MasukKemudian, Joko memberi tahu kedua wanita itu tentang niatnya yang ingin pergi ke ibu kota. Dia memberi tahu tujuannya ~ kenapa dia ingin ke sana. Setelah Joko menceritakan hal itu, kedua wanita itu memeluk Joko dengan erat. "Sayang, kalau kamu ke ibu kota, aku gimana? Aku pasti sangat kesepian!" ucap Sinta. "Sayang, aku gak mau jauh dari kamu!" tegas Lana. Terlihat air mata kesedihan menggenang di mata indah mereka. Joko merangkul kedua wanita itu. "Begini saja, kalau kalian mau... kalian bisa ikut sama aku ke ibu kota." "Aku mau!" Lana langsung mengangguk tanpa pikir panjang. "Tenang saja, aku gak akan merepotkan kamu. Walau aku gak kerja, aku punya penghasilan dari usaha peninggalan orang tua ku. Lagi pula aku bisa mencari pekerjaan di sana kalau aku mau." Joko mengangguk, lalu dia melirik Sinta. Terlihat kalau Sinta hanya diam dengan wajah di tekuk.
Joko melirik dua wanita itu. Dua perhiasan emas lalu memberikannya kepada mereka. "Ini buat kalian. Tapi ingat, apa yang terjadi sini, jangan sampai kalian sebarkan!" ucap Joko dengan nada tegas. "B-bang... g-gak perlu! Tenang saja... kita gak akan kasih tahu siapapun kok!" ucap salah satu wanita itu dengan ekspresi ketakutan. Joko tetap memberikan emas itu dengan paksa. "Sudah terima saja! Kalian pasti butuh ini. Sekarang Juragan Rusdi sudah gak ada, jadi gak ada lagi yang menafkahi kalian," ucap Joko. Pada akhirnya, kedua wanita itu menerima emas itu. Di dalam hati keduanya, mereka merasa sangat bersyukur ~ mendapatkan uang sebanyak itu. Meski sebelumnya mereka adalah selir Juragan Rusdi, mereka tidak pernah diberi uang. Mereka melayani pria itu karena terpaksa. "Sekarang kalian boleh pergi!" ucap Joko. Kedua wanita itu mengangguk, lalu pergi dari tempat tersebut. Sampai di luar, salah satu
Mendengar itu, mata Joko menajam. Dia mencubit dagunya, tampak sedang berpikir. "Dia orang jahat! Gak ada salahnya mengambil semua uangnya," gumam Joko di dalam hati. Kemudian, dia menatap Darto. "Ya sudah, ambil saja!" Darto mengangguk dengan ekspresi berseri-seri. Dia menoleh dua wanita Juragan Rusdi yang sedang ketakutan di pojok ruangan. Kemudian, dia melangkah menghampiri kedua wanita itu. Melihat Darto datang, dua wanita itu lebih ketakutan. Sampai salah satu dari mereka kencing di sana. "Tu-tuan Darto, to-tolong jangan sakiti kami," ucap salah satu wanita itu. "Kalau kalian gak mau aku hajar juga, tunjukan di mana si gemuk itu menyimpan uang dan semua hartanya!" ucap Darto. Tanpa ragu, kedua wanita itu mengangguk setuju. "Ma-mari saya antar!" Juragan Rusdi yang masih sadar, jelas mendengar apa yang dikatakan Darto. Dia merasa sangat putus asa. "Jangannnn.... jangannn ambil uangku!" teriak Juragan Rusdi dengan seluruh tenaganya. BUGHH! Seno meninju wajah Juragan R
Di tempat Juragan Rusdi berada, terlihat pria itu sedang duduk santai sambil di pijat oleh dua wanita cantik. Di depannya, duduk seorang pria tua berpakaian hitam."Rusdi, kamu yakin ~ dia sekuat itu?" tanya pria tua berpakaian hitam tersebut. Sebelumnya, Juragan Rusdi menceritakan tentang Joko yang katanya bisa mengalahkan banyak dari bawahannya."Bawahanku sendiri yang memberi tahu aku! Cuma satu pukulan ~ dia bisa menumbangkan bawahanku!" balas Juragan Rusdi."Apa dia masih muda?" tanya pria tua itu dengan ekspresi serius."Iya. Dia masih sangat muda! Paling sekitar umur 25 tahun," balas Juragan Rusdi.DEG!Hati pria tua berdebar. Seketika, ekspresi wajah pria tua itu berubah. "Mu-mungkin kah... orang yang sama, yang menghajar ku?" gumam pria tua itu di dalam hatinya.Melihat ada yang salah dengan ekspresi pria tua itu, Juragan Rusdi buru-buru bertanya dengan nada yang dalam. "Ada apa? Apa kamu kenal si Joko itu?"Pria tua itu buru-buru menggelengkan kepalanya."Aku gak kenal!" J
Joko melajukan mobil itu dengan kecepatan sangat tinggi. Sampai mesin mobil itu meraung cukup keras. Hanya dalam beberapa menit, Joko pun sampai di markas Darto.Dari luar markas pun, Joko dengan jelas mendengar suara keributan di dalam. Namun yang jelas terdengar, adalah suara tawa dan cacian. Wajah Joko tampak sangat dingin, matanya memerah karena amarahnya yang memuncak. Dia buru-buru turun dari mobil, lalu berlari masuk ke dalam Markas.Sampai di dalam, Joko melihat Darto dan kelompoknya sudah dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Mereka sedang di pukuli sambil di caci maki oleh para bawahan Juragan Rusdi. Joko meraih batang besi panjang yang tergeletak tidak jauh dari dirinya, lalu dia menerjang sambil berteriak keras."Para bajingan! Apa kalian inginku hancurkan!"Semua bawahan Juragan Rusdi menoleh ke arah datangnya suara. "Itu... itu dia! Dia si Joko!" teriak salah satu bawahan Juragan Rusdi yang mengenal Joko."Bagus... kau malah datang sendiri! Kita gak perlu cape mencar
Wanita itu bangkit perlahan, lalu mengeluarkan batang pria gemuk itu dari sangkarnya. Terlihat batang kecil itu sudah sangat tegak. Wanita itu berjongkok di atas batang itu, lalu memosisikan ujung batang itu di apemnya. Saat wanita itu hendak menurunkan tubuhnya, terdengar suara pintu di ketuk dan teriakan seorang pria dari luar ruangan tersebut.Tok... Tok... Tok"Juragan! Juragan!"Juragan Rusdi mengerutkan keningnya. "Ada apa sih, mengganggu saja," gerutunya.Wanita muda itu buru-buru turun dari tubuh Juragan Rusdi, lalu mengenakan pakaian tipisnya. Juragan Rusdi membenarkan celana sambil berterik. "Masuk!"Pintu terbuka dan seorang pria bertato yang wajahnya tampak babak belur masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat.Melihat pemandangan itu, kening Juragan Rusdi seketika berkerut erat."Kau kenapa?" tanya Juragan Rusdi.Pria itu berlutut di hadapan Juragan Rusdi. "Juragan... di-dia... si-si Joko itu, ternyata sangat kuat! Kami semua di kalahkan sama dia," ucap pria itu denga
Melihat serangan Joko, preman itu hendak menghindar, namun serangan itu datang sangat cepat. "Lambat!" teriak Joko. BUGHH! Tendangannya mengenai dada preman itu dengan telak, sampai preman itu terlempar ke belakang beberapa meter. BR
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di pasar. Bu Tika turun dari motor, lalu ia melangkah masuk ke dalam pacar. Seperti biasa, Joko menunggu Bu Tika berbelanja. Sambil menunggu, Joko menyalakan sebatang rokok, lalu menikmatinya.Baru saja Joko mengisap rokok beberapa isapan,
Joko melanjutkan isapannya itu. Kali ini, isapan yang ia lakukan lebih keras dari sebelumnya.Bu Tika berusaha sedikit menekan desahannya agar tidak keluar terlalu keras. Sampai ia menutupi mulutnya menggunakan selimut yang ada di sana.Satu tangannya Joko turun ke apem wanita i
"Mau di lepas gak nih?" tanya Joko, dengan nada tidak sabar. "Di lepas, dong!" balas Bu Tika dengan nada genit. Tanpa membalikkan tubuhnya, ia langsung menarik dasternya ke atas. Dalam satu tarikan, daster itu terlepas dari tubuhnya. Pemandangan indah tubu







