LOGIN
"Mas .. eeggghh ....”
Suara desahan dan leguhan serta peraduan dua manusia yang sedang menikmati malam bahagia setelah hampir dua bulan keduanya tidak saling bersentuhan, itu semua karena Alisha baru saja melahirkan. “Alisha ... sayang, sungguh mas merindukan ini sayang.” Baru saja Rayhan akan sampai puncak dan gerakan naik turun yang sangat intens bahkan nafas Rayhan sudah sangat terengah-engah, tiba – tiba suara tangisan bayi mereka terdengar begitu keras, membuat Alisha meminta Rayhan untuk segera menghentikan kegiatannya. “Mas hentikan mas ... itu Raka menangis mas.” “Mas Rayhan ....” Rayhan yang sedang tanggung tidak menggubris permintaan Alisha, justru Rayhan semakin cepat memompa gerakannya. “Tidak sayang ... mas hampir sampai.” “Alisha ... aahhh ... Alisha.” Hingga akhirnya .. “Aahhh ... Alisha.” Baru saja Rayhan sampai pada puncak kenikmatannya, sedangkan Alisha belum sampai karena pikirannya sudah tertuju pada suara tangisan bayi mereka, ditambah suara tangisan Raka semakin keras akhirnya Alisha mendorong tubuh Rayhan yang bahkan baru saja sampai di puncak. Rayhan sangat kesal dengan Alisha karena baru saja sampai di puncak, bahkan baru setengah semprotan, Alisha langsung mendorong tubuh Rayhan dengan kasar. Rayhan terpental ke ranjang sedangkan Alisha segera menutup tubuhnya dengan selimut dan langsung berlari menghampiri Raka yang terus menangis, tanpa perduli Rayhan dan Alisha dalam keadaan setengah telanjang. Ternyata wajah Raka tertutup selimutnya sehingga tidak dapat bernafas, itu sebabnya dia menangis histeris. Rayhan yang kesal langsung ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang penuh keringat. Alisha memberikan ASI pada Raka sedangkan Rayhan keluar dari kamar dengan wajah kusut karena tuntas hanya di ujung. Alisha melihat Rayhan keluar dari kamar mandi dengan wajah terlihat sangat kecewa, namun Alisha tetap diam. “Kenapa harus kecewa mas, kamu sudah sampai sedangkan aku belum sampai sama sekali tapi aku biasa saja.” Sambil memberi ASI Alisha terus merutuki kekesalannya pada Rayhan. Setelah Raka kembali tenang, Alisha kembali meletakkan Raka di box tidurnya, sedangkan Alisha kembali merebahkan dirinya di atas ranjang setelah sebelumnya Alisha membersihkan tubuhnya dari sisa permainannya dengan Rayhan suaminya tadi. ** Keesokan pagi Alisha sudah selesai membuat sarapan untuk dirinya sendiri dan Rayhan. “Mas Rayhan pasti sudah sangat lapar, setelah permainan kami tadi malam.” Tangan lembut Alisha yang sekarang sudah tidak lagi normal karena setelah melahirkan Alisha terlihat semakin gemuk, tangan itu dengan cekatan menyiapkan sarapan ke meja makan. Rayhan bangun dan langsung turun, bahkan sudah memakai baju kerja, namun wajahnya masih terlihat kusut. “Sarapan mas ?” Alisha menawarkan sarapan pada Rayhan, karena Alisha sengaja bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Namun ternyata tidak sesuai harapan Alisha, karena Rayhan menolaknya. “Aku sarapan di kantor saja.” Hanya itu jawaban Rayhan pada Alisha, membuat Alisha sedikit kecewa dengan Rayhan, karena Alisha sudah rela dan sengaja bangun pagi untuk membuat sarapan ternyata Rayhan menolaknya. “Aku berangkat sekarang Sha !” Tanpa menunggu jawaban Alisha, Rayhan langsung keluar dengan membawa tas kerjanya. Alisha yang tahu kalau Rayhan saat ini sedang kecewa hanya diam dan biasanya juga seperti itu, nanti dia dengan sendirinya akan kembali membaik. “Rupanya dia masih marah masalah tadi malam, terserahlah mas.” “Kamu kira cuma kamu saja yang kecewa.” “Repot sekali memiliki suami yang suka sekali begituan.” Alisha melanjutkan sarapannya, karena memang sudah sangat lapar, setelah Raka terus minum asi membuat perut Alisha kosong, Raka begitu kuat minum asi meskipun dibantu susu formula. Selesai sarapan Alisha membereskan dapur dan ruang makan, lalu kembali ke kamar untuk melihat keadaan Raka yang terlihat masih terlelap. ** Sampai di kantor wajah Rayhan masih terlihat kusut, bahkan Rayhan membanting tas diatas meja ruang kerjanya. Di kantor posisi Rayhan juga sangat penting, Rayhan menjabat sebagai Manager Pemasaran disalah satu perusahaan ekspor impor di kota Jakarta, dengan gaji sebulan pastinya sangat fantastis, itu sebabnya Rayhan meminta Alisha untuk berhenti bekerja setelah melahirkan Raka. Roby sahabat Rayhan di kantor menghampiri Rayhan dan duduk di depan kursi meja kerja Rayhan. “Woy bos ... lu kenapa ? nggak biasanya muka lu ditekuk gitu ?” “Lu lagi ada masalah sama Alisha ?" "Biasa Ray rumah tangga baru punya anak satu godaan perkawinan mulai terasa.” Roby terbiasa menggunakan bahasa tidak formal saat berbicara dengan Rayhan, meskipun jabatan mereka berbeda sangat jauh. Roby hanya sebagai staff keuangan, meski begitu mereka berdua tidak pernah terlihat membedakan jabatan mereka saat sedang mengobrol. “Mending lu cerita deh ke gue ada apaan, siapa tahu gue bisa bantu ?” Rayhan yang memang sangat dekat dengan Roby, akhirnya menceritakan kejadian tadi malam dengan Alisha, yang membuat Rayhan terbawa kecewa hingga pagi hari ini. Mendengar cerita Rayhan, Roby justru tertawa sangat keras dan Rayhan melempar kertas yang ada di mejanya. “Owalah jadi karena itu, hahaha ...” “Aduh ... apa – apaan sih lu, pake lempar – lempar kertas segala.” Roby protes pada Rayhan sambil terus tertawa pelan. “Bercanda lu nggak lucu tau Rob, bukannya bantuin gue cari solusi malah ngetawain gue.” Wajah Rayhan terlihat begitu kesal dengan Roby, justru Roby terlihat tenang setelah meledek Rayhan. “Jadi mau lu gue bantu apa sekarang ? Bantuin lu keluar lagi sampe puas ?” “Sorry kalau itu gue nggak bisa, kalau lu mau gue bisa cariin cewek yang bisa lu ajak awok awok.” Rayhan kembali melotot kearah Roby karena kesal dengan celotehan Roby yang terus meledek Rayhan. “Ya nggak gitu juga kali, gue juga ogah sama cewek sembarangan, mending gue main solo.” “Gue sih kepikiran cari baby sitter buat bayi gue dan bisa bantu Alisha. Jadi kalau malem kegiatan gue nggak ke ganggu.” “Lu tahu sendiri gue abis puasa hampir dua bulan, jadi gue pengennya tiap malem maen, buat ganti yang kemaren nggak begituan karena Alisha masih harus puasa selama empat puluh hari.” “Lu ada kenalan yayasan yang bisa dipercaya nggak, soalnya gue kalau asal nyari takutnya bermasalah itu suster. Nanti anak gue diculik gimana ? bisa repot gue. Lu tau sendiri Alisha sayang banget sama anaknya.” Roby terlihat terdiam dan sedang berpikir. “Ray gue sih nggak ada kenalan yayasan, tapi gue coba tanya sama suster anak gue ya ? Siapa tahu dia di kampung punya kenalan sodara atau tetangganya yang mau kerja ngasuh anak baru lahir.” “Begitu kan malah enak, kalau ada apa – apa tinggal datengin kampungnya.” “Kriteria lu mau yang kayak gimana ? nanti gue kasih tau suster anak gue.” Kali ini Rayhan yang terlihat berpikir kriteria suster yang diinginkan seperti apa ? “Yang pasti dia harus bersih jangan keliatan lusuh dan kumel. Jangan yang tua karena dia pasti cepat capek, jangan juga terlalu muda, gue takut yang ada dia bukan kerja malah asyik pacaran sama tukang sayur.” “Hahaha ...” Keduanya tertawa bersamaan setelah mendengar ucapan Rayhan barusan. “Ya udah nanti gue tanyain suster anak gue ya, begitu ada langsung gue kabarin.” “Ya udah gue cabut dulu yah, udah jam delapan lewat, nanti gue kena SP dari pak Manager pemasaran.” Roby pun berdiri akan keluar dari ruangan Rayhan. “Sialan lu ... gue pecat langsung nggak pake SP kalau buat lu.” Roby hanya tertawa sambil keluar dari ruang kerja Rayhan, karena manager yang dimaksud adalah Rayhan.Sampai di kantor, Rayhan langsung masuk ke ruangannya dan duduk di ruang kerjanya. Tas kerja diletakkan diatas meja dan Rayhan mengeluarkan Laptopnya. Laptop sudah terbuka dan beberapa berkas sudah tersusun. Namun selama hampir lima belas menit, tidak satu pun pekerjaan disentuhnya, pikiran Rayhan masih berada di rumah.Saat langkah kaki Celine yang tadi lewat di ruang makan, Alisha bertanya dan menatapnya saat sarapan tadi. Bahkan ke malam tadi, dimana dia baru saja bercinta dengan Celine.Rayhan menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menatap langit-langit.“Kenapa malah makin susah dilupakan …” gumamnya.Rayhan mengambil onselnya, lalu dibuka layar chat dengan Celine.Dia menatap kolom pesan kosong beberapa saat. Ingin mengirim pesan untuk Celine tapi dia ragu.Akhirnya dia mengunci layar kembali dan memutuskan untuk tidak menghubungi Celine.“Arrgghh ... sial ada apa dengan aku ?” pertanyaan itu muncul untuk dirinya sendiri.Sementara itu, di rumah Alisha sedang membantu Celine
Setelah itu pintu tertutup dan Rayhan tidak tampak lagi. Sementara Celine masih duduk di tepi ranjang dengan napas yang belum sepenuhnya tenang. Rambutnya sedikit berantakan, kulitnya lengket oleh keringat, dan pikirannya jauh lebih kacau dibandingkan tubuhnya. Ada rasa menyesal tapi juga ada rasa puas setelah percintaannya dengan Rayhan barusan. “Ya tuhan kenapa aku jadi begini ?” tanya Celine pada dirinya sendiri. “Harusnya aku bisa menolak ... tapi sentuhan pak Rayhan membuat aku lupa apa itu penolakan.” Begitu langkah Rayhan tak lagi terdengar, Celine perlahan berdiri. Dia berjalan menuju kamar mandi kecil di belakang kamarnya, lalu menyalakan air. Dengan diam, dia membersihkan dirinya, berusaha menghapus sisa-sisa percintaan mereka dari tubuhnya, seakan sisa keringat Rayhan tidak bisa hilang begitu saja. Namun yang paling sulit dibersihkan justru bukan jejak di keringat keduanya, tetapi perasaan yang terus bertentangan di dalam hati. Air mengalir cukup lama dan akhirnya
Melihat Rayhan pergi meninggalkan Celine. Celine pun beranjak menuju ke belakang, karena akan ke kamarnya terlebih dahulu.Baru saja Rayhan melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga, tiba-tiba Rayhan membalikkan badannya dan kembali mendekati Celine.Rayhan berjalan cepat mengejar Celine dan akhirnya Rayhan memeluk Celine dari belakang lalu membalikkan badan Celine, sehingga kini keduanya saling berhadapan.“Maaf Celine aku sudah tidak tahan.”Rayhan langsung mendorong tubuh Celine dan Celine tidak dapat menghindari karena tubuhnya kini diapit antara tubuh Rayhan dan tembok.Rayhan langsung mencium Celine dengan rakus, seakan tidak pernah mencium bibir Celine sebelumnya.Celine terlihat gelagapan, berusaha menghindar karena takut tiba-tiba Alisha datang dan melihat mereka.“eemmphh ... pak.”Tidak membiarkan Celine melepas pagutannya, Rayhan kembali meraih bibir Celine dan kali ini sebelah tangan Rayhan memegang tengkuk Celine, sehingga Celine tidak dapat menghindari lagi.
Sampai di lantai dua, Rayhan terpaku di depan pintu kamar Raka, tangan Rayhan sudah terangkat dan hampir saja mengetuk pintu kamar Raka.“Mas ... kamu ngapain ke kamar Raka ?”Tiba-tiba suara Alisha terdengar, membuat Rayhan menggantungkan tangannya dan tidak jadi mengetuk pintu.“Eh ... eemm ... sayang kamu belum tidur ?” tanya Rayhan dengan suara gugup karena terkejut saat mendengar suara Alisha.“Aku mau lihat Raka sebentar.”Jawab Rayhan sekenanya karena takut Alisha curiga. Alisha berjalan mendekati Rayhan.“Raka sudah tidur. Tadi aku sempat melihat sebelum masuk ke kamar.”Alisha menggandeng tangan Rayhan dan membawanya ke kamar mereka.“Sudah jangan diganggu, mereka pasti sudah tertidur pulas.”Rayhan menggaruk kepalanya sambil tersenyum kikuk dan berjalan mengikuti Alisha menuju ke kamarnya.“Sial ... kenapa Alisha belum tidur sih ? gagal deh aku menyambangi Celine.” Gerutu Rayhan sambil berjalan mengikuti Alisha.**Malam berganti, pagi hari Alisha dan Celine su
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa … tapi tidak benar-benar normal bagi Celine, tidak seperti sebelumnya dimana antara Celine dan Rayhan tidak ada skandal percintaan seperti sekarang. Meski begitu sampai saat ini Alisha masih belum mengetahui perselingkuhan Rayhan dan Celine.Kesibukan di rumah itu masih sama. Rutinitas tetap berjalan setiap hari, membuat sarapan, membereskan rumah, mengurus Raka, menunggu Rayhan pulang.Namun di dalamnya, ada ketegangan yang perlahan semakin terasa, apa lagi kalau bukan perselingkuhan dan pengkhianatan.Hari pertama setelah Celine kembali, semuanya masih bisa dikendalikan, meskipun Celine masih suka gugup jika didekat Alisha. Celine dan Rayhan masih menjaga jarak agar tidak terlihat terlalu dekat saat berada bersama Alisha.Hari kedua Celine berada di rumah Alisha, Celine mulai terasa berbeda.Setiap kali Celine berhadapan dengan Alisha, jantungnya selalu berdegup lebih cepat. Tatapan Alisha yang sebenarnya lembut, entah kenapa teras
Hari berganti, pagi itu berjalan tidak seperti biasanya. Pagi hari, Celine selesai merapikan kamarnya dan kembali ke rutinitas, suasana rumah terasa sedikit berbeda, semenjak Alisha pulang ke rumah orang tuanya.Raka yang biasanya langsung lengket dengan Celine, pagi itu justru menunjukkan reaksi yang tidak biasa.Saat Celine mencoba menggendongnya, Raka malah merengek dan memalingkan wajah. Raka seperti tahu kalau ada sesuatu yang jahat pada diri Celine.“Eh … kenapa, sayang ?” ucap Celine pelan, sedikit kaget.Raka justru semakin menangis, tangannya meraih ke arah Alisha.Alisha yang melihat itu langsung mendekat.“Sudah sini sama mamah,” katanya lembut sambil mengambil Raka dari gendongan Celine.Begitu berada di gendongan Alisha, Raka langsung tenang dan berhenti menangis.Celine terdiam, tangannya masih menggantung sebelum akhirnya diturunkan perlahan.“Maaf, bu …” ucapnya pelan.Alisha menggeleng kecil.“Tidak apa-apa. Mungkin dia lagi nggak mood saja.”Namun tatapa







