LOGIN"Hihi, gak apa-apa, dia sudah terbiasa kok," balas Bila. "Aku gak tahan nih. Tapi kalau kakak malu... cukup gini saja juga gak apa-apa." Tangan Bila menyentuh batang Joko, lalu mengurutnya perlahan. Joko memeluk wanita itu. Dia menyeringai nakal. "Buat apa aku malu. Kalau milikku gak bagus, mungkin aku malu." "Hihi, benar banget!" Bila berinisiatif melumat bibir Joko. Dia melepaskan batang Joko, lalu melepaskan kancing kemeja Joko dengan gerakan cepat. Joko memegang tengkuk lehernya, lalu membalas ciuman ganas wanita itu. Tangannya meraih semangka besar wanita itu dan meremasnya dengan remasan yang cukup keras. Rinda melirik ke arah Joko dan Bila yang sudah mulai bercumbu panas itu. Wajahnya sedikit memerah, saat hasratnya mulai bergejolak. Dia membaringkan tubuhnya di sofa, lalu matanya fokus kembali ke layar ponsel. Helai demi helai pakaian terlepas dari tubuh Joko dan Bila. Sampai akhirnya, hanya pakaian dalam yang tersisa di tubuh keduanya. Joko membaringkan Bila dan
Bila dan Rinda menggelengkan kepala. "Aku sama Rinda sudah bertekad, gak akan melayani Tuan Muda Rico," balas Bila. Joko duduk di kursinya. "Kenapa? Emangnya kalian gak takut dia menghancurkan karier kalian?" "Agak takut sih. Tapi... meski dia bisa menekan kami di industri hiburan, dia belum tentu bisa menekan kami di media sosial," ucap Bila. "Iya. Walau pun dia bisa menutup kami sepenuhnya dari industri hiburan, kami pasti bisa dapat kerjaan lain," ucap Rinda. "Dia itu terlalu kejam Kak. Kalau wanita sudah jatuh ke tangannya, dia akan memperlakukannya sesuka hati!" ucap Bila. Joko mengerutkan keningnya. "Jadi itu alasan kalian gak mau melayaninya?" Bila dan Rinda mengangguk. "Berati... kalian berdua belum pernah melayaninya?" tanya Joko dengan suara pelan. Bila dan Rinda menggelengkan kepalanya. "Belum. Kami lagi gak beruntung! Dia menemukan kita di media sosial. Jadi dia mengingink
Saat Joko sedang mengobrol santai sama Bila, Rinda, dan Geli, tiba-tiba ada seorang pria berjas rapi menghampiri. Pria itu menatap Bila dan dua wanita lainnya. "Kalian bertiga ikut aku! Tuan Muda Rico menunggu kalian di hotel!" ucapnya dengan acuh. Ketiga wanita itu, tampak lesu setelah mendengar ucapan pria itu. Joko mengerutkan keningnya. "Rico. Bukannya itu nama Tuan Muda yang mengirim orang untuk membawa paksa Nadya sama Sonya," batinnya. "Kak Jo, sepertinya kita harus pergi dulu! Kapan-kapan kita nongkrong bareng lagi," ucap Bila dengan ekspresi lesu. "Kalian sepertinya berat sekali mau ketemu dia!" ucap Joko dengan santai. Pria berpakaian rapi itu menatap Joko dengan tatapan tajam. Namun, dia tetap diam. "E-enggak kok. Kita ada kerjaan sama Tuan Muda Rico. Sebenarnya kita agak lelah hari ini, jadi agak lesu," ujar Feli. "Kalau lelah, gak perlu pergi! Berapa yang dia berikan, aku akan ganti!" ucap Joko. Bila, Rinda, dan Feli, saling menatap satu sama lain. Kemudi
Beberapa saat kemudian... Joko akhirnya sampai di cafe terpopuler itu. Saat mobil Joko masuk ke dalam parkiran, para pengujung Cafe yang ada di luar dan di dalam langsung menatap mobil merah cerah itu dengan tatapan takjub. "Itu Ferrari keluaran terbaru!" Tunjuk seorang pria. "Gila... keren banget!" Pria itu tampak bersemangat. "Di lihat dari penampilannya sih, pasti masih baru banget!" ucap seorang pria berpakaian rapi. "18 miliar. Kalau di pakai beli mobil Porsche seperti milikku, dapat 3 unit," sahut seorang pria berambut silver. "Kalau yang menyetirnya pria, aku harus menarik perhatiannya," ucap wanita yang tampak sangat genit. Di dalam mobil, Joko tampak sedikit terkejut saat melihat parkiran mobil di sana. Dia tidak terkejut betapa banyaknya mobil, tapi dia terkejut saat melihat cukup banyak mobil mewah di sana. "Hmm, yang datang kebanyakan orang kaya. Memang pantas
Abel duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya. Dua sales sebelumnya menghampirinya, mereka duduk di sebelah Abel. "Traktiran dong, kamu dapat banyak komisi," ucap sales berkacamata sambil menyenggol punggung Abel. "Tenang saja, pasti aku traktir!" balas Abel. "Hehe, gitu dong!" ucap sales berambut pendek. Keduanya menatap Abel dari atas sampai bawah dengan tatapan seksama. "Kamu kelihatan agak lelah. Tuan Muda tadi, jago banget yah?" tanya wanita berkacamata. "Bukan cuma jago, dia kuat banget!" balas Abel. Mata kedua wanita itu sedikit membesar. "Benarkah? Dia pakai obat kuat yah?" Tanya wanita berambut pendek. Abel menggelengkan kepalanya. "Dia murni kuat. Bukan cuma kuat, dia bisa berkali-kali keluar! Kalau dia gak kasihan sama aku, dia pasti membuatku sampai gak bisa jalan," balasnya. Kedua wanita itu tersentak. Mereka tak menyangka, ada pria yang mampu seperti itu. Abel tersenyum lebar. "Baru kali ini aku sepuas ini. Bahkan, aku jadi penasaran, ingin meras
Tak lama kemudian, wanita itu kembali. Dia meletakkan satu bungkus pengaman, lalu dia duduk di pangkuan Joko dengan posisi kaki di lebarkan. "Aku bantu lepas yah," ucapnya sambil tangannya bergerak cepat melepaskan kancing kemeja Joko. Setelah kemeja Joko terlepas, wanita itu memandang tubuh kekar Joko dengan tatapan panas. "Tuan, kamu sangat sempurna. Bukan cuma tampan, tubuhmu juga sangat bagus," ucap sambil mengelus otot dada Joko. Joko menyeringai, dia menarik tubuh wanita itu semakin dekat dengan tubuhnya, lalu satu tangannya meraih semangka besar wanita itu dan meremasnya. "Ahhh..." Desahan nakal keluar dari mulut wanita itu. Wajahnya tampak menikmati, dan tubuhnya menggeliat seksi. Sambil menikmati remasan Joko di semangkanya, wanita itu melepaskan kancing kemejanya dengan cepat. Setelah semua kancing terlepas, dia melepaskan kemeja, lalu melemparkannya ke samping.
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







