LOGINJoko menatap kunci kecil di atas meja dengan pikiran kalut. Kakeknya masih hidup? Orang tuanya juga? Itu tidak masuk akal. Dia ingat betul semuanya. Pertama ayahnya. Lalu beberapa bulan kemudian ibunya. Dan terakhir kakeknya, belum lama ini. Dia sendiri yang ikut memandikan jenazah mereka, ikut menggotong keranda, ikut menimbun tanah di atas makam mereka dengan kedua tangannya sendiri. Bagaimana mungkin orang yang sudah dia kuburkan dengan tangannya sendiri masih hidup? Joko memejamkan matanya. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Nadya menggenggam tangannya semakin erat, tanpa berkata apa-apa. Setelah beberapa saat, Joko membuka matanya kembali. Tatapannya kini lebih tenang, meski suaranya masih sedikit bergetar. “Tuan Tua Suryo, Tuan Tua Wangsa,” ucapnya. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga saya? Kalau mereka masih hidup, kenapa harus bersembunyi dari saya? Kenapa harus berpura-pura mati? Dan kalau mereka memang orang hebat, kenapa m
Joko menatap Tuan Tua Suryo dengan tenang. “Orang tua saya sudah tiada, Tuan Tua,” jawabnya. “Saya hidup sebatang kara. Saya berasal dari desa, dari keluarga biasa.” Kening Tuan Tua Suryo semakin mengernyit. Jawaban itu sama sekali tidak menghapus keraguan di matanya. Justru sebaliknya. Verona menatap Joko dengan sedikit terkejut. Selama ini, melihat penampilannya, mobil mewahnya, dan uang ratusan miliar yang dia dapat dengan begitu mudah, dia mengira Joko berasal dari kalangan elite. Ternyata pemuda itu berasal dari desa. Sementara Tuan Tua Wangsa tampak biasa saja. Dia sudah mendengar latar belakang Joko dari Nadya sebelumnya. “Nak,” Tuan Tua Suryo kembali bersuara, kali ini lebih mendesak. “Aku ingin tahu nama orang tuamu. Bisakah kamu memberitahuku?” Belum sempat Joko menjawab, Verona sudah lebih dulu menyela. “Kek!” protesnya. “Kenapa Kakek langsung menginterogasi Joko begitu, sih? Dia kan tamu.” Tu
Joko memperlambat laju mobilnya. Dia melirik Nadya yang masih menunduk. “Orang tuamu dirawat di mana sekarang?” tanyanya pelan. “Di rumah,” jawab Nadya lirih. “Kakek menyiapkan ruangan khusus untuk mereka. Dokter dan perawat berjaga dua puluh empat jam.” Joko mengerutkan kening. “Keluargamu kan sangat berpengaruh. Memangnya gak ada cara buat menyembuhkan mereka?” Nadya menghela napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kami sudah berusaha, Jo,” ucapnya dengan suara bergetar. “Dokter-dokter terbaik dari luar negeri sudah didatangkan. Ahli pengobatan tradisional paling terkenal di negeri ini juga sudah dipanggil. Semuanya angkat tangan. Kata mereka, luka dalam yang diderita orang tuaku terlalu parah. Hanya keajaiban yang bisa membangunkan mereka.” Dia buru-buru menyeka sudut matanya, lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Joko terdiam. Pikirannya melayang ke buku usang peninggalan kakeknya. Selama beberapa waktu ini, dia sudah mempelajari teknik alkemis dan akupunktur dari bu
Beberapa saat kemudian, kamar yang tadinya riuh oleh desahan dan suara benturan kulit, perlahan berubah senyap. Hanya tersisa suara napas yang tersengal. Joko dan Nadya berbaring berpelukan di atas ranjang yang berantakan. Tubuh keduanya basah oleh keringat. Seprai kusut tak berbentuk, bantal-bantal berjatuhan ke lantai. Nadya menyandarkan kepalanya di dada Joko. Tubuhnya terasa lemas sekali, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat tangan pun rasanya berat. “Kamu ini manusia apa bukan, sih?” gerutunya dengan suara serak. “Kok bisa kuat banget?” Joko terkekeh sambil mengelus rambut Nadya yang lembap. “Hehe, tentu saja aku manusia. Manusia yang bisa memuaskan wanita.” Nadya memukul pelan dadanya. “Dasar sombong.” Tapi dalam hati, dia akhirnya mengerti. Selama ini dia tak habis pikir kenapa Joko bisa punya begitu banyak wanita di sisinya. Sekarang dia paham. Dengan stamina seperti itu, satu wanita jelas tidak akan sanggup menampungnya. Untuk beberapa saat
Ciuman Nadya begitu menuntut, membuat Joko sempat kewalahan. Tapi hanya sebentar. Detik berikutnya, dia membalas dengan sama ganasnya. Lidah mereka saling membelit, napas mereka saling memburu. Tangan Joko bergerak ke punggung Nadya, melepaskan kaitan renda hitam itu dengan satu gerakan. Dua bongkahan kenyal Nadya terbebas, memantul pelan di hadapannya. Joko tak membuang waktu. Dia membenamkan wajahnya di sana, meremas keduanya dengan kuat, lalu menghisap puncak merah mudanya dengan rakus. “Ahh! Jo...” Nadya melenguh panjang. Punggungnya melengkung, jemarinya meremas rambut Joko, menekannya lebih dalam. “Punyamu padat banget,” bisik Joko di sela-sela kecupannya. “Harum lagi. Aku bisa gila.” “Jangan... banyak omong...” desah Nadya dengan wajah merah padam. Tapi tangannya justru semakin erat mencengkeram rambut Joko. Joko terkekeh. Satu tangannya perlahan turun, menyusuri perut rata Nadya yang bergetar, lalu terus ke bawah. Begitu jemarinya menyentuh bagian paling sensitif itu,
Joko menimbang sejenak. Berbohong pun percuma, Nadya pasti akan tahu juga cepat atau lambat. “Sonya ada di sini,” jawabnya jujur. “Di hotel. Sama aku.” Hening di seberang telepon. Joko bisa membayangkan wajah Nadya yang perlahan menggelap. “Mana Sonya?” ucap Nadya akhirnya, suaranya datar. “Aku mau bicara sama dia.” Joko melirik wanita yang masih terlelap di pelukannya. “Dia lagi tidur. Kecapekan.” Hening lagi. Kali ini lebih lama. “Kecapekan,” ulang Nadya dengan nada yang membuat bulu kuduk Joko sedikit berdiri. Joko terkekeh pelan, tak berani menjawab. “Setelah dia bangun, suruh dia pulang ke vila,” ucap Nadya tegas. “Kamu juga ikut ke sini.” Sambungan telepon langsung terputus sebelum Joko sempat membalas. Joko menatap layar ponselnya sejenak, lalu perlahan tersenyum. Nada suara Nadya barusan jelas bukan nada wanita yang tidak peduli. Itu nada wanita yang sedang cemburu. Pikiran-pikiran nakal mulai bermunculan di benaknya. === Vila Nadya, satu jam kemudian... Ferrari
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







