Mag-log inKlinik pagi itu tidak terlalu ramai. Setelah melakukan pendaftaran, Kanaya masuk ke ruang pemeriksaan ditemani Dimas. Sementara itu, Tania duduk di kursi tunggu bersama pengasuhnya. Dokter mempersilakan Kanaya duduk.“Baik, Bu Kanaya. Apa keluhannya?”“Saya terlambat menstruasi beberapa hari, Dok. Saya juga sering mual dan mudah lelah.”“Sudah melakukan tes kehamilan?”“Dua garis, Dok.” Kanaya mengangguk, kemudian menyerahkan alat tes yang dibawanya.“Baik. Kita lakukan pemeriksaan untuk memastikan.” Dokter tersenyum lembut pada Kanaya.Dimas duduk di samping Kanaya dengan punggung tegak. Sejak tadi, matanya tidak pernah lepas dari istrinya. Dokter melakukan pemeriksaan, kemudian memeriksa hasil USG.“Selamat, Bu Kanaya. Dari hasil pemeriksaan, Anda positif hamil.”“Benarkah, Dok?” Kanaya tersenyum bahagia, ia sangat senang akhirnya bisa mewujudkan keinginan suami dan anaknya.“Ya. Kehamilannya masih sangat awal. Kita akan menjadwalkan pemeriksaan lanjutan untuk memantau perkembangann
Pagi itu, Kanaya baru saja selesai membantu Tania merapikan rambutnya ketika Dimas keluar dari ruang ganti dengan mengenakan kemeja biru muda.Pria itu terlihat begitu rapi. Rambutnya tertata, jam tangan melingkar di pergelangan tangan, dan aroma parfumnya memenuhi ruangan.Kanaya menoleh. “Mas, mau pergi?”Dimas tersenyum. “Tidak. Aku hanya ingin terlihat tampan di depan istriku.”Kanaya menggeleng geli. “Tumben sekali pagi-pagi sudah merayu.”“Memangnya aku tidak boleh merayu istriku sendiri?”“Boleh, tapi biasanya ada maunya.”Dimas terkekeh. Ia berjalan mendekati Kanaya, lalu berdiri di belakangnya sambil menatap pantulan mereka di cermin.“Memangnya kalau aku punya keinginan, tidak boleh?”“Keinginan apa?”Dimas belum sempat menjawab ketika Tania berlari masuk sambil membawa boneka kelincinya.“Papa! Papa! Jadi kita pergi ke pantai hari ini?”Kanaya mengerutkan kening.“Pergi ke pantai?”“Tania...” Dimas langsung menatap putrinya dengan mata membesar.“Apa, Pa?” Tania memiringkan
Pesta pernikahan Dimas dan Kanaya berlangsung meriah. Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh luka, akhirnya keduanya kembali mengucapkan janji suci di hadapan keluarga besar.Kanaya terlihat begitu cantik dalam balutan kebaya putih. Di sampingnya, Dimas terus tersenyum, sesekali menggenggam tangan wanita yang kini kembali menjadi istrinya. Sementara itu, Tania tampak sibuk bermain bersama sepupunya yang masih bayi.“Ya ampun, lucunya!” seru Tania sambil mencubit pipi bayi itu dengan lembut.Bayi mungil tersebut tertawa, membuat Tania semakin gemas. Ia kemudian berlari menghampiri Dimas yang sedang berbincang dengan Ashraf.“Papa!”“Iya, Sayang?” Dimas menoleh.“Tania mau beli adik bayi!”“Beli adik bayi?” Dimas mengerutkan kening.“Iya. Tania mau adik yang lucu seperti adik itu.” Tania menunjuk sepupunya.Orang-orang yang mendengar perkataan itu langsung tertawa. Kanaya yang sedang duduk bersama Nurmala sontak menoleh. Wajahnya memerah. Ashraf, yang tidak ingin melewatkan kesem
Pagi itu, suasana kamar rumah sakit terasa jauh lebih tenang. Tania perlahan membuka matanya, pandangan gadis kecil itu masih sedikit kabur. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum melihat sosok Kanaya yang tertidur sambil menggenggam tangannya.“Mama...”Suara Tania yang lirih membuat Kanaya langsung terbangun.“Tania?” Kanaya menegakkan tubuhnya. Matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat putrinya sudah sadar.“Sayang...” Kanaya membelai rambut Tania dengan tangan gemetar. “Alhamdulillah... Tania sudah bangun.”Tania memandang ibunya beberapa detik, kemudian matanya berkeliling mencari seseorang.“Papa mana?”Kanaya terdiam. Dimas yang sejak tadi duduk di sofa langsung berdiri.“Papa di sini, Nak.”Tania menoleh. Begitu melihat Dimas, wajah pucatnya sedikit berubah cerah.“Papa...”Dimas segera menghampiri ranjang dan menggenggam tangan putrinya.“Iya, Sayang. Papa di sini.”Tania memandang Papa dan Mamanya secara bergantian.“Papa jangan pergi.”“Papa nggak akan pergi.”“Bener
‘’Bajingan kamu, Rian.’’ Kanaya menampar Rian dengan sangat keras. Sebagai seorang ibu, hatinya sangat hancur melihat kekejaman Rian pada putrinya.“Di mana kau sembunyikan puriku, Ban-s4t!!” Dimas yang tak kalah emosinya menendang wajah Rian, lalu berlutut dan mencengkram krah kemeja yang Rian kenakan seraya mengguncangnya dengan kasar hingga tubuh Rian terhuyung-huyung.“Katakan di mana Tania, baj*ng*n.’’ Dimas berteriak hingga otot-otot di sekitar rahangnya mengeras, sedangkan Kanaya sudah terkulai lemas dan menangis tersedu-sedu.Rian malah tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Dimas murka dan frustasi. Rian benar-benar menguji kesabaran semua orang, terutama Dimas yang amarahnya semakin mendidih.“Sebaiknya kita segera cari Tania di hutan sekitar sini,” Ashraf memberi usulan yang membuat tawa Rian seketika lenyap.“Kau benar, di mana lagi tempat hewan buas kalau bukan di hutan, apalagi reaksi bajingan ini mengisyarakan jika dugaan Ashraf benar,” sambung Alfian. Tatapan m
“Baiklah, tapi kamu harus tegar dengan semua kemungkinan yang akan terjadi,” putus Alfian pada akhirnya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Kanaya.“Kita harus segera berangkat, aku takut jika Rian akan melarikan diri ke Singapura atau Malasya lewat jalur laut supaya tidak bisa dilacak.” Dimas yang sejak tadi hanya diam, akhirnya ikut bicara karena waktunya sangat mendesak. Ia tidak ingin membuang banyak waktu untuk menyelamatkan putrinya.“Iya, orang suruhanku sedang menyiapkan helicopter untuk kita dan polisi juga mata-mata sudah berjaga-jaga di pelabuhan Batam untuk menangkap Rian, jika dia benar-benar akan kabur ke luar negeri lewat jalur laut.”“Jangan hanya di pelabuhan, tapi di penyembrangan illegal tempat biasa WNI illegal menyeberang ke Malasya dan Singapura juga harus dijaga dengan ketat. Aku yakin dia akan lewat jalur itu supaya tidak terlacak,” usul Dimas karena dia tahu ada tempat penyeberangan illegal yang biasanya dilewati oleh penyelundup narkoba.“Baik,” ja







