Mag-log in"Sekarang kamu mengerti perasaanku, bukan? Kamu sudah melihat sendiri kegilaannya?" Ratri berdiri di ambang pintu, tangan bersilang, menatap Alya yang sedang duduk di depan cermin dan dengan hati-hati mengoleskan salep pada bibirnya yang masih bengkak. Sorot matanya tajam, memancarkan kepuasan.
"Dia benar-benar tidak punya hati." gumam Alya, tanpa menoleh. Mereka membicarakan Nadira, tapi yang ada di kepala Alya saat ini adalah Axton.
Jari-jemarinya dengan lembut menyentuh bekas ciuman Axton yang tersisa di bibirnya. Sensasi itu masih terasa membara.
"Tapi kamu pintar." sambung Ratri, mendekat. Suaranya berbisik, penuh pujian yang manipulatif. "Sangat pintar mengatur strategi. Aku sangat puas melihat Nadira kalah darimu tadi siang. Sudah kuduga, Axton akan segera berpaling padamu!"
Alya akhirnya menatap Ratri melalui bayangan cermin. "Seperti yang kamu bilang, Tante. Aku harus menggunakan strategi, bukan kekerasan."
Pikiran Alya saat ini masih melayang pada momen di dalam mobil. Kehangatan lidah Axton, desisannya yang penuh gairah, dan kerentanan yang terpancar dari mata pria itu. Itu adalah kemenangan kecilnya.
Ratri tersenyum, membaca pikiran Alya. "Jadi, apa saja kemajuannya? Dan bagaimana menurutmu? Putraku cukup tampan, bukan? Apa kesempatan berdua sudah kamu gunakan dengan baik?" godanya.
Alya menunduk, pura-pura malu. "Cukup tampan." akunya pelan. Kemudian, dia mengangkat wajah, menunjukkan keraguan yang dipelajarinya dengan baik. "Tapi... aku sedikit takut jika dia kambuh, Tante. Apa dia tidak mau menemui psikolog untuk menyembuhkan kondisinya?"
"Sudah berkali-kali." jawab Ratri dengan gerakan tangan frustrasi. "Tapi tidak pernah ada hasil yang berarti. Dia keras kepala dan menolak sembuh."
Sebelum percakapan berlanjut, suara kecil yang mengantuk memecahkan konsentrasi mereka.
"Nenek, aku mau tidur sama Kakak Alya, boleh?" Kai berdiri di pintu dengan piyama beruangnya, matanya berkaca-kaca. "Aku mimpi buruk."
Ratri dan Alya saling memandang, sebuah percakapan bisu terjadi di antara mereka dalam sekejap. "Boleh, sayang!" sahut Alya dengan segera, membuka pelukannya. Kai langsung berlari dan meringkuk di pangkuannya.
"Mimpi apa, sayang?" tanya Alya, membelai rambut anak itu.
"Ada hantu brokoli! Besar sekali!" Kai menjerit ketakutan.
Ratri memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyumnya, sementara Alya berusaha menahan tawa. Ratri juga memilih pergi karena takut ada yang memergoki mereka berbicara selarut ini.
"Hantu brokoli? Seperti apa itu?"
"Bentuknya brokoli, tapi punya kaki banyak! Dia mau makan Kai!" peluk anak itu semakin erat. "Kakak temani Kai terus, ya?"
Alya tahu ini hanya akal-akalan Kai yang kesepian, tapi hatinya tetap tergerak. Siapa yang tidak meleleh dengan sikap manisnya? "Iya, Kakak temani." bisiknya, mencium kening bocah itu.
Saat Alya menggendong Kai menuju kamarnya, Nadira tiba-tiba muncul secara tiba-tiba. Wajahnya merah padam, matanya penuh kebencian. Keberaniannya muncul karena yakin Axton sudah tertidur pulas setelah meminum obat tidur.
"Turunkan anakku!" bentaknya, merenggut Kai dari pelukan Alya dengan kasar. Anak itu langsung menangis.
"Tapi Mama, aku mau tidur sama Kakak Alya!"
"Dia bukan kakak-mu! Dia babu! Pelayan!" hardik Nadira, mendorong Kai ke arah kamarnya. "Tidur sendiri! Kamu sudah besar! Latihan mandiri!"
Sebelum Alya bisa bereaksi, Nadira sudah menyeretnya dengan brutal menuju kolam renang di belakang rumah. Malam itu gelap, hanya diterangi lampu taman yang remang-remang.
"Lihat kolam ini?" tunjuk Nadira pada kolam renang olympic yang airnya sudah keruh dan dipenuhi daun-daun kering. "Aku tidak peduli caranya. Kuras dan bersihkan kolam ini sampai kinclong!"
Alya terkesiap. "Tapi... ini terlalu besar, Nyonya. Sendirian..."
"Bersihkan!" pekik Nadira, mendorong Alya begitu keras hingga tubuhnya nyaris tercebur. Dengan cepat, Nadira menangkap rambut Alya dan menenggelamkan kepala wanita itu ke dalam air. Alya terbatuk-batuk, berjuang untuk bernapas.
"Puas?!" desis Nadia di telinganya, sambil mendorong kepala Alya lebih dalam. "Puas kamu menggoda suamiku hari ini? Dasar pelacur! Ini hukumannya!"
Dia menarik kepala Alya kembali, membiarkannya terbatuk-batuk. "Kamu harus selesai sebelum fajar. Mengerti? Sebelum suamiku bangun."
Alya terengah-engah, air kotor menetes dari rambut dan wajahnya. Tapi di balik rasa tercekik dan ketakutan, matanya menatap tajam ke arah jendela kamar Kai. Di balik tirai, sepasang mata kecil yang ketakutan mengintip, menyaksikan semua kekejaman ibunya.
Bagus, pikir Alya, sambil berdiri dengan gemetar. Rasa sakit dan penghinaan ini tidak akan sia-sia. Adegan ini memiliki saksi kecilnya. Dan besok, ketika Axton mengetahui hal ini, ledakannya akan jauh lebih dahsyat. Nadira baru saja menggali kuburannya sendiri.
Menjadi lemah, tidak selalu akan kalah.
*****
Dengan tubuh yang masih lemas dan mata berkantung, Alya berusaha tersenyum cerah saat menuntun Kai yang sudah bersih dan wangi ke meja makan. Meski tangannya masih gemetar akibat kelelahan semalaman, dengan cekatan ia menyiapkan piring berisi bola-bola nasi nori, daging teriyaki, dan sayuran rebus yang ditata menarik.
"Terima kasih, Kakak!" Kai menyambar makanannya dengan girang. "Masakan Kakak paling enak!"
Ratri yang duduk di ujung meja menyembunyikan senyum puas di balik tegukan tehnya. Cucunya kini tampak lebih ceria dan sehat. Keputusannya membawa Alya ke rumah ini ternyata tepat. Dan dari sorot mata Alya yang teduh namun berisi tegas, Ratri yakin wanita itu sudah menyusun rencana balas dendam atas penghinaan tadi malam.
"Tolong tuangkan teh hijauku, dong!" pinta Nadira tiba-tiba dengan senyum getir. Matanya menantang.
Alya mengangguk patuh. Dengan langkah pelan, ia mendekati Nadira dan mulai menuangkan teh hangat ke cangkir. Tiba-tiba, dengan gerakan halus yang disengaja, Nadira menyenggol siku Alya. Cairan panas itu tumpah membasahi tangan Nadira.
"Aduh! Panas! Kamu ini bagaimana sih?" Nadira berteriak dramatis, meski sebenarnya teh itu tidak cukup panas untuk melukai.
"Sayang!" Axton segera bangkit dan memeriksa tangan istrinya. "Alya, kamu harus lebih hati-hati!" hardiknya pada Alya yang sudah terduduk kembali di kursinya.
"Maaf Tuan." bisik Alya menunduk, menyembunyikan pandangannya.
"Lihat, tangan istriku sampai merah! Bagaimana kalau suatu hari nanti Kai yang kena?" tuduh Axton, masih dengan suara tinggi.
Nadira menyunggingkan senyum kemenangan. Ternyata suaminya masih di pihaknya. Wanita rendahan ini tetap bukan apa-apa dibandingkannya.
Tapi kemudian, suara kecil yang polos memecah kesunyian.
"Tapi mungkin Kakak Alya capek sekali, Pa!" celoteh Kai sambil mengunyah bola nasi. "Dia semalaman disuruh Mama bersihkan kolam renang sampai pagi."
Seketika, suasana di meja makan berubah drastis. Udara seakan membeku.
Axton memutar tubuhnya perlahan, matanya menyipit menatap putranya. "Apa maksudmu, Nak?"
Dengan suara jelas dan polos, Kai menjawab. "Mama marah-marah dan suruh Kakak Alya bersihkan kolam yang besar itu sendirian. Aku lihat dari jendela. Mama mendorong-dorong Kakak sampai hampir jatuh ke kolam!"
Dengan wajah pucat membiru, Nadira berusaha menyelamatkan situasi. "Dia mengajari putraku untuk memfitnahku! Kamu lihat sendiri, Sayang? Pecat dia sekarang juga! Dia telah meracuni pikiran Kai!"
Tapi Kai kecil justru semakin keras membela Alya dengan tingkah polos dan jujurnya. "Kakak tidak mengajariku apa-apa! Aku melihatnya sendiri! Mama memang jahat! Mama selalu marah-marah!" tangisnya pecah sebelum akhirnya ia turun dari kursi dan berlari kecil menuju kamarnya.
Di balik air mata yang dipaksakan, Alya menyembunyikan senyum tipis kepuasan. Strateginya sekali lagi berhasil.
"Senyum? Kamu tersenyum?!" teriak Nadira yang menangkap perubahan ekspresi halus itu. Dengan amukan, ia bangkit dan menjambak rambut Alya. "Kamu pasti yang mengatur semua ini! Meracuni anakku!"
"Kamu yang gila!" Ratri segera membela, menarik tangan Nadira. "Lepaskan dia!"
Alya semakin memainkan perannya dengan terisak-isak. "Saya tidak bicara apa-apa kepada Tuan Kecil, Nyonya. Sungguh!"
"Usir dia, Axton!" Nadira berteriak histeris pada suaminya yang masih terduduk diam, wajahnya keruh seperti memikirkan segala sesuatu.
Axton akhirnya berdiri. Suasana ruangan langsung tegang. "Cukup!" bentaknya, suaranya menggelegar. Semua terdiam.
"Dengan tegas dan penuh wibawa, ia melanjutkan. "Kita akan melihat rekaman CCTV terlebih dahulu untuk membuktikan apakah ini fitnah atau bukan." Matanya yang tajam menatap Nadira, lalu beralih ke Alya yang masih terisak.
"Jika terbukti ini adalah fitnah, dan kamu menghasut Kai...." tatapannya menancap dalam pada Alya. "Aku akan mengusirmu."
*****
Pagi di kediaman Axton dan Alya tidak lagi sepi dan dingin seperti beberapa tahun silu. Kini, koridor megah itu selalu dipenuhi oleh derap langkah kecil dan tawa melengking yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa kantuk siapa pun. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar, memantul di atas lantai marmer, seolah ikut menyambut keriuhan dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta Axton dan Alya.Di ruang makan, Axton sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan di tablet. Namun, fokusnya terpecah saat melihat putra sulungnya, Kai, yang kini sudah duduk di kelas empat sekolah dasar, sedang sibuk memeriksa tas ransel merah muda milik adiknya, Mentari.Mentari, yang baru berusia lima tahun dan duduk di taman kanak-kanak, tampak sibuk mengunyah roti selai stroberinya dengan pipi menggembung. Rambut hitamnya dikuncir dua dengan pita senada, membuatnya terlihat seperti boneka hidup yang sangat menggemaskan."Kakak, tas Tari sudah penuh!" rengek Mentari saat Kai mencoba mem
Matahari pagi menembus tirai lembut kamar suite rumah sakit, menciptakan kolom-kolom cahaya keemasan yang menari-nari di atas lantai. Udara di ruangan itu harum, dipenuhi aroma lili segar yang manis dan bersih. Hadiah pertama Axton pagi itu, kelanjutan dari janji diam-diamnya bahwa kamar Alya tak akan pernah sepi dari kehadiran bunga. Aroma itu seperti sebuah mantra, mengusir sisa-sisa sterilitas rumah sakit yang tidak Alya sukai.Badai besar yang pernah mengoyak-ngoyak jiwa mereka, kini telah menjadi bisikan samar di kejauhan. Kini, mereka sepenuhnya menghuni saat ini, setiap detik, setiap napas, diabadikan untuk cinta yang telah mereka rawat kembali dan janji-janji baru yang mereka rajut bersama.Alya terbaring di atas ranjang, tubuhnya lelah setelah pertempuran malam yang panjang, namun wajahnya memancarkan cahaya tenang dan bahagia. Di dalam dekapan lembutnya, seorang bayi perempuan mungil, kulitnya masih kemerahan dan lembut seperti kelopak mawar, tidur dengan damai. Selimut sut
Satu tahun berlalu sejak badai menerjang Alya dan Axton.Taman belakang rumah mereka, kini mekar dengan keindahan yang damai. Aroma mawar Crimson Glory yang semerbak menyambut setiap embusan angin, seolah membersihkan udara dari racun masa lalu. Di sinilah, di antara kelopak-kelopak merah menyala dan dedaunan hijau subur, sebuah kehidupan baru telah dimulai.Alya, kini resmi Nyonya Axton, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang anggun, melengkapi kulitnya yang bersih dan rambut hitam panjangnya yang tergerai. Ia duduk di bangku taman marmer, mengawasi Kai yang tertawa riang saat berlari mengejar kupu-kupu. Bocah kecil itu telah banyak berubah. Suaranya yang dulu tercekik ketakutan, kini melengking ceria.Trauma yang Nadira tanamkan perlahan menguap, digantikan oleh tawa dan rasa aman yang tak tergoyahkan.Axton menghampiri Alya, memegang cangkir teh hangat untuk istrinya. Senyumnya, dulu seringkali dingin dan penuh perhitungan, kini memancarkan kehangatan yang tulus. Ada kerutan ha
Axton keluar dari ruang perawatan Alya, meninggalkannya yang masih terlelap dalam duka dan pemulihan. Ia berjalan cepat menuju lorong sepi dan memberi isyarat kepada anak buahnya, yang sudah menunggu dengan raut wajah tegang."Jadi Nadira sudah mati?" Axton bertanya, suaranya rendah dan datar, tanpa emosi."Benar, Bos." jawabnya sigap."Bagus." Axton mengusap dagunya seraya memandangi anak buahnya. Kepuasan kecil terlihat di matanya, tetapi itu segera digantikan oleh perhitungan dingin. "Lalu Alex?" Axton kembali bergumam dengan suara pelan."Beliau masih hidup. Sekarang masih belum sadarkan diri di rumah sakit yang berbeda. Kami menempatkan dua orang di sana. Lukanya cukup serius."Keheningan sejenak menggantung. Alex tahu terlalu banyak. Tentang Nadira, tentang flashdisk, tentang transaksi uang, dan yang paling penting, tentang misi menghabisi Nadira yang dia perintahkan. Meskipun Axton berjanji memberi kompensasi, Alex yang hidup adalah risiko jangka panjang bagi kebahagiaan Axton
Axton berdiri di luar ruang UGD, pakaiannya masih kusut dari drama di rumah. Ia mondar-mandir dengan cemas. Hingga, seorang dokter muda menghampirinya, ekspresinya serius dan prihatin."Apa yang terjadi padanya, Dok?" Axton berseru panik, langsung memegang lengan dokter itu.Dokter itu menundukkan kepala sejenak. "Dia terkena racun yang sangat kuat, sejenis zat korosif dosis rendah yang bekerja cepat di sistem pencernaan. Untungnya, perutnya tidak kosong. Sekarang Ibu Alya sudah melewati masa kritis. Kita berhasil menetralkan sebagian besar racunnya.""Racun?""Racun itu pasti dimasukkan ke dalam sesuatu yang ia konsumsi baru-baru ini." potong dokter itu perlahan. "Namun, ada hal lain, Pak Axton. Racun itu juga menyebabkan...""Menyebabkan apa, Dok?" desak Axton, jantungnya berdebar."Dia keguguran. Sekarang Ibu Alya sedang menjalani prosedur kuretase darurat untuk membersihkan sisa jaringan." Dokter itu mencoba menguatkan. "Sekali lagi, saya turut berduka cita."Keheningan melanda Ax
Udara di ruang keluarga yang megah itu mendadak membeku. Alex berdiri di tengah ruangan dengan bahu tegak namun ekspresi hancur. Di tangannya, sebuah flashdisk perak berkilau bagai pisau kecil yang siap menikam."Aku sudah memulihkan semua CCTV yang dihapus." ujarnya, suara datar namun bergetar halus. Dia menatap Axton, lalu menunduk. "Tapi sebelum itu... aku mau minta maaf. Maaf karena telah mengkhianati persahabatan kita. Selama beberapa tahun terakhir, aku... berselingkuh dengan istrimu."Kalimat itu menggantung di udara. Nadira membeku di tempat duduknya, wajahnya yang biasanya begitu mahir berpura-pura kini pucat membiru, mata membelalak tak percaya. Alex? Berkhianat?"Dia bohong!" teriak Nadira tiba-tiba, melompat dari kursinya. "Dia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri! Dia yang merayu aku! Dia...""Dan untuk semua kejahatannya, aku tidak ikut serta. Termasuk saat dia sengaja menjatuhkan diri di tangga dan menyakiti putramu. Aku cuma dibayar untuk menghapus rekamannya. Itu







