로그인Dengan napas tertahan, Alya menyentuh bibirnya yang terluka. Rasa perih dan sensasi logam darah masih terasa jelas. Lidahnya yang pecah-pecah menjadi bukti nyata kekejaman Nadira.
Perintah biadab untuk membersihkan genangan wine di lantai dan serpihan kaca hanya dengan mulutnya.
"Sudah kuduga!" gumamnya lirih, membersihkan sisa darah di sudut mulutnya. "Menerima tawaran ini berarti masuk ke dalam neraka. Tapi aku harus bertahan. Aku harus mencari cara untuk melawan, tidak boleh gegabah."
Setelah mengenakan seragam maid yang terlihat sangat mencolok dan membentuk lekuk tubuhnya. Alya menarik napas dalam dan membuka pintu kamar pelayannya yang lumayan luas dan nyaman. Karena dia satu-satunya maid yang diperbolehkan Ratri menginap di rumah utama.
Langkahnya tegas meski hati berdebar, menuju kamar Kai untuk menjalankan tugas pertamanya. Di koridor, ia berpapasan dengan sekelompok maid lain yang seragamnya lebih sederhana. Tatapan mereka penuh curiga, membuat Alya merasa seperti ikan di akuarium. Seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam menghadangnya.
"Anak baru? Kalau begitu perkenalkan, aku Denna, kepala pelayan di sini. Sekarang bantu...."
"Tugasku hanya melayani Tuan Muda Kai." potong Alya dengan sopan namun tegas, sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Dari sorot mata Denna yang menyipit, jelas ia tak menyukai bantahan ini.
"Siapapun kamu, kamu harus mendengarkan perintahku!" bentak Denna, mencoba menegaskan wibawa.
Tapi Alya tak gentar. "Kalau begitu, silakan tanya pada Nyonya Ratri. Dialah yang membayar gajiku dan memberi tugas khusus." Ia sedikit mendekat, suaranya berbisik tapi penuh penekanan. "Kamu hanya kepala pelayan, kan? Jangan banyak bicara!"
Wajah Denna memerah marah, tapi Alya sudah berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju dapur. Ia bisa merasakan tatapan tajam para maid lainnya mengikuti setiap gerak-geriknya.
Di dapur megah yang serba stainless steel, Alya bekerja dengan tenang di tengah tatapan sinis. Dengan cekatan ia menyiapkan adonan pancake, memanaskan wajan, dan menuangkan susu segar ke dalam gelas kristal. Tak lupa ia mengambil potongan strawberry segar dari kulkas.
Sementara maid lain sibuk dengan tugas mereka, Alya menyelesaikan sarapan Kai dengan sempurna. Sepiring pancake golden brown dengan hiasan strawberry dan madu, ditemani segelas susu dingin. Ia membawanya ke atas nampan perak, lalu berjalan menuju kamar Kai.
Sambil menaiki tangga marmer, hati Alya berdebar-debar. Ini adalah pertempuran pertamanya melawan hierarki para pelayan, melawan kekejaman Nadira, dan melawan ketakutan dalam dirinya sendiri.
"Entah apalagi yang akan aku hadapi hari ini, tapi aku sudah punya beberapa rencana dari segala kemungkinan yang akan terjadi." lirihnya.
*****
Setelah sampai di kamar Kai, Alya menaruh nampan di meja. Pancake buatannya melayang lembut di udara. Ia tersenyum melihat bocah tampan itu masih terlelap di bawah selimut biru muda.
Ada damai yang terpancar dari wajahnya, damai yang membuat hati Alya terasa diremas rasa bersalah. Dalam hitungan bulan, ia mungkin akan menjadi perusak rumah tangga ini. Itu bagian dari rencana dan tugas yang harus ia jalankan.
"Sayang, bangunlah. Kita mandi, lalu sarapan ya?"
Kai, bocah empat tahun dengan pipi bulat dan rambut berantakan, mengucek mata pelan. Ia memandang Alya dengan tatapan polos lalu duduk tegak.
"Apa kamu suster baruku?" tanyanya ringan, tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Benar, Tuan Muda. Kita mandi dulu ya, lalu sarapan." Alya menyunggingkan senyum hangat. Pengalaman menjadi pengasuh anak part time membuatnya tahu bagaimana menenangkan dan meraih hati anak kecil tanpa terlihat berlebihan.
Kai bangkit dan merentangkan tangan, meminta gendong. Alya mengangkatnya dengan lembut.
"Aku nanti boleh main bebek mainanku dulu?"
"Boleh. Tapi sebentar saja, ya? Nanti masuk angin!" Alya mengusap pipinya. Bocah itu langsung bersorak bahagia.
Di kamar mandi, Alya menyiapkan air hangat di bathtub. Gemericik air terdengar menenangkan. Namun belum sempat ia berdiri, cipratan air menghantamnya. Kai tertawa keras saat sebagian tubuh Alya basah kuyup. Seragamnya menempel, kulitnya terasa dingin.
"Sayang, tidak boleh begitu." ucapnya lembut, masih tersenyum.
"Bibirmu kenapa? Apa sakit?" Kai mengganti topik sambil mengernyit.
Alya belum menjawab ketika pintu kamar mandi terbuka. Ia menoleh... lalu terpaku.
Axton berdiri di sana memakai bathrobe pendek. Dada bidangnya terlihat, tubuhnya tinggi, rahangnya tegas, tatapannya yang tajam seolah menembus jiwanya.
"Kai suka bermain air. Maaf jika dia membuatmu basah." katanya datar.
"Tidak masalah." sahut Alya cepat.
"Bibirmu kenapa?" Axton memicingkan mata, kali ini lebih serius. Tatapannya menelusuri bibir Alya yang pecah-pecah dan merah seperti terbakar.
"Alergi, Tuan." Alya menunduk sambil meremas jarinya. Sedikit gemetar. Itu bukan akting, memori malam dimana ia diminta membersihkan genangan wine dan kaca dengan mulutnya cukup mengerikan.
"Aku juga nanya, Pa. Bibirnya kenapa? Pasti sakit." Kai ikut bersuara sambil bermain air.
"Tidak, sungguh. Hanya alergi!" ulang Alya.
Axton mendekat tanpa suara. Aroma shower gelnya menguar. Aroma yang maskulin, tenang, aroma yang mampu membuat dada Alya berdebar tidak karuan. Nafas mereka bahkan hampir bersentuhan.
Axton menyentuh dagunya, mengangkat wajahnya. Ujung jarinya menyentuh bibir Alya, memeriksa dengan seksama.
Lidah Alya tampak terluka. Luka-luka kecil seperti bekas sengaja digores.
Axton ingin bertanya, namun pintu terbuka keras. Nadira masuk dengan tatapan membara.
Alya langsung tersentak mundur. Tapi, Nadira tidak memberi kesempatan.
"Dasar sialan. Penggoda! Kamu bilang apa ke Axton? Mau memfitnah aku melukaimu?" Nadira menarik rambut Alya dan mendorongnya keras ke tembok. Kepala Alya terantuk lantai dan air mata langsung mengalir.
"Kamu ini apa-apaan?" Axton mencoba meredam, tapi Nadira tak berhenti.
"Dia fitnah aku, kan? Fitnah aku lukain dia? Alya mau cari perhatian kamu? Dasar wanita hina!" Nadira mengangkat tangannya untuk menampar.
Axton langsung menahan pergelangan tangan istrinya. Tatapannya berubah gelap.
"Dia bilang alergi. Dia tidak menyebutmu sedikit pun. Jadi apa kamu pelakunya?"
"Kamu bela dia?" Nadira melotot, suaranya memekakkan telinga. "Kamu bermesraan di sini?" Ia menendang tubuh Alya brutal. Kai langsung menangis keras melihat kekerasan itu.
"Kenapa Mama selalu kasar dan marah-marah?" Kai merintih dalam ketakutan.
Axton menarik napas panjang. "Di sini ada Kai. Apa yang bisa kami lakukan? Bercinta?" desisnya dingin sambil menarik Nadira keluar kamar mandi.
"Alya, maafkan istriku. Nanti aku bawa ke dokter. Kamu bantu tenangkan Kai."
"Kamu bela dia? Kamu tidak sayang aku lagi?" teriak Nadira histeris dari koridor. Axton tetap menyeretnya menjauh.
Alya menggigil saat memeluk Kai yang menangis tersedu-sedu. Tubuhnya remuk, pipinya memar, bahunya sakit. Nadira benar-benar monster.
"Mama memang selalu marah." bisik Kai lemah. "Aku takut..."
Alya mengusap rambutnya. "Tidak apa, Kai. Sudah aman."
Namun di balik pelukannya yang lembut, pikirannya memutar balik memori. Alya memang sudah melihat bayangan Nadira dari pantulan kaca. Itu sebabnya ia tidak mundur saat Axton mendekatinya. Ia tahu Nadira akan terpancing. Ia tahu Nadira akan kehilangan kendali.
Dan itu bagian dari rencana.
Meski begitu... ia tetap menatap bocah kecil itu dengan rasa iba. Karena dalam permainan ini, Alya hanya ingin menjatuhkan satu orang, Nadira. Kai tidak seharusnya ikut terluka.
*****
Pagi di kediaman Axton dan Alya tidak lagi sepi dan dingin seperti beberapa tahun silu. Kini, koridor megah itu selalu dipenuhi oleh derap langkah kecil dan tawa melengking yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa kantuk siapa pun. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar, memantul di atas lantai marmer, seolah ikut menyambut keriuhan dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta Axton dan Alya.Di ruang makan, Axton sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan di tablet. Namun, fokusnya terpecah saat melihat putra sulungnya, Kai, yang kini sudah duduk di kelas empat sekolah dasar, sedang sibuk memeriksa tas ransel merah muda milik adiknya, Mentari.Mentari, yang baru berusia lima tahun dan duduk di taman kanak-kanak, tampak sibuk mengunyah roti selai stroberinya dengan pipi menggembung. Rambut hitamnya dikuncir dua dengan pita senada, membuatnya terlihat seperti boneka hidup yang sangat menggemaskan."Kakak, tas Tari sudah penuh!" rengek Mentari saat Kai mencoba mem
Matahari pagi menembus tirai lembut kamar suite rumah sakit, menciptakan kolom-kolom cahaya keemasan yang menari-nari di atas lantai. Udara di ruangan itu harum, dipenuhi aroma lili segar yang manis dan bersih. Hadiah pertama Axton pagi itu, kelanjutan dari janji diam-diamnya bahwa kamar Alya tak akan pernah sepi dari kehadiran bunga. Aroma itu seperti sebuah mantra, mengusir sisa-sisa sterilitas rumah sakit yang tidak Alya sukai.Badai besar yang pernah mengoyak-ngoyak jiwa mereka, kini telah menjadi bisikan samar di kejauhan. Kini, mereka sepenuhnya menghuni saat ini, setiap detik, setiap napas, diabadikan untuk cinta yang telah mereka rawat kembali dan janji-janji baru yang mereka rajut bersama.Alya terbaring di atas ranjang, tubuhnya lelah setelah pertempuran malam yang panjang, namun wajahnya memancarkan cahaya tenang dan bahagia. Di dalam dekapan lembutnya, seorang bayi perempuan mungil, kulitnya masih kemerahan dan lembut seperti kelopak mawar, tidur dengan damai. Selimut sut
Satu tahun berlalu sejak badai menerjang Alya dan Axton.Taman belakang rumah mereka, kini mekar dengan keindahan yang damai. Aroma mawar Crimson Glory yang semerbak menyambut setiap embusan angin, seolah membersihkan udara dari racun masa lalu. Di sinilah, di antara kelopak-kelopak merah menyala dan dedaunan hijau subur, sebuah kehidupan baru telah dimulai.Alya, kini resmi Nyonya Axton, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang anggun, melengkapi kulitnya yang bersih dan rambut hitam panjangnya yang tergerai. Ia duduk di bangku taman marmer, mengawasi Kai yang tertawa riang saat berlari mengejar kupu-kupu. Bocah kecil itu telah banyak berubah. Suaranya yang dulu tercekik ketakutan, kini melengking ceria.Trauma yang Nadira tanamkan perlahan menguap, digantikan oleh tawa dan rasa aman yang tak tergoyahkan.Axton menghampiri Alya, memegang cangkir teh hangat untuk istrinya. Senyumnya, dulu seringkali dingin dan penuh perhitungan, kini memancarkan kehangatan yang tulus. Ada kerutan ha
Axton keluar dari ruang perawatan Alya, meninggalkannya yang masih terlelap dalam duka dan pemulihan. Ia berjalan cepat menuju lorong sepi dan memberi isyarat kepada anak buahnya, yang sudah menunggu dengan raut wajah tegang."Jadi Nadira sudah mati?" Axton bertanya, suaranya rendah dan datar, tanpa emosi."Benar, Bos." jawabnya sigap."Bagus." Axton mengusap dagunya seraya memandangi anak buahnya. Kepuasan kecil terlihat di matanya, tetapi itu segera digantikan oleh perhitungan dingin. "Lalu Alex?" Axton kembali bergumam dengan suara pelan."Beliau masih hidup. Sekarang masih belum sadarkan diri di rumah sakit yang berbeda. Kami menempatkan dua orang di sana. Lukanya cukup serius."Keheningan sejenak menggantung. Alex tahu terlalu banyak. Tentang Nadira, tentang flashdisk, tentang transaksi uang, dan yang paling penting, tentang misi menghabisi Nadira yang dia perintahkan. Meskipun Axton berjanji memberi kompensasi, Alex yang hidup adalah risiko jangka panjang bagi kebahagiaan Axton
Axton berdiri di luar ruang UGD, pakaiannya masih kusut dari drama di rumah. Ia mondar-mandir dengan cemas. Hingga, seorang dokter muda menghampirinya, ekspresinya serius dan prihatin."Apa yang terjadi padanya, Dok?" Axton berseru panik, langsung memegang lengan dokter itu.Dokter itu menundukkan kepala sejenak. "Dia terkena racun yang sangat kuat, sejenis zat korosif dosis rendah yang bekerja cepat di sistem pencernaan. Untungnya, perutnya tidak kosong. Sekarang Ibu Alya sudah melewati masa kritis. Kita berhasil menetralkan sebagian besar racunnya.""Racun?""Racun itu pasti dimasukkan ke dalam sesuatu yang ia konsumsi baru-baru ini." potong dokter itu perlahan. "Namun, ada hal lain, Pak Axton. Racun itu juga menyebabkan...""Menyebabkan apa, Dok?" desak Axton, jantungnya berdebar."Dia keguguran. Sekarang Ibu Alya sedang menjalani prosedur kuretase darurat untuk membersihkan sisa jaringan." Dokter itu mencoba menguatkan. "Sekali lagi, saya turut berduka cita."Keheningan melanda Ax
Udara di ruang keluarga yang megah itu mendadak membeku. Alex berdiri di tengah ruangan dengan bahu tegak namun ekspresi hancur. Di tangannya, sebuah flashdisk perak berkilau bagai pisau kecil yang siap menikam."Aku sudah memulihkan semua CCTV yang dihapus." ujarnya, suara datar namun bergetar halus. Dia menatap Axton, lalu menunduk. "Tapi sebelum itu... aku mau minta maaf. Maaf karena telah mengkhianati persahabatan kita. Selama beberapa tahun terakhir, aku... berselingkuh dengan istrimu."Kalimat itu menggantung di udara. Nadira membeku di tempat duduknya, wajahnya yang biasanya begitu mahir berpura-pura kini pucat membiru, mata membelalak tak percaya. Alex? Berkhianat?"Dia bohong!" teriak Nadira tiba-tiba, melompat dari kursinya. "Dia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri! Dia yang merayu aku! Dia...""Dan untuk semua kejahatannya, aku tidak ikut serta. Termasuk saat dia sengaja menjatuhkan diri di tangga dan menyakiti putramu. Aku cuma dibayar untuk menghapus rekamannya. Itu