mau!" Nadira berteriak lebih keras, menghantamkan telapak tangannya ke meja hingga gelas-gelas bergetar. Dia memeluk lengan Axton erat-erat, memohon dengan mata berkaca-kaca. "Sayang, Mama kamu ini kenapa ngeyel banget sih? Dia sengaja ingin mengacaukan rumah tangga kita!"
Sebelum Axton sempat membuka mulut, sebuah suara lembut namun jelas memotong ketegangan di ruangan itu.
"Selamat pagi."
Semua kepala menoleh ke pintu. Di sana berdiri Alya, dengan seragam maid hitam-putih yang sederhana namun justru menonjolkan kecantikan alaminya. Dia membungkuk sedikit dengan sopan.
Ratri tersenyum puas, seperti seorang dalang yang melihat wayangnya muncul di panggung dengan sempurna. Ternyata Alya jauh lebih cantik dari yang dia bayangkan!
Nadira langsung mendengus sinis, matanya menyala dengan kebencian. "Lihat, Sayang!" bisiknya kasar pada Axton. "Dia cantik sekali untuk seorang maid! Jelas-jelas ini rencana ibumu! Mau carikan wanita untuk goda kamu!" namun, di dalam hatinya, Nadira merasa aman. Tidak mungkin Axton tergoda. Dia terobsesi padanya. Hanya padanya!
Yang tidak Nadira tahu adalah alasan di balik obsesi buta Axton itu, merupakan sebuah bayangan dari cinta masa kecilnya, Chloe. Sebuah kemiripan yang selama ini dengan sengaja dia pelihara dan manfaatkan.
Tapi semua kepercayaan diri itu runtuh ketika dia menoleh dan melihat ekspresi Axton.
Pyarrr!!!! Gelas wine di tangan Axton tersenggol hingga anggur merahnya tumpah membentuk genangan seperti darah di taplak meja putih. Tapi Axton sama sekali tidak peduli. Matanya terpaku pada Alya, membelalak, napasnya tercekat. Wajahnya yang biasanya dingin dan terkendali, kini dipenuhi oleh gelombang kejutan yang begitu dahsyat.
Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa wanita asing ini... begitu mirip dengan Chloe? Bahkan lebih mirip daripada Nadira! Seperti Chloe yang hidup kembali, tumbuh dewasa, berdiri di hadapannya.
Melihat reaksi Axton yang tidak biasa, panik mulai menyergap Nadira. "Axton! Usir dia! Sekarang juga!" teriaknya, suara meninggi oleh kepanikan.
Tapi Axton seolah tuli. Dia bahkan mengangkat tangan, meminta Nadira diam. Matanya masih belum bisa lepas dari Alya.
"Jangan berisik, Nadira." gumam Axton, suaranya rendah dan serak, penuh dengan keterpesonaan yang tidak bisa dia sembunyikan. "Kasih saja dia... kesempatan."
Kalimat itu diucapkan dengan mata yang masih terpaku pada maid baru itu, seperti pisau yang menusuk jantung Nadira. Untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, Axton memilih untuk mendengarkan sesuatu atau seseorang yang lain, yang bukan permintaannya.
Di balik rasa syok dan amarahnya, Ratri duduk dengan senyum kemenangan yang semakin lebar.
Namun, senyum itu sirna ketika pandangannya bertemu dengan mata Axton. Di balik keterpesonaannya pada Alya, ada sebuah pemahaman yang membara. Axton menatap ibunya dengan tatapan tajam, penuh kecurigaan, tangan di sisinya mengepal erat.
Axton yakin ini adalah ulah ibunya. Hanya Ratri dan sedikit orang terdekatnya yang tahu rahasia terdalamnya tentang Chloe, tentang obsesinya, tentang lukanya yang tak kunjung sembuh.
"Ma," gertaknya, suaranya rendah namun mematikan, memotong ketegangan di ruangan. "Kita bicara. Sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, Axton berbalik dan berjalan dengan langkah tegas meninggalkan ruang makan, menuju ruang kerjanya.
Meninggalkan dua wanita itu dalam ketegangan. Nadira yang diliputi amarah dan ketakutan, Alya yang berdiri kaku dan ketakutan.
Begitu Axton menghilang, Nadira langsung berbalik menghadapi Alya. Mata indahnya yang biasanya berbinar manja, kini membara.
"Heh, perempuan kampung!" desisnya, mendekat dengan langkah agresif. "Awas kalau kamu berani macam-macam dengan suamiku!" Untuk menekankan ancamannya, Nadira mengambil gelas wine yang masih penuh di meja dan menyiramkan isinya tepat ke wajah dan seragam Alya. Anggur merah mengucur deras, membasahi rambut dan wajah Alya, membuatnya terlihat sangat rentan.
Pyarrr!
Nadira membanting gelas kristal itu ke lantai marmer di dekat kaki Alya, sehingga serpihan kaca berhamburan. Beberapa pecahan bahkan mengenai kaki Alya, tapi dia berusaha keras untuk tidak menjerit dan melawan. Menghadapinya harus dengan taktik, bukan ego dan emosi.
Dengan suara bergetar, berusaha tetap tenang, Alya berkata pelan. "Saya hanya ingin bekerja dan mencari uang, Nyonya."
"Alah! Jangan berlagak suci di depanku!" teriak Nadira, wajahnya mendekat hingga hanya berjarak beberapa inci dari Alya. "Aku tahu trik-trik kotor perempuan seperti kamu! Dan aku peringatkan, aku tidak akan segan untuk membunuhmu jika kamu berulah!"
Kemudian, dengan senyum kejam yang mengembang, Nadira menunjuk genangan anggur merah dan pecahan kaca di lantai. "Baiklah, kalau kamu memang hanya mau bekerja. Tugas pertamamu, bersihkan wine ini." Dia berhenti sejenak, menikmati kekejamannya sendiri. "Tapi... dengan lidahmu! Harus sampai bersih beserta pecahan kacanya!"
Nadira terkekeh-kekeh, suaranya penuh kemenangan dan penghinaan, sementara Alya berdiri membeku, dengan anggur merah masih menetes dari ujung rambutnya, hati dan harga dirinya hancur berantakan di lantai bersama pecahan kaca dan anggur. Lidah dan bibirnya berdarah-darah karena bekas pecahan gelas di lantai itu.
****
Pintu ruangan kerja kerja terkunci dengan bunyi keras. Axton langsung berbalik, wajahnya yang biasanya dingin kini memerah oleh amarah dan pengakuan pahit.
"Mama sengaja, kan?" teriaknya, suaranya menggema di ruangan berpanel kayu itu. "Mama tahu dia mirip dengan Chloe, lalu sengaja membawanya ke hadapanku? Aku sudah menikah, Ma! Aku sudah mendapat pengganti Chloe! Nadira! Dia sudah cukup! Jadi tolong, jangan merusak rumah tanggaku!"
Ratri tidak langsung menjawab. Dia berjalan perlahan, jarinya menelusuri punggung kursi kulit yang mewah. Ekspresinya tenang, bahkan sedikit puas melihat ledakan emosi putranya.
"Kalau tidak suka, ya abaikan saja dia." ujar Ratri akhirnya, suaranya datar dan terkendali, sangat kontras dengan Axton. "Fokuslah pada rumah tanggamu. Alya hanyalah sebuah... pilihan. Siapa tahu, kamu mau berpaling dari drama yang selama ini kamu jalani." Dia berhenti di depan Axton dan menepuk pundaknya, sebuah tindakan yang terasa merendahkan.
"Mama!" gertak Axton, menjauhkan diri dari sentuhan ibunya. Rasanya seperti diracuni oleh kata-kata itu.
"Teriaklah!" sergah Ratri, kali ini suaranya meninggi, penuh dengan semua rasa frustrasi yang terpendam selama ini. "Hina Mama sepuasmu, seperti yang selalu kamu lakukan! Mama tahu kamu paham! Kamu tahu bahwa yang dilakukan Nadira salah! Cara dia memperlakukan orang, caranya mengontrolmu, caranya menjauhkanmu dari ibumu sendiri! Tapi kamu memilih untuk buta! Kamu memilih untuk tuli! Semua karena ketakutanmu untuk kehilangan lagi!"
Dia menarik napas dalam, matanya membara. "Tapi sekarang, kamu punya dua pilihan. Dan pilihan barumu..." bisiknya dengan nada menggoda. "Lebih muda, lebih cantik, lebih seksi... dan lebih mirip dengan siapa yang sebenarnya kamu idam-idamkan, bukan? Alya adalah versi dewasa dari Chloe! Bukankah begitu?"
Sebelum Axton bisa membalas, Ratri sudah berbalik dan berjalan ke pintu. Dia melemparkan pandangan terakhir pada putranya yang berdiri terpaku, tubuhnya gemetar oleh konflik batin.
"Pikirkan baik-baik, Nak. Atau jika tidak suka, usirlah! Mama tidak melarang!"
Pintu tertutup. Ratri berdiri sejenak di balik pintu, mendengar suara bentakan frustasi Axton diikuti dengan bunyi pukulan keras ke meja kayu. Suara itu seperti musik baginya, sebuah bukti bahwa rencananya mulai bekerja.
Dia berjalan menyusuri koridor yang sunyi, wajahnya yang tegar akhirnya berubah sendu. Dia sangat terpukul melihat putranya yang hampir kehilangan kewarasan di dalam sana. Ratri harap, Alya berhasil memenangkan hatinya.
*****
Pagi di kediaman Axton dan Alya tidak lagi sepi dan dingin seperti beberapa tahun silu. Kini, koridor megah itu selalu dipenuhi oleh derap langkah kecil dan tawa melengking yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa kantuk siapa pun. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar, memantul di atas lantai marmer, seolah ikut menyambut keriuhan dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta Axton dan Alya.Di ruang makan, Axton sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan di tablet. Namun, fokusnya terpecah saat melihat putra sulungnya, Kai, yang kini sudah duduk di kelas empat sekolah dasar, sedang sibuk memeriksa tas ransel merah muda milik adiknya, Mentari.Mentari, yang baru berusia lima tahun dan duduk di taman kanak-kanak, tampak sibuk mengunyah roti selai stroberinya dengan pipi menggembung. Rambut hitamnya dikuncir dua dengan pita senada, membuatnya terlihat seperti boneka hidup yang sangat menggemaskan."Kakak, tas Tari sudah penuh!" rengek Mentari saat Kai mencoba mem
Matahari pagi menembus tirai lembut kamar suite rumah sakit, menciptakan kolom-kolom cahaya keemasan yang menari-nari di atas lantai. Udara di ruangan itu harum, dipenuhi aroma lili segar yang manis dan bersih. Hadiah pertama Axton pagi itu, kelanjutan dari janji diam-diamnya bahwa kamar Alya tak akan pernah sepi dari kehadiran bunga. Aroma itu seperti sebuah mantra, mengusir sisa-sisa sterilitas rumah sakit yang tidak Alya sukai.Badai besar yang pernah mengoyak-ngoyak jiwa mereka, kini telah menjadi bisikan samar di kejauhan. Kini, mereka sepenuhnya menghuni saat ini, setiap detik, setiap napas, diabadikan untuk cinta yang telah mereka rawat kembali dan janji-janji baru yang mereka rajut bersama.Alya terbaring di atas ranjang, tubuhnya lelah setelah pertempuran malam yang panjang, namun wajahnya memancarkan cahaya tenang dan bahagia. Di dalam dekapan lembutnya, seorang bayi perempuan mungil, kulitnya masih kemerahan dan lembut seperti kelopak mawar, tidur dengan damai. Selimut sut
Satu tahun berlalu sejak badai menerjang Alya dan Axton.Taman belakang rumah mereka, kini mekar dengan keindahan yang damai. Aroma mawar Crimson Glory yang semerbak menyambut setiap embusan angin, seolah membersihkan udara dari racun masa lalu. Di sinilah, di antara kelopak-kelopak merah menyala dan dedaunan hijau subur, sebuah kehidupan baru telah dimulai.Alya, kini resmi Nyonya Axton, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang anggun, melengkapi kulitnya yang bersih dan rambut hitam panjangnya yang tergerai. Ia duduk di bangku taman marmer, mengawasi Kai yang tertawa riang saat berlari mengejar kupu-kupu. Bocah kecil itu telah banyak berubah. Suaranya yang dulu tercekik ketakutan, kini melengking ceria.Trauma yang Nadira tanamkan perlahan menguap, digantikan oleh tawa dan rasa aman yang tak tergoyahkan.Axton menghampiri Alya, memegang cangkir teh hangat untuk istrinya. Senyumnya, dulu seringkali dingin dan penuh perhitungan, kini memancarkan kehangatan yang tulus. Ada kerutan ha
Axton keluar dari ruang perawatan Alya, meninggalkannya yang masih terlelap dalam duka dan pemulihan. Ia berjalan cepat menuju lorong sepi dan memberi isyarat kepada anak buahnya, yang sudah menunggu dengan raut wajah tegang."Jadi Nadira sudah mati?" Axton bertanya, suaranya rendah dan datar, tanpa emosi."Benar, Bos." jawabnya sigap."Bagus." Axton mengusap dagunya seraya memandangi anak buahnya. Kepuasan kecil terlihat di matanya, tetapi itu segera digantikan oleh perhitungan dingin. "Lalu Alex?" Axton kembali bergumam dengan suara pelan."Beliau masih hidup. Sekarang masih belum sadarkan diri di rumah sakit yang berbeda. Kami menempatkan dua orang di sana. Lukanya cukup serius."Keheningan sejenak menggantung. Alex tahu terlalu banyak. Tentang Nadira, tentang flashdisk, tentang transaksi uang, dan yang paling penting, tentang misi menghabisi Nadira yang dia perintahkan. Meskipun Axton berjanji memberi kompensasi, Alex yang hidup adalah risiko jangka panjang bagi kebahagiaan Axton
Axton berdiri di luar ruang UGD, pakaiannya masih kusut dari drama di rumah. Ia mondar-mandir dengan cemas. Hingga, seorang dokter muda menghampirinya, ekspresinya serius dan prihatin."Apa yang terjadi padanya, Dok?" Axton berseru panik, langsung memegang lengan dokter itu.Dokter itu menundukkan kepala sejenak. "Dia terkena racun yang sangat kuat, sejenis zat korosif dosis rendah yang bekerja cepat di sistem pencernaan. Untungnya, perutnya tidak kosong. Sekarang Ibu Alya sudah melewati masa kritis. Kita berhasil menetralkan sebagian besar racunnya.""Racun?""Racun itu pasti dimasukkan ke dalam sesuatu yang ia konsumsi baru-baru ini." potong dokter itu perlahan. "Namun, ada hal lain, Pak Axton. Racun itu juga menyebabkan...""Menyebabkan apa, Dok?" desak Axton, jantungnya berdebar."Dia keguguran. Sekarang Ibu Alya sedang menjalani prosedur kuretase darurat untuk membersihkan sisa jaringan." Dokter itu mencoba menguatkan. "Sekali lagi, saya turut berduka cita."Keheningan melanda Ax
Udara di ruang keluarga yang megah itu mendadak membeku. Alex berdiri di tengah ruangan dengan bahu tegak namun ekspresi hancur. Di tangannya, sebuah flashdisk perak berkilau bagai pisau kecil yang siap menikam."Aku sudah memulihkan semua CCTV yang dihapus." ujarnya, suara datar namun bergetar halus. Dia menatap Axton, lalu menunduk. "Tapi sebelum itu... aku mau minta maaf. Maaf karena telah mengkhianati persahabatan kita. Selama beberapa tahun terakhir, aku... berselingkuh dengan istrimu."Kalimat itu menggantung di udara. Nadira membeku di tempat duduknya, wajahnya yang biasanya begitu mahir berpura-pura kini pucat membiru, mata membelalak tak percaya. Alex? Berkhianat?"Dia bohong!" teriak Nadira tiba-tiba, melompat dari kursinya. "Dia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri! Dia yang merayu aku! Dia...""Dan untuk semua kejahatannya, aku tidak ikut serta. Termasuk saat dia sengaja menjatuhkan diri di tangga dan menyakiti putramu. Aku cuma dibayar untuk menghapus rekamannya. Itu







