INICIAR SESIÓNBeberapa saat kemudian, mereka sampai di pasar. Bu Tika turun dari motor, lalu ia melangkah masuk ke dalam pacar.
Seperti biasa, Joko menunggu Bu Tika berbelanja. Sambil menunggu, Joko menyalakan sebatang rokok, lalu menikmatinya.Baru saja Joko mengisap rokok beberapa isapan, ia mendengar suara gaduh dari dalam pasar. Karena penasaran, Joko memutuskan masuk dan melihat.Sesampai di lokasi kegaduhan itu, Joko melihat sudah sangat banyak orang berkerumun. Bahkan, BuJoko menatap Tuan Tua Suryo dengan tenang. “Orang tua saya sudah tiada, Tuan Tua,” jawabnya. “Saya hidup sebatang kara. Saya berasal dari desa, dari keluarga biasa.” Kening Tuan Tua Suryo semakin mengernyit. Jawaban itu sama sekali tidak menghapus keraguan di matanya. Justru sebaliknya. Verona menatap Joko dengan sedikit terkejut. Selama ini, melihat penampilannya, mobil mewahnya, dan uang ratusan miliar yang dia dapat dengan begitu mudah, dia mengira Joko berasal dari kalangan elite. Ternyata pemuda itu berasal dari desa. Sementara Tuan Tua Wangsa tampak biasa saja. Dia sudah mendengar latar belakang Joko dari Nadya sebelumnya. “Nak,” Tuan Tua Suryo kembali bersuara, kali ini lebih mendesak. “Aku ingin tahu nama orang tuamu. Bisakah kamu memberitahuku?” Belum sempat Joko menjawab, Verona sudah lebih dulu menyela. “Kek!” protesnya. “Kenapa Kakek langsung menginterogasi Joko begitu, sih? Dia kan tamu.” Tu
Joko memperlambat laju mobilnya. Dia melirik Nadya yang masih menunduk. “Orang tuamu dirawat di mana sekarang?” tanyanya pelan. “Di rumah,” jawab Nadya lirih. “Kakek menyiapkan ruangan khusus untuk mereka. Dokter dan perawat berjaga dua puluh empat jam.” Joko mengerutkan kening. “Keluargamu kan sangat berpengaruh. Memangnya gak ada cara buat menyembuhkan mereka?” Nadya menghela napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kami sudah berusaha, Jo,” ucapnya dengan suara bergetar. “Dokter-dokter terbaik dari luar negeri sudah didatangkan. Ahli pengobatan tradisional paling terkenal di negeri ini juga sudah dipanggil. Semuanya angkat tangan. Kata mereka, luka dalam yang diderita orang tuaku terlalu parah. Hanya keajaiban yang bisa membangunkan mereka.” Dia buru-buru menyeka sudut matanya, lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Joko terdiam. Pikirannya melayang ke buku usang peninggalan kakeknya. Selama beberapa waktu ini, dia sudah mempelajari teknik alkemis dan akupunktur dari bu
Beberapa saat kemudian, kamar yang tadinya riuh oleh desahan dan suara benturan kulit, perlahan berubah senyap. Hanya tersisa suara napas yang tersengal. Joko dan Nadya berbaring berpelukan di atas ranjang yang berantakan. Tubuh keduanya basah oleh keringat. Seprai kusut tak berbentuk, bantal-bantal berjatuhan ke lantai. Nadya menyandarkan kepalanya di dada Joko. Tubuhnya terasa lemas sekali, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat tangan pun rasanya berat. “Kamu ini manusia apa bukan, sih?” gerutunya dengan suara serak. “Kok bisa kuat banget?” Joko terkekeh sambil mengelus rambut Nadya yang lembap. “Hehe, tentu saja aku manusia. Manusia yang bisa memuaskan wanita.” Nadya memukul pelan dadanya. “Dasar sombong.” Tapi dalam hati, dia akhirnya mengerti. Selama ini dia tak habis pikir kenapa Joko bisa punya begitu banyak wanita di sisinya. Sekarang dia paham. Dengan stamina seperti itu, satu wanita jelas tidak akan sanggup menampungnya. Untuk beberapa saat
Ciuman Nadya begitu menuntut, membuat Joko sempat kewalahan. Tapi hanya sebentar. Detik berikutnya, dia membalas dengan sama ganasnya. Lidah mereka saling membelit, napas mereka saling memburu. Tangan Joko bergerak ke punggung Nadya, melepaskan kaitan renda hitam itu dengan satu gerakan. Dua bongkahan kenyal Nadya terbebas, memantul pelan di hadapannya. Joko tak membuang waktu. Dia membenamkan wajahnya di sana, meremas keduanya dengan kuat, lalu menghisap puncak merah mudanya dengan rakus. “Ahh! Jo...” Nadya melenguh panjang. Punggungnya melengkung, jemarinya meremas rambut Joko, menekannya lebih dalam. “Punyamu padat banget,” bisik Joko di sela-sela kecupannya. “Harum lagi. Aku bisa gila.” “Jangan... banyak omong...” desah Nadya dengan wajah merah padam. Tapi tangannya justru semakin erat mencengkeram rambut Joko. Joko terkekeh. Satu tangannya perlahan turun, menyusuri perut rata Nadya yang bergetar, lalu terus ke bawah. Begitu jemarinya menyentuh bagian paling sensitif itu,
Joko menimbang sejenak. Berbohong pun percuma, Nadya pasti akan tahu juga cepat atau lambat. “Sonya ada di sini,” jawabnya jujur. “Di hotel. Sama aku.” Hening di seberang telepon. Joko bisa membayangkan wajah Nadya yang perlahan menggelap. “Mana Sonya?” ucap Nadya akhirnya, suaranya datar. “Aku mau bicara sama dia.” Joko melirik wanita yang masih terlelap di pelukannya. “Dia lagi tidur. Kecapekan.” Hening lagi. Kali ini lebih lama. “Kecapekan,” ulang Nadya dengan nada yang membuat bulu kuduk Joko sedikit berdiri. Joko terkekeh pelan, tak berani menjawab. “Setelah dia bangun, suruh dia pulang ke vila,” ucap Nadya tegas. “Kamu juga ikut ke sini.” Sambungan telepon langsung terputus sebelum Joko sempat membalas. Joko menatap layar ponselnya sejenak, lalu perlahan tersenyum. Nada suara Nadya barusan jelas bukan nada wanita yang tidak peduli. Itu nada wanita yang sedang cemburu. Pikiran-pikiran nakal mulai bermunculan di benaknya. === Vila Nadya, satu jam kemudian... Ferrari
Joko terdiam. Dia menatap wajah Sonya lekat-lekat. Wanita yang biasanya paling berani menggoda, yang tadi menyeretnya ke hotel dengan penuh nafsu, kini terbaring di bawahnya dengan wajah tegang. Jemarinya mencengkeram lengan Joko, dan bibirnya sedikit gemetar. “Sonya, kamu kenapa?” tanya Joko heran. “Kok tiba-tiba gugup gitu?” Sonya memalingkan wajahnya. Pipinya memerah, kali ini bukan karena gairah. “Aku...” Dia menggigit bibirnya. “Aku masih segel.” Joko membeku. Matanya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Dia menatap Sonya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Selama ini, dia mengira Sonya adalah wanita yang sudah berpengalaman. Setiap kali bertemu, Sonya selalu menempel padanya tanpa malu. Barusan di kantor pun, wanita itu menggodanya habis-habisan dengan begitu lihai. Tak pernah sekali pun terlintas di benak Joko bahwa wanita segenit itu ternyata b
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







