LOGIN"Menurut hasil pemeriksaan saya, Mbaknya hamil. Dihitung dari terakhir datang bulan, usia janinnya sekarang udah masuk minggu ke empat!" Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Dokter, Rain dan Satria saling melempar pandang, lalu menatap massal pada Dokter itu. Keduanya sama-sama diam, mencerna maksud dari perkataan Dokter separuh baya yang mengulas senyum di hadapan mereka. Melihat ekspresi bengong pasangan yang ada di hadapannya, Dokter separuh baya itu mengerutkan kening. Pikirnya, apakah keduanya belum memiliki rencana untuk punya anak? "Mas, Mbak!" tegur Dokter pada Satria dan Rain yang bengong di hadapannya. Ditegur, Satria dan Rain sadar dari cengo mereka. Lalu, keduanya bertanya dengan kompak pada Dokter. "Dokter tadi ngomong apa? Hamil!" Kaget! Spontan Dokter separuh baya itu mundur dua langkah dari posisinya seraya mengangguk cepat. "Hmm, hamil dan udah masuk usia minggu ke empat!" kata Dokter. Menimpali pertanyaan kompak pasangan yang membuatnya terkejut. Lagi, Sat
"Kalau aku bilang jangan deket-deket, berarti kamu harus jaga jarak! Sumpah, aku eneg banget lihat muka kamu yang nyebelin!" Dikatakan menyebalkan, Satria menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Bibirnya cemberut, sedangkan tubuhnya melemas seperti tak bertulang. "Kamu denger gak?" kata Rain dengan mata melotot, seperti mau menelan Satria bulat-bulat.Satria yang duduk bersila di depan Rain, menghela napas pelan. "Astaga... rasanya pengen banget kugigit dan kukunyah bibirnya biar gak ngomel terus," batinnya merutuk sebal. Perlahan Satria beringsut dan turun dari atas ranjang, menjauhi Rain yang katanya sebal dan jengkel melihat wajahnya. Namun, baru saja berjalan dua langkah, teguran Rain membuat pergerakannya langsung terhenti. Bahkan, ia diam seperti patung di posisinya. "Mau kemana? Mau pergi lagi!"Satria memejamkan matanya sesaat, lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berusaha sabar menghadapi tingkah Rain yang tiba-tiba aneh dan nyeleneh.
"Sayang, kamu marah sama aku?" Satria yang di dorong dan nyaris jatuh terjungkal dari sofa lantaran hilang keseimbangan, meneriaki Rain yang berlari ke arah dapur. Matanya melotot, menunjukkan jika ia terkejut di dorong oleh wanita itu. "Sayang!" "Nyonya!" Tak disahuti oleh Rain, Satria pun beranjak dari duduknya dan menyusul ke dapur. Di dapur, Rain berdiri di depan wastafel dan tampak sedang mencuci tangan dan membasuh wajahnya. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Satria dengan suaranya yang pelan sembari melangkah mendekat. Namun, saat posisinya sudah dekat, Rain tiba-tiba mengangkat tangannya, memintanya untuk berhenti dan menjaga jarak. "Diem di situ, jangan deket-deket!" kata Rain sembari mengusap bibirnya yang basah. Spontan Satria menghentikan langkahnya, tidak bergerak sama sekali seperti patung. Hanya matanya saja yang berkedip-kedip dan juga bibirnya yang maju-maju. "Kenapa gak boleh deket-deket? Kamu marah karena aku gebukin suami brengsek kamu itu!" Satria menimpali pe
"Jadi gitu ceritanya... tapi seriusan dia cuman babak belur, gak ada cidera dan luka serius!" Satria yang duduk di samping Rain, menceritakan semua perbuatan yang telah ia dan Tono lakukan pada Andrean. Wajah pemuda sok kalem itu meringis, takut Rain tidak terima Andrean diperlakukan buruk. Karena bagaimanapun, saat ini pria brengsek itu masih berstatus sebagai suami dari kekasih ilegalnya. "Sekarang gimana? Udah puas?" tanya Rain dengan mata memicing, menatap Satria yang salah tingkah di sampingnya. Gluk! Satria meneguk ludah dengan bersusah payah. Pertanyaan macam apa yang layangkan Rain padanya? Dan, apa yang harus ia katakan? Mengatakan puas, takutnya Rain malah marah padanya karena melukai Andrean. Mengatakan tidak, bagaimana jika respon wanita itu justru sebaliknya? "Aku tanya, udah puas belum?" Rain kembali mengulangi pertanyaannya. Sedangkan matanya masih saja memicing. "Puas apanya, Sayang? Kan kita belum ngapa-ngapain, mana mungkin aku puas," kata Satria yang tiba-ti
"Jangan macam-macam! Saya bakal laporin kalian ke polisi!" Andrean yang tubuhnya di tahan oleh Satria dan Tono, mengancam dan memberontak minta dilepaskan. Namun, Satria yang memegang potongan balok kayu itu tak takut sama sekali. Yang ada, ia justru memasang ekspresi santai seperti sedang bermain di pantai.Di balik helm full face yang dipakainya, Satria menyunggingkan sudut bibirnya. Sedangkan sepasang matanya menatap remeh Andrean yang ternyata tidak memiliki kemampuan apapun selain mengancam lawan bicaranya menggunakan uang dan kekuasaan. "Lepasin saya!" kata Andrean. Satria menggeleng. Tangannya menepuk-nepuk pundak Andrean dengan keras. "Mau lepas? Mimpi!" balas Satria. "Sekarang gue bakal bikin lu ngerasain gimana rasanya istirahat total di rumah sakit!" Buk! Bibir pemuda tanggung itu berbicara, sedangkan tangannya bergerak, membogem wajah Andrean yang masih kalah ganteng darinya dengan keras. Tak ayal lagi, satu pukulan keras Satria membuat air liur Andrean muncrat dan
"Kamu bilang dari toko buku sama Tono, tapi kok aku dapat informasi kalau kalian habis nagih hutang ke Andrean di dekat club malam?" Degh! Semakin memucat wajah Satria. Kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, sebenarnya ada berapa banyak koneksi dan anak buah yang dimiliki oleh Rain. Kenapa bisa mengetahui kegiatannya dengan mudah."Dari toko buku atau dari nyamperin Andrean?" Rain bertanya dengan nada bicaranya yang terdengar datar dan dingin, saking dinginnya seakan menembus sampai ke ubun-ubun Satria. Ketahuan, Satria pun semakin dibuat salah tingkah. Ia mendekati Rain dan duduk di sampingnya, lalu bergelayut manja seperti anak kecil di lengan wanita itu. "Jangan marah, Sayang. Aku cuman ngasih pelajaran sedikit kok ke suami kamu yang brengsek itu! Aku dan Tono udah mastiin kalau dia cuman babak belur, gak luka dalam apalagi cedera serius!" kata Satria. Mengakui perbuatannya yang balas dendam pada Andrean bersama Tono. Beberapa jam yang lalu.







