แชร์

Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok
Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok
ผู้แต่ง: Author Marr

Bab 1

ผู้เขียน: Author Marr
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-17 10:48:54

"Aah, please, Ayah, jangan berhenti."

Suaraku serak, setengah terisak, setengah memohon. Jari-jari tangannya yang kekar masih menjelajah setiap detail tubuhku.

"Panggil aku daddy," ucapnya tegas, suaranya rendah dan berkuasa. "Di sini aku bukan ayah mertuamu. Lupakan sejenak status itu. Aku adalah pria yang bisa membuatmu basah."

^^^

Hari pertama sebagai sekretaris ayah mertua, Tuan Nathaniel Whitmore-CEO Whitmore Group, konglomerat properti dan energi terbesar di Eropa terasa seperti neraka.

Bukan karena pekerjaannya yang berat tapi karena tatapan-tatapan tajam dan bisikan-bisikan karyawan yang tak pernah lelah menghina tubuhku yang tidak ideal.

"Lihat dia, pakai blazer ukuran XXL pun masih sesak di bagian lengan."

"Kok bisa sih jadi sekretaris pribadi Pak Nathaniel? Nggak mungkin karena kemampuan."

"Dia istri Derek, kan? Ya ampun, Derek Whitmore se-ganteng itu menikahi wanita gendut? Pasti karena uang."

Aku, Seraphina Whitmore, menelan ludah pahit. Jari-jariku meremas tepi meja kayu. Dalam hati, aku menghitung sampai sepuluh, teknik yang diajarkan terapis pernikahan yang kubayar sendiri enam bulan lalu. Tapi ternyata, uang terapis pun tak mampu menyembuhkan lukaku.

Tujuan satu-satunya bekerja di sini: membuktikan suamiku, Derek Whitmore, berselingkuh dengan asisten pribadinya yang ramping sempurna, Anita Rosé Bennett.

Derek selalu mengelak. Pulang larut malam dengan aroma parfum bunga terlarang yang tak pernah kukenal. Ponselnya selalu terbalik di meja makan dan tatapannya yang dulu penuh cinta, kini menghindar.

Maka aku meminta pekerjaan ini pada Nathaniel-ayah mertuaku. Aku pikir, di kantor, semua akan terbuka. Aku pikir, dengan menyamar sebagai sekretaris, aku bisa mengintip setiap gerak-gerik Derek di kantor ini.

Tapi ternyata, tubuh gendutku lebih dulu menjadi tontonan.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengabaikan bisikan-bisikan tajam. Jari-jariku menari di atas keyboard komputer sekretaris yang baru aku tempati-sebuah meja kecil di sudut ruang luar kantor Nathaniel.

Layar monitor memantulkan wajahku yang sembab karena kurang tidur semalaman. Aku masih memikirkan Derek, tentang aroma parfum asing di kerah kemejanya, tentang pesan-pesan singkat yang selalu dia hapus, tentang tatapannya yang dingin saat aku bertanya kabarnya.

"Sera."

Suara Nathaniel memanggil dari balik pintu kayu jati ruang kerjanya. Aku menoleh. Dia berdiri di ambang pintu,

"Bawa berkas ini ke ruangan Derek," katanya, mengulurkan sebuah map cokelat tebal.

Aku mengangguk patuh, berdiri dari kursi, dan mengambil map itu. Tangan Nathaniel menyentuh ujung jariku sesaat, lebih lama dari yang seharusnya. Tapi aku mengabaikannya karena mungkin hanya kebetulan.

"Baik, Tuan Whitmore."

"Panggil aku Nathaniel," ucapnya pelan.

Aku hanya tersenyum tipis dan berbalik. Sepatu hak rendahku berdecit di lantai marmer saat aku melangkah menuju lift eksklusif. Di dalam kabin kaca yang tembus pandang, bayanganku sendiri menatapku dengan sedih, tubuh montok yang terbungkus blazer hitam terlalu ketat, rambut hitam yang kusut karena buru-buru, dan mata cokelat yang kehilangan kilau.

Lift berhenti di lantai 27. Di depan pintu ruang kerja Derek, aku berhenti sejenak. Dari balik pintu, kudengar suara ketukan keyboard-Derek bekerja atau pura-pura bekerja.

Aku mengetuk pintu tiga kali.

"Masuk," suara Derek terdengar datar.

Aku membuka pintu dan masuk. Derek duduk di balik meja besarnya, kemeja putihnya rapi, dasi biru tua masih melingkar sempurna di lehernya. Tapi matanya saat melihatku langsung menyipit kesal.

"Kamu?" katanya, suaranya naik setengah oktaf. "Kenapa kamu yang mengantar berkas? Mana sekretaris lantai atas?"

"Ayahmu yang menyuruhku," jawabku datar, meletakkan map di tepi mejanya. "Katanya ini penting."

Derek mendengus kasar, menatapku dari ujung rambut hingga ujung sepatu.

"Seraphina, serius. Kenapa kamu harus bekerja di sini? Ini memalukan. Istriku jadi sekretaris ayahku? Apa kata rekan-rekan bisnisku nanti?"

"Aku butuh pekerjaan," kataku, berusaha tetap tenang. "Kau tahu itu."

"Kau hanya butuh diam di rumah! Kau sudah cukup memalukan dengan tubuhmu yang-" Dia menghentikan kata-katanya, tapi matanya sudah cukup bicara. "Sudahlah. Simpan berkas itu, lalu pergi."

Aku menunduk, menahan perih. Tapi sesuatu menarik perhatianku.

Di meja Derek, di sebelah keyboard, ada selembar kain kecil berwarna hitam renda seperti celana dalam yang basah.

Jantungku berhenti berdetak sedetik.

"Ada apa?" Derek menoleh mengikuti pandanganku. Wajahnya memucat. "Itu..."

Sebelum dia menyelesaikan kalimat, pintu kamar mandi di sudut ruangan terbuka.

Anita Rosé Bennett keluar. Rambut pirangnya basah berkucuran, wajahnya segar baru dicuci, dan tubuhnya hanya terbungkus handuk putih kecil yang nyaris tak menutupi apa pun. Dia tersenyum manis ke arah Derek.

"Sayang, celana dalamku ada di meja-" kata Anita, tapi suaranya terputus saat matanya bertemu dengan mataku.

Dia terkejut. Handuknya hampir terlepas saat dia mundur selangkah.

"Seraphina? Kenapa kau di sini?"

Derek berdiri dengan panik, tangannya mengacak-acak rambut.

Aku menatap celana dalam basah di meja, lalu menatap Anita dengan handuk basah, lalu menatap suamiku yang pucat pasi. Aku tidak bisa bergerak dan hanya bisa menatap bukti pengkhianatan yang terbentang di depanku.

Anita mencoba tersenyum canggung. "Ini salah paham."

"Salah paham? Celana dalam basah di meja suamiku, kau keluar dari kamar mandi hanya pakai handuk, dan kau bilang ini salah paham?" tanyaku.

Derek berjalan menghampiriku, tangannya meraih lenganku. "Dengarkan aku!"

"Jangan sentuh aku!" Aku menarik tangannya dengan kasar. Dadaku naik turun, air mata menggenang tapi kutahan. "Kau bilang aku memalukan. Kau bilang aku harus diam di rumah. Ternyata kau takut karena aku mengganggu perselingkuhanmu, bukan?"

"Bukan karena itu," kata Derek.

"Aku akan lapor ke ayahmu. Biar dia tahu putra kesayangannya seperti apa," kataku.

Aku berbalik dan melangkah cepat ke pintu. Di belakangku, kudengar Derek berteriak memanggil namaku, tapi aku tidak menoleh. Aku berlari ke lorong, menekan tombol lift berulang-ulang dengan tangan gemetar.

Ketika lift tiba, aku masuk dan menekan tombol lantai paling atas tapi tiba tiba Derek menarikku kemudian memelukku.

"Maafkan aku, aku akan memperbaiki sikapku tapi tolong jangan lapor ayahku, aku akan kehilangan warisanku jika aku terlibat skandal. Mari kita perbaiki pernikahan ini, Sera," kata Derek.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 16

    Aku berjalan ke kamar mandi utama, membuka keran air hangat. Uap mulai mengepul, memenuhi ruangan dengan kelembapan. Aku menuangkan minyak esensial lavender ke dalam bak marmer putih yang luas, minyak yang dulu Derek sukai, tapi sekarang aku tidak peduli lagi apa yang dia sukai.Aku melakukan semua ini dengan wajah datar, tanpa emosi. Seperti robot. Seperti pelayan yang menjalankan perintah.Derek masuk beberapa saat kemudian, melepas kemejanya dan celananya dengan malas. Tubuhnya masih tampan, perut rata, dada bidang, otot lengan yang tegas. Tapi aku tidak lagi merasa apa-apa saat melihatnya. Tidak ada hasrat. Tidak ada cinta. Hanya kebencian yang dingin."Airnya sudah siap," kataku datar.Derek mengangguk, melangkah ke dalam bak mandi. Air hangat memercik, membasahi tubuhnya. Dia menghela napas panjang, menutup matanya, dan bersandar di tepi bak."Tunggu di sini," katanya, tanpa membuka mata. "Aku mungkin butuh sesuatu."Aku duduk di kursi kecil di sudut kamar mandi, tanganku terlip

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 15

    Hari Minggu berlalu dengan lambat. Aku menghabiskan waktu di taman mansion, duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku yang tidak benar-benar aku baca. Pikiranku melayang ke mana-mana kepada Nathaniel, kepada ayahku, kepada Derek yang belum juga pulang.Matahari mulai condong ke barat saat aku mendengar suara mobil memasuki gerbang. Aku menoleh, melihat Aston Martin hitam Derek melaju pelan ke garasi.Derek pulang.Aku menarik napas panjang, merapikan gaun rumahku, dan berjalan ke ruang tamu. Aku harus bersikap normal. Aku harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.Derek masuk melalui pintu depan, jasnya kusut, dasinya longgar, dan wajahnya tampak kelelahan. Matanya sedikit merah, seolah dia kurang tidur. Atau mungkin karena begadang di hotel bersama Anita."Kau baru pulang," kataku, berusaha terdengar netral.Derek menghela napas berat, melemparkan jasnya ke sofa."Aku sangat lelah, Sera. Jangan mulai."Aku menatapnya, merasakan amarah yang mulai membara di dadaku. Tapi

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 14

    Matahari pagi menyinari kamarku melalui celah tirai tebal. Aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa sakit, otot-otot di pahaku terasa kram, dan di antara kakiku masih terasa perih yang mengingatkanku pada malam yang menghabiskan dua jam di pelukan Nathaniel.Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap bekas merah di leherku di cermin. Bekas gigitan Nathaniel. Aku menutupnya dengan selendang tipis, berharap tidak ada yang melihat.Di luar, aku mendengar suara mobil masuk ke garasi. Derek? Jantungku berdegup kencang. Tapi kemudian aku mendengar suara lain, suara yang sudah lama tidak kudengar.Suara ayahku.Aku berjalan cepat ke jendela, membuka tirai sedikit. Di bawah, sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di halaman mansion. Seorang pria dengan setelan jas abu-abu keluar dari mobil, tubuhnya tinggi, rambutnya mulai beruban, wajahnya tegas dan berwibawa.Ayahku, Harrison Voss.Jantungku berdegup kencang. Ayah datang. Tanpa memberitahu. Ini bukan kunjungan biasa.Aku berganti paka

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 13

    Aku terbaring di samping Nathaniel, tubuhku lemas seperti boneka kain. Napasku masih tersengal-sengal, dadaku naik turun dengan cepat, dan di antara pahaku terasa hangat dan basah, bekas dari dua jam yang terasa seperti mimpi basah yang nyata.Hampir dua jam.Aku menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba mengatur pikiranku yang kacau. Di sampingku, Nathaniel berbaring dengan tenang, dadanya yang bidang naik turun perlahan. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, kerutan halus di sudut matanya, tubuhnya tetap kuat. Kekar, perkasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali.Aku menoleh, menatap profilnya. Tulang rahangnya yang tegas, bibirnya yang tipis dan tegas, matanya yang tertutup dengan bulu mata panjang.Pria ini, ayah mertuaku, baru saja menghancurkanku di tempat tidur dengan cara yang tidak pernah Derek lakukan dalam tujuh tahun pernikahan.Aku menggigit bibir, perasaan aneh bercampur di dadaku. Rasa bersalah, kenikmatan, kebingungan, dan sedikit rasa malu.P

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 12

    Nathaniel tersenyum puas, tapi senyum itu penuh nafsu liar. Dia tidak menarik keluar. Sebaliknya, dia mulai bergerak lagi, lambat dulu, lalu semakin dalam, semakin keras. Batang tebalnya masih kaku sempurna di dalam diriku yang basah dan berdenyut.“Masih keras, Daddy…” desahku, suaraku serak. “Derek… Derek cuma tahan tujuh menit… kau… kau tidak habis-habis…”“Tujuh menit?” Nathaniel tertawa rendah, suara seraknya membuat tubuhku bergidik. “Anak itu memang tidak tahu cara memakai batangnya. Aku bisa mengisimu sepanjang malam, sayang. Lihat masih tegang banget, kan?”Dia menghentak dalam sekali, membuat perutku yang gendut berguncang. Aku mengerang keras.“Ahhh! fuck! Daddy… pelan… ahh…”“Pelan? Tadi kau bilang terus. Sekarang kau minta pelan?” Dia menarik hampir seluruhnya keluar, lalu menusuk masuk sampai ke pangkal dengan tenaga penuh. “Tubuhmu yang gendut ini empuk banget. Aku suka sekali. Payvdara besarmu, perutmu yang lembut, pantatmu yang montok semuanya buatku gila.”Dia menari

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 11

    Nathaniel langsung berhenti bergerak, tubuhnya masih tertanam dalam diriku sampai ke pangkal. Napasnya berat, dadanya naik-turun di atasku. Matanya menatapku tajam, penuh perhatian, bukan hanya nafsu.“Shh… pelan-pelan, sayang,” bisiknya serak. Tangannya mengusap rambutku yang basah keringat, lalu turun ke pipiku. “Aku tahu aku terlalu besar buatmu. Derek tidak pernah mengisimu sebegini dalam. Tapi aku tidak akan memaksamu. Bernapaslah… pelan.”Aku mengangguk, masih meringis. Perih itu nyata seolah dinding dalamnya meregang paksa, dipaksa menerima sesuatu yang jauh lebih tebal dan panjang dari yang pernah aku kenal tapi di balik rasa sakit itu, ada rasa kenyang yang aneh, rasa dipenuhi sampai ke ujung.“Daddy… pelan,” desahku, suaraku gemetar.Dia mencium keningku, lalu bibirku, lembut sekali. “Ya. Pelan.”Gerakannya dimulai lagi, sangat lambat. Hampir tidak bergerak, hanya menggeser sedikit keluar, lalu masuk lagi seinci demi seinci. Setiap kali kepala kontolnya menggesek titik dalam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status