MasukPagi hari, Rayhan sudah rapi dan turun ke bawah untuk sarapan.
Alisha sudah menyiapkan semua sarapan, namun begitu Rayhan datang Alisha langsung meninggalkan Rayhan di ruang makan. “Alisha kamu mau kemana? Temani aku sarapan karena ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu.” Alisha yang masih kesal dengan Rayhan karena kejadian kemarin pagi, hari ini pun Alisha masih terlihat kecewa dengan Rayhan. Alisha duduk ditempat biasa Alisha duduk saat makan. “Ada apa mas ? apa yang akan kamu bicarakan, apakah sangat penting ? Sebaiknya cepat karena aku harus melihat Raka diatas.” Sambil menyiapkan sarapan ke atas piring Rayhan, wajah Alisha tetap terlihat tidak menunjukkan senyuman sama sekali. “Alisha jadi begini sayang, aku sudah minta tolong ke Roby, kamu masih mengenal Roby kan teman kantor aku.” Tanya Rayhan pada Alisha dan kebetulan Alisha masih ingat siapa Roby tersebut. “hmmm ... iya aku ingat, memangnya ada apa ?” Alisha duduk setelah menyelesaikan mempersiapkan sarapan untuk Rayhan ke dalam piringnya. “Begini Alisha, aku melihat semenjak ada Raka, kamu semakin sulit melayani aku. Ingat bukan hanya pelayanan untuk sarapan dan pelayanan menyiapkan pakaian, tapi juga pelayanan ranjang. Jadi aku memutuskan untuk meminta tolong pada Roby agar mencarikan seorang baby sitter untuk membantu kamu dirumah.” “Aku ingin nanti suster yang merawat Raka, tapi kamu masih punya hak kapan saja menemui, menggendong dan lain – lain saat siang hari, kecuali saat malam hari, aku ingin kamu fokus melayani semua kebutuhan aku.” Alisha terdiam sambil berpikir dalam hati. “Aku paling tidak suka dengan suster, entahlah aku merasa seperti tidak nyaman saja, apa lagi kalau susternya masih muda.” Hati Alisha masih terlihat bingung dengan keputusan Rayhan yang akan mengambil jasa baby sitter untuk bayi mereka. “Tapi mas aku .... “ Belum selesai Alisha akan membantah niat Rayhan ternyata Rayhan sudah memotong ucapan Alisha. “Sudahlah Alisha, untuk kali ini dengarkan apa yang aku katakan. Janganlah membantah Alisha, aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu.” Alisha berdiri dan meninggalkan Rayhan yang masih sarapan. “Terserah kamu lah mas, yang penting aku tidak mau dengan adanya baby sitter untuk Raka, ranah pribadi aku jadi terganggu dan aku tidak memiliki privacy lagi bersama anak aku sendiri.” Rayhan terlihat kembali kesal dengan ucapan Alisha, bagaimana tidak, Rayhan berniat meringankan pekerjaan Alisha, namun Alisha justru terlihat tidak menyetujui keputusan Rayhan. Namun Rayhan yang keras kepala, seolah tidak perduli dengan perasaan Alisha, karena bagi Rayhan, keputusan mengambil baby sitter adalah jalan terbaik agar Alisha bisa fokus melayani Rayhan. ** Setelah perdebatan di meja makan antara Rayhan dan Alisha. Hari Sabtu ini kebetulan Rayhan libur, dan akan pergi bermain golf dengan Roby. “Halo ... iya Rob, kita jadi kan main golf.” Tanya Rayhan pada Roby yang mengira Roby menghubunginya karena akan memberitahu soal golf, ternyata Roby menghubungi Rayhan hanya ingin memberitahu kalau pagi ini baby sitter pesanan Rayhan ada datang kerumahnya. “Jadi dong ... tapi gue telpon bukan mau bahas itu, gue mau ngasih tahu kalau baby sitter yang lu pesen lagi arah ke rumah lu, dianter sama suster anak gue. Udah dari tadi sih, paling bentar lagi nyampe.” Setelah memberitahu tentang kedatangan baby sitter untuk Raka ke rumah Rayhan, panggilan pun berakhir dan tidak berapa lama suara bel berbunyi. Karena Alisha sedang di kamar bersama Raka, akhirnya Rayhan yang membukakan pintu. “Assallamualaikum pak Rayhan yah, saya Ana susternya Bara anak pak Roby.” “Saya datang membawa suster yang dipesan oleh pak Roby untuk pak Rayhan.” Mereka berjabat tangan dan terakhir suster Ana memperkenalkan calon suster untuk Raka. “Pak Rayhan ini Celine, yang akan menjadi suster Raka.” Rayhan melihat dari atas sampai ke bawah, untuk memastikan kalau Celine suster Raka bersih dan sesuai dengan apa yang diminta oleh Rayhan pada Roby. “Oh jadi ini susternya ... baiklah kita masuk dulu, biar kita bisa bicara mengenai pengalaman dan lain – lain.” Rayhan berjalan ke ruang tengah dan mereka duduk dengan sopan. Rayhan pun bertanya segala macam pada Celine. Hingga akhirnya segala pertanyaan sudah selesai, bahkan mengenai besaran gaji bulanan yang akan di terima oleh Celine, saat sudah menjadi suster Raka. Tidak berapa lama Alisha turun dengan membawa Raka, sesaat sebelum suster Ana pulang. “Eh bu Alisha dan ada si tampan Raka.” Suster Ana mendekati Alisha yang memang kebetulan sudah saling kenal. Suster Ana menggendong Raka sebentar sebelum suster Ana pulang. “Sus Ana tumben pagi – pagi, ada apa ?” Tanya Alisha pada suster Ana yang memang belum mengetahui maksud kedatangannya kerumah Alisha. Belum sempat suster Ana berbicara dan menjawab pertanyaan Alisha, tiba - tiba Rayhan menjawab pertanyaan Alisha terlebih dahulu. “Jadi begini sayang, suster Ana datang ke sini membawa baby sitter untuk Raka anak kita.” “Oh iya perkenalkan ini Celina tapi biasa dipanggil Celine (baca selin), dia suster yang akan membantu kamu merawat Raka.” Celine menyodorkan tangannya dan dibalas oleh Alisha dengan wajah yang terlihat terpaksa. Setelah saling berkenalan, tidak berapa lama suster Ana pun izin dan pamit akan segera pulang. Alisha, Rayhan dan Celine kembali duduk di ruang tengah sambil mengobrol ringan. “Sayang coba kamu berikan Raka pada suster Celine, apakah Raka cocok atau tidak ?” Meskipun Alisha sebenarnya tidak menyetujui keputusan Rayhan, tapi Alisha tetap mengikuti perintah Rayhan, dengan memberikan Raka pada Celine. Celine menerima Raka dan menggendongnya sambil berjalan. “Oke Celine tolong berikan Raka kembali pada Alisha, kita akan membicarakan mengenai tugas kamu apa saja yang boleh dan tidak boleh kamu kerjakan di rumah ini.” Celine kembali menyerahkan Raka pada Alisha, mereka pun membahas pekerjaan Celine. “Jadi begini ya Celine, aku cocok dengan masakan isteri aku, jadi untuk urusan masak biarkan Alisha yang masak. Tapi jika kamu ingin masak sesuatu, silahkan asalkan setelah masak kamu merapikan kembali semuanya, karena isteri aku sangat bersih orangnya.” Setelah percakapan selesai Raka menangis dan Alisha mengajak Raka ke kamar. “Mas kamu tolong tunjukkan kamar Celine yah, aku akan membawa Raka ke kamar, sepertinya dia butuh asi.” Rakha pun mengantar Celine menuju ke kamarnya sedangkan Alisha naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. “Susternya masih sangat muda, sepertinya usianya juga jauh dibawah aku. Dan kelihatannya sih perempuan baik – baik. Semoga apa yang aku khawatirkan selama ini tidak terjadi.” Ungkapan hati Alisha saat naik keatas mengenai Celine yang memang sangat cantik, bersih dan tubuhnya masih sangat bagus, berbeda dengan Alisha yang sedikit gemuk setelah melahirkan. ** "Celine ... maaf sebelumnya, sebenarnya aku ingin memanggil mbak tapi sepertinya usia kamu masih sangat muda. Aku rasa kalau aku hanya memanggil nama saja tidak masalah kan ?” Tanya Rayhan saat berjalan menuju ke kamar Celine yang letaknya dibelakang. “Tidak apa – apa pak, apa saja senyamannya bapak asal jangan panggil saya tante Celine, hehehe.” Keduanya tertawa mendengar celoteh Celine pada Rayhan. “Masa iya perempuan muda dan cantik aku panggil tante, yang benar saja kamu.” Tanpa sadar Rayhan menyebut Celine cantik membuat jantung Celine berdetak kencang. “Nah ini kamar kamu Celine, kamu bisa istirahat disini, tapi kalau malam kamu tidur di kamar Raka yah dan saat jam - jam tidur Raka, kamu harus ada di dekatnya.” Celine meletakkan tas berisi pakaiannya ke atas ranjang tidurnya. “Baik pak.” Jawab Celine singkat dan Rayhan pun pamit dari kamar Celine. “Ya sudah kamu istirahat lah, nanti kalau ada yang diperlukan isteri aku, dia pasti akan memanggil kamu.” Rayhan keluar dari kamar Celine dan akan menuju ke kamarnya di atas menyusul Alisha.Malam mulai turun ketika Rayhan akhirnya tiba di hotel yang sudah disepakati.Setelah memarkir mobil, Rayhan masuk melalui lobi dengan langkah tenang. Sesekali matanya melihat layar ponsel, memastikan tidak ada pesan dari Alisha.Rayhan menghela napas lega. Langkahnya kian pasti dengan penuh semangat dan bibirnya tidak berhenti tersenyum.Rayhan langsung duduk di lobby hotel setelah memesan kamar.Tidak berapa lama Rayhan melihat Celine datang dan langsung menghampiri Rayhan.Rayhan memberi kunci hotel dan meminta Celine untuk masuk lebih dulu.Sampai di depan pintu kamar Celine membuka dan masuk ke dalam.Tidak begitu lama terdengar pintu diketuk.TokTokTokBegitu pintu terbuka, sosok Rayhan berdiri di hadapannya."Maaf membuat kamu lama menunggu?" tanya Rayhan.Celine menggeleng."Baru beberapa menit."Rayhan masuk, lalu menutup pintu.Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang.Pertemuan mereka memang bukan yang pertama, tetapi berada berdua di sebuah k
Menjelang malam, Rayhan baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaannya ketika dia mengambil ponsel dari atas meja. Sejak beberapa menit lalu, pikirannya hanya tertuju pada satu hal, pertemuannya dengan Celine.Namun dia juga masih bingung bagaimana cara dia harus meminta izin kepada Alisha.Rayhan menghela napas panjang sambil menatap layar ponselnya, ada rasa ragu dihatinya, meski begitu dia akhirnya menghubungi istrinya.Tidak lama kemudian, panggilan tersambung."Halo, mas?" suara Alisha terdengar dari seberang."Sayang, nanti sore aku mau keluar sebentar." Rayhan akhirnya berani mengatakan itu pada Alisha."Keluar?" Alisha bertanya karena sudah lama Rayhan tidak meminta ijin keluar setelah pulang kerja, bahkan kadang Rayhan selalu bilang lelah dan tidak ingin keluar bersama temannya."Iya. Ada teman-teman kantor yang ngajak ngopi di kafe. Sekalian ngobrol santai."Di seberang sana, Alisha langsung terdiam dan terus berpikir.Rayhan yang mendengar keheningan itu mulai meras
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, dengan menggunakan ojek online, akhirnya Celine sampai di gedung Bimantara Sakti.“Astaga gedungnya besar dan tinggi sekali. Pak Rayhan pasti mendapatkan gaji yang sangat besar, karena gedungnya saja besar pasti gajinya juga besar.”Celine tersenyum sambil terus menatap gedung tinggi tersebut.“Jika memang gajinya besar, kalau begitu aku akan minta dibelikan perhiasan.”Celine masih berdiri tepat di depan gedung perkantoran tempat Rayhan bekerja, ditangannya menggenggam sebuah tas berisi bekal makan siang. Setelah menarik napas panjang, dia melangkah masuk dengan sedikit gugup.“Aku takut salah didalam sana. Eh ... tapi aku pasti bisa.”Celine pun masuk kedalam melalui pintu utama dan ternyata ada pemeriksaan oleh security, namun Celine menjelaskan pada security tersebut kalau Celine akan bertemu Rayhan. Beruntungnya security tersebut mengenal Rayhan dan Celine diarahkan untuk bertemu Reseptionis terlebih dahulu.Sesampainya
Rayhan terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun. Saat ini Rayhan sedang berdiri tepat di depan pintu kamar Celine. Tangan Rayhan terangkat namun terdiam sejenak tanpa mengetuk pintu tersebut. Hingga akhirnya.TokTokTokSuara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar Celine.“Celine ... ini aku Rayhan.”Suara Rayhan pelan dan nyaris tidak terdengar.TokTokTokRayhan kembali mengetuk karena tidak mendengar jawaban Celine.“Celine buka pintunya, aku tahu kamu belum tidur.”Cukup lama Rayhan menunggu Celine membuka pintu, namun sayang Celine tidak juga membuka pintu kamarnya.“Astaga ... Celine kamu dimana sih. Masa iya kamu sudah tidur jam segini ?”TokTokTokRayhan kembali mengetuk, namun sayang ... hasilnya sama Celine tetap tidak membuka pintunya.Rayhan mengepalkan tangannya seolah akan memukul pintu kamar Celine.“Sialan kamu Celine!” Rayhan terus memaki Celine pelan, bahkan dia terlihat sangat emosi karena Celine tidak membukakan pintu, sedangkan Ray
Rayhan naik ke tangga tanpa menoleh sedikit pun ke arah Celine yang masih berdiri terpaku di ruang tamu.Sikap Rayhan barusan benar-benar berbeda dari biasanya.Biasanya, setiap kali pulang kalau tidak ada Alisha, Rayhan selalu menunjukkan perhatian kecil kepada Celine. Sebuah tatapan, senyum tipis, atau sekadar pertanyaan sederhana sudah cukup membuat Celine merasa bahwa dirinya diperhatikan.Namun kali ini tidak. Rayhan bahkan seolah sengaja menjaga jarak. Celine mengepalkan tangannya dan wajahnya sedikit memerah.“Kenapa pak Rayhan bersikap seperti itu kepadaku. Tidak biasanya dia seperti ini.”Tatapannya mengikuti punggung Rayhan sampai pria itu menghilang di balik tangga.Dalam hati, Celine mendengus kesal.“Baiklah. Kalau sekarang kamu tidak menginginkanku, aku tidak akan memaksamu.”Celine menarik napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan.“Tapi awas saja kalau suatu hari nanti kamu yang mencariku dan membutuhkanku.”Celine tersenyum tipis.“Jangan harap aku akan la
Dua jam kemudian, rapat Rayhan akhirnya selesai. Dia kembali ke ruangannya dengan wajah lelah. Namun begitu duduk, sekretarisnya langsung mengetuk pintu.TokTokTok “Masuk.” Suara Rayhan terdengar dari dalam."Permisi pak, ada bu Alisha ingin bertemu." Mila memberitahu Rayhan kalau ada Alisha ingin bertemu dengannya."Alisha?" tanya Rayhan."Iya pak bu Alisha."Rayhan langsung mengangkat wajah."Serius Alisha?" tanya Rayhan memastikan."Iya, pak."Rayhan berdiri. “Tidak biasanya Alisha datang ke kantor tanpa memberi kabar lebih dahulu.” Pikir Rayhan.Pintu terbuka. Alisha masuk sambil membawa sebuah tas kecil. Rayhan berjalan menghampirinya."Ada apa sayang ? Kenapa tiba-tiba datang?" suara Rayhan terdengar berpura-pura senang dan Alisha tersenyum."Aku ingin mengajakmu makan siang."Rayhan membalas senyum itu, tetapi ada sesuatu dalam tatapan Alisha yang membuatnya merasa tidak nyaman.Seolah-olah kedatangan istrinya bukan sekadar untuk makan siang."Baik. Tunggu
Celine menutup pintu setelah Rayhan berangkat ke kantor.“Pak Rayhan tampan sekali tapi sayang sudah ada yang punya. Sebenarnya pak Rayhan itu bahagia tapi entah kenapa, seperti ada yang ditutupi oleh pak Rayhan. Tapi aku tidak tahu itu apa ? Ah ... sudahlah nggak usah ikut campur urusan rumah
Setelah mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian tidur, Celine kembali ke kamar Raka dan saat kembali melewati kamar Rayhan dan Alisha, suara desahan Alisha masih terdengar bahkan bukan hanya desahhan tapi juga suara erangan Alisha dan tidak berapa lama terdengar suara Alisha yang ingin menyudah
Rayhan mendekati Alisha dan Alisha membawa Raka ke kamar Alisha.“Sayang si tampan ini hanya milik kamu.”Alisha langsung duduk di pinggir ranjang dan Rayhan duduk disebelahnya.“Jangan berikan asi lagi nanti dia kembali muntah.”Alisha tidak menjawab lalu meletakkannya diatas ranjang tidur Ali
Rayhan membuka pintu kamar dan melihat Alisha yang sedang memberikan asi untuk Raka. Rayhan duduk di samping Alisha dan mengecup pucuk kepala Alisha. “Sayang apa kamu marah ? Maafkan mas yah, kalau kamu kecewa karena mas mengambil keputusan tanpa memberitahukan kamu. Ini semua mas lakukan kar







