LOGINNadira memasuki apartemen mewah dengan wajah lega, langsung menceburkan diri ke dalam pelukan pria tampan yang sudah menunggunya.
"Beruntung sekali kamu membantuku menghapus rekaman CCTV itu!" desis Nadira mesra, menatap Alex dengan penuh rasa syukur. Tangannya merogoh tas dan mengeluarkan segepok uang tebal, menyerahkannya pada pria yang tersenyum puas itu.
Alex menerima uang itu dengan santai, meletakkannya di meja tanpa terlalu peduli. "Kapan aku tidak pernah membantumu, Dira?" ujarnya sambil menarik wanita itu lebih dekat.
Nadira mendekatkan bibirnya ke telinga Alex, suaranya berubah menjadi bisikan gusar. "Tapi masalahnya belum selesai, Sayang. Aku mau kamu membantuku menyingkirkan babu itu! Dia benar-benar ancaman bagiku sekarang."
Dia menarik napas dalam, matanya memancarkan kepanikan. "Jika Axton sampai benar-benar berpaling, habislah aku. Aku tidak akan bisa lagi mengakses hartanya. Dan kamu tahu, tanpa uangnya, kita tidak akan bisa seperti ini." tangannya menunjuk sekitar apartemen mewah yang mereka tempati.
Alex, sahabat karib Axton saat kuliah ternyata sudah lama menjalin hubungan gelap dengan Nadira, mengangguk pelan. Pikirannya bekerja cepat. Memang, selama ini perusahaan teknologinya yang sedang berkembang tak lepas dari suntikan dana diam-diam dari Nadira, yang uangnya tentu saja berasal dari Axton.
"Babunya yang baru itu... bernama Alya, ya?" gumam Alex, jari-jemarinya mengetuk-ngetuk lengan sofa. "Kok bisa dia menggeser sikap obsesifnya padamu? Kira-kira apa penyebabnya? Padahal Axton selama ini sudah seperti binatang peliharaanmu!"
"Ya, itu alasan mengapa aku sangat khawatir!" sahut Nadira gusar. "Aku tidak bisa membiarkan ini berlanjut."
Alex menarik wanita itu ke pangkuannya. "Tenang, Sayang. Aku akan memikirkan cara untuk... menyingkirkannya." Senyum tipis mengembang di bibirnya, sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya. "Tapi ingat, kita harus hati-hati. Axton bukan orang yang bisa diremehkan."
Nadira melingkarkan tangannya di leher Alex. "Asal kamu bisa menyingkirkan wanita itu, aku janji akan memberimu hadiah yang lebih besar."
"Hadiahnya bukan hanya uang, kan?" bisik Alex mendekat, tangannya mulai menjelajah.
Nadira tersenyum menggoda. "Tentu saja tidak, Sayang."
Dengan lembut Alex meraih dagu Nadira, menatap mata wanita itu dalam-dalam sebelum menutupnya dengan ciuman yang penuh nafsu
*****
Axton duduk di tepi tempat tidur, menatap Alya yang terbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya terengah-engah. Dokter baru saja pergi setelah mendiagnosisnya kelelahan ekstrem. Pertanyaan yang sama terus berputar di kepala Axton. Benarkah Nadira memaksanya membersihkan kolam sendirian? Tapi tanpa bukti rekaman CCTV yang rusak, semuanya hanya menjadi dugaan.
"Axton, Mama mau ajak Kai ke taman bermain." ujar Ratri dari pintu, menyelipkan senyum penuh arti. "Kamu bisa jaga Alya sebentar, kan? Tanggung jawab! Itu perbuatan istrimu!"
Setelah rumah megah itu sunyi, Axton kembali mendekati tempat tidur. Tangannya tanpa sadar meraih dahi Alya yang berkeringat. Sentuhan itu terasa asing, tapi entah mengapa membuatnya ingin terus berada di sana.
Seketika, Alya mengerjapkan mata dan membuka matanya perlahan. Begitu melihat Axton, dia langsung berusaha bangun dengan terburu-buru. "Tuan, maafkan saya!"
"Kamu sedang sakit." potong Axton, mendorongnya dengan lembut untuk kembali berbaring. Suaranya tegas. "Istirahatlah."
"Tapi ini tidak pantas. Saya harus bekerja!" bantah Alya lemah, meski dalam hatinya senang rencananya berjalan mulus.
"Kai sedang pergi dengan Mama. Tidak ada yang perlu dikerjakan untuk sekarang." ujar Axton, masih dengan suara datar yang terdengar seperti perintah. Dia terdiam sejenak, lalu bertanya dengan hati-hati. "Apa benar, istriku menyuruhmu membersihkan kolam semalam?"
Alya memalingkan wajah, tangannya meremas-remas selimut dengan gelisah. Dia sengaja tidak menjawab, membiarkan imajinasi Axton yang bekerja. Dalam diam, dia bersyukur Ratri telah mengajarkan trik ini. Pria seperti Axton akan jatuh pada wanita yang terlihat lemah dan tak berdaya.
"Saya tidak ingin rumah tangga Tuan berantakan karena saya." bisik Alya akhirnya, suaranya bergetar penuh penyesalan yang dipaksakan. "Mungkin Nyonya hanya cemburu. Itu wajar untuk seorang istri." Dia menyelipkan senyum lemah, persis seperti yang dilatih Ratri.
Axton terdiam, hatinya tersentuh. Wanita ini... terlalu mirip dengan Chloe. Bukan hanya wajahnya, tapi juga sifatnya yang selalu memikirkan orang lain. Andai saja dia tidak terburu-buru menikahi Nadira dulu...
"Tuan, izinkan saya membuat brownies untuk Kai. Saya sudah berjanji padanya." pinta Alya, berusaha bangun lagi.
"Tidak usah." Axton menahannya, tapi kali ini lebih lembut.
"Saya tidak mau makan gaji buta." bantah Alya sambil terkekeh. Tiba-tiba, tanpa diduga, tangannya mencuat dan menyentuh pipi Axton. "Maaf kalau lancang." bisiknya cepat, matanya berbinar. "Dulu Papa saya juga sering lupa mencukur bulu di wajahnya. Sejak bercerai dengan Mama, tidak ada yang mengingatkannya. Papa tidak lagi ada yang memperhatikan."
Kalimat itu seperti tamparan bagi Axton. Diperhatikan? Selama ini, Nadira tak pernah sekalipun peduli pada hal-hal kecil seperti itu. Dialah yang selalu harus mengikuti kemauan Nadira.
Alya melihat keraguan di mata Axton. Inilah saatnya. Dengan berani, dia membisikkan di telinga pria itu. "Mau saya bantu?"
Udara di ruangan itu seketika berubah, dari dinginnya formalitas menjadi uap yang menyesakkan. Kedekatan mereka tiba-tiba terasa begitu intim, begitu berbahaya. Axton bisa mencium aroma vanila dan musk lembut yang menyeruak dari potongan leher Alya. Bau yang memabukkannya. Ia juga melihat bagaimana bibir Alya yang tadinya pucat kini tampak basah, seolah mengundang, memanggil-manggilnya.
Alya merasakan otot-otot di lengan Axton mengeras saat pria itu menahan diri. Ia tersenyum tipis. "Aku ambilkan alat cukur." Alya hendak bangkit, namun...
"Tidak perlu." Suara Axton dalam, parau, dan penuh perintah. Dengan secepat kilat, Axton meraih pinggang Alya, bukan dengan lembut, tapi dengan cengkeraman yang berbahaya.
Ia menarik wanita itu menuju kamar tidurnya, lalu membelok tajam ke kamar mandi yang mewah. Tanpa melepaskan cengkeraman di pinggang, Axton mengangkat Alya, mengabaikan protesnya yang terkejut, dan mendudukkannya tinggi-tinggi di atas wastafel marmer dingin.
Tinggi mereka kini sejajar. Wajah Axton seolah sepenuhnya milik Alya, dan hal itu membuatnya semakin rentan. Paha mereka saling bersentuhan, menghantarkan sengatan panas.
Axton membuka laci, mengeluarkan pisau cukur berbilah tunggal dan krim cukur premium, lalu menyerahkannya pada Alya.
"Ini tidak pantas, Tuan." Alya berbisik, matanya membesar. Ia mencoba meluncur turun dari wastafel, namun Axton tidak membiarkannya.
Pria itu bergerak maju, menjebak Alya di antara tubuhnya yang kokoh dan cermin besar di belakang wastafel. Tangannya menumpu di sisi pinggul Alya, membuat jalan keluar wanita itu terblokir total.
"Hanya mencukur, bukan?" Axton meyakinkan, namun matanya sama sekali tidak meyakinkan. Sorot matanya adalah api yang menuntut. "Kamu yang menawarinya. Jangan mundur sekarang."
Napas Alya tercekat. Ia kalah. Dalam posisi terjebak itu, dengan detak jantung Axton yang berdentum keras di dekat telinganya, Alya akhirnya menurut.
Ia mengambil krim cukur. Jari-jarinya yang gemetar mulai mengoleskan busa putih nan lembut itu di rahang dan pipi Axton. Gerakannya awalnya canggung, tetapi perlahan berubah menjadi gerakan jari yang teliti dan luar biasa sensual. Ia memijat busa itu, menelusuri lekuk rahang maskulin dan garis bibir Axton. Setiap sentuhan adalah eksplorasi yang disengaja.
Jarak mereka saat ini kurang dari satu jengkal. Napas mereka saling bersahutan, terasa panas dan basah di kulit masing-masing. Alya menelan ludah ketika ia harus menunduk untuk mengoleskan krim di bawah rahang pria itu.
Axton tidak berkedip. Matanya yang tajam terus memandangi setiap inci wajah Alya. Tidak lepas sedikitpun. Tatapannya begitu menelanjangi, begitu menghanguskan, membuat Alya merasa seolah ia sudah dilucuti.
Alya mengambil alat cukur. Suara gesekan bilah tajam di antara rambut tebal dan busa yang licin adalah satu-satunya suara di ruangan itu. Ia memangkas rambut tebal di wajah pria itu dengan telaten, menarik kulit Axton dengan jempolnya yang lembut, memiringkan kepala pria itu untuk mendapatkan sudut yang sempurna.
Setelah selesai, Alya mengusap sisa krim cukur dan rambut yang baru dipangkas dari dagu Axton, memperlihatkan kulit yang mulus dan hangat di bawahnya.
"Anda bisa mencuci wajah..." Alya berkata dengan gemetar, suaranya nyaris hilang.
Namun, alih-alih bergerak ke keran, napas Axton justru semakin memburu, berubah menjadi geraman rendah. Dengan wajah yang masih lengket karena sedikit sisa krim itu, ia maju. Tubuhnya merapat, memojokkan Alya ke cermin.
Tangan Axton naik. Bukan untuk mencuci wajah, tapi untuk menjambak dengan posesif, rambut Alya di belakang kepala. Gerakan itu memaksa Alya untuk mendongak, memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Tanpa peringatan, mulut Axton menghantam bibir Alya. Ciuman itu bukan ciuman manis, tapi serangan yang menggebu-gebu, brutal, dan mendalam.
Mata Alya membola. Jantungnya serasa berhenti, lalu berpacu dengan kecepatan yang mematikan. Alya merintih seketika.
"Tuan..." rintihannya tertelan dalam ciuman itu, dan Axton tidak peduli. Ciumannya tetap dalam, menuntut, menghancurkan sisa-sisa kesadaran Alya.
"Ini salah!" Alya mencoba mendorong dada Axton dengan tangannya yang bebas, namun pria itu justru semakin merapat. Satu tangan Axton kini melingkari punggung Alya, menekan wanita itu ke tubuhnya, membuat Alya merasakan setiap inci kekerasan otot dan hasrat yang tak tertahankan.
Alat cukur yang dipegang Alya jatuh ke wastafel dengan bunyi dentingan keras, seolah mengumumkan runtuhnya penghalang terakhir.
Alya mencoba mendorong, namun upayanya melemah. Ciuman brutal Axton bergeser liar, meninggalkan bibir Alya dan turun dengan cepat ke lehernya. Axton menghirup aroma Alya dalam-dalam, desahan rendah lolos dari tenggorokannya.
"Jangan, Tuan..." Alya berbisik, memohon, namun suaranya terlalu kecil, terlalu sarat dengan nada menyerah yang mematikan.
Axton mengabaikannya. Tangannya yang besar turun dari pinggul Alya ke bagian bawah gaun maid hitam-putih itu. Ia tidak melepasnya dengan hati-hati. Dengan satu tarikan yang kejam dan berhasrat, kain katun tipis itu robek. Suara robekan itu terdengar nyaring di keheningan kamar mandi yang diselimuti kabut panas.
Cahaya yang remang-remang memamerkan paha Alya yang mulus. Axton menarik napas tajam. Dengan cepat, ia menempatkan lututnya di antara kedua paha Alya yang bergetar.
Axton tidak bicara, ia hanya menatap Alya dengan mata yang gelap, penuh hasrat, dan posesif. Ia memegang paha Alya. Dengan kekuatan yang lembut namun tak terbantahkan, ia mendorong kedua paha Alya hingga terbuka sepenuhnya, memosisikan dirinya tepat di antara kedua kaki wanita itu.
Alya terperangkap, kedua tangan Alya mencengkeram bahu Axton.
"Tuan, kumohon..." Alya memejamkan mata, kepalanya terkulai ke belakang, pasrah pada sentuhan dan tekanan yang diberikan pria itu.
Axton kini ada di tengah-tengahnya. Ia menggesekkan bagian intimnya, yang keras dan menuntut, pada Alya yang sudah basah. Ia bergerak dengan ritme lambat yang membakar dan menyiksa. Itu gesekan yang intens, dan begitu memabukkan.
Alya menarik napas, tersentak, merasakan panas yang merayap naik dan berkumpul di perutnya.
Axton semakin menekan, memajukan gesekan yang panas itu. Ia mendesak Alya maju dan mundur di wastafel, mencari titik puncak yang terlarang. Keduanya mendesah. Alya menjerit tanpa suara, seluruh tubuhnya menegang di ambang kehancuran. Napas mereka memburu, terengah-engah, hanya tinggal satu dorongan lagi.
Tepat ketika Axton bersiap untuk bergerak lebih dalam, untuk meledakkan semua ketegangan itu, sebuah suara memecah ketegangan seperti pecahan kaca.
"Axton? Sayang aku pulang!"
Suara itu! Nadira.
Wajah Alya pucat seketika, matanya terbelalak karena ketakutan dan rasa bersalah yang ia buat-buat. Alya mendorong dada Axton dengan sekuat tenaga.
Axton terkejut, kegembiraannya yang hampir mencapai klimaks seketika terpotong dan digantikan oleh kekesalan yang mendalam. Tubuhnya mundur selangkah.
"Ini tidak pantas!" Alya menamparnya. Namun setelah meninggalkan Axrton, ia tersenyum puas karena rencananya untuk menggoda Axton berhasil.
Alya melompat turun dari wastafel, gaun maid-nya robek di bagian paha, memperlihatkan celana dalamnya yang kusut. Alya meraih kain robek di sekitarnya dan bergegas, meluncur keluar dari kamar mandi, meninggalkan Axton yang masih berdiri beku, bernapas berat, dengan hasratnya yang terputus secara mendadak.
"Sial! Aku tidak bisa menahan diri lagi!"
Pagi di kediaman Axton dan Alya tidak lagi sepi dan dingin seperti beberapa tahun silu. Kini, koridor megah itu selalu dipenuhi oleh derap langkah kecil dan tawa melengking yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa kantuk siapa pun. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar, memantul di atas lantai marmer, seolah ikut menyambut keriuhan dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta Axton dan Alya.Di ruang makan, Axton sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan di tablet. Namun, fokusnya terpecah saat melihat putra sulungnya, Kai, yang kini sudah duduk di kelas empat sekolah dasar, sedang sibuk memeriksa tas ransel merah muda milik adiknya, Mentari.Mentari, yang baru berusia lima tahun dan duduk di taman kanak-kanak, tampak sibuk mengunyah roti selai stroberinya dengan pipi menggembung. Rambut hitamnya dikuncir dua dengan pita senada, membuatnya terlihat seperti boneka hidup yang sangat menggemaskan."Kakak, tas Tari sudah penuh!" rengek Mentari saat Kai mencoba mem
Matahari pagi menembus tirai lembut kamar suite rumah sakit, menciptakan kolom-kolom cahaya keemasan yang menari-nari di atas lantai. Udara di ruangan itu harum, dipenuhi aroma lili segar yang manis dan bersih. Hadiah pertama Axton pagi itu, kelanjutan dari janji diam-diamnya bahwa kamar Alya tak akan pernah sepi dari kehadiran bunga. Aroma itu seperti sebuah mantra, mengusir sisa-sisa sterilitas rumah sakit yang tidak Alya sukai.Badai besar yang pernah mengoyak-ngoyak jiwa mereka, kini telah menjadi bisikan samar di kejauhan. Kini, mereka sepenuhnya menghuni saat ini, setiap detik, setiap napas, diabadikan untuk cinta yang telah mereka rawat kembali dan janji-janji baru yang mereka rajut bersama.Alya terbaring di atas ranjang, tubuhnya lelah setelah pertempuran malam yang panjang, namun wajahnya memancarkan cahaya tenang dan bahagia. Di dalam dekapan lembutnya, seorang bayi perempuan mungil, kulitnya masih kemerahan dan lembut seperti kelopak mawar, tidur dengan damai. Selimut sut
Satu tahun berlalu sejak badai menerjang Alya dan Axton.Taman belakang rumah mereka, kini mekar dengan keindahan yang damai. Aroma mawar Crimson Glory yang semerbak menyambut setiap embusan angin, seolah membersihkan udara dari racun masa lalu. Di sinilah, di antara kelopak-kelopak merah menyala dan dedaunan hijau subur, sebuah kehidupan baru telah dimulai.Alya, kini resmi Nyonya Axton, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang anggun, melengkapi kulitnya yang bersih dan rambut hitam panjangnya yang tergerai. Ia duduk di bangku taman marmer, mengawasi Kai yang tertawa riang saat berlari mengejar kupu-kupu. Bocah kecil itu telah banyak berubah. Suaranya yang dulu tercekik ketakutan, kini melengking ceria.Trauma yang Nadira tanamkan perlahan menguap, digantikan oleh tawa dan rasa aman yang tak tergoyahkan.Axton menghampiri Alya, memegang cangkir teh hangat untuk istrinya. Senyumnya, dulu seringkali dingin dan penuh perhitungan, kini memancarkan kehangatan yang tulus. Ada kerutan ha
Axton keluar dari ruang perawatan Alya, meninggalkannya yang masih terlelap dalam duka dan pemulihan. Ia berjalan cepat menuju lorong sepi dan memberi isyarat kepada anak buahnya, yang sudah menunggu dengan raut wajah tegang."Jadi Nadira sudah mati?" Axton bertanya, suaranya rendah dan datar, tanpa emosi."Benar, Bos." jawabnya sigap."Bagus." Axton mengusap dagunya seraya memandangi anak buahnya. Kepuasan kecil terlihat di matanya, tetapi itu segera digantikan oleh perhitungan dingin. "Lalu Alex?" Axton kembali bergumam dengan suara pelan."Beliau masih hidup. Sekarang masih belum sadarkan diri di rumah sakit yang berbeda. Kami menempatkan dua orang di sana. Lukanya cukup serius."Keheningan sejenak menggantung. Alex tahu terlalu banyak. Tentang Nadira, tentang flashdisk, tentang transaksi uang, dan yang paling penting, tentang misi menghabisi Nadira yang dia perintahkan. Meskipun Axton berjanji memberi kompensasi, Alex yang hidup adalah risiko jangka panjang bagi kebahagiaan Axton
Axton berdiri di luar ruang UGD, pakaiannya masih kusut dari drama di rumah. Ia mondar-mandir dengan cemas. Hingga, seorang dokter muda menghampirinya, ekspresinya serius dan prihatin."Apa yang terjadi padanya, Dok?" Axton berseru panik, langsung memegang lengan dokter itu.Dokter itu menundukkan kepala sejenak. "Dia terkena racun yang sangat kuat, sejenis zat korosif dosis rendah yang bekerja cepat di sistem pencernaan. Untungnya, perutnya tidak kosong. Sekarang Ibu Alya sudah melewati masa kritis. Kita berhasil menetralkan sebagian besar racunnya.""Racun?""Racun itu pasti dimasukkan ke dalam sesuatu yang ia konsumsi baru-baru ini." potong dokter itu perlahan. "Namun, ada hal lain, Pak Axton. Racun itu juga menyebabkan...""Menyebabkan apa, Dok?" desak Axton, jantungnya berdebar."Dia keguguran. Sekarang Ibu Alya sedang menjalani prosedur kuretase darurat untuk membersihkan sisa jaringan." Dokter itu mencoba menguatkan. "Sekali lagi, saya turut berduka cita."Keheningan melanda Ax
Udara di ruang keluarga yang megah itu mendadak membeku. Alex berdiri di tengah ruangan dengan bahu tegak namun ekspresi hancur. Di tangannya, sebuah flashdisk perak berkilau bagai pisau kecil yang siap menikam."Aku sudah memulihkan semua CCTV yang dihapus." ujarnya, suara datar namun bergetar halus. Dia menatap Axton, lalu menunduk. "Tapi sebelum itu... aku mau minta maaf. Maaf karena telah mengkhianati persahabatan kita. Selama beberapa tahun terakhir, aku... berselingkuh dengan istrimu."Kalimat itu menggantung di udara. Nadira membeku di tempat duduknya, wajahnya yang biasanya begitu mahir berpura-pura kini pucat membiru, mata membelalak tak percaya. Alex? Berkhianat?"Dia bohong!" teriak Nadira tiba-tiba, melompat dari kursinya. "Dia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri! Dia yang merayu aku! Dia...""Dan untuk semua kejahatannya, aku tidak ikut serta. Termasuk saat dia sengaja menjatuhkan diri di tangga dan menyakiti putramu. Aku cuma dibayar untuk menghapus rekamannya. Itu







