Beranda / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 155 Cuma Karena Uang

Share

Bab 155 Cuma Karena Uang

Penulis: Tristar
last update Tanggal publikasi: 2026-06-05 22:29:37

Sesaat kemudian, pria itu melepaskan puting wanita muda itu. Dia kembali fokus menggempur apem wanita itu.

"Ahhh... ahhh, kalau tubuhmu udah sematang kakakmu, kamu pasti lebih menggoda," ucap pria itu sambil menatap wanita itu.

"Biar tubuhku matang lebih cepat... gimana kalau kakak ipar kasih aku uang buat perawatan tubuhku. Aku pengen besarin payudaraku, biar ukurannya kayak punya Kak Rita," ucap wanita muda itu.

"Ahh... hah... ahh, oke... aku kasih kamu uang buat besarin payudara, tapi nanti
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 410 Harga Seorang Istri

    Siang itu, Toko Antik Cahaya Lestari sepi pengunjung. Bella berdiri di balik meja kayu panjang, menatap Joko yang baru melangkah masuk dengan alis terangkat. "Kamu meneleponku pagi-pagi cuma untuk minta dipertemukan dengan istri orang," ucapnya. "Kamu tahu itu kedengarannya seperti apa?" "Seperti urusan bisnis," jawab Joko santai. "Seperti urusan ranjang," balas Bella sambil terkikik. Lalu dia melirik perban di pipi Joko, dan senyumnya memudar sedikit. "Dia sudah di atas. Datang lima menit lalu, katanya mau melihat koleksi giok." "Terima kasih, Bella." "Jangan terima kasih dulu." Bella keluar dari balik meja, lalu berjalan di depan Joko menuju tangga. "Setelah ini, aku juga mau bicara sama kamu." Ada sesuatu di nada suaranya. Joko menatap punggungnya, tapi Bella tidak menoleh. === Ruang pribadi di lantai dua toko itu masih sama seperti saat Joko tera

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 409 Rekaman Seorang Pengkhianat

    Bila meletakkan cangkir kopinya di pagar teras dengan bunyi keras. "Ngapain dia di sini?" Suaranya tidak keras. Tapi dinginnya membuat Feli yang baru turun dari mobil langsung berhenti melangkah. "Bila..." Feli menggenggam ujung jaket Joko di bahunya. "Aku..." "Aku gak tanya kamu." Bila menatap Joko. "Kak Jo. Ngapain dia di sini?" Joko menutup pintu mobil pelan. "Dia kabur dari Rico. Orang-orang Rico mengejarnya semalam." "Terus?" Bila tertawa pendek, tawa tanpa humor. "Dulu dia sendiri yang milih ikut Rico. Di kafe itu. Di depan mataku sama Rinda. Kami bilang jangan, dia tetap pergi." "Aku tahu." "Kak Jo tahu, tapi tetap bawa dia ke rumah kita?" Pintu depan vila terbuka. Rinda muncul di ambang pintu dengan rambut berantakan dan piyama, jelas baru terbangun karena suara di luar. Matanya menyipit melihat Bila, lalu bergeser ke arah mobil.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 408 Losmen Di Terminal Timur

    Nyonya Desi membuka pintu kamarnya sebelum Joko sempat mengetuk dua kali. Dia sudah berpakaian bela diri lengkap, rambutnya diikat ketat. Seolah dia memang tidak tidur. "Siapa?" tanyanya singkat. "Feli. Teman Bila dan Rinda yang dulu ikut Rico." Joko menunjukkan layar ponselnya. Sebuah pesan baru masuk. Nama losmen dan nomor kamar. "Dia bilang kabur. Orang-orang Rico sedang mencarinya." Nyonya Desi membaca pesan itu, lalu menatap Joko. "Bisa jebakan." "Aku tahu." "Dan kamu tetap mau pergi." "Kalau bukan jebakan, dan aku diam saja, dia mati malam ini." Nyonya Desi menghela napas pendek. Dia meraih kunci mobil di meja. "Pakai mobilku. Ferrari-mu terlalu mencolok." === Losmen Melati Indah berdiri di gang sempit di belakang Terminal Timur. Bangunan dua lantai dengan cat mengelupas dan papan nama yang lampunya berkedip-kedip.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 407 Telepon Pukul Dua

    Sinta meletakkan baskom di meja kecil, lalu menepuk tepi ranjang. "Duduk." Joko menurut. Sinta duduk di sampingnya, membasahi kain kecil dengan air hangat, lalu membersihkan luka di pipi Joko dengan gerakan pelan. "Perih?" tanyanya. "Gak." "Bohong." Sinta menekan sedikit lebih keras. Joko meringis, dan Sinta tersenyum puas. "Tuh, kan." Dia membuang kain itu ke baskom, lalu beralih ke lengan Joko. Membuka perban lama, membersihkan sayatan panjang di sana, lalu membalutnya kembali dengan perban baru. Rapi. Telaten. Joko memperhatikan wajahnya dari samping. Wajah yang dulu selalu menyambutnya di warung kecil di ujung pasar, saat dia masih tukang ojek lusuh bermotor butut. "Kamu diam saja dari tadi," ucap Joko. "Lagi ingat sesuatu." "Apa?" Sinta mengikat ujung perban, lalu menghela napas pelan. "Kakekmu," jawa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 406 Rapat Malam Di Vila

    Pukul tujuh malam, Joko melangkah masuk ke ruang tengah Vila Bintang. Semua kepala langsung menoleh. Para wanita duduk berkumpul di sofa dan karpet, seperti sudah menunggu sejak lama. Nyonya Desi berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada. "Macet tiga jam," ucap Nyonya Desi datar. "Jalanan Ibu Kota memang kejam." Joko menggaruk tengkuknya. "Namanya juga kota besar, Nyonya." Lana bangkit lebih dulu. Matanya langsung menyapu perban di pipi dan lengan Joko. Wajahnya berubah. "Sayang... ini apa lagi?" "Cuma tergores," jawab Joko sambil tersenyum tipis. "Tergores?" Ayu ikut berdiri, lalu meraih lengan Joko dengan hati-hati. Dia memeriksa perban itu seperti sedang memeriksa barang pecah belah. "Nyonya Desi bilang kamu bertarung sama pembunuh. Dua orang." Joko melirik Nyonya Desi. Wanita itu hanya mengangkat bahu. "Mereka berhak tahu," ucap Nyo

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 405 Bidak Yang Belum Mati-matian

    Ciuman Verona tidak ragu sedikit pun. Dia mendorong Joko mundur sampai punggungnya menyentuh dinding kaca. Lidah mereka saling melilit, napasnya memburu, jemarinya mencengkeram kaus Joko seolah takut pria itu kabur. Joko terkekeh di sela ciuman. "Nona Muda Keluarga Lintang ternyata gak sabaran." "Diam." Verona menggigit bibir bawahnya pelan. "Aku sudah menunggu terlalu lama." "Pelan-pelan. Aku masih terluka." "Kamu bertarung melawan pembunuh dengan luka begitu. Ini gak seberapa," gerutu Verona dengan ekspresi sedikit cemberut. Joko tertawa, lalu membalik posisi mereka. Kini Verona yang bersandar di dinding kaca, dengan seluruh Ibu Kota terbentang di belakangnya. Dia membuka kancing blus sutra putih itu satu per satu. Verona tidak menunduk malu. Dia menatap mata Joko lurus, dagunya sedikit terangkat, seperti sedang menantang dalam rapat dewan direksi. Blus itu jatuh

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 5 Godaan Dan Tawaran

    Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 4 Bu Tika Lebih Berani

    Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status