เข้าสู่ระบบAku menghabiskan sisa sore itu dengan bekerja seperti biasa. Mengetik surat, menjawab telepon, mengatur jadwal Nathaniel, dan berpura-pura bahwa semuanya normal. Tapi di dalam pikiranku, kata-kata Derek terus berputar."Seraphina adalah kunci warisan. Aku tidak pernah mencintai Seraphina, ia hanya alat..."Aku menggigit bibir, menahan amarah yang membara. Aku akan menghancurkannya. Tapi tidak sekarang. Sekarang, aku harus bersabar.Jam menunjukkan pukul 3 sore ketika pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Derek masuk dengan setelan abu-abunya, wajahnya yang tampan tersenyum, senyum yang dulu membuatku jatuh cinta, tapi sekarang hanya membuatku muak."Ayahku ada?" tanyanya, matanya menyapu ruangan.Aku menatapnya datar, berusaha menahan ekspresiku. "Dia sedang bertemu tamu. Kau bisa menunggu di ruang tunggu."Derek tidak bergerak ke ruang tunggu. Dia berjalan mendekat ke mejaku, berdiri di depanku, menatapku dari atas. Aku menatapnya dengan ekspresi kosong, tidak memberikan reaksi apa
Ciuman Nathaniel semakin dalam, tangannya merayap ke pinggangku, menarikku lebih dekat ke tubuhnya yang kekar. Aku merasakan kehangatannya merambat ke seluruh tubuhku, membuatku lupa di mana aku berada. Ruang rapat yang kosong, meja panjang, kursi-kursi kulit, semuanya kabur.Tapi kemudian aku sadar. Ini kantor, ini ruang rapat. Seseorang bisa masuk kapan saja.Aku mendorong dadanya dengan lembut, memisahkan diri dari pelukannya. "Tunggu," kataku, napasku terengah-engah. "Kita tidak bisa. Ini kantor. Seseorang bisa melihat."Nathaniel menatapku dengan mata gelap, masih dipenuhi hasrat. Ada kekecewaan di sana, tapi juga pengertian. Dia menghela napas panjang, melepaskan pelukannya perlahan."Kau benar, tapi aku tidak suka kau pergi."Aku merapikan pakaianku, gaun biru tua yang sedikit kusut karena pelukannya. Aku menata rambutku, memastikan tidak ada yang tampak aneh."Jam istirahat belum selesai, tapi aku tidak bisa tinggal di sini terlalu lama. Orang-orang akan curiga."Nathaniel me
Jam 12 tepat, Derek muncul di ruang kerjaku dengan setelan abu-abunya yang rapi. Dia tersenyum, senyum yang jarang aku lihat akhir-akhir ini. Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta, tapi sekarang hanya membuatku curiga."Siap?" tanyanya, tangannya meraih lenganku dengan lembut.Aku mengangguk, merapikan gaun biru tuaku. "Siap."Dia membawaku ke restoran privat di lantai dasar gedung-restoran mewah yang hanya melayani eksekutif dan klien penting. Meja di pojok ruangan, dengan pemandangan taman kecil di luar jendela kaca. Bunga-bunga bermekaran, air mancur kecil berdeguk pelan. Suasana romantis yang membuatku tidak nyaman.Kami duduk berhadapan. Pelayan datang, menuangkan wine merah ke dalam gelas kristal. Derek memesan makanan favoritku, steak dengan saus truffle, kentang tumbuk, dan sayuran panggang. Dia ingat. Dia masih ingat apa yang aku suka.Tapi itu tidak cukup.Kami makan dalam diam. Sesekali, Derek menyuapiku-sepotong daging kecil, atau kentang tumbuk di ujung garpunya. Aku m
Malam itu aku datang ke kamar Nathaniel. Kami tidak bercinta, kami hanya berbicara. Aku menangis di pelukannya, menceritakan semua kata-kata kasar Derek tentang tubuhku. Nathaniel mendengarkan dengan diam, tangannya mengusap rambutku, dan sesekali mengecup keningku."Kau tidak perlu mendengarkan omongannya, Derek buta. Dia tidak pernah melihat kecantikanmu. Tapi aku melihatnya. Aku selalu melihatnya."Keesokan paginya, aku bangun dengan tekad baru. Aku akan terus bekerja. Aku akan terus dekat dengan Nathaniel dan aku akan menghancurkan Derek, perlahan tapi pasti.Aku mengenakan gaun kerja berwarna biru tua, tidak terlalu seksi, tapi cukup elegan. Aku merapikan rambutku, mengenakan lipstik merah tipis, dan berjalan ke ruang makan.Derek sudah di sana, mengenakan setelan abu-abu, wajahnya masih datar. Dia menatapku sekilas."Aku akan mengantarmu ke kantor. Naik mobilku."Aku terkejut. Derek jarang menawarkan. Tapi aku hanya mengangguk, tidak ingin bertengkar lagi.Perjalanan ke kantor b
Aku berjalan ke kamar mandi utama, membuka keran air hangat. Uap mulai mengepul, memenuhi ruangan dengan kelembapan. Aku menuangkan minyak esensial lavender ke dalam bak marmer putih yang luas, minyak yang dulu Derek sukai, tapi sekarang aku tidak peduli lagi apa yang dia sukai.Aku melakukan semua ini dengan wajah datar, tanpa emosi. Seperti robot. Seperti pelayan yang menjalankan perintah.Derek masuk beberapa saat kemudian, melepas kemejanya dan celananya dengan malas. Tubuhnya masih tampan, perut rata, dada bidang, otot lengan yang tegas. Tapi aku tidak lagi merasa apa-apa saat melihatnya. Tidak ada hasrat. Tidak ada cinta. Hanya kebencian yang dingin."Airnya sudah siap," kataku datar.Derek mengangguk, melangkah ke dalam bak mandi. Air hangat memercik, membasahi tubuhnya. Dia menghela napas panjang, menutup matanya, dan bersandar di tepi bak."Tunggu di sini," katanya, tanpa membuka mata. "Aku mungkin butuh sesuatu."Aku duduk di kursi kecil di sudut kamar mandi, tanganku terlip
Hari Minggu berlalu dengan lambat. Aku menghabiskan waktu di taman mansion, duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku yang tidak benar-benar aku baca. Pikiranku melayang ke mana-mana kepada Nathaniel, kepada ayahku, kepada Derek yang belum juga pulang.Matahari mulai condong ke barat saat aku mendengar suara mobil memasuki gerbang. Aku menoleh, melihat Aston Martin hitam Derek melaju pelan ke garasi.Derek pulang.Aku menarik napas panjang, merapikan gaun rumahku, dan berjalan ke ruang tamu. Aku harus bersikap normal. Aku harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.Derek masuk melalui pintu depan, jasnya kusut, dasinya longgar, dan wajahnya tampak kelelahan. Matanya sedikit merah, seolah dia kurang tidur. Atau mungkin karena begadang di hotel bersama Anita."Kau baru pulang," kataku, berusaha terdengar netral.Derek menghela napas berat, melemparkan jasnya ke sofa."Aku sangat lelah, Sera. Jangan mulai."Aku menatapnya, merasakan amarah yang mulai membara di dadaku. Tapi







