LOGINDi sebuah kamar hotel...Lampu kamar menyala redup. Selimut putih berantakan di atas tempat tidur, pakaian berserakan di lantai.Tuan Muda Rico berbaring bersandar di kepala ranjang dengan ekspresi puas. Di sampingnya, Feli menarik selimut sampai ke dada. Wajahnya tampak lelah."Tuan Muda, apa orang yang kamu kirim akan berhasil mengalahkan Joko?" tanya Feli pelan."Aku sangat yakin! Aku gak percaya kalau si Joko itu sudah berada di ranah Master! Walaupun benar, keempat orang yang aku kirim pasti bisa menghabisinya!" balas Tuan Muda Rico.Feli menggigit bibirnya. Sorot matanya tampak rumit. Entah kenapa, dia malah mengkhawatirkan keselamatan Joko.Beberapa saat yang lalu, dia sudah meminta Tuan Muda Rico untuk berhati-hati. Namun pria itu sama sekali tak menghiraukannya dan hanya memikirkan kesenangannya sendiri.Feli mengepalkan tinjunya di balik selimut. Ekspresi wajahnya tampak sangat tertekan."Jalang, kau memang yang terbaik!" ucap Tuan Muda Rico sambil tertawa puas.Feli tidak m
Joko mengepalkan tinjunya erat. Seketika, cahaya putih keemasan kembali meledak dari tinjunya. Cahaya itu berputar liar, lalu perlahan membentuk kepala naga yang terlihat semakin jelas. WUSS! Aura penindasan yang mengerikan menyebar ke seluruh tempat. Udara di sekitarnya seolah bergetar dan menjadi kacau akibat tekanan yang dipancarkan Joko. Wajah keempat pria itu seketika memucat. Mereka merasa sangat terancam dengan serangan yang di persiapkan Joko itu. "Aku rasa... teknik tinju itu... jauh lebih kuat dari Pemimpin Keluarga!" ucap salah satu pria. "Kita gak akan bisa menghadapinya! Ayo cepat pergi!" ajak pria berkulit gelap. Keempat pria itu hendak berbalik, namun Joko tentu tak akan membiarkan itu. Dia langsung melempar tinjunya. "Rasakan dulu ini! Baru kalian pergi!" teriak Joko. Kepala naga yang terbentuk dari energi itu melesat ke arah keempat pria itu. "Sial!" teriak keempatnya, sambil menyilangkan tangan mereka yang di aliri energi untuk menahan serangan
Permainan panas antara Joko dan Bila berlangsung hampir satu jam. Selama itu, mereka berkali-kali mencapai puncak. Bila yang paling banyak mendapatkan puncaknya, sampai seprai basah kuyup oleh cairan miliknya. Rinda merasa takjub dengan ketahanan Joko. Dia tak menyangka, kalau Joko akan sekuat itu di ranjang. Baru kali ini, dia melihat pria sekuat itu. Joko mengenakan celana dalamnya, lalu dia turun dari tempat tidur meninggalkan Bila yang sudah terkulai lemas. Dia menghampiri Rinda, lalu duduk di sofa tempat Rinda berbaring. "Hehe, kamu hebat banget! Bisa bertahan sampai akhir," ucapnya dengan nada menggoda. Rinda menatap Joko dengan tatapan sayu. "Kak Jo, jangan macam-macam yah. Cepat pakai pakaian kakak!" Joko meraih gelas berisi jus, lalu meneguk jus di dalamnya sampai habis. Setelah meletakkan kembali gelas itu, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Rinda. "Kamu yakin gak mau nyoba?" tanyanya dengan nada main-main. Rinda menggigit bibirnya, lalu dia memalingkan wajahnya dan
"Hihi, gak apa-apa, dia sudah terbiasa kok," balas Bila. "Aku gak tahan nih. Tapi kalau kakak malu... cukup gini saja juga gak apa-apa." Tangan Bila menyentuh batang Joko, lalu mengurutnya perlahan. Joko memeluk wanita itu. Dia menyeringai nakal. "Buat apa aku malu. Kalau milikku gak bagus, mungkin aku malu." "Hihi, benar banget!" Bila berinisiatif melumat bibir Joko. Dia melepaskan batang Joko, lalu melepaskan kancing kemeja Joko dengan gerakan cepat. Joko memegang tengkuk lehernya, lalu membalas ciuman ganas wanita itu. Tangannya meraih semangka besar wanita itu dan meremasnya dengan remasan yang cukup keras. Rinda melirik ke arah Joko dan Bila yang sudah mulai bercumbu panas itu. Wajahnya sedikit memerah, saat hasratnya mulai bergejolak. Dia membaringkan tubuhnya di sofa, lalu matanya fokus kembali ke layar ponsel. Helai demi helai pakaian terlepas dari tubuh Joko dan Bila. Sampai akhirnya, hanya pakaian dalam yang tersisa di tubuh keduanya. Joko membaringkan Bila dan
Bila dan Rinda menggelengkan kepala. "Aku sama Rinda sudah bertekad, gak akan melayani Tuan Muda Rico," balas Bila. Joko duduk di kursinya. "Kenapa? Emangnya kalian gak takut dia menghancurkan karier kalian?" "Agak takut sih. Tapi... meski dia bisa menekan kami di industri hiburan, dia belum tentu bisa menekan kami di media sosial," ucap Bila. "Iya. Walau pun dia bisa menutup kami sepenuhnya dari industri hiburan, kami pasti bisa dapat kerjaan lain," ucap Rinda. "Dia itu terlalu kejam Kak. Kalau wanita sudah jatuh ke tangannya, dia akan memperlakukannya sesuka hati!" ucap Bila. Joko mengerutkan keningnya. "Jadi itu alasan kalian gak mau melayaninya?" Bila dan Rinda mengangguk. "Berati... kalian berdua belum pernah melayaninya?" tanya Joko dengan suara pelan. Bila dan Rinda menggelengkan kepalanya. "Belum. Kami lagi gak beruntung! Dia menemukan kita di media sosial. Jadi dia mengingink
Saat Joko sedang mengobrol santai sama Bila, Rinda, dan Geli, tiba-tiba ada seorang pria berjas rapi menghampiri. Pria itu menatap Bila dan dua wanita lainnya. "Kalian bertiga ikut aku! Tuan Muda Rico menunggu kalian di hotel!" ucapnya dengan acuh. Ketiga wanita itu, tampak lesu setelah mendengar ucapan pria itu. Joko mengerutkan keningnya. "Rico. Bukannya itu nama Tuan Muda yang mengirim orang untuk membawa paksa Nadya sama Sonya," batinnya. "Kak Jo, sepertinya kita harus pergi dulu! Kapan-kapan kita nongkrong bareng lagi," ucap Bila dengan ekspresi lesu. "Kalian sepertinya berat sekali mau ketemu dia!" ucap Joko dengan santai. Pria berpakaian rapi itu menatap Joko dengan tatapan tajam. Namun, dia tetap diam. "E-enggak kok. Kita ada kerjaan sama Tuan Muda Rico. Sebenarnya kita agak lelah hari ini, jadi agak lesu," ujar Feli. "Kalau lelah, gak perlu pergi! Berapa yang dia berikan, aku akan ganti!" ucap Joko. Bila, Rinda, dan Feli, saling menatap satu sama lain. Kemudi
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







