LOGINJason menghempaskan tubuhnya di tepi tempat tidur, menyandarkan siku di lutut dan menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Napasnya masih terasa pendek, sisa dari ledakan amarahnya pada Jonas beberapa saat lalu.Ariana mendekat perlahan. Dia tidak langsung bertanya, melainkan duduk di samping suaminya dan mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Jason yang masih terkepal keras.Gerakannya begitu lembut, kontras dengan ketegangan yang dibawa Jason dari ruang kerja."Jonas sudah menceritakan semuanya?" tanya Ariana dengan suara rendah yang menenangkan.Jason menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar seperti keputusasaan."Dia tidak hanya menceritakannya, Ariana. Dia baru saja meledakkan bom di tengah rumah ini. Pria yang mengejar Maria, pria yang memegang utang ayahnya adalah Ronald. Anak dari Ramos."Jason menghela napas kasar dan menatap Ariana. “Dan Jonas membelanya mati-matian di hadapanku, Ariana.”Ariana tertegun sejenak. Nama itu memiliki sejarah kela
Suara hantaman keras itu menggema di seluruh penjuru ruangan, memecah keheningan malam yang seharusnya tenang.Jason menggebrak meja kerja miliknya dengan kekuatan yang sanggup membuat vas bunga di sudut meja bergetar hebat.Napasnya memburu, wajahnya memerah padam, dan urat-urat di lehernya menegang seiring dengan amarah yang memuncak dari dalam dirinya.“Siapa yang kau katakan tadi?! Ulangi sekali lagi!” suara Jason menggelegar dengan nada rendah namun penuh dengan ancaman yang mematikan.Jonas berdiri kaku di hadapan meja itu. Dia menelan ludah dengan susah payah, namun sorot matanya tetap berusaha bertahan meski ia tahu badai besar sedang menghantamnya. “Ronald. Ronald Alexander. Anak dari Ramos.”Jason tertawa, sebuah tawa getir yang lebih terdengar seperti seringai iblis.Dia kemudian menatap adiknya dengan tatapan tajam yang seolah-olah bisa menembus tengkorak kepala Jonas.“Hebat. Benar-benar hebat, Jonas! Kau selalu sukses membuatku takjub dengan kecerobohanmu yang tidak ada
Dua hari kemudian, Jonas berdiri mematung di dekat pesisir pantai dengan tangannya menggandeng jemari Maria yang terasa sedingin es.Di hadapan mereka, berdiri Gavin, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Maria, namun kini tak lebih dari seorang pesakitan yang gemetar karena ketamakan dan ketakutan.Gavin menatap Jonas dengan tatapan menilai, matanya yang cekung menyisir pakaian mahal yang dikenakan pria di hadapannya. "Kau membawa uangnya?" tanya Gavin tanpa basa-basi, dengan nada suara yang terdengar serak tertelan deru ombak.Jonas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merobek selembar cek dari buku sakunya yang telah dia siapkan bersama Jason.Dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan, dia mengacungkan kertas berharga itu di depan wajah Gavin."Dua ratus juta. Ini lebih dari cukup untuk melunasi kebodohanmu di meja judi," ucap Jonas dengan dingin.Gavin hendak menyambar cek itu, namun Jonas menariknya dengan cepat. "Dengarkan aku baik-baik, Gavin. Setelah kau mengambil cek
“Apa?!”Mata Jason langsung membola dengan sempurna usai mendengar nominal utang ayah Maria yang akan Jonas bayarkan.Dia lantas berdiri dari kursinya dengan gerakan refleks, telapak tangannya menekan permukaan meja kerja seolah berusaha menahan keterkejutan yang mendadak menyerangnya.Ruang kerja itu yang biasanya tenang, kini terasa penuh dengan ketegangan yang menggantung di udara.“Dua ratus juta?” ulang Jason dengan nada tidak percaya.Jonas berdiri di hadapan kakaknya dengan sikap tegap, meski raut wajahnya menunjukkan kesungguhan yang nyaris kaku.Dia tidak menghindar dari tatapan Jason, seolah sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan reaksi yang akan ia terima.Jason menyunggingkan senyum miring, bukan karena lucu, melainkan karena heran.“Bahkan ketika aku membayar Ariana dulu, jumlahnya tidak sebesar itu,” ujarnya datar namun tajam. “Namun sekarang kau ingin membayar utang ayah Maria sebanyak itu?”Jonas mengangguk pelan. “Aku hanya ingin menolong Maria,” jawabnya t
Jonas melangkah satu langkah mendekati Maria. Jarak di antara mereka kini begitu dekat, namun bukan kedekatan yang menenangkan.Ada ketegangan yang mengendap di udara, bercampur dengan rasa marah, iba, dan kepedihan yang tak terucap.Jonas menatap Maria dengan sorot mata serius, seolah sedang menimbang setiap kemungkinan yang ada di kepalanya.“Berapa jumlah utang ayahmu?” tanya Jonas akhirnya, dengan nada tegas namun tetap terkendali.Maria terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia mengangkat kepalanya perlahan menatap Jonas sekilas, lalu segera menggeleng dengan pelan. Wajahnya memucat, dan bibirnya bergetar seolah menahan sesuatu yang sangat berat.“Aku … aku tidak sanggup mengatakannya,” jawab Maria lirih. “Utangnya terlalu banyak.”Jonas mengerutkan keningnya. “Terlalu banyak bagaimana maksudmu?” tanyanya kembali.Maria menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak.Dia menundukkan kepalanya, lalu berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar.“Ayahku terjerumus dalam banyak ha
Pagi itu, suasana rumah megah milik keluarga Jason terasa lebih tenang dari biasanya.Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar, memantulkan kilau lembut di lantai marmer yang mengilap.Di area bermain anak-anak, beberapa mainan berserakan rapi dalam keranjang besar.Maria berlutut di lantai sedang membersihkan satu per satu mainan itu dengan lap bersih, memastikan tidak ada debu yang tersisa sebelum anak-anak kembali bermain.Wajah Maria tampak tenang, meski sorot matanya menyimpan kelelahan yang tak sepenuhnya sirna.Rambutnya terikat rapi ke belakang, dan gerakannya cekatan, mencerminkan kebiasaan bertahun-tahun bekerja di rumah itu. Sesekali dia menghela napas ringan dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.Dari kejauhan, Jonas berdiri memerhatikan Maria. Ia tampak ragu untuk melangkah mendekat. Tangannya sesekali mengepal, lalu mengendur kembali.Raut wajahnya menunjukkan kegugupan yang jarang sekali dia perlihatkan. Dia lalu menarik napas dalam-dalam, se







