LOGINTerlihat, tangan kanan Joko masuk ke dalam CD wanita itu. Kemudian, dua jarinya menyentuh pas di titik lubang apem wanita itu.
"Ahhh..."Bu Tika seperti tersengat listrik saat merasakan apemnya di sentuh Joko. Desahan panjang keluar dari mulutnya di sertai tubuh yang menegang hebat."Ahhh... Jo, ahh... mainin, Jo! Di sentuh kamu... langsung gatel!" ucap Bu Tika dengan suara serak."Berati... apem ibu... sangat suka di sentuh jariku ini," ucap Joko dengan nSinta menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Untuk beberapa saat dia diam, lalu tersenyum tipis. "Aku gak nyangka hidupmu bakal sampai di titik ini, Joko," ucapnya pelan. "Aku masih ingat waktu kamu pertama kali mangkal ngojek di dekat warungku," lanjut Sinta sambil terkekeh. "Bajumu lusuh, motormu jelek banget. Kadang mogok di tengah jalan, terus kamu dorong sambil ngedumel." Joko ikut tertawa. Ingatannya melayang ke masa-masa itu. Panas terik di pangkalan ojek, menunggu penumpang yang tak kunjung datang, makan seadanya di warung Sinta. "Iya, ya. Dulu khawatir banget gak dapat uang," gumamnya. Sekarang, semuanya berubah total. Uang ratusan miliar di rekening, vila megah di Ibu Kota, Ferrari dan Rolls Royce di garasi. Jauh sekali dari pemuda kampung yang dulu duduk di atas motor butut menunggu penumpang. "Kadang aku juga ngerasa ini kayak mimpi," ucap Joko jujur. Sinta melingkarkan
Tante Lestari menatap Joko lama. Tatapan tajamnya perlahan meredup, berganti sesuatu yang lebih lembut. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengaitkan kedua tangannya di leher Joko. "Kamu ini yah..." bisiknya. Sebelum Joko sempat membalas, Tante Lestari lebih dulu menarik wajahnya mendekat dan mencium bibirnya. Joko sempat terkejut. Wanita yang biasanya kalem dan menjaga wibawa itu, malam ini justru yang berinisiatif lebih dulu. Dia tersenyum di sela ciuman mereka, lalu membalasnya dengan lebih dalam. Ciuman itu semakin panas. Napas keduanya mulai memburu. Tangan Joko bergerak turun, meremas semangka Tante Lestari dari balik gaun tidurnya. "Hmm..." Tante Lestari melenguh pelan. Jemarinya mencengkeram rambut di tengkuk Joko. Joko melepaskan ciumannya sebentar, menatap wanita itu dengan senyum nakal. "Benar saja. Punya Tante jadi padat banget. Gak kendur sedikit pun.
Joko menatap para wanita di hadapannya dengan senyum nakal. "Wah, punya kalian jadi makin bagus aja, ya." "Sayang!" Lana memukul pelan lengan Joko, tapi wajahnya memerah dengan senyum tertahan. Mona ikut mendekat, lalu kedua wanita itu saling pandang dengan seringai jahil. Mereka membusungkan dada, sengaja memamerkan hasil perubahan tubuh mereka di depan Joko. "Mau coba, gak? Kekenyalannya beda lho sekarang," goda Lana sambil mengerling. "Buktiin sendiri, Sayang. Jangan cuma lihat doang," tambah Mona, ikut menantang dengan nada menggoda. Joko tidak butuh waktu lama untuk menjawab. Tangannya langsung terangkat, meremas pelan semangka kedua wanita itu secara bergantian. "Ahh~" Lana dan Mona mendesah bersamaan, tubuh mereka sedikit menegang. Joko mengangguk-angguk puas, masih belum melepaskan tangannya. "Benar juga. Jadi lebih padat dan kenyal." "Wah, masih belum puas kelihatannya," celetuk Ayu yang baru ma
"Cahaya?" Joko mengulang kata itu sambil tertawa kecil, berusaha terdengar santai. "Mungkin maksudku warna sama motifnya!" Bella menyipitkan matanya, menatap Joko lebih lama dari yang seharusnya. Tapi dia tidak membantah, hanya mengangguk pelan, seolah menyimpan kecurigaannya untuk nanti. "Oh ya sudah," ucapnya akhirnya, lalu tersenyum lagi. "Joko, kamu ada waktu ngobrol sebentar gak?" Joko mengangkat alis. "Ngobrol soal apa?" "Aku percaya kamu sebenarnya paham banget soal barang antik," jawab Bella sambil melangkah ke rak di belakang meja kasir. "Aku punya beberapa koleksi yang belum sempat aku pastikan keasliannya. Kalau kamu mau lihat, aku bakal senang banget." Joko terdiam sejenak. Dia tahu, Bella bukan wanita sembarangan yang gampang dibodohi. Alasan "beruntung" yang dia pakai tadi jelas tidak akan mempan kalau diuji lagi dengan barang-barang lain. Lagi pula, kenyataannya dia memang tidak paham soal ciri-ciri barang antik. Dia cuma bisa melihat aura keasliannya lewat pengli
Bella meletakkan mangkuk itu kembali ke atas meja dengan hati-hati, seolah benda itu bisa pecah kapan saja. "Kalau kamu mau, aku bisa beli mangkuk ini darimu. Harga berapa pun, aku bayar." Joko sempat teringat rencananya memakai mangkuk itu untuk meramu pil. Tapi mendengar betapa langka dan berharganya benda itu, dia jadi berpikir ulang. Menjualnya bisa memberinya modal jauh lebih besar, dan dia masih bisa mencari bahan pengganti lain untuk memurnikan ramuan. "Boleh," jawab Joko akhirnya. "Tapi harganya harus pantas." Mata Bella berbinar. "Tentu saja. Sebentar, aku periksa dulu barang-barang lainnya. Siapa tahu ada yang menarik juga." Joko teringat barang-barang lain di dalam tasnya. Dia mengeluarkan pipa rokok dari batu hijau, kotak kayu berukir, dan bandul kalung dari logam hitam, lalu meletakkannya satu per satu di atas meja. Bella memeriksa satu per satu dengan teliti, kali ini jauh lebih hati-hati dari sebelumnya. Pipa rokok itu dia putar-putar, mengendus aromanya, la
Toko Antik Cahaya Lestari berdiri megah di sudut jalan besar, jauh berbeda dari lapak-lapak kumuh di Pasar Antik Jalan Kencana. Bangunannya dua lantai, dengan etalase kaca besar yang memamerkan barang-barang antik bernilai tinggi. Verona melangkah masuk dengan percaya diri, diikuti Joko dan dua pengawalnya di belakang. Seorang wanita muncul dari balik meja kasir begitu lonceng pintu berbunyi. Wanita itu sangat cantik, tubuhnya seksi dengan lekuk yang menggoda, dan payudaranya besar seperti semangka yang terbungkus blazer ketat. "Verona! Lama gak main ke sini!" sapa wanita itu dengan nada genit sambil melangkah mendekat. "Bella," balas Verona sambil tersenyum tipis. Wanita bernama Bella itu menoleh ke arah Joko. Matanya langsung berbinar begitu melihat wajah tampan pemuda di samping Verona. "Wah, siapa ini? Pacar baru kamu, Verona?" tanyanya sambil melirik Joko dari atas sampai bawah dengan tatapan menggoda. Wajah Verona langsung berubah. "Bukan! Dia cuma kenalan baru."
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







