LOGIN"Danu, buka pintunya, Abang mau ngomong!" Pintu kamar tersebut tak kunjung dibuka oleh Danu yang berada di dalamnya. Membuat Satria menghela napas panjang dan memejamkan matanya sesaat. Tangannya pun terulur, mengetuk pintu kamar tersebut dengan agak keras disertai panggilannya. Tuk, tuk, tuk!" "Dan, kamu denger gak? Atau kamu mau—" Pemuda gigolo privat itu menjeda kalimatnya, menunggu respon Danu yang sengaja menghindarinya lantaran takut. "Danu!" Criet! Pintu kamar dibuka, menimbulkan suara derit yang lumayan keras. Di depan pintu itu, Danu berdiri dengan kepala tertunduk. Sedangkan di tangannya memegang buku cetak tebal, menunjukkan jika bocah itu sedang belajar. "Kenapa, Bang?" tanya Danu yang berpura-pura tidak paham tujuan abangnya datang. Tanpa kata, Satria yang memegang penggaris kayu di tangannya itu melangkah masuk tanpa sepatah kata. Ia menuju meja belajar adiknya dan mendaratkan bokongnya di kursi. Gluk! Melihat penggaris kayu yang berada di tangan Satria, Danu
"Huwa, Abang...." Ketukan pintu kamar yang disertai tangisan Ayu di malam hari itu, membuat Satria dan Rain terkejut. Bahkan, Rain yang kaget mendorong perut Satria dan beringsut mundur, menjauh dari depan batangan sang kekasih yang berdiri tegak dan siap bertempur. Mata kedua anak manusia berbeda usia itu melotot, sedangkan wajah mereka memerah seperti kepiting rebus. Buru-buru Rain yang beringsut meraih piyamanya di pinggiran kasur dan memakainya secepat kilat. Sedangkan Satria tampak meringis sambil memegangi batangannya yang mendadak ciut karena panik. Suara tangisan adik bungsunya sukses membuat gairah seksualnya lebur. Bahkan, kini batangnya yang semula tegang, mirip seperti terong ungu layu yang kehujanan. "Aihh... kenapa bocil itu datang sih?" sungut Satria sambil mengelus kemaluannya. "Bang Sat, bukain pintunya dong!" Duk, duk, duk!Suara tangisan Ayu yang tak henti-henti, membuat Satria mendesah panjang. Lalu ia memakai celana boxernya. "Sayang, bukain pintunya!" kat
"Ahh, Sayang... jangan diremes teteknya!" Desahan keras yang keluar dari bibir seksi Rain, spontan menghentikan kegiatan cabul Satria. Pemuda gigolo privat itu melotot, menatap wajah sang kekasih yang tiba-tiba memerah karena perbuatan nakalnya. "Sayang, jangan keras-keras suaranya, nanti di denger ibu dan yang lain," kata Satria. Suaranya pelan dan sengaja di tahan, sedangkan tangannya bergerak menutup mulut Rain yang mengeluarkan desahan. Rain mendorong telapak tangan Satria dari mulutnya, lalu menggigit bibir bawahnya. Ia beringsut dan duduk di samping berondong nakalnya itu. "Kamu sih, main remes tanpa kasih aba-aba. Kalau bilang dulu kan aku bisa tahan suara," kata Rain sambil membenarkan piyama tidurnya yang sebelumnya disingkap oleh Satria. Satria menyeringai, sepasang matanya menatap cabul pada Rain yang mengomel di sampingnya. "Berarti kalau sekarang aku remes lagi, kamu gak bakalan desah keras-keras?" tanya gigolo privat itu sambil memajukan wajahnya yang masih agak me
"Beneran mau tidur di sini? Gak pulang ke apartemen atau minta jemput sama Tasya?"Satria yang saat ini duduk di pinggiran kasur kamar tidurnya, bertanya pada Rain yang berada di sampingnya. Pemuda itu ragu pada sang kekasih yang ingin tinggal di rumahnya yang sempit, tidak ber-AC dan lumayan jauh dari kawasan kota. Ditanya berkali-kali oleh Satria, Rain mendengus keras dan membuang muka, merasa kesal pada sang kekasih yang meremehkannya. Satria pikir dirinya adalah wanita manja yang tidak bisa lepas dari kemewahan. Mungkin Satria lupa, jika dirinya pernah menikah dengan Andrean yang hidupnya miskin dan merintis karir dari nol. "Kamu jangan ngeremehin aku ya! Gini-gini aku mandiri dan gak manja, bahkan aku bisa angkat galon dan masang tabung gas sendiri!" kata Rain bersungut-sungut. Melihat ekspresi wajah Rain yang menggemaskan jika sedang kesal dan marah, Satria pun tersenyum geli. Tangannya bergerak, merengkuh tubuh kekasihnya itu dan memeluknya erat. "Jangan marah dong, aku ka
"Laras, ngapain kamu duduk di sini? Mas kan udah bilang, jangan gangguin orang lain!" Nyonya Laras yang duduk berjongkok di depan kursi roda Bu Yohana itu pun memajukan bibirnya.Teguran Tuan Arya membuat kalimat yang hendak diucapkannya spontan terjeda. Wanita separuh yang mengalami gangguan jiwa itu memutar tubuhnya, menatap sang suami yang berdiri tegap dengan deru napas memburu. Tuan Arya terlihat agak lelah lantaran mengikuti dan mengejar langkah Nyonya Laras yang lepas dari pengawasannya. "Cari Mandala," kata Nyonya Laras sambil menyibak rambut yang menutupi wajahnya. Wanita dalam gangguan jiwa itu berbicara pelan. Saking pelannya, suaranya lebih layak disebut sebagai gumaman. Bu Yohana, Tono dan Atika saling melempar pandang. Mereka menjadi penasaran dengan sosok wanita berpakaian baju pasien RSJ tersebut. Namun, mereka memilih untuk diam. Menunggu orang asing yang menghalangi jalan mereka pergi dari tempat tersebut."Mandala gak ada di sini, Sayang. Kita cari ke tempat l
"Ton, kalian ke sini belum sarapan 'kan?" Tono yang berdiri di dekat pintu, menganggukkan kepalanya, memberikan respon pada Satria yang bertanya. Melihat respon Tono, Satria meraih tas Rain dan mengeluarkan dompetnya yang di simpan wanita itu. Lalu mengambil beberapa lembar uang pada sahabatnya. "Ajakin Ibu sarapan ke kantin gih, takutnya masuk angin gara-gara gak sarapan," kata Satria. Suaranya santai sedangkan bibirnya tersenyum kecil. Dengan cepat, tangan Tono menyambar lembaran uang tersebut dan memasukannya ke dalam saku celana jin robek-robeknya. "Bu-bu—" "Buruan!" kata Danu, memotong kalimat gagap yang hendak diucapkan oleh Tono. Sepasang mata Tono spontan melotot lebar. Sedangkan kepalanya menggeleng pada Danu yang menyerobot kalimatnya. "Apaan dong?" tanya Danu dengan kening berkerut, menunjukkan ekspresi seriusnya. "Bu-bu-buset, pa-pa-pacaran mo-mo—" "Tik, pukul punggungnya Bang Tono!" titah Satria pada Atika. Merasa kalimat Tono memakan waktu lama, Satria pun men







