Mag-log in"Sayang, kamu marah sama aku?" Satria yang di dorong dan nyaris jatuh terjungkal dari sofa lantaran hilang keseimbangan, meneriaki Rain yang berlari ke arah dapur. Matanya melotot, menunjukkan jika ia terkejut di dorong oleh wanita itu. "Sayang!" "Nyonya!" Tak disahuti oleh Rain, Satria pun beranjak dari duduknya dan menyusul ke dapur. Di dapur, Rain berdiri di depan wastafel dan tampak sedang mencuci tangan dan membasuh wajahnya. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Satria dengan suaranya yang pelan sembari melangkah mendekat. Namun, saat posisinya sudah dekat, Rain tiba-tiba mengangkat tangannya, memintanya untuk berhenti dan menjaga jarak. "Diem di situ, jangan deket-deket!" kata Rain sembari mengusap bibirnya yang basah. Spontan Satria menghentikan langkahnya, tidak bergerak sama sekali seperti patung. Hanya matanya saja yang berkedip-kedip dan juga bibirnya yang maju-maju. "Kenapa gak boleh deket-deket? Kamu marah karena aku gebukin suami brengsek kamu itu!" Satria menimpali pe
"Jadi gitu ceritanya... tapi seriusan dia cuman babak belur, gak ada cidera dan luka serius!" Satria yang duduk di samping Rain, menceritakan semua perbuatan yang telah ia dan Tono lakukan pada Andrean. Wajah pemuda sok kalem itu meringis, takut Rain tidak terima Andrean diperlakukan buruk. Karena bagaimanapun, saat ini pria brengsek itu masih berstatus sebagai suami dari kekasih ilegalnya. "Sekarang gimana? Udah puas?" tanya Rain dengan mata memicing, menatap Satria yang salah tingkah di sampingnya. Gluk! Satria meneguk ludah dengan bersusah payah. Pertanyaan macam apa yang layangkan Rain padanya? Dan, apa yang harus ia katakan? Mengatakan puas, takutnya Rain malah marah padanya karena melukai Andrean. Mengatakan tidak, bagaimana jika respon wanita itu justru sebaliknya? "Aku tanya, udah puas belum?" Rain kembali mengulangi pertanyaannya. Sedangkan matanya masih saja memicing. "Puas apanya, Sayang? Kan kita belum ngapa-ngapain, mana mungkin aku puas," kata Satria yang tiba-ti
"Jangan macam-macam! Saya bakal laporin kalian ke polisi!" Andrean yang tubuhnya di tahan oleh Satria dan Tono, mengancam dan memberontak minta dilepaskan. Namun, Satria yang memegang potongan balok kayu itu tak takut sama sekali. Yang ada, ia justru memasang ekspresi santai seperti sedang bermain di pantai.Di balik helm full face yang dipakainya, Satria menyunggingkan sudut bibirnya. Sedangkan sepasang matanya menatap remeh Andrean yang ternyata tidak memiliki kemampuan apapun selain mengancam lawan bicaranya menggunakan uang dan kekuasaan. "Lepasin saya!" kata Andrean. Satria menggeleng. Tangannya menepuk-nepuk pundak Andrean dengan keras. "Mau lepas? Mimpi!" balas Satria. "Sekarang gue bakal bikin lu ngerasain gimana rasanya istirahat total di rumah sakit!" Buk! Bibir pemuda tanggung itu berbicara, sedangkan tangannya bergerak, membogem wajah Andrean yang masih kalah ganteng darinya dengan keras. Tak ayal lagi, satu pukulan keras Satria membuat air liur Andrean muncrat dan
"Kamu bilang dari toko buku sama Tono, tapi kok aku dapat informasi kalau kalian habis nagih hutang ke Andrean di dekat club malam?" Degh! Semakin memucat wajah Satria. Kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, sebenarnya ada berapa banyak koneksi dan anak buah yang dimiliki oleh Rain. Kenapa bisa mengetahui kegiatannya dengan mudah."Dari toko buku atau dari nyamperin Andrean?" Rain bertanya dengan nada bicaranya yang terdengar datar dan dingin, saking dinginnya seakan menembus sampai ke ubun-ubun Satria. Ketahuan, Satria pun semakin dibuat salah tingkah. Ia mendekati Rain dan duduk di sampingnya, lalu bergelayut manja seperti anak kecil di lengan wanita itu. "Jangan marah, Sayang. Aku cuman ngasih pelajaran sedikit kok ke suami kamu yang brengsek itu! Aku dan Tono udah mastiin kalau dia cuman babak belur, gak luka dalam apalagi cedera serius!" kata Satria. Mengakui perbuatannya yang balas dendam pada Andrean bersama Tono. Beberapa jam yang lalu.
Malam itu, Satria yang turun dari motornya, segera memasuki gedung apartemen gold dan melangkah menuju lift dengan begitu tergesa-gesa. Pemuda itu menekan tombol lift yang akan membawanya menuju unit apartemennya dan Rain berada. "Semoga aja dia belum pulang kerja." Di dalam lift, Satria berbicara sendiri seperti orang gila. Sesekali ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan untuk mengurangi rasa gugup dan tegang yang saat ini merayap di hatinya. Tiba di depan unit apartemennya dan Rain, Satria membuka pintu tersebut dengan gerakan perlahan. Dalam hatinya berdoa, semoga Rain belum pulang bekerja, agar ia aman dan tidak di interogasi oleh wanita itu. "Semoga belum pulang, semoga belum pulang, semoga belum pulang...." Begitu pintu terbuka, Satria tersenyum lega. Pasalnya lampu di apartemen itu belum ada yang menyala, menandakan jika Rain yang katanya mengurus pekerjaan penting bersama Tasya, belum kembali. Namun, kelegaan Satria lenyap seketika setelah tangannya men
Jam menujukan pada pukul lima sore, Melati yang menghabiskan waktu seharian bersama Jhony, baru kembali ke kediaman Damara.Wanita itu kembali tentu dengan keadaannya yang terlihat tidak baik-baik saja untuk mengelabui Andrean dan ibunya. "Huh... harus tetap tenang, jangan sampai mereka curiga," gumam Melati. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya melangkah menuju teras rumah kediaman Damara. Perlahan, ia mendorong pintu utama rumah itu dan melangkah masuk. Lalu, menghampiri Andrean dan Bu Sela yang berada di ruang tengah. "Mas Andre, Mama...."Tiba di ruang tengah, Melati yang berjalan pelan, memanggil suami dan mertuanya. Mendengar suara Melati, Andrean dan Bu Sela yang memang menantikan kepulangannya, beranjak dari duduk mereka. Lalu, menoleh dan menatap ke arah sumber suara. Begitu melihat penampilan dan keadaan Melati, mata Bu Sela dan Andrean sama-sama mendelik lebar. "Melati!" "Astaga, kamu kenapa, Mel?"Andrean yang beranjak dari dud







