LOGINJoko menyeringai tipis. Dia tiba-tiba bergerak ~ menendang dada Tuan Muda Sandi. BUGHH!Suara benturan teredam terdengar, di sertai tubuh Tuan Muda Andi yang terlempar ke belakang.BRAKKK!Punggung Tuan Muda Andi menghantam kemari dengan keras sampai kemari itu roboh ke belakang. Tindakan Joko itu sangat cepat, bahkan empat pengawal di sana telat menyadarinya."Dasar sampah! Berani sekali kau mengincar wanita cantik di depanku!" ucap Joko dengan nada sinis."Uhuk... uhuk..." Tuan Muda Andi terbatuk hebat. Darah segar mengalir di mulutnya. Wajahnya tampak sangat ganas."Kau... kau!" teriaknya sambil menunjuk Joko."Bajingan, berani sekali kau!" teriak salah satu dari empat pengawal itu.Aura kuat meledak dari empat pengawal itu. Bahkan Joko pun merasa terancam saat merasakan aura itu."Hmmm... pasti merepotkan!" ucapnya dengan suara pelan. "Kalian mundur dulu!" ucap Joko kepada Nadya dan Sonya.
Keesokan paginya, Joko yang pertama terbangun. Dia mengecup kening Sonya, lalu melepaskan tangannya dari pinggang Sonya dan Nadya. Setelah itu, dia turun dari mobil, karena kebelet pengen kencing. Saat kembali ke mobil, terlihat Nadya sudah terbangun dari tidurnya. "Selamat pagi cantik," ucap Joko dengan penuh senyuman. "Pagi," balas Nadya dengan ekspresi datar. Mendengar keributan, Sonya pun terbangun. Dia menggeliat dengan posisi tangan di atas. Posenya itu tampak sangat menggoda, bahkan Joko langsung terpancing hasratnya saat melihat pemadaman itu. "Kalian laper gak?" tanya Joko. Kedua wanita itu mengangguk. "Ada mie instan di bagasi. Ada kompor kecil portabel juga. Kamu bisa masakin buat kita gak?" ujar Sonya dengan nada manja. "Tentu saja bisa! Mana mungkin aku membiarkan dua wanita cantikku kelaparan," ucap Joko dengan nada riang. Mendengar kata "Dua Wanita Cantikku" Nadya la
Sonya paham dengan apa yang diinginkan Joko. Dia buru-buru menggelengkan kepalanya."Kalau itu aku gak mau!" ucapnya dengan ekspresi sedikit panik."Ternyata wanita ini gak semudah itu di taklukkan!" gumam Joko di benaknya. Namun, dia tidak begitu saja menyerah. Joko memeluk erat tubuh wanita itu. "Ayolah, sekali saja! Aku bakal pelan-pelan kok! Nadya juga pasti sudah sangat pulas, gak akan bangun," ucapnya.Sonya tetap menggelengkan kepalanya. Joko meraih tangan Sonya, lalu meletakkannya di batang miliknya. Seketika, mata Sonya membelakangi ~ saat merasakan benda besar dan keras itu."Ka-kamu, ini apa?" tangannya sambil mencengkeram batang Joko."Apa lagi? Itu punya aku!" balas Joko dengan nada main-main.Sonya hampir berteriak karena terkejut, tapi dia dengan cepat menutupi mulutnya. Joko menyingkirkan selimut yang menutupi pahanya. Batang besar itu pun terpampang jelas du mata Sonya."Be-
Sonya melingkarkan kedua tangannya di leher Joko. "Nona sepertinya menyukai kamu. Aku jadi gak enak, takut dia marah kalau tahu," ucapnya dengan nada manja. Joko mendekatkan bibirnya ke telinga Sonya. "Perlu kamu tahu, aku punya banyak wanita. Kalau memang dia suka sama aku, tentu saja dia harus bisa menerima keadaanku," bisiknya. Tangannya bergerak menekan sisi semangka Sonya. "Mmm..." Sonya mengeluarkan desahan lembut dengan tubuh yang sedikit menggeliat. "Gimana, boleh gak?" tanya Joko sambil meletakkan tangannya yang lain di dada Sonya dan satu jari menusuk masuk ke dalam belahan dadanya. "Jangan terlalu keras, jangan sampai Nona bangun," ucap Sonya. Joko sangat gembira. Dia tidak menahan diri lagi. Tangganya dengan cekatan melepaskan kancing kemeja yang di kenakan Sonya. Setelah semua terlepas, satu tangannya menyelusup masuk ke dalam Bra wanita itu. Gundukan kenyal berukuran sangat besar yang sangat diinginkannya itu
Sampai di samping mobil, Nadya memeluk Joko. "Jo, makasih yah, kalau tadi kamu gak bersikeras mau tidur satu kamar, mereka pasti sudah berhasil," ucapnya dengan suara serak. Joko ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya dia membalas pelukan Nadya. "Ini pelajaran buat kamu. Mulai sekarang kamu harus lebih waspada, apalagi kalau lagi di luar," balas Joko. Sonya memeluk tangan Joko. "Wanita cantik memang sering mengundang masalah," ucapnya. "Nah, benar banget! Coba kalau kalian jelek, mau menawarkan diri pun pasti sulit," ujar Joko. "Aku gak nyangka, wanita tua yang kelihatan baik itu akan melakukan hal seperti itu," ucap Nadya. "Yang kelihatannya baik belum tentu baik, yang kelihatannya jahat belum tentu jahat. Kamu harus belajar lagi cara menilai orang. Jangan sampai kamu menilai orang lain baik, karena penampilannya kelihatannya baik," Joko menasihati. Nadya mengangguk. "Sudah, ayo k
Joko membawa kedua wanita itu pergi ke kamar yang tidak jauh dari sana. Pintu kamar itu tidak memiliki penutup. Di dalamnya, hanya ada satu kasur yang cukup untuk dua orang. Nadya melepaskan tangan Joko, lalu berkata dengan ekspresi kesal. "Jo, jangan bilang kamu mau macam-macam." "Nggak, aku gak bermaksud gitu. Aku cuma waspada saja!" balas Joko dengan suara pelan. "Jo, jangan berpura-pura. Kenapa harus waspada segala! Sudah jelas di sini aman!" ucap Nadya dengan suara dingin. "Sebaiknya, kamu pergi ke kamar lain!" tegas Nadya. "Nad, walau di sini kelihatan aman, tapi waspada itu harus!" ucap Joko dengan serius. "Nona, aku setuju sama jagoanku ini," sahut Sonya sambil bergelayut manja. Nadya menatap Sonya dengan tatapan tajam. "Kamu setuju, gara-gara kamu mau dekat-dekat sama dia kan?" "Nona, bukannya aku mau dekat sama jagoanku ini, tapi jaga-jaga itu lebih baik!" ucap Sonya.
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal







