LOGINNamaku Nurmala, usiaku 19 tahun. Merantau ke Jakarta untuk bekerja demi membantu perekonomian keluarga malah menjadi awal petaka dalam hidupku. Impian manis yang telah dirajut selama bertahun-tahun olehku dan tunanganku hancur karena perbuatan bejat anak majikanku.
View MoreKlinik pagi itu tidak terlalu ramai. Setelah melakukan pendaftaran, Kanaya masuk ke ruang pemeriksaan ditemani Dimas. Sementara itu, Tania duduk di kursi tunggu bersama pengasuhnya. Dokter mempersilakan Kanaya duduk.“Baik, Bu Kanaya. Apa keluhannya?”“Saya terlambat menstruasi beberapa hari, Dok. Saya juga sering mual dan mudah lelah.”“Sudah melakukan tes kehamilan?”“Dua garis, Dok.” Kanaya mengangguk, kemudian menyerahkan alat tes yang dibawanya.“Baik. Kita lakukan pemeriksaan untuk memastikan.” Dokter tersenyum lembut pada Kanaya.Dimas duduk di samping Kanaya dengan punggung tegak. Sejak tadi, matanya tidak pernah lepas dari istrinya. Dokter melakukan pemeriksaan, kemudian memeriksa hasil USG.“Selamat, Bu Kanaya. Dari hasil pemeriksaan, Anda positif hamil.”“Benarkah, Dok?” Kanaya tersenyum bahagia, ia sangat senang akhirnya bisa mewujudkan keinginan suami dan anaknya.“Ya. Kehamilannya masih sangat awal. Kita akan menjadwalkan pemeriksaan lanjutan untuk memantau perkembangann
Pagi itu, Kanaya baru saja selesai membantu Tania merapikan rambutnya ketika Dimas keluar dari ruang ganti dengan mengenakan kemeja biru muda.Pria itu terlihat begitu rapi. Rambutnya tertata, jam tangan melingkar di pergelangan tangan, dan aroma parfumnya memenuhi ruangan.Kanaya menoleh. “Mas, mau pergi?”Dimas tersenyum. “Tidak. Aku hanya ingin terlihat tampan di depan istriku.”Kanaya menggeleng geli. “Tumben sekali pagi-pagi sudah merayu.”“Memangnya aku tidak boleh merayu istriku sendiri?”“Boleh, tapi biasanya ada maunya.”Dimas terkekeh. Ia berjalan mendekati Kanaya, lalu berdiri di belakangnya sambil menatap pantulan mereka di cermin.“Memangnya kalau aku punya keinginan, tidak boleh?”“Keinginan apa?”Dimas belum sempat menjawab ketika Tania berlari masuk sambil membawa boneka kelincinya.“Papa! Papa! Jadi kita pergi ke pantai hari ini?”Kanaya mengerutkan kening.“Pergi ke pantai?”“Tania...” Dimas langsung menatap putrinya dengan mata membesar.“Apa, Pa?” Tania memiringkan
Pesta pernikahan Dimas dan Kanaya berlangsung meriah. Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh luka, akhirnya keduanya kembali mengucapkan janji suci di hadapan keluarga besar.Kanaya terlihat begitu cantik dalam balutan kebaya putih. Di sampingnya, Dimas terus tersenyum, sesekali menggenggam tangan wanita yang kini kembali menjadi istrinya. Sementara itu, Tania tampak sibuk bermain bersama sepupunya yang masih bayi.“Ya ampun, lucunya!” seru Tania sambil mencubit pipi bayi itu dengan lembut.Bayi mungil tersebut tertawa, membuat Tania semakin gemas. Ia kemudian berlari menghampiri Dimas yang sedang berbincang dengan Ashraf.“Papa!”“Iya, Sayang?” Dimas menoleh.“Tania mau beli adik bayi!”“Beli adik bayi?” Dimas mengerutkan kening.“Iya. Tania mau adik yang lucu seperti adik itu.” Tania menunjuk sepupunya.Orang-orang yang mendengar perkataan itu langsung tertawa. Kanaya yang sedang duduk bersama Nurmala sontak menoleh. Wajahnya memerah. Ashraf, yang tidak ingin melewatkan kesem
Pagi itu, suasana kamar rumah sakit terasa jauh lebih tenang. Tania perlahan membuka matanya, pandangan gadis kecil itu masih sedikit kabur. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum melihat sosok Kanaya yang tertidur sambil menggenggam tangannya.“Mama...”Suara Tania yang lirih membuat Kanaya langsung terbangun.“Tania?” Kanaya menegakkan tubuhnya. Matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat putrinya sudah sadar.“Sayang...” Kanaya membelai rambut Tania dengan tangan gemetar. “Alhamdulillah... Tania sudah bangun.”Tania memandang ibunya beberapa detik, kemudian matanya berkeliling mencari seseorang.“Papa mana?”Kanaya terdiam. Dimas yang sejak tadi duduk di sofa langsung berdiri.“Papa di sini, Nak.”Tania menoleh. Begitu melihat Dimas, wajah pucatnya sedikit berubah cerah.“Papa...”Dimas segera menghampiri ranjang dan menggenggam tangan putrinya.“Iya, Sayang. Papa di sini.”Tania memandang Papa dan Mamanya secara bergantian.“Papa jangan pergi.”“Papa nggak akan pergi.”“Bener






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews