LOGINAxton memijit pelipis, rahangnya mengeras saat menatap layar CCTV. Rekaman itu terus berulang.
Nadira mendorong Alya hingga tersungkur, memintanya menjilat lantai, menyeret rambutnya, menyuruhnya membersihkan pecahan beling dengan mulutnya. Alya merangkak sambil menggigil, darah menetes dari bibirnya, namun ia tetap patuh karena ketakutan.
Setiap detik rekaman itu membuat dada Axton seperti diremas. Rasanya seperti kembali ke masa kecil. Saat ia menyaksikan Chloe menangis ketakutan, sebelum akhirnya gadis itu mati karena menyelamatkannya.
Sensasi itu sama. Luka itu sama. Ia kembali merasa gagal melindungi seseorang yang tidak bersalah.
Di ruangan yang sama, dokter sedang mensterilkan luka Alya. Gadis itu duduk diam di sofa kulit, bahunya turun, wajahnya pucat seperti kertas. Luka sobek di bibirnya membuatnya sulit berbicara. Namun yang paling menusuk Axton bukan luka itu, melainkan wajah Alya.
Wajah yang sama, seolah seperti Chloe hidup lagi.
Axton menunduk dalam, meremas dahinya. Ia tidak boleh lemah. Ia sudah memilih Nadira. Ia sudah menikahinya, menjadikannya pengganti yang paling mendekati Chloe. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti mencari bayangan yang telah mati.
Namun Alya... Alya membuat semua tekad itu retak.
Cara gadis itu menunduj, caranya bernapas, ketakutan lembut di matanya, aenyum rapuhnya... semua itu Chloe.
Axton menutup mata sejenak, menahan gejolak yang hampir meledak. Ia harus kuat. Ia tidak boleh goyah. Nadira adalah istrinya. Nadira adalah pilihan yang sudah ia buat bertahun lalu.
Jika ia Ingin mencari pengganti yang mirip Chloe, pasti akan ada jutaan. Tidak mungkin Axton akan goyah setiap saat.
Tapi detak jantungnya berontak setiap kali menatap Alya. Dia terlalu mirip, seperti duplikat.
Tubuhnya mengirim sinyal yang bertentangan dengan moralnya. Dan itu membuatnya membenci dirinya sendiri.
"Lidahnya terluka cukup parah, begitu juga bibirnya." Dokter itu menjelaskan. "Untungnya tidak sampai infeksi. Tapi saya sarankan ia tidak makan makanan keras beberapa hari ke depan."
Axton mengangguk perlahan, tapi pikirannya tersedot pada Alya. Cara gadis itu duduk dengan tangan gemetar.
Seragam maid-nya yang robek sedikit di pinggir, menampakkan kulit pahanya yang lembut, rambutnya yang berantakan akibat ditarik Nadira.
Dia tampak rapuh. Sangat rapuh. Dan itu menghantam Axton seperti pukulan.
Ia ingin marah. Ia ingin berteriak. Ia ingin menampar dirinya sendiri karena membiarkan kekerasan itu terjadi di rumahnya.
Tapi yang paling ia benci adalah kenyataan bahwa melihat Alya seperti itu membuatnya ingin menarik gadis itu ke pelukannya. Melindunginya, menenangkannya.
Menyentuh wajah yang ia kenal dalam mimpi-mimpi traumanya, Chloe.
Wajah itu seperti bereinkarnasi. Menghantuinya melalui wanita muda yang kini duduk tak berdaya di depannya.
Axton meremas tepi meja hingga buku jarinya memutih. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Sekarang, godaan paling berbahaya muncul dalam hidupnya.
Dan ia takut, jika ia terus menatap gadis itu, ia tidak akan mampu untuk berpaling.
****
Dengan langkah berat, mereka meninggalkan rumah sakit. Sunyi yang menyelimuti perjalanan menuju parkiran terasa begitu pekat, seolah udara sendiri enggan mengganggu gejolak dalam diri mereka.
"Tuan, terima kasih sudah mengobati saya. Emm maksudku, membawaku ke dokter." ucap Alya memecah kesunyian, suaranya lembut namun berhasil menyentuh sesuatu dalam diri Axton.
"Maafkan istriku." gumam Axton, suaranya serak. Matanya tak lepas dari sosok Alya di sampingnya, menangkap setiap detil raut wajahnya yang memancarkan kepolosan sekaligus daya tarik yang mematikan.
Alya menyadari tatapan itu. Jantungnya berdebar kencang, tapi dia harus menjalankan misinya untuk menggoda.
"Tuan, dasinya miring." ujarnya tiba-tiba, lalu dengan lincah berjinjit. Jari-jarinya yang ramai menyentuh dasi Axton, membetulkannya dengan gerakan perlahan.
Seketika, dunia seolah menyempit hanya pada ruang antara mereka berdua. Axton terpana, napasnya tertahan. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat setiap pori-pori di wajah Alya.
Bibirnya yang pecah-pecah dan masih kemerahan bekas luka itu... terlihat begitu memesonakan. Ada dorongan dalam dirinya untuk menyentuh, merasakan, bahkan... menciumnya. Seolah dengan begitu, lukanya akan sembuh. Bayangan itu membuat nafasnya memburu.
"Maaf ya, Tuan, kalau saya lancang." Alya segera menjauh, memutus momen yang hampir tak terbendung itu. Senyum kecilnya penuh arti.
Axton hanya bisa mengangguk, lidahnya terasa kaku. Tiba-tiba, dering ponselnya memecah konsentrasi.
"Ya Sayang, ini lagi di perjalanan pulang." jawabnya pada Nadira, suaranya berusaha normal tapi masih terdengar tegang.
Sementara Axton sibuk dengan teleponnya, Alya masuk ke dalam mobil. Pikirannya campur aduk. Peluang ini tidak boleh disia-siakan.
Dengan cepat, dia membuka kancing baju bagian atasnya, membiarkan leher dan tulang selangkanya terekspos. Roknya yang robek dia tarik sedikit ke atas, memperlihatkan paha yang mulus.
Kemudian, dia memejamkan mata, pura-pura tertidur tanpa mengenakan sabuk pengaman.
Seperti yang dia duga, begitu Axton masuk ke mobil dan melihatnya, pria itu langsung terdiam. Axton menarik sabuk pengaman dan dengan hati-hati memasangkannya.
Dalam posisi itu, pandangannya tak bisa tidak tertuju pada tubuh Alya yang tak berdaya. Dadanya naik turun tak beraturan.
"Alya..." panggilnya pelan, suara serak penuh hasrat yang tertahan.
Alya tetap memejamkan mata, berpura-pura tak mendengar.
Axton semakin mendekat, wajahnya hanya berjarak seinci dari Alya. Jari telunjuknya yang berotot menyentuh bibir Alya yang terluka, menekan perlahan.
"Sakit..." rintih Alya dalam tidurnya, membuat Axton semakin liar.
"Kenapa kamu... sangat mirip dengan Chloe?" Kalimat itu keluar seperti desahan kasar di antara usapan lidahnya yang hangat dan basah di bibir Alya yang terluka. Setiap kata berdesis, seolah dilontarkan bukan dari akal sehat, melainkan dari lorong gelap kenangan yang menyakitkan. Nafasnya yang berat bercampur dengan aroma darah dan obat, menciptakan atmosfer yang memabukkan.
Dia tidak lagi sekadar mengobati. Ujung lidahnya yang terampil kini bergerak lebih dalam, lebih intim, menelusuri setiap luka di bibir Alya dengan tekanan yang membuatnya merintih lembut.
Rintihan itu seperti sebuah campuran antara rasa sakit dan sensasi yang tak tertahankan. Seperti bensin yang menyulut api nafsu Axton. Dia mendesah parau, tangannya yang semula menempel di sandaran kursi kini berpindah ke pundak Alya, mencengkeram dengan kuat seolah takut wanita di hadapannya akan lenyap menjadi bayangan lagi.
Namun, ponselnya tiba-tiba berdering. Nada khusus untuk Nadira itu seperti alarm yang membangunkannya. Axton spontan menyadari kebodohan terlarang yang baru saja dilakukannya.
Dengan wajah penuh kengerian dan penyesalan, dia menarik diri, lalu memukul kemudi dengan keras. Suara benturan tinju Axton ke kemudi yang memekakkan, diikuti umpatan kasar dan gerakan mobil yang meluncur kasar, menjadi penanda bangun yang sempurna bagi Alya.
Dia pura-pura tersentak hebat, seolah terbangun dari tidur yang lelap. "Apa yang terjadi?" keluhnya, suara dibuat serak dan masih berlagak linglung. Tangannya dengan cepat menutup kancing baju yang telah dibukanya, seraya menarik rok ke bawah. Sebuah gerakan pemalu yang dia peragakan dengan sempurna.
Matanya yang berkaca-kaca, berpura-pura kebingungan menatap Axton yang wajahnya masih merah padam oleh amarah dan rasa bersalah. "Tuan... apakah saya tertidur? Maaf, saya..."
Axton menatap lurus ke depan, menghindari pandangan Alya, cengkeramannya pada kemudi begitu kencang hingga buku-buku tangannya memutih. "Tidak apa-apa." gumamnya, suaranya serak dan tertekan. "Kamu... tidur saja lagi. Kita sebentar lagi sampai."
Tapi Alya tidak menuruti. Dia memandang Axton dengan tatapan penuh kekhawatiran yang dipaksakan. "Tuan, tangan Anda... berdarah." ujarnya lembut, seolah peduli. Dia mengulurkan tangannya seolah ingin menyentuh, tapi kemudian menariknya kembali, seakan teringat statusnya.
Axton menghela napas panjang, rasa frustrasi dan konflik batinnya mencapai puncak. "Alya, tolong." desisnya, hampir seperti memohon. "Diam saja, jangan bicara. Jangan... lakukan apapun."
Alya membungkuk patuh, menyembunyikan senyum tipis kemenangan di balik tatapan yang dibuatnya tetap lembut dan khawatir.
Sempurna, pikir Alya, sambil memejamkan mata lagi, kali ini dengan kepuasan. Axton sudah jatuh dalam jebakan pertamanya.
******
Pagi di kediaman Axton dan Alya tidak lagi sepi dan dingin seperti beberapa tahun silu. Kini, koridor megah itu selalu dipenuhi oleh derap langkah kecil dan tawa melengking yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa kantuk siapa pun. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar, memantul di atas lantai marmer, seolah ikut menyambut keriuhan dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta Axton dan Alya.Di ruang makan, Axton sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan di tablet. Namun, fokusnya terpecah saat melihat putra sulungnya, Kai, yang kini sudah duduk di kelas empat sekolah dasar, sedang sibuk memeriksa tas ransel merah muda milik adiknya, Mentari.Mentari, yang baru berusia lima tahun dan duduk di taman kanak-kanak, tampak sibuk mengunyah roti selai stroberinya dengan pipi menggembung. Rambut hitamnya dikuncir dua dengan pita senada, membuatnya terlihat seperti boneka hidup yang sangat menggemaskan."Kakak, tas Tari sudah penuh!" rengek Mentari saat Kai mencoba mem
Matahari pagi menembus tirai lembut kamar suite rumah sakit, menciptakan kolom-kolom cahaya keemasan yang menari-nari di atas lantai. Udara di ruangan itu harum, dipenuhi aroma lili segar yang manis dan bersih. Hadiah pertama Axton pagi itu, kelanjutan dari janji diam-diamnya bahwa kamar Alya tak akan pernah sepi dari kehadiran bunga. Aroma itu seperti sebuah mantra, mengusir sisa-sisa sterilitas rumah sakit yang tidak Alya sukai.Badai besar yang pernah mengoyak-ngoyak jiwa mereka, kini telah menjadi bisikan samar di kejauhan. Kini, mereka sepenuhnya menghuni saat ini, setiap detik, setiap napas, diabadikan untuk cinta yang telah mereka rawat kembali dan janji-janji baru yang mereka rajut bersama.Alya terbaring di atas ranjang, tubuhnya lelah setelah pertempuran malam yang panjang, namun wajahnya memancarkan cahaya tenang dan bahagia. Di dalam dekapan lembutnya, seorang bayi perempuan mungil, kulitnya masih kemerahan dan lembut seperti kelopak mawar, tidur dengan damai. Selimut sut
Satu tahun berlalu sejak badai menerjang Alya dan Axton.Taman belakang rumah mereka, kini mekar dengan keindahan yang damai. Aroma mawar Crimson Glory yang semerbak menyambut setiap embusan angin, seolah membersihkan udara dari racun masa lalu. Di sinilah, di antara kelopak-kelopak merah menyala dan dedaunan hijau subur, sebuah kehidupan baru telah dimulai.Alya, kini resmi Nyonya Axton, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang anggun, melengkapi kulitnya yang bersih dan rambut hitam panjangnya yang tergerai. Ia duduk di bangku taman marmer, mengawasi Kai yang tertawa riang saat berlari mengejar kupu-kupu. Bocah kecil itu telah banyak berubah. Suaranya yang dulu tercekik ketakutan, kini melengking ceria.Trauma yang Nadira tanamkan perlahan menguap, digantikan oleh tawa dan rasa aman yang tak tergoyahkan.Axton menghampiri Alya, memegang cangkir teh hangat untuk istrinya. Senyumnya, dulu seringkali dingin dan penuh perhitungan, kini memancarkan kehangatan yang tulus. Ada kerutan ha
Axton keluar dari ruang perawatan Alya, meninggalkannya yang masih terlelap dalam duka dan pemulihan. Ia berjalan cepat menuju lorong sepi dan memberi isyarat kepada anak buahnya, yang sudah menunggu dengan raut wajah tegang."Jadi Nadira sudah mati?" Axton bertanya, suaranya rendah dan datar, tanpa emosi."Benar, Bos." jawabnya sigap."Bagus." Axton mengusap dagunya seraya memandangi anak buahnya. Kepuasan kecil terlihat di matanya, tetapi itu segera digantikan oleh perhitungan dingin. "Lalu Alex?" Axton kembali bergumam dengan suara pelan."Beliau masih hidup. Sekarang masih belum sadarkan diri di rumah sakit yang berbeda. Kami menempatkan dua orang di sana. Lukanya cukup serius."Keheningan sejenak menggantung. Alex tahu terlalu banyak. Tentang Nadira, tentang flashdisk, tentang transaksi uang, dan yang paling penting, tentang misi menghabisi Nadira yang dia perintahkan. Meskipun Axton berjanji memberi kompensasi, Alex yang hidup adalah risiko jangka panjang bagi kebahagiaan Axton
Axton berdiri di luar ruang UGD, pakaiannya masih kusut dari drama di rumah. Ia mondar-mandir dengan cemas. Hingga, seorang dokter muda menghampirinya, ekspresinya serius dan prihatin."Apa yang terjadi padanya, Dok?" Axton berseru panik, langsung memegang lengan dokter itu.Dokter itu menundukkan kepala sejenak. "Dia terkena racun yang sangat kuat, sejenis zat korosif dosis rendah yang bekerja cepat di sistem pencernaan. Untungnya, perutnya tidak kosong. Sekarang Ibu Alya sudah melewati masa kritis. Kita berhasil menetralkan sebagian besar racunnya.""Racun?""Racun itu pasti dimasukkan ke dalam sesuatu yang ia konsumsi baru-baru ini." potong dokter itu perlahan. "Namun, ada hal lain, Pak Axton. Racun itu juga menyebabkan...""Menyebabkan apa, Dok?" desak Axton, jantungnya berdebar."Dia keguguran. Sekarang Ibu Alya sedang menjalani prosedur kuretase darurat untuk membersihkan sisa jaringan." Dokter itu mencoba menguatkan. "Sekali lagi, saya turut berduka cita."Keheningan melanda Ax
Udara di ruang keluarga yang megah itu mendadak membeku. Alex berdiri di tengah ruangan dengan bahu tegak namun ekspresi hancur. Di tangannya, sebuah flashdisk perak berkilau bagai pisau kecil yang siap menikam."Aku sudah memulihkan semua CCTV yang dihapus." ujarnya, suara datar namun bergetar halus. Dia menatap Axton, lalu menunduk. "Tapi sebelum itu... aku mau minta maaf. Maaf karena telah mengkhianati persahabatan kita. Selama beberapa tahun terakhir, aku... berselingkuh dengan istrimu."Kalimat itu menggantung di udara. Nadira membeku di tempat duduknya, wajahnya yang biasanya begitu mahir berpura-pura kini pucat membiru, mata membelalak tak percaya. Alex? Berkhianat?"Dia bohong!" teriak Nadira tiba-tiba, melompat dari kursinya. "Dia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri! Dia yang merayu aku! Dia...""Dan untuk semua kejahatannya, aku tidak ikut serta. Termasuk saat dia sengaja menjatuhkan diri di tangga dan menyakiti putramu. Aku cuma dibayar untuk menghapus rekamannya. Itu







