Share

72. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-05-02 21:13:10
Malam itu, Satria yang turun dari motornya, segera memasuki gedung apartemen gold dan melangkah menuju lift dengan begitu tergesa-gesa.

Pemuda itu menekan tombol lift yang akan membawanya menuju unit apartemennya dan Rain berada.

"Semoga aja dia belum pulang kerja."

Di dalam lift, Satria berbicara sendiri seperti orang gila. Sesekali ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan untuk mengurangi rasa gugup dan tegang yang saat ini merayap di hatinya.

Tiba di depan unit aparte
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   100. PPPN

    "Ouch... aku udah gak tahan, aku ke-ke-keluar, Sayang...." Tubuh Rain menegang hebat di atas ranjang. Napasnya memburu, sedangkan jemarinya mencengkeram seprai kuat-kuat. Pemanasan gila yang dilakukan Satria benar-benar membuatnya kehilangan kendali.Cairan hangat yang cukup banyak keluar dan muncrat begitu saja, membuat Rain menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Dada wanita yang tengah hamil muda itu naik turun dengan cepat, sedangkan tubuhnya yang semula menegang, kini melemas perlahan.Melihat banyaknya cairan hangat yang keluar dari milik Rain, Satria terdiam sesaat. Ia meneguk ludah dengan kasar sedangkan sepasang matanya tak lepas dari milik Rain yang berkedut-kedut. Beberapa saat kemudian, Satria tiba-tiba tertawa sambil menepuk pelan paha putih mulus Rain. "Segitu enaknya ya? Sampe squirting kayak gini?" kata Satria menggoda.Rain yang merasakan lemas setelah melakukan pelepasan penuh kenikmatan itu, hanya merespon perkataan Satria dengan gelengan kepala. Sebenarnya, wa

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   99. PPPN

    Di kediaman Damara, Andrean dibuat panik oleh Bu Sela yang tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan berakhir hilang kesadaran. Dengan wajah memerah karena panik dan mata melotot, Andrean mendekati ibunya yang hilang kesadaran dengan punggung bersandar pada punggung sofa. "Ma, bangun... Mama kenapa?" kata Andrean sembari merengkuh tubuh Bu Sela dan menepuk-nepuk pipinya, berusaha membangunkan ibunya yang hilang kesadaran.Bu Sela yang benar-benar hilang kesadaran, tentu tak merespon teriakan panik Andrean. Bahkan tak bergerak sama sekali."Pelayan!" seru Andrean pada pelayan yang ada di rumahnya. "Supir, siapkan mobil!" lanjutnya. Tak butuh waktu lama, para pelayan dan supir keluarga Damara berlarian mendekat, menghampiri majikan mereka yang memanggil. Melihat Nyonya majikan mereka hilang kesadaran, para pelayan dan supir pun terkejut, mereka semua kaget dan bertanya-tanya saat melihatnya. "Astaga, Nyonya kenapa, Tuan?" "Apa yang terjadi sama Nyonya besar?""...." "Cepat siapkan mo

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   98. PPPN

    Di dalam mobilnya, Tasya tak hentinya tertawa seperti orang gila. Gadis tua itu menertawakan Rain dan Satria yang dikerjainya. "Haha... sekarang mereka pasti udah ketemuan! Salah sendiri otaknya sama-sama lemot!" kata Tasya. Rain dan Satria yang terjerat hubungan rumit, tetapi Tasya yang heboh. Bahkan dengan sengaja membohongi Satria agar bisa berdekatan dengan sahabatnya. "Semoga aja setelah ketemu kali ini hubungan mereka membaik. Jengkel banget lihat mereka yang saling suka tapi diem-dieman dan bikin sakit diri sendiri!" Tasya berharap, hubungan Satria dan Rain membaik setelah ini. Sebagai sahabat sekaligus saudara satu-satunya yang dimiliki Rain, ia ingin saudaranya itu bahagia dengan pria yang dicintai juga mencintainya. "Kalau kali ini masih tetap gak berhasil, aku bakal coba cara yang lebih ekstrem lagi besok!"***"Aku temenin, mau?"Degh! Kalimat tawaran yang keluar dari bibir Satria membuat jantung Rain berdetak dua kali lebih cepat.Wanita yang sedang hamil muda itu k

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   97. PPPN

    Dokter dan petugas rumah sakit berlarian, mencari pasien VVIP mereka yang kabur dari ruang perawatan. Wajah mereka terlihat panik dan ketakutan, takut pada kemarahan Tuan Arya, suami dari pasien VVIP mereka. "Astaga, di mana kamu, Sayang?" gumam Tuan Arya yang menyusuri lorong rumah sakit dan memeriksa setiap tempat yang mungkin di datangi istrinya. Pria separuh baya itu panik, takut istrinya melakukan hal yang dapat membahayakan nyawanya seperti biasa. "Tuan, itu Nyonya!" tunjuk Asisten Tuan Arya ke arah taman rumah sakit. Tuan Arya mengikuti kemana arah tunjuk sang asisten. Melihat keberadaan istrinya, pria separuh baya itu bernapas lega. Gegas ia berlari menuju taman dan menghampiri istrinya yang sedang duduk santai sambil menikmati buah dan potongan rotinya. "Laras, ngapain kamu di sini? Mas kebingungan loh nyariin kamu!" kata Tuan Arya dengan pelan pada istrinya. "Makan buah, Mandala beli buah buat Mama!" kata Nyonya Laras, wanita gila yang tak lain adalah ibu kandung Sat

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   96. PPPN

    "Makan buah, enak...." Celotehan yang keluar dari mulut wanita yang menderita gangguan mental itu, membuat bibir Satria tak hentinya tersenyum kecil, senyuman yang benar-benar tulus dari hatinya. Rasa hangat menjalar di hati pemuda mantan gigolo itu, seolah ia pernah bertemu dan dekat dengan wanita itu sebelumnya. Tanpa Satria tahu, jika wanita yang saat ini duduk dan berceloteh di sampingnya adalah ibu kandungnya. "Anak Mama juga makan buah!" Wanita dalam gangguan jiwa itu menyodorkan jeruk ke tangan Satria, meminta pemuda itu menerima suapannya. Disuapi, Satria menggelengkan kepalanya. "Mama aja yang makan, aku masih kenyang!" Mendapatkan penolakan Satria, wanita itu memajukan bibirnya dan menatap sedih, merasa jika Satria tidak menginginkannya. "Mandala gak suka Mama," kata si wanita sambil menundukkan kepalanya. "Mana mungkin gak suka sama Mama. Aku beli buahnya sengaja buat Mama, biar cepet sehat," kata Satria. Membalas ucapan wanita itu dengan pelan dan lembut. Tak tega,

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   95. PPPN

    "Mandala, Mandala anakku... Mandala sayangnya Mama!" Dipeluk dan disebut namanya dengan nama 'Mandala' terkejut Satria dibuatnya. Tubuhnya membeku dan terasa kaku, bahkan darahnya seolah berhenti mengalir. Ada rasa aneh yang menjalar di hati pemuda mantan gigolo itu. Panggilan dan pelukan wanita asing itu terasa hangat, bahkan ia tak kuasa menolak. "Mandala anaknya Mama," kata wanita asing itu lagi. Satria menggigit bibir. Perlahan tangannya bergerak, melerai pelukan si wanita. Namun, pelukan wanita itu begitu erat dan seolah terkunci di lehernya. "Maaf, Bu, saya Satria bukan Mandala. Saya bukan anaknya Ibu," ucap Satria. Suaranya pelan dan menenangkan seperti saat ini berbicara pada ibunya. Wanita asing itu menggeleng tanpa melepaskan pelukan tangannya dari leher Satria, seolah takut ditinggalkan dan kehilangan. "Mandala gak boleh nakal, gak boleh ninggalin Mama lagi," kata wanita itu dengan suaranya yang pelan dan penuh harap. Mendengar kalimat bernada pelan itu, Satria meme

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status