공유

74. PPPN

작가: Callme_Tata
last update 게시일: 2026-05-03 12:10:33

"Jangan macam-macam! Saya bakal laporin kalian ke polisi!"

Andrean yang tubuhnya di tahan oleh Satria dan Tono, mengancam dan memberontak minta dilepaskan.

Namun, Satria yang memegang potongan balok kayu itu tak takut sama sekali. Yang ada, ia justru memasang ekspresi santai seperti sedang bermain di pantai.

Di balik helm full face yang dipakainya, Satria menyunggingkan sudut bibirnya. Sedangkan sepasang matanya menatap remeh Andrean yang ternyata tidak memiliki kemampuan apapun selain mengan
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   94. PPPN

    Sore itu, Andrean keluar dari ruangan dokter dengan langkahnya yang gontai dan wajah memerah. Di tangannya terdapat amplop putih berlogo rumah sakit berisi hasil pemeriksaan kesehatannya. Beberapa saat kemudian, Andrean menghentikan langkahnya di lorong rumah sakit yang cukup sepi. Pria itu menyandarkan punggungnya ke tembok. Dengan tangan gemetar ia membuka amplop tersebut dan kembali melihat isinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan, jika kesehatannya yang terganggu, ia yang selama ini mengalami kemandulan bukan Rain, wanita yang telah mendampinginya dan mencintainya sepenuh hati. "Ternyata akulah yang mandul bukan kamu, Rain. Kenapa, kenapa kamu gak ngasih tahu aku? Kenapa kamu sembunyiin semua ini dari aku?" tanya Andrean di tengah-tengah keheningan, mengharapkan jawaban atas semua pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Andrean mendongak, menatap langit-langit koridor rumah sakit itu sebelum akhirnya menyapu wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangan. Mengetahui semua

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   93. PPPN

    "Andrean...." Melihat mobil Andrean mengiringi mobil polisi, yang melaju di tengah-tengah padatnya jalanan di siang hari itu, kening Rain otomatis berkerut tajam. Sepasang telinga menangkap kalimat-kalimat orang yang ada disekitarnya. "Kasian banget ditipu sama perempuan gila!" "Iya, kirain beneran hamil anaknya ternyata hamil anak cowok lain. Mana udah cerai lagi sama istri sahnya!" Rain menautkan kedua alisnya yang tipis, mencerna setiap kalimat yang di dengarnya. Penasaran, wanita yang kini tengah hamil muda itu memutuskan bertanya pada salah satu wanita yang berdiri di sampingnya."Maaf, Kak, saya mau numpang tanya, orang itu kenapa ya? Kok kayaknya heboh banget?" tanya Rain sambil menunjuk mobil Andrean yang sudah bergerak menjauh mengikuti mobil patroli yang membawa Melati dan Jhony. Ditanya, wanita yang berada di samping Rain itu menghela napas panjang. "Itu, pemilik PT. DM Grup, habis ngegrebek istri mudanya ngamar siang-siang. Yang lebih parah ternyata istri mudanya itu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   92. PPPN

    "Maaf, saya lupa ada urusan yang belum diselesain, permisi!"Tak ingin berdekatan lama-lama dengan wanita asing yang dapat membuatnya kehilangan akal sehat sebagai mantan pria pemuas, buru-buru Satria keluar dari toko buku tanpa mendapatkan apapun. Pemuda perkasa itu berlari menuju parkiran dan memakai helmnya. Lalu, segera menancap gas kendaraannya meninggalkan area kawasan toko buku tersebut. Melihat Satria pergi begitu saja tanpa mau meliriknya, Nabila mengepalkan tangannya dengan erat di sisi tubuh. Gadis tobrut itu merasa kesal dan jengkel, pasalnya ini adalah kali pertama ia ditolak dan diabaikan oleh seorang pria. "Sialan tuh cowok, bisa-bisanya dia nyuekin gue kayak gini," kata Nabila menghentakkan kakinya kesal ke lantai. Begitu melihat wajah tampan Satria yang memiliki daya tarik luar biasa, Nabila langsung menyukai pemuda itu bahkan begitu ingin memilikinya. "Gak bisa, gue harus dapetin dia apapun caranya!" Nabila menyunggingkan sudut bibirnya, bertekad untuk mendapatk

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   91. PPPN

    "Katakan sekarang, kenapa kamu pura-pura hamil anakku? Kenapa, kenapa kamu lakukan semua ini?!" Kalimat bernada geram yang keluar dari mulut Andrean sukses membuat Melati semakin ketakutan. Wajah pucat wanita hamil itu kini terlihat seperti mayat. Terlebih lagi, anak buah Andrean menghajar dan menginjak-injak Jhony di depan mata kepalanya sendiri. Perbuatan kejam itu membuatnya semakin gemetar ketakutan. "Katakan, atau kuhabisi kamu sekarang!" kata Andrean penuh penekanan, tangannya semakin kuat mencekik leher Melati. Takut dibunuh, Melati pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Melihat respon Melati, Andrean pun melepaskan cekikannya dan melempar wanita itu ke ujung tempat tidur dengan kasar, hingga membuatnya jatuh tersungkur. Bahkan kepalanya sampai membentur sudut ranjang yang keras. "Ouch... uhuk, uhuk!" Dilepaskan oleh Andrean yang ternyata begitu kejam, Melati memegangi lehernya yang terasa begitu sakit dan terbatuk-batuk. "Cepat katakan!" bentak Andrean pada Melati d

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   90. PPPN

    Siang itu, Satria yang baru selesai merapikan kamar ibunya yang sudah lama tidak di tempati, memutuskan untuk segera membersihkan diri. Rencananya setelah itu, ia akan pergi ke toko buku, mencari buku-buku sebagai bekal utamanya kembali berkuliah. Pemuda mantan gigolo itu keluar dari rumah pada pukul satu siang, mengendarai motor besar pemberian Rain beberapa waktu lalu menuju toko buku yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah sakit tempat ibunya di rawat. Rencananya, Satria akan mengunjungi ibunya nanti setelah ke toko. Tiba di toko buku, pemuda itu membuka helm full face yang melindungi kepalanya. Lalu ia turun dari motornya dan merapikan bagian depan kemeja hitam yang dipakainya. Celana jeans, baju kaos oblong yang dilapisi kemeja dengan kancing terbuka, serta rambutnya yang dipotong model undercut membuatnya terlihat begitu tampan. Dengan langkahnya yang santai, pemuda lajang itu memasuki toko buku dan berkeliling, mencari buku yang ia butuhkan untuk persiapan kembali kul

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   89. PPPN

    "Kemana wanita sialan itu pergi?" Andrean yang berada di dalam mobilnya, bertanya pada seseorang yang berada di ujung telepon. Nada bicaranya santai tetapi terdengar sangat datar. "[Komplek C, Bos. Menemui pria itu lagi!]" Mendengar kalimat yang berada diujung panggilan, bibir Andrean tersungging dan berkedut-kedut."Amati mereka, sebentar lagi saya sampai," kata Andrean. Tut, tut! Setelah berbicara pada anak buahnya yang ditugaskan mengikuti Melati, Andrean memutuskan sambungan telepon tersebut. Benar kata Satria, pria itu tidak memiliki kemampuan apapun selain mengendalikan orang lain menggunakan uangnya. Bagi Andrean, ada uang apapun tak akan menjadi rintangan. Namun ia tak paham dan tak sadar jika uangnya tidak akan dapat menambal luka hati seseorang orang yang sudah bernanah dan terinfeksi parah. Selanjutnya, Andrean menancap gas mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, membelah jalanan kota menuju Komplek C di mana kediaman Melati dan Jhony berada, pasangan suami ist

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status