LOGINJoko melirik dua wanita itu. Dua perhiasan emas lalu memberikannya kepada mereka.
"Ini buat kalian. Tapi ingat, apa yang terjadi sini, jangan sampai kalian sebarkan!" ucap Joko dengan nada tegas. "B-bang... g-gak perlu! Tenang saja... kita gak akan kasih tahu siapapun kok!" ucap salah satu wanita itu dengan ekspresi ketakutan. Joko tetap memberikan emas itu dengan paksa. "Sudah terima saja! Kalian pasti butuh ini. Sekarang Juragan Rusdi sudah gakJoko berbaring di sebelah Tante Lestari, lalu dia memeluk wanita itu. "Gimana tan? Puas gak?" tanyanya dengan nada menggoda."Jangan di tanya lagi, aku sudah sangat puas!" balas Tante Lestari.Joko terkekeh pelan, lalu dia menggigit pelan bibir merah Tante Lestari dan menghisapnya beberapa kali.Tante Lestari membuka matanya. Dia menjauhkan wajah Joko. "Kamu masih belum puas?""Hehe, iya. Tante mau layani aku lagi?" tanya Joko sambil memainkan alisnya."Jangan harap! Kalau main lagi, aku akan benar-benar mati kelelahan," balas Tante Lestari.Joko tertawa. Haha, oke... oke, aku cuma bercanda kok."Tante Lestari menatap Joko dengan tatapan lekat. "Sekarang aku paham, kenapa kamu punya banyak wanita. Pria sekuat kamu gak akan mungkin cukup di temani satu wanita.""Tan, ada yang ingin aku katakan," ucap Joko ekspresinya menjadi serius."Katakan saja!" balas Tante Lestari."Aku mau pindah ke ibu kota. Semua wanita yang ingin mengikutiku aku bawa ke sana termasuk Rara. Tante mau ikut juga g
Kembali ke Joko dan Tante Lestari. Terlihat, Tante Lestari baru saja mengeluarkan batang besar dari mulutnya. Dia membaringkan tubuhnya di samping Joko. "Ayo mulai!" ajaknya. Joko bangkit, lalu dia melepaskan kain renda yang menutupi area inti Tante Lestari. Saat lain itu terlepas, pemandangan celah basah yang sangat tembem dan mulus tanpa noda itu terpampang di mata Joko. "Aku sudah menebak! Semuanya pasti bagus!" ucap Joko dengan mata berbinar. "Ngapain sih di lihat terus? Buruan masukin!" ucap Tante Lestari sambil melemparkan tatapan tajam. "Hehe, jangan buru-buru!" ucap Joko, lalu dia membenamkan wajahnya di area basah itu. Tante Lestari seketika mendongak, sambil mengeluarkan erangan nikmat. Tangannya secara refleks meremas rambut Joko, dan menekan kepala Joko ke bawah. "Jo, kamu... ahh... nakal banget sih..." Suara-suara percikan air terdengar di bawah sana. Joko menggunakan keterampilan tarian lidahnya untuk memberi kenikmatan kepada Tante Lestari. "Bocah ini jag
Sampai di dalam kamar Tante Lestari... Setelah menutup pintu dan menguncinya, Tante Lestari menarik Joko ke tempat tidur, lalu dia mendorongnya sampai Joko terbaring di sana. "Wanita ini ternyata sangat ganas!" gumam Joko di dalam hati dengan nafas yang menggebu sakit bersemangatnya. Tante Lestari naik ke atas tubuh Joko, lalu menekannya. "Aku ingin bertanya dulu sama kamu!" ucapnya dengan serius. "Apa itu? Tanyakan saja!" "Kamu dan Rara, pasti bukan cuma teman biasa! Sedari dulu, dia tak pernah membawa teman prianya menginap di rumah. Bahkan mantan pacarnya pun tak pernah!" "Aku gak akan berbohong. Aku dan Rara punya hubungan gelap. Putrimu itu, biasanya menyebutnya teman ranjang!" balas Joko dengan santai. Wajah Tante Lestari sangat muram. "Bocah sialan, kamu berani sekali memperlakukan putriku seperti itu!" bentaknya. "Jangan salahkan aku, putr
Beberapa saat kemudian, Joko keluar dari kamar hanya menggunakan kimono. Kebetulan di kamar itu tersedia handuk mandi seperti itu. Di turun ke lantai bawah dengan langkah santai. Tante Lestari yang sedang menonton tv langsung menoleh ke arah Joko. "Sudah mandinya? Kok gak langsung tidur?" tanyanya sambil tersenyum hangat. "Sudah tan, segar banget, hehe! Saking segarnya sedikit rasa ngantuk tadi jadi hilang," balas Joko. "Tan, boleh aku minta air putih? Aku agak haus." "Boleh dong. Ambil saja di dapur! Kalau mau air dingin juga ada di kulkas, jangan sungkan!" "Kalau gitu aku gak sungkan tan," Joko pergi mengambil segelas air, lalu kembali menghampiri Tante Lestari. "Tante suka nonton film yah?" tanya Joko. "Iya, tante emang agak suka nonton. Kamu mau ikut nonton? Kalau mau, ayo duduk di sini!" ucapnya sambil menepuk tempat di sisinya. "Sambil menunggu
Beberapa menit kemudian, akhirnya sampai di rumah Rara. Terlihat rumah itu cukup besar, bahkan ada parkiran untuk mobil. "Hmm, dulu keluarga pasti kaya," ucap Joko sambil menatap rumah Rara. Baru saja Joko dan Rara keluar dari mobil, pintu rumah itu terbuka dan seorang wanita dewasa keluar dari rumah. Saat Joko melihat itu, tenggorokan langsung terasa sangat kering. "Gluk..." dia menelan ludah dengan susah payah. Rara melirik singkat ke arah Joko, senyuman tipis terlukis di bibirnya. "Apa ini ibu Rara" gumam Joko di dalam hatinya. Penampilan wanita itu tampak masih muda. Jika di lihat, dari luar seperti seumuran Ayu. Hal yang paling menarik perhatian Joko tentu saja kemolekan tubuh wanita itu. Dada nya yang sangat menjulang besar dan bulat. Pakaian tidur longgar panjang sepaha, tanpa lengan, dan berkerah rendah, membuat wanita dewasa itu terlihat semakin menggoda. Kaki jenjangnya sangat mulus, seperti di ukir dari giok halus. Aura dewasa itu terpancar lebih kuat dari wajahnya
"Kalau masalah itu, aku bisa kok memikirkan cara agar nanti aku hamil anak kamu," balas Sumi. "Tetap saja, aku merasa enggan. Sangat di sayangkan kalau wanita cantik dan baik sepertimu gak aku pertahankan di sisiku!" Sumi tersenyum getir. "Baik apanya, dulu aku ini sangat nakal. Kalau baik, aku pasti masih segel!" "Baik gak cuma di lihat dari luarnya. Tapi hatinya! Kalau kamu seperti Dita dan Yeni, walau seberapa cantik kamu ~ aku gak akan enggan sama sekali kehilanganmu," ucap Joko. Mendengar itu, Sumi menjadi terharu lagi, sehingga air matanya kembali mengalir keluar. Joko menghela nafas, ketegasan perlahan terlukis di wajahnya. "Walau aku akan di cap jahat, aku akan tetap membawamu ke sisiku!" Mendengar itu, Rara bersorak gembira. "Kamu memang yang terbaik, Jo!" Mata Sumi pun berbinar. Senyuman lembut perlahan terukir di bibirnya. "Kalau Joko berhasil, kamu mau kan ikut Joko ke ibu kota?" tanya Rara sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sumi. Sumi mengangguk pelan. "Mau... a
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in







