Mag-log inMalam itu, Satria yang turun dari motornya, segera memasuki gedung apartemen gold dan melangkah menuju lift dengan begitu tergesa-gesa. Pemuda itu menekan tombol lift yang akan membawanya menuju unit apartemennya dan Rain berada. "Semoga aja dia belum pulang kerja." Di dalam lift, Satria berbicara sendiri seperti orang gila. Sesekali ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan untuk mengurangi rasa gugup dan tegang yang saat ini merayap di hatinya. Tiba di depan unit apartemennya dan Rain, Satria membuka pintu tersebut dengan gerakan perlahan. Dalam hatinya berdoa, semoga Rain belum pulang bekerja, agar ia aman dan tidak di interogasi oleh wanita itu. "Semoga belum pulang, semoga belum pulang, semoga belum pulang...." Begitu pintu terbuka, Satria tersenyum lega. Pasalnya lampu di apartemen itu belum ada yang menyala, menandakan jika Rain yang katanya mengurus pekerjaan penting bersama Tasya, belum kembali. Namun, kelegaan Satria lenyap seketika setelah tangannya men
Jam menujukan pada pukul lima sore, Melati yang menghabiskan waktu seharian bersama Jhony, baru kembali ke kediaman Damara.Wanita itu kembali tentu dengan keadaannya yang terlihat tidak baik-baik saja untuk mengelabui Andrean dan ibunya. "Huh... harus tetap tenang, jangan sampai mereka curiga," gumam Melati. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya melangkah menuju teras rumah kediaman Damara. Perlahan, ia mendorong pintu utama rumah itu dan melangkah masuk. Lalu, menghampiri Andrean dan Bu Sela yang berada di ruang tengah. "Mas Andre, Mama...."Tiba di ruang tengah, Melati yang berjalan pelan, memanggil suami dan mertuanya. Mendengar suara Melati, Andrean dan Bu Sela yang memang menantikan kepulangannya, beranjak dari duduk mereka. Lalu, menoleh dan menatap ke arah sumber suara. Begitu melihat penampilan dan keadaan Melati, mata Bu Sela dan Andrean sama-sama mendelik lebar. "Melati!" "Astaga, kamu kenapa, Mel?"Andrean yang beranjak dari dud
"Tolong tunggu sebentar lagi, Bang. Bini gue pasti datang dan lunasin semua hutang-hutangnya!"Jhony yang bersimpuh di lantai, meminta ampun pada Rentenir yang duduk santai di sofa rumahnya. Tubuhnya gemetar parah, takut nyawanya dilenyapkan karena tak dapat membayar hutang. Melati yang berdiri di ambang pintu, mengepalkan tangan dengan erat setelah mendengar perkataan Jhony. Wajahnya semakin memerah, menunjukkan jika marah dan kesal pada pria itu. "Berapa semua hutangnya?" tanya Melati sembari melangkah mendekat. Mendengar suara Melati, Jhony yang bersimpuh di lantai itu menoleh. Ia tersenyum dan segera beranjak dari posisinya. "Sayang, akhirnya kamu datang. Lihat, mereka mukulin aku!" adu Jhony pada Melati. Rentenir dan anak buahnya tertawa dengan keras, merasa lucu melihat Jhony merengek pada seorang wanita hamil untuk membelanya. "Kamu bawa uang kan, Sayang?" tanya Jhony. "Kalau hutangnya gak dibayar, mereka bakalan matahin kaki kiri dan tanganku!" tambahnya ketakutan. Mela
Melati yang sedang memoles make up tipis di depan cermin, beranjak dari duduknya lantaran mendengar suara dering ponselnya yang diletakkan di pinggiran tempat tidur. Diambilnya benda pipih itu dan dilihat siapa yang menelepon. Di sana tertera kontak yang diberi nama 'J'. Lalu, ia menggeser tombol hijau yang ada di sana dan mengangkatnya. "Halo, Sa—" "[....]"Belum sempat Melati menyelesaikan kalimatnya, orang yang berada di seberang panggilan sudah lebih dulu berbicara padanya. Mendengar suara bernada panik lawan bicaranya, memerah wajah Melati. Bahkan sepasang matanya melotot lebar seperti biji jengkol. "Dipukulin orang gimana? Kamu ngapain sampe di kejar dan dipukulin orang?" tanya Melati dengan wajahnya yang semakin memerah. Ekspresi kaget dan panik tergambar jelas di wajah wanita hamil itu."[....]" "Astaga... kok keterlaluan banget sih?" kata Melati, kali ini nada bicaranya agak sedikit meninggi. Wanita yang kini tengah mengandung 6 bulan itu menghela napas dengan kasar.
Di sebuah kursi, tepatnya di depan meja rias, Rain yang duduk tak hentinya tersenyum. Sepasang matanya menatap pada Satria yang sedang membantunya menyisir rambut melalui cermin di hadapannya. "Kamu kok telaten banget sih? Udah kayak cowok slay yang kerja di salon!" Merasakan bagaimana telatennya Satria menyisir dan merapikan rambutnya, Rain pun bertanya pada kekasih berondong itu. "Adekku ada tiga, dan dua dari mereka itu cewek. Ngurus mereka sekolah udah jadi makanan sehari-hariku, Sayang. Jangankan nyisir dan nata rambut kayak gini, jahit baju aja aku bisa!" aku Satria sembari tersenyum kecil. Mendengarnya, Rain termangu. Ternyata pemuda yang telah membuatnya merasakan jatuh cinta untuk yang ke dua kali adalah pria yang serba bisa. Sebagai seorang pria, Satria dapat dikatakan nyaris sempurna, ganteng, penyayang, pekerja keras, dan juga bertanggung jawab..Seandainya pemuda itu berasal dari keluarga kaya, pasti banyak gadis yang berlomba-lomba ingin mendapatkannya."Ternyata ka
"Udah deh diem! Intinya jadi ngewong atau enggak?" Satria yang merajuk, langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan dan mengangguk dengan cepat.Melihat respon yang diberikan Satria, Rain yang merasa dikerjai itu pun mencebikkan bibirnya. "Ayo kita lanjutin sebelum burungnya lemes dan tidur lagi!" kata Satria seraya tersenyum mesum. Di hadapan Rain, berondong sok kalem itu beranjak dan segera menanggalkan celana jeans serta kaos oblong yang dipakainya. Begitu celana jeans dan segitiga pengaman bermereknya di lepaskan, tampaklah batangan miliknya yang berdiri tegak seperti keadilan. Gluk! Melihat milik Satria yang berdiri tegak di depan matanya, Rain meneguk ludah dengan kasar. Ia yang duduk dengan tubuh polos tanpa sehelai benang, merangkak mendekati Satria yang berdiri di hadapannya.Wanita itu mendongak, sedangkan tangannya menyentuh dan menggenggam batangan milik Satria."Sstt, ah, Sayang...." Begitu jemari halus Rain menyentuh tongkat keperkasaannya, Satria m







