Share

Lima

Penulis: Na_Vya
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-20 16:08:34

Orhan dan Shanum langsung memasuki lift, sementara Emir masih mengikuti keduanya dengan sangat hati-hati. Beruntungnya di dalam lift tak hanya mereka bertiga yang berada dalam ruangan berjalan itu. Sebelumnya, sudah ada empat orang yang ada di dalamnya.

Agar tidak ketahuan, Emir berinisiatif memakai masker yang selalu dia bawa ke mana pun saat sedang menjalani misi seperti ini. Tugasnya tak hanya menjadi asisten Ozkhan, tetapi dia merangkap menjadi mata-mata. Maka dari itu, tugas semacam ini bisa dengan mudah dia kerjakan.

Dari tempatnya berdiri yang hanya berjarak beberapa jengkal saja dengan Shanum, Emir bisa mengamati gerak-gerik pasangan itu. Dari yang Emir lihat, jika Shanum hanya diam dan memasang raut cemas sekaligus khawatir.

Sikap Orhan pun tak lepas dari pantauan Emir. Lelaki berambut ikal itu begitu bengis pada sang istri. Dari caranya memperlakukan Shanum yang tidak sewajarnya membuat Emir menjadi makin penasaran.

"Jaga sikap kamu, Shanum. Aku tidak mau kamu membuat kesalahan lagi. Dan aku akan pastikan, kalau kamu berani kabur lagi, ibumu yang pikun itu akan aku lenyapkan," bisik Orhan, dan dia yakin sekali jika tak ada satu orang pun yang mendengar ancamannya.

Orhan tidak tahu dan tidak menyadari jika ada seseorang yang sedari tadi memantaunya. Sepasang manik Emir memicing sinis pada Orhan yang tidak melihat keberadaannya.

"Ba-baik, Orhan." Shanum menyahut lirih, dan rautnya kian memucat karena cemas.

"Good." Orhan merangkul pinggang Shanum.

Pintu lift akhirnya terbuka, dan satu persatu dari mereka keluar dari benda baja itu. Emir harus lebih berhati-hati lagi agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Orhan dan Shanum. Dia berjalan perlahan sambil mengamati situasi yang ada.

Setelah beberapa saat mengikuti, Emir terpaksa berhenti melangkah dan reflek mengambil ponsel dari saku celana untuk berpura-pura menelepon seseorang, karena Orhan dan Shanum yang mendadak berhenti.

"Sebenarnya mereka mau ke mana? Kenapa Shanum seperti orang tertekan?" gumam Emir sambil memerhatikan sepasang suami istri yang berada tak jauh darinya.

Kesempatan bagus bagi Emir untuk mengambil foto Orhan dan Shanum. Setelah berhasil mendapatkan beberapa foto, Emir langsung mengirimkannya pada Ozkhan.

"Sepertinya mereka hendak menemui seseorang, Tuan. Dan dari yang saya lihat, Shanum seperti ketakutan."

Emir pun memberikan keterangan dalam foto tersebut. Samar-samar telinganya juga mendengar pembicaraan antara Orhan dan Shanum.

"Kondisikan muka kamu, Shanum. Kamu mau pria itu menolakmu karena dia malas melihat mukamu yang tidak menyenangkan itu, huh?" kata Orhan dengan raut geram.

Orhan juga mencengkeram kuat lengan Shanum, sambil maniknya mengawasi sekitar. Dia tidak ingin kalau sampai ada orang yang curiga padanya.

Shanum meringis kesakitan lantaran cengkeraman Orhan yang menyakitkan. Saking takutnya dia sampai tergagap."Ma-maafkan aku, Orhan. A-aku hanya gugup karena semalam aku sempat kabur."

"Kamu memang tidak becus!" umpat Orhan.

"Orhan, apa boleh aku izin ke toilet sebentar? Aku… Aku…"

"Tidak! Kamu pasti mau menipuku, Shanum. Kamu pasti mau kabur. Iya'kan?"

Shanum menggeleng. "Tidak. A-aku tidak akan berani melakukan hal konyol itu. Aku jan—"

"Cepatlah! Aku akan mengantarmu. Ayo!"

Orhan tak ada pilihan lain selain mengizinkan Shanum ke toilet. Dan untuk kali ini dia tidak akan melakukan kesalahan lagi. Dia sendiri yang akan mengantar Shanum ke toilet.

Sementara keduanya menuju toilet, Emir memilih menunggu di tempatnya. Tak lama ponselnya berdering.

"Tuan Ozkhan?"

Emir bergegas menerima panggilan tersebut. "Ya, Tuan?"

"Apa kamu yakin kalau mereka ingin menemui seseorang di kamar itu?" tanya Ozkhan.

"Sepertinya iya, Tuan. Saya sempat mendengar Orhan memarahi Shanum agar menjaga sikap."

"Lalu, apa mereka sudah menemui orang itu?"

"Belum, Tuan. Shanum dan suaminya sedang ke toilet. Kemungkinan besar mereka akan kembali lagi ke sini."

Tak ada respon dari ujung telepon. Nampaknya Ozkhan sedang berpikir.

"Emir, apa nomor kamar itu satu kosong enam?" tanya Ozkhan.

"Saya akan memeriksanya Tuan."

Emir pun melangkah untuk memastikan nomor kamar yang akan dimasuki oleh Shanum. Keningnya spontan mengernyit karena tebakan Ozkhan yang tepat.

"Anda benar, Tuan. Nomornya satu kosong enam," papar Emir, seraya melangkah menjauh dari depan pintu tersebut lalu memutar punggung, sebab bertepatan dengan itu, Shanum dan suaminya muncul. "Tuan, Shanum dan suaminya sudah kembali."

"Emir dengarkan saya baik-baik …"

****

Ozkhan mengakhiri panggilan. Napasnya terdengar berat. Untuk saat ini pikirannya benar-benar sangat terganggu dengan masalah yang sedang dihadapi oleh Shanum.

"Apa suaminya berniat mengembalikan Shanum pada pria itu?"

Entah mengapa Ozkhan berfirasat demikian. Anehnya lagi niat menolong Shanum pun terbesit di benak Ozkhan. Lelaki itu lantas tak membuang waktu lagi, bergegas turun dari mobil untuk menyusul Emir yang dia perintahkan untuk mengulur waktu sebentar, sampai dia tiba di sana.

***

"Tuan Emir?"

Sepasang manik Shanum membelalak ketika sosok pria menjulang di hadapannya membuka masker.

Begitu pun dengan Orhan yang langsung memberi tatapan tajam ke arah Emir. Lebih tepatnya, dia marah sebab pria tak dikenal ini berani mencampuri urusannya.

"Siapa kamu? Kenapa kamu mencampuri urusan saya?" Raut Orhan amat geram karena Emir hanya memberinya tatapan sinis. Orhan lantas bertanya pada Shanum yang dia pikir mengenali pria asing serta kurang ajar di hadapannya. "Dan kamu Shanum, apa kamu mengenal pria ini, huh? Ada hubungan apa antara kalian?"

Manik Shanum mengerjap. Sialnya lagi, otaknya begitu lambat untuk mencerna apa yang dilihat saat ini. Sebuah kejutan karena Emir ternyata berada di hotel ini.

"Di-Dia …" 

Belum selesai Shanum menjawab, Emir sudah lebih dulu mengulurkan tangan ke hadapan Orhan. "Perkenalkan, saya Emir. Saya teman kantor Shanum." 

"Apa? Teman kantor?" Tatapan Orhan makin tajam, dia bahkan tak berminat membalas uluran tangan Emir. "Apa dia teman kantormu yang sudah menolongmu semalam, Shanum?" cecar Orhan tanpa melepas tatapannya pada Emir. 

Shanum membeku seraya menelan ludah. Lagi-lagi dia tergagap, "Itu … Dia ... Emmm …" 

Sungguh, Orhan tidak suka dengan cara Shanum menjawab pertanyaannya. Dia pun mencengkeram lengan istrinya itu dan berkata, "Jawab yang jelas, Shanum. Jangan ada yang kamu tutup-tutupi dariku. Mengerti, huh?" 

"Sakit, Orhan," rintih Shanum. 

Melihat teman sekantornya diperlakukan semena-mena tentu Emir merasa geram. Sebagai pria sejati dia tidak bisa tinggal diam melihat semua itu. Dengan kasar, Emir menepis tangan Orhan dari lengan Shanum. "Anda menyakiti istri Anda, Tuan." 

Shanum terkejut, sedangkan Orhan lebih terkejut lagi. Lelaki berambut ikal itu melangkah maju kemudian menarik kerah jas Emir. 

Orhan bersungut-sungut, dengan tatapan penuh amarah. "Apa-apaan ini? Anda sudah melewati batas, Tuan. Anda tidak perlu repot-repot ikut campur urusan saya dan istri saya. Dan karena sikap Anda yang sok tahu, kami jadi buang-buang waktu karena meladeni Anda." 

Emir menyeringai, lalu menyingkirkan tangan Orhan dari kerah jasnya. Dia sama sekali tidak takut dengan Orhan. "Maaf kalau saya sudah membuang waktu Anda," ujar Emir, lebih bersikap tenang agar tidak memancing keributan. 

Orhan mendengkus. 

"Sebenarnya, saya hanya ingin menawarkan sebuah kesepakatan pada Anda," lanjut Emir. 

Sepasang alis Orhan spontan naik. "Kesepakatan? Apa Anda pikir saya akan tertarik?" cibirnya sambil berkacak pinggang. 

"Saya yakin Anda akan tertarik, Tuan. Karena ini menyangkut uang." 

Orhan berdecak keras, dan melengos ke arah lain. "Anda pikir saya akan percaya dengan Anda? Sedangkan kita baru saja kenal. Sudahlah! Saya sudah tidak punya banyak waktu. Saya harus segera membawa istri saya pada pria itu." 

Orhan meraih pergelangan tangan Shanum, bersiap membawa istrinya itu pada pria yang sudah memberinya pinjaman. 

Namun, perkataan Emir membuat Orhan seketika urung dengan niatnya. "Bos saya yang akan mengganti rugi uang Anda. Tiga kali lipat dari uang pinjaman yang sudah Anda terima. Dengan kata lain, dia yang akan membeli istri Anda." 

"A-apa?" Bola mata Shanum membulat, antara terkejut dan shock bercampur menjadi satu di wajahnya detik ini. Dia tentu tahu siapa 'Bos' yang dimaksud Emir. 

'Apa Tuan Ozkhan masih berada di hotel ini?' batin Shanum. 

Saat pintu lift terbuka, ketiga pasang mata itu seketika tertuju pada sosok yang melangkah keluar dari sana. 

'Tuan Ozkhan …' 

***

Bersambung....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    151~

    Semuanya berjalan dengan lancar sesuai dengan perkiraan Ozkhan. Lelaki itu rupanya sudah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari. Bahkan sebelum Shanum berniat membantu mengurus sekolah Gul. Mulai dari dokumen dari pihak mempelai wanita, dan persetujuan orang tua. Mulai hari ini, dia dan Shanum telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dan mereka tinggal melakukan pemberkatan di gereja saat Ozkhan kembali dari Dubai. Tentunya, dengan pesta meriah dan mewah. Kendati pernikahan ini merupakan pernikahan kali kedua untuk mereka. Baik dari Shanum maupun Ozkhan. Namun, pria itu berniat menciptakan momen yang tak terlupakan bagi Shanum saat di pesta nanti. "Silakan disimpan salinan dokumen ini. Jangan sampai hilang." Petugas pria memberikan berkas salinan kepada sepasang pengantin baru itu. "Nanti, Anda bisa kembali lagi ke sini untuk memperbarui setelah melakukan pemberkatan." "Baik. Terima kasih." Ozkhan mengambil berkas tersebut, lalu menyerahkannya ke Shanum. "Simpanlah." Sha

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    150~

    "Kamu suka dasinya?" tanya Shanum setelah memasangkan dasi pemberiannya pada Ozkhan, yang pagi ini hendak berangkat ke kantor. Wanita itu juga sudah terlihat cantik dan rapi karena hari ini dia berencana hendak ke rumah sakit. "Apa pun itu asal kamu yang memberi, aku pasti suka. Terima kasih, Sayang." Ozkhan mengecup kening Shanum begitu lama. Kemudian mengusap pipi wanitanya dan berkata lagi, "Nanti siang aku akan menjemputmu di rumah sakit." "Menjemputku?" Ozkhan mengangguk, kedua tangannya tak mau diam. Direngkuhnya pinggang Shanum, ditatapnya lekat-lekat wajah cantik yang hingga detik ini mampu membuatnya makin terpikat. "Kamu yakin sudah siap melepas alat pencegah kehamilan yang ada di rahimmu?" Semalam, Shanum sempat memberitahu Ozkhan perihal kesiapannya untuk melepas alat pencegah kehamilan yang selama ini terpasang di rahimnya. Keputusan tersebut diambil oleh Shanum semata-mata untuk membalas kebaikan Ozkhan padanya selama ini. Pria itu menginginkan anak darinya. Ten

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    149~

    Selesai makan malam, Elis dan Sira membereskan meja, sedangkan Shanum dan Ozkhan naik ke kamar bersama Gul, karena gadis kecil itu meminta ditemani sebentar. Shanum membantu Gul membersihkan diri, dan menggosok gigi. Ritual sebelum tidur yang sudah menjadi kebiasaan. Sambil menunggu sang ayah yang hendak mandi terlebih dulu, dan berganti baju, baru setelah itu kembali menyusul bergabung. "Gul, ada yang bibi mau tanyakan padamu," ujar Shanum setelah memakaikan selimut untuk Gul yang sudah berbaring di tempat tidur. Wanita itu duduk di tepi, sambil mengusap-usap puncak kepala Gul. "Bibi mau tanya apa?" Gul menguap, usapan di puncak kepala membuatnya mengantuk. Sebelumnya, Shanum sudah memikirkan hal ini baik-baik. Karenanya, dia merasa perlu bertanya pada anak ini, supaya tidak menimbulkan salah paham. "Kira-kira, Gul ingin kembali ke sekolah, tidak?" Manik Shanum memerhatikan raut Gul yang seketika berubah. Mungkin, rasa kantuk gadis kecil itu pergi seketika. Terlihat je

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    148~

    [Saya sudah mengantongi bukti-bukti kejahatan tuan Ahmed. Kamu tidak perlu khawatir lagi, Shanum.] Antara percaya dan tidak, perasaan Shanum saat ini sulit untuk dijelaskan. Alhasil, dia pun merasa penasaran. Dari mana Malik mendapat semua bukti itu. "Kira-kira dari mana tuan Malik mendapatkan bukti-bukti itu?" Shanum mencoba menerka-nerka sendiri, sebab ragu untuk bertanya pada Malik. "Tuan Malik itu pengacara hebat, mungkin dia mendapat bukti-bukti itu dari orang suruhannya. Tapi... Bagaimana bisa secepat itu dia mendapatkannya?" Suara deru mesin mobil terdengar dari luar jendela kamar, membuat perhatian Shanum teralihkan. "Ozkhan?" Wanita itu bergegas meletakkan ponselnya ke atas nakas, niat membalas pesan Malik pun terlupakan. Shanum berlari ke depan kaca rias sekadar menelisik penampilannya sebentar. Riasannya sudah sempurna, tanpa perlu dipoles lagi. Selanjutnya, Shanum pergi dari kamar dan turun untuk menyambut Ozkhan. Baru menuruni beberapa anak tangga, maniknya sudah

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    147~

    Sekembalinya dari sesi terapi, raut Shanum terlihat berbeda. Sorot kekhawatiran tak lagi nampak di sepasang bola matanya yang bulat. Beban di pundak seolah ikut pergi bersama dengan kegamangan yang sejak beberapa hari ini menggelayut di hati. Shanum kini telah begitu yakin dengan keputusan dan pilihannya. Semua yang telah dia lalui bersama dengan Ozkhan selama ini tidak akan berakhir sia-sia. Shanum mungkin salah satu dari sekian banyak wanita di dunia ini yang beruntung. Dicintai dan sangat dilindungi merupakan hal yang sangat berarti baginya. Ozkhan tidak pernah ragu maupun goyah untuk selalu berada di sisinya. Berkat Sherin, Shanum kini menyadari betapa dia begitu mengandalkan Ozkhan dalam hidupnya. Tanpa Ozkhan, Shanum bukan siapa-siapa. Tanpa lelaki itu, hidup Shanum kemungkinan sudah berantakan dan hancur. Karena suasana hatinya sedang senang, Shanum ingin membuatkan sesuatu di hari spesial Ozkhan. Di perjalanan tadi, dia sempat mampir ke swalayan untuk membeli bahan-ba

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    146~

    Shanum menarik panjang napasnya setelah berhasil meluapkan isi hatinya pada Sherin. Wanita itu terlihat sedih, seakan kebaikan Ozkhan selama ini padanya sangat membebani. Bukannya dia tidak bersyukur atas segala cinta dan perhatian yang dilimpahkan oleh Ozkhan. "Apa sebaiknya aku pergi saja dari hidupnya?" Suara itu terdengar sangat putus asa, sehingga Shanum melontarkan kalimat yang tidak seharusnya. Dia menunduk, menekuri keputusan yang tiba-tiba muncul di kepala. "Kalau kamu pergi menjauh darinya, yang ada hatimu makin tersiksa, Shanum," kata Sherin mengutarakan pendapatnya. Terlihat jelas, jika saat ini Shanum sedang bingung dengan perasaannya sendiri. "Aku yakin, kamu tidak benar-benar ingin pergi darinya. Karena kamu sangat mencintainya, Shanum. Kamu tidak bisa hidup tanpa pria itu. Begitu pun sebaliknya." Hati Shanum tercubit dengan ucapan Sherin yang dengan mudah menebak perasaannya saat ini. Pandangan Shanum beralih pada Sherin, sudut bibirnya berkedut, dan sorot matan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status