Compartir

67. PPPN

Autor: Callme_Tata
last update Fecha de publicación: 2026-04-30 13:53:52
"Udah deh diem! Intinya jadi ngewong atau enggak?"

Satria yang merajuk, langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan dan mengangguk dengan cepat.

Melihat respon yang diberikan Satria, Rain yang merasa dikerjai itu pun mencebikkan bibirnya.

"Ayo kita lanjutin sebelum burungnya lemes dan tidur lagi!" kata Satria seraya tersenyum mesum.

Di hadapan Rain, berondong sok kalem itu beranjak dan segera menanggalkan celana jeans serta kaos oblong yang dipakainya.

Begitu celana
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   91. PPPN

    "Katakan sekarang, kenapa kamu pura-pura hamil anakku? Kenapa, kenapa kamu lakukan semua ini?!" Kalimat bernada geram yang keluar dari mulut Andrean sukses membuat Melati semakin ketakutan. Wajah pucat wanita hamil itu kini terlihat seperti mayat. Terlebih lagi, anak buah Andrean menghajar dan menginjak-injak Jhony di depan mata kepalanya sendiri. Perbuatan kejam itu membuatnya semakin gemetar ketakutan. "Katakan, atau kuhabisi kamu sekarang!" kata Andrean penuh penekanan, tangannya semakin kuat mencekik leher Melati. Takut dibunuh, Melati pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Melihat respon Melati, Andrean pun melepaskan cekikannya dan melempar wanita itu ke ujung tempat tidur dengan kasar, hingga membuatnya jatuh tersungkur. Bahkan kepalanya sampai membentur sudut ranjang yang keras. "Ouch... uhuk, uhuk!" Dilepaskan oleh Andrean yang ternyata begitu kejam, Melati memegangi lehernya yang terasa begitu sakit dan terbatuk-batuk. "Cepat katakan!" bentak Andrean pada Melati d

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   90. PPPN

    Siang itu, Satria yang baru selesai merapikan kamar ibunya yang sudah lama tidak di tempati, memutuskan untuk segera membersihkan diri. Rencananya setelah itu, ia akan pergi ke toko buku, mencari buku-buku sebagai bekal utamanya kembali berkuliah. Pemuda mantan gigolo itu keluar dari rumah pada pukul satu siang, mengendarai motor besar pemberian Rain beberapa waktu lalu menuju toko buku yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah sakit tempat ibunya di rawat. Rencananya, Satria akan mengunjungi ibunya nanti setelah ke toko. Tiba di toko buku, pemuda itu membuka helm full face yang melindungi kepalanya. Lalu ia turun dari motornya dan merapikan bagian depan kemeja hitam yang dipakainya. Celana jeans, baju kaos oblong yang dilapisi kemeja dengan kancing terbuka, serta rambutnya yang dipotong model undercut membuatnya terlihat begitu tampan. Dengan langkahnya yang santai, pemuda lajang itu memasuki toko buku dan berkeliling, mencari buku yang ia butuhkan untuk persiapan kembali kul

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   89. PPPN

    "Kemana wanita sialan itu pergi?" Andrean yang berada di dalam mobilnya, bertanya pada seseorang yang berada di ujung telepon. Nada bicaranya santai tetapi terdengar sangat datar. "[Komplek C, Bos. Menemui pria itu lagi!]" Mendengar kalimat yang berada diujung panggilan, bibir Andrean tersungging dan berkedut-kedut."Amati mereka, sebentar lagi saya sampai," kata Andrean. Tut, tut! Setelah berbicara pada anak buahnya yang ditugaskan mengikuti Melati, Andrean memutuskan sambungan telepon tersebut. Benar kata Satria, pria itu tidak memiliki kemampuan apapun selain mengendalikan orang lain menggunakan uangnya. Bagi Andrean, ada uang apapun tak akan menjadi rintangan. Namun ia tak paham dan tak sadar jika uangnya tidak akan dapat menambal luka hati seseorang orang yang sudah bernanah dan terinfeksi parah. Selanjutnya, Andrean menancap gas mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, membelah jalanan kota menuju Komplek C di mana kediaman Melati dan Jhony berada, pasangan suami ist

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   88. PPPN

    "Argh... nyebelin banget. Dasar gak berguna!" Brak! Melati yang baru saja memasuki rumah, melemparkan tasnya ke sofa samping Jhony yang sedang santai menonton acara televisi. Pria pengangguran dan menjadi beban hidup itu menoleh, menatap istrinya yang datang marah-marah. "Kamu ngapain sih? Datang kok langsung marah-marah!" kata Jhony, bertanya sembari beringsut dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Melati yang sedang kesal, mendengus keras sambil menjatuhkan tubuhnya ke samping Jhony dengan kasar. Saking kasarnya gerakan wanita berperut buncit seperti kecebong anyut dan bertubuh bulat itu, sampai menimbulkan bunyi keras seperti buah nangka jatuh. "Lihat aja nanti, bakal kukuras semua hartanya," lanjut Melati tanpa menjawab pertanyaan suaminya. "Kamu kenapa? Berantem sama cowok bego itu?" tanya Jhony lagi. Keningnya berkerut dalam, heran pada sikap istrinya. "Tadi aku minta duit ke Andrean, tapi bisa-bisanya dia malah bilang gak ada karena keadaan perusahaan lagi ga

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   87. PPPN

    "Buka bentar, Bang. Tika mau mastiin sesuatu!" Kyak! Melotot lebar mata Satria, saking lebarnya seperti anak sapi yang tersedak susu induknya. Pemuda mantan gigolo itu kaget mendapati aksi gila adiknya.Bagaimana tidak? Atika yang mendekat, berjongkok di bawah Satria yang duduk di kursi. Lalu menarik dan hendak membuka celana cinos pendek yang dipakai oleh Satria. "Tik, ngapain kamu?" kata Satria, menegur Atika sambil menahan bagian pinggang celana yang dipakainya. "Buka dikit, Bang. Tika cuman mau mastiin sesuatu, gak lama kok," kata Atika. Ia yang duduk berjongkok dengan kedua tangan memegangi celana Satria itu, mendongak dan menatap kakaknya dengan tatapan yang teramat serius. Semakin melotot mata Satria. Ia membalas tatapan adiknya dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh.Menyadari tatapan Satria, Atika melepaskan kedua tangannya dan memajukan bibirnya. Ia beringsut dan sedikit menjauh dari kakaknya itu. "Buka dikit aja, Bang. Tika mau lihat!" kata Atika, meminta Satria

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   86. PPPN

    Di ruang makan rumahnya yang sederhana, di sanalah kini Satria dan adik-adiknya berada. Pagi itu mereka sarapan bersama. "Makan yang banyak biar belajarnya gak ngantuk!" Satria berbicara pada Danu dan Ayu, meminta kedua adiknya yang hendak ke sekolah itu sarapan yang banyak. Kepala Danu dan Ayu sama-sama mengangguk. Mereka tersenyum lebar dan memakan sarapan dengan lahap. "Kamu juga, Tik. Makan yang banyak," kata Satria. Beralih pada Atika yang duduk di sampingnya. "Jangan cuman nyuruh kami, tapi Abang gak makan!" balas Atika sambil menyodorkan piring berisi makanan pada Satria. Satria tersenyum kecil, tangannya menerima piring yang diberikan adiknya. Lalu memakan isinya dengan santai. "Oiya, minggu depan kayaknya ibu udah bisa dibawa pulang. Kata dokter, keadaannya udah jauh lebih baik. Dia udah bisa ngomong dan tangannya udah bisa gerak!" kata Satria pada ketiga adiknya. Mendengar perkataan Satria, ketiga adiknya itu meletakkan sendok yang ada di tangan masing-masing. Mereka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status