로그인Suara musik menggema memenuhi seluruh stadion. Puluhan ribu penonton bersorak ketika lampu utama menyala dan Leo bersama keempat anggota boyband-nya muncul di atas panggung.Senyum mereka terlihat sempurna. Gerakan mereka kompak. Tidak seorang pun penonton mengetahui bahwa di balik senyum itu, Leo sedang menahan kepanikan luar biasa. Matanya beberapa kali melirik ke arah kamera utama.Bukan kepada penggemar. Melainkan kepada monitor besar di sisi panggung yang menampilkan siaran langsung. Dia berharap menemukan sesuatu.Apa pun.Tanda bahwa Tante Almara masih baik-baik saja. Namun tidak ada. Hanya lautan manusia dan sorotan lampu."Leo!" Salah satu anggota grup menepuk bahunya saat pergantian formasi.Leo tersadar dan segera mengikuti koreografi. Dia tidak boleh membuat kesalahan.Bukan malam ini.Bukan ketika Tante Almara sudah mempertaruhkan dirinya demi konser ini.----------Sementara itu, di ruang misterius, Tante Almara masih berada di bawah pengawasan Faizal.Wanita itu berusah
Jantung Leo berdetak semakin keras. Tangannya masih menggenggam ponsel milik Tante Almara yang berisi pesan terakhir wanita itu."Maafkan Tante. Apa pun yang terjadi nanti, jangan tinggalkan panggung. Selamatkan konser ini."Bagaimana mungkin dia tetap berdiri di atas panggung ketika wanita yang dicintainya sedang berada dalam bahaya?"Leo!" Suara manajer membuatnya menoleh."Kamu di sini? Semua orang mencari kamu! Lima menit lagi pembukaan!"Leo menggertakkan rahangnya. "Bu Almara hilang."Manajer mengernyit. "Apa maksudmu?""Seseorang membawanya pergi."Belum sempat manajer bertanya lebih jauh, Rama datang berlari sambil membawa tablet di tangannya. "Leo!""Ada kabar?"Rama mengangguk cepat. "Aku berhasil menemukan rekaman CCTV yang sempat hilang.""Lihat."Leo menatap layar tablet. Rekaman itu hanya berlangsung beberapa detik. Terlihat Tante Almara berjalan seorang diri menuju lorong servis di bawah tribun stadion. Wajahnya tenang, tetapi langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah se
Pagi hari yang seharusnya menjadi awal paling membahagiakan bagi Almara Entertainment justru dipenuhi kecemasan. Sejak pukul enam, kawasan sekitar stadion sudah dipadati para penggemar. Ribuan lightstick berwarna biru muda memenuhi pelataran. Spanduk raksasa bergambar Leo dan anggota boyband lainnya terbentang di berbagai sudut.Namun, di balik kemeriahan itu, suasana di ruang kontrol keamanan jauh dari kata tenang. "Semua akses belakang sudah diperiksa?""Sudah, Pak.""Tim keamanan VIP?""Lengkap.""Petugas backstage?""Stand by."Rama berdiri di depan monitor CCTV bersama kepala keamanan. Puluhan layar menampilkan setiap sudut stadion. Tetapi perasaannya justru semakin tidak nyaman."Tambah personel di pintu barat," perintah Rama."Kenapa?""Perasaanku nggak enak."Di ruang ganti artis, Leo sedang mengenakan kostum panggung. Hari itu seharusnya menjadi hari yang selama bertahun-tahun dia impikan. Tur nasional pertama. Puluhan ribu penonton. Siaran langsung ke berbagai platform digit
Suasana di depan gedung Almara Entertainment berubah kacau. Puluhan wartawan berdesakan di depan pintu utama. Kilatan kamera menyala tanpa henti. Beberapa reporter bahkan melakukan siaran langsung. "Benarkah CEO Almara Entertainment memiliki hubungan spesial dengan salah satu artisnya?" "Apakah berita yang beredar di media sosial itu benar?" "Siapa idol yang dimaksud?" Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan. Petugas keamanan berusaha menahan mereka agar tidak memasuki area lobi. Di lantai dua puluh, Tante Almara berdiri memandangi kerumunan itu dari balik kaca. Tangannya perlahan mengepal. "Dia berhasil..." Leo berdiri tidak jauh darinya. Tatapannya sama dinginnya. "Belum." Tante Almara menoleh. "Ini baru permulaan." Di ruang rapat darurat, seluruh jajaran direksi sudah berkumpul. Ekspresi mereka tampak tegang. "Bu Almara, harga saham perusahaan mulai bergerak turun setelah rumor itu menyebar." "Kami juga mendapat telepon dari dua sponsor utama." "Mere
Pagi itu suasana di kantor pusat Almara Entertainment jauh lebih sibuk daripada biasanya. Para staf berlalu-lalang membawa berkas. Tim promosi sibuk membahas jadwal tur nasional boyband yang dipimpin Leo, sementara divisi media terus menerima telepon dari berbagai pihak.Namun di balik kesibukan itu, Tante Almara sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Semalaman dia tidak tidur. Pesan terakhir Faizal terus menghantui pikirannya."Nikmati dua hari terakhir kalian sebelum semuanya berubah."Kalimat itu bukan lagi terdengar seperti ancaman. Melainkan sebuah rencana. Sebuah rencana yang sudah disusun dengan matang.--------Leo memasuki ruang direktur tanpa mengetuk. Wajahnya terlihat tegang. "Tante."Tante Almara langsung berdiri. "Ada apa?"Leo menyerahkan tablet yang dibawanya. "Coba lihat."Di layar terpampang sebuah akun media sosial anonim. Akun itu baru dibuat beberapa jam lalu. Namun unggahan pertamanya langsung menarik ribuan perhatian. Isinya hanyalah sebuah foto siluet seorang w
BAB 20Ruangan rapat di lantai paling atas gedung Almara Entertainment dipenuhi suasana tegang. Beberapa direktur, manajer artis, dan kepala divisi pemasaran sudah duduk mengelilingi meja oval besar. Di layar proyektor terpampang jadwal konser nasional yang akan dimulai dua bulan lagi."Kalau tidak ada perubahan, tiket akan mulai dijual minggu depan," ujar salah seorang manajer.Tante Almara mengangguk pelan. "Pastikan semua persiapan berjalan sesuai jadwal. Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun."Semua mengiyakan. Namun di balik wajah tenangnya, pikirannya sama sekali tidak berada di ruang rapat itu.Pesan-pesan Faizal.Foto-foto yang diam-diam diambil.Ancaman yang semakin berani.Semua itu membuatnya sulit berkonsentrasi.Setelah rapat selesai, para peserta satu per satu meninggalkan ruangan. Baru saja Tante Almara hendak duduk kembali, sekretarisnya mengetuk pintu."Bu Almara.""Ya?""Ada wartawan hiburan yang menghubungi. Katanya ingin meminta konfirmasi mengenai rumor sa







